Pagi di Kusuma Tower selalu dimulai dengan ketegangan yang produktif. Ruang rapat utama di lantai paling atas masih menyisakan aroma kopi hitam dan parfum mahal setelah rapat koordinasi proyek Surabaya berakhir. Najwa duduk di kursinya, merapikan berkas-berkas digital di tabletnya dengan gerakan mekanis. Di seberang meja, Papa Hendra masih duduk tenang, menatap ke arah jendela besar yang menampilkan gedung-gedung Jakarta yang seolah berlomba menyentuh awan.
"Najwa, tetap di sini sebentar, Papa ingin bicara empat mata dengan kamu nak," suara Papa Hendra berat namun penuh kasih sayang terhadap putri satu-satunya.
Najwa mendongak, lalu mengangguk kecil. Ia memberikan isyarat pada Kakak nya Arvin untuk keluar lebih dulu. Arvin sempat melirik adiknya dengan tatapan khawatir, namun ia tahu jika Papa sudah bicara secara pribadi, itu adalah zona yang tak boleh diganggu.
Setelah pintu jati besar itu tertutup rapat, suasana menjadi sunyi. Papa Hendra bangkit dari kursinya, berjalan mendekat dan duduk di kursi tepat di samping Najwa. Beliau melepaskan kacamata bacanya, memperlihatkan gurat-gurat kelelahan sekaligus bangga di wajahnya.
"Najwa... semalam Papa dengar kalian sudah check-out dari hotel lebih awal. Azam harus kembali ke Jawa Timur malam-malam sekali karena urusan pondok, ya?"
Najwa menelan ludah, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, tapi wajahnya tetap tenang wajah yang sudah ia latih di depan cermin apartemennya semalam. "Iya, Pah, kebetulan Guz Azam Ada jadwal dakwah mendesak dan urusan madrasah yang tidak bisa ditinggalkan. Gus Azam memang sangat berdedikasi pada tugasnya Pah."
Papa Hendra mengangguk-angguk, namun tatapannya tetap menyelidik. "Lalu, bagaimana perasaanmu? Papa melihatmu tadi di rapat sangat fokus tapi sebagai seorang Papa, aku tahu ada yang kamu sembunyikan. Apa kamu sanggup hidup LDR-an begini di awal pernikahan? Kamu di Jakarta dengan segala ambisimu, dan suamimu di sana dengan ribuan santrinya?"
Najwa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang ia tujukan untuk menenangkan hati pria yang paling mencintainya itu. "Pa, kehadiran Gus Azam... saat ini terasa seperti pelengkap yang indah di hidup Najwa. Kami memang belum saling mengenal secara mendalam, tapi justru di situ letak seninya. Najwa tidak merasa keberatan harus berjauhan sementara waktu. Bukankah kepercayaan adalah fondasi utama?"
"Pelengkap?" Papa Hendra mengulangi kata itu dengan nada sangsi.
"Iya Pah, maksud Najwa pelengkap yang memberikan warna baru. Najwa tetaplah Najwa yang Papa didik untuk selalu mandiri. Lagian Papa dan keluarga kan juga tahu, jika Azam memberikan ruang bagi Najwa untuk tetap menjadi diri sendiri di kantor ini. Beliau tidak mengekang, justru mendukung lewat doa-doanya yang tenang. Papa tidak perlu khawatir, Najwa bahagia dengan cara kami menjalani ini."
Najwa bicara dengan nada yang begitu meyakinkan, hingga Papa Hendra akhirnya menghela napas lega. Beliau menepuk punggung tangan Najwa dengan bangga. "Papa bangga padamu, Nak. Kamu benar-benar menjaga Marwah suamimu dan tidak mengeluh. Papa tadinya takut kamu akan kaget dengan kehidupan pesantren tapi melihat kedewasaanmu... Papa rasa pilihan Abi Ahmad memang tidak salah."
Setelah pembicaraan itu berakhir, Najwa melangkah keluar ruangan dengan kaki yang terasa sedikit lemas. Ia baru saja melakukan kebohongan paling "berkelas" demi menjaga nama baik Gus Azam. Ia masuk ke ruang kerjanya sendiri, menutup pintu, dan menyandarkan punggungnya di sana.
"Pelengkap..." bisik Najwa pilu. "Pelengkap yang bahkan tidak tahu aku tidur di mana semalam."
Baru saja ia duduk di kursi kebesarannya, ponsel di atas meja bergetar. Sebuah panggilan masuk dari "Umi Fatimah". Najwa berdehem, mengatur suaranya agar tidak terdengar serak.
"Assalamualaikum, Umi?"
"Wa’alaikumussalam, Nak Najwa. Apa Umi mengganggu jam kerjamu?" suara Umi Fatimah terdengar sangat lembut, namun ada nada kecemasan di sana.
"Tidak sama sekali, Umi. Ada apa ya mi?"
"Begini, Nak... Azam pagi ini sudah berangkat lagi. Beliau mendapat panggilan dakwah perdana setelah akad kemarin ke luar kota, daerah pelosok yang sinyalnya agak susah. Umi hanya ingin memastikan... apakah Azam sudah memberitahumu soal kepergiannya? Beliau itu kadang kalau sudah fokus dakwah, suka lupa mengabari sekitar."
Jantung Najwa seolah berhenti berdetak. "Dakwah luar kota? Hari ini?." Batin Najwa. Luka di hati Najwa yang baru saja ia tutup di depan Papanya kini menganga kembali. Gus Azam pergi lagi dan sekali lagi, tanpa kata, tanpa pesan, tanpa pamit yang layak.
"Oh... itu, Umi," Najwa menjeda, otaknya berputar cepat mencari alasan. "Mungkin tadi malam beliau memang mau bilang, tapi kami sama-sama lelah. Atau mungkin beliau sudah kirim pesan tapi Najwa belum sempat buka karena tadi ada rapat penting dengan Papa. Mungkin nanti siang beliau baru sempat menelpon Najwa, Umi. Umi jangan khawatir ya."
"Alhamdulillah kalau begitu," suara Umi Fatimah terdengar lega. "Umi hanya takut dia belum punya kontakmu, atau sebaliknya. Tapi kalau kalian sudah saling mengabari, Umi tenang. Jaga kesehatan ya, Nak. Doakan suamimu agar dakwahnya lancar."
"Iya, Umi. Pasti," jawab Najwa lirih.
Setelah menutup telepon, Najwa melempar ponselnya ke atas tumpukan berkas. Ia tertawa getir. Belum punya kontak? Najwa membuka aplikasi pesannya. Di sana, nama "Gus Azam" ada di daftar paling atas, lengkap dengan foto profilnya yang hanya berupa kaligrafi. Najwa sudah menyimpan nomor itu sejak hari khitbah, bahkan ia sudah hafal angka-angkanya di luar kepala. Tapi di seberang sana, mungkin namanya tidak pernah ada dalam daftar kontak pria itu.
"Bagaimana mungkin kamu pergi dakwah, mengajak orang pada kebaikan, tapi meninggalkan istrimu dalam ketidakpastian?" gumam Najwa, matanya menatap tajam ke arah jendela.
Rasa sesak itu kini berganti menjadi rasa marah yang dingin. Najwa merasa Gus Azam bukan sekadar membisu, tapi sengaja menghapus keberadaan Najwa dari hidupnya. Gus Azam punya suara untuk ribuan jamaah, punya waktu untuk pelosok desa, tapi tidak punya satu detik pun untuk mengetik nama istrinya sendiri di layar ponsel.
Najwa menarik napas dalam, merapikan blusnya. Ia tidak boleh hancur. Ia adalah Najwa Kusuma. Jika Gus Azam memilih untuk dakwah ke luar kota tanpa pamit, maka ia akan memilih untuk menenggelamkan diri dalam proyek Surabaya dengan lebih gila lagi.
"Kamu punya duniamu, Gus dan aku punya duniaku," ucapnya pada ruangan yang sepi. "Kita lihat, siapa yang lebih dulu butuh untuntukuntuntukuntuntukukuntuntukuntuntukukukuk Pagi di Kusuma Tower selalu dimulai dengan ketegangan yang produktif, sebuah simfoni kesibukan yang biasanya menjadi bahan bakar bagi semangat Najwa. Namun pagi ini, gedung pencakar langit yang menjadi simbol kejayaan keluarganya itu terasa seperti labirin kaca yang dingin. Ruang rapat utama di lantai paling atas masih menyisakan aroma kopi hitam yang pekat dan sisa-sisa parfum mahal dari para petinggi perusahaan, setelah rapat koordinasi proyek prestisius di Surabaya baru saja ditutup.
Najwa duduk diam di kursinya, jemarinya bergerak lincah di atas tablet, merapikan berkas-berkas digital dengan gerakan mekanis yang kaku. Pikirannya tidak benar-benar ada pada angka-angka investasi atau desain interior apartemen. Di seberang meja kayu jati yang panjang itu, Papa Hendra masih duduk tenang. Beliau tidak segera beranjak, melainkan menatap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung Jakarta yang seolah berlomba menyentuh awan, diselimuti kabut tipis polusi pagi.
"Najwa, tetap di sini sebentar. Papa ingin bicara empat mata," suara Papa Hendra berat, memenuhi ruangan yang mendadak sunyi.
Najwa mendongak, jantungnya berdesir pelan. Ia memberikan isyarat pada Kakaknya Arvin untuk keluar lebih dulu. Arvin sempat melirik adiknya, ada gurat kekhawatiran di matanya yang tajam, namun ia tahu jika sang kepala keluarga sudah meminta waktu pribadi, itu adalah zona yang tak boleh diganggu.
Setelah pintu jati besar itu tertutup rapat dengan bunyi klik yang solid, suasana menjadi sangat privat. Papa Hendra bangkit, berjalan mendekat, dan duduk di kursi tepat di samping Najwa. Beliau melepaskan kacamata bacanya, memperlihatkan gurat kelelahan sekaligus kebanggaan yang mendalam pada putri tunggalnya.
"Najwa... semalam Papa dengar kalian sudah check-out dari hotel lebih awal. Azam harus kembali ke Jawa Timur malam-malam sekali karena urusan pondok, ya?" tanya Papa, matanya menatap lekat pada manik mata Najwa, mencari sebuah kebenaran.
Najwa menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia mengatur napasnya agar tetap stabil. Wajah yang tenang dan anggun itu adalah hasil latihan di depan cermin apartemennya semalam sebuah topeng yang sempurna.
"Iya, Pa. Ada jadwal dakwah mendesak dan urusan madrasah yang tidak bisa ditinggalkan. Gus Azam memang pria yang sangat berdedikasi pada tugasnya. Beliau merasa memikul tanggung jawab ribuan santri di pundaknya," jawab Najwa lancar, seolah kalimat itu sudah ia hapal di luar kepala.
Papa Hendra mengangguk-angguk, namun tatapannya tetap menyelidik, khas seorang pengusaha ulung yang bisa mencium ketidakberesan. "Lalu, bagaimana perasaanmu? Papa melihatmu tadi di rapat sangat fokus, bahkan terlalu fokus untuk seseorang yang baru saja menikah dua hari. Sebagai Papa, aku tahu ada yang kamu sembunyikan di balik sikap profesionalmu ini. Apa kamu benar-benar sanggup hidup LDR-an begini di awal pernikahan? Kamu di Jakarta dengan segala ambisimu, dan suamimu di sana dengan duniainya yang berbeda?"
Najwa tersenyum tipis. Sebuah senyum yang dirancang untuk terlihat tulus, sebuah senjata untuk menenangkan hati pria yang paling mencintainya itu.
"Pa, kehadiran Gus Azam... saat ini terasa seperti pelengkap yang indah di hidup Najwa," ujar Najwa lembut. "Kami memang belum saling mengenal secara mendalam, tapi justru di situ letak seninya. Ada proses yang harus kami lalui. Najwa tidak merasa keberatan harus berjauhan sementara waktu. Bukankah kepercayaan adalah fondasi utama sebuah hubungan?"
"Pelengkap?" Papa Hendra mengulangi kata itu dengan nada sangsi, seolah kata itu terlalu sederhana untuk sebuah ikatan pernikahan.
"Iya Pah, maksud Najwa pelengkap yang memberikan warna baru, perspektif baru. Najwa tetaplah Najwa yang Papa didik untuk mandiri dan tidak bergantung pada siapa pun. Gus Azam memberikan ruang bagi Najwa untuk tetap menjadi diri sendiri di kantor ini. Beliau tidak mengekang, justru mendukung lewat doa-doanya yang tenang di sana. Papa tidak perlu khawatir, Najwa bahagia dengan cara kami menjalani ini."
Kalimat demi kalimat meluncur dari bibir Najwa, begitu meyakinkan, begitu tertata. Ia sedang menjual sebuah imej pernikahan yang ideal, padahal kenyataannya ia sedang memunguti serpihan hatinya yang retak. Papa Hendra akhirnya menghela napas lega, ketegangan di bahunya tampak luruh. Beliau menepuk punggung tangan Najwa dengan bangga.
"Papa bangga padamu, Nak. Kamu benar-benar menjaga Marwah suamimu. Kamu tidak mengeluh sedikit pun seperti wanita kebanyakan. Papa tadinya takut kamu akan kaget dengan kehidupan pesantren, tapi melihat kedewasaanmu... Papa rasa pilihan Abi Ahmad memang tidak salah. Kamu adalah menantu sekaligus istri yang tangguh."
Setelah percakapan itu berakhir, Najwa melangkah keluar ruangan rapat. Begitu pintu tertutup, kakinya terasa sedikit lemas. Ia baru saja melakukan kebohongan paling "berkelas" sepanjang hidupnya demi menjaga nama baik pria yang semalam meninggalkannya tanpa kata-kata hangat.
Najwa berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerjanya sendiri. Begitu masuk, ia langsung mengunci pintu. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu yang dingin, menutup mata rapat-rapat.
"Pelengkap..." bisik Najwa pilu, suaranya bergetar dalam kesunyian. "Pelengkap yang bahkan tidak tahu aku tidur di mana semalam. Pelengkap yang tidak menganggap keberadaanku cukup penting untuk sekadar diberi kabar."
Ia duduk di kursi kebesarannya, menatap maket bangunan yang belum selesai. Fokusnya hancur. Tiba-tiba, ponsel di atas meja bergetar, memecah lamunannya. Sebuah nama muncul di layar: "Umi Fatimah".
Najwa berdehem berkali-kali, memastikan suaranya tidak terdengar serak habis menangis. Ia mengatur raut wajahnya seolah Umi bisa melihatnya.
"Assalamualaikum, Umi?" sapa Najwa, suaranya terdengar ceria, hampir tanpa celah.
"Wa’alaikumussalam, Nak Najwa. Apa Umi mengganggu kerjamu? Suara di kantormu terdengar sangat sibuk ya," suara Umi Fatimah terdengar sangat lembut di seberang sana, namun ada nada kecemasan yang terselip.
"Tidak sama sekali, Umi. Najwa baru saja selesai rapat dengan Papa. Ada apa, Umi? Apa ada sesuatu yang terjadi di pondok?"
"Begini, Nak... Azam pagi ini sudah berangkat lagi. Beliau mendapat panggilan dakwah perdana setelah akad kemarin ke luar kota, daerah pelosok yang sinyalnya agak susah. Umi hanya ingin memastikan... apakah Azam sudah memberitahumu soal kepergiannya? Beliau itu kadang kalau sudah fokus dakwah, suka lupa mengabari sekitar. Umi hanya tidak ingin kamu merasa diabaikan."
Deg. Jantung Najwa seolah berhenti berdetak sesaat. Luka yang baru saja ia tutup di depan Papanya kini menganga kembali, lebih lebar dan lebih perih. Gus Azam pergi lagi. Ke luar kota. Dan sekali lagi, tanpa kata, tanpa pesan, tanpa pamit yang layak bagi seorang istri sah.
"Oh... itu, Umi," Najwa menjeda, otaknya bekerja secepat prosesor komputer, mencari alasan yang paling logis. "Mungkin tadi malam beliau sebenarnya mau bilang, tapi kami sama-sama lelah karena acara yang sangat panjang. Atau mungkin beliau sudah kirim pesan tadi pagi tapi Najwa belum sempat buka karena tadi langsung masuk rapat penting. Ponsel Najwa tadi sempat tertinggal di mobil, Umi. Mungkin nanti siang beliau baru sempat menelpon Najwa saat sudah ada sinyal. Umi jangan khawatir ya, Gus Azam pria yang sangat teratur."
"Alhamdulillah kalau begitu," suara Umi Fatimah terdengar sangat lega. "Umi hanya takut dia belum punya kontak milikmu, atau sebaliknya. Tapi kalau kalian sudah saling mengabari, Umi tenang. Jaga kesehatan ya, Nak. Doakan suamimu agar dakwahnya lancar dan berkah."
"Iya, Umi. Pasti. Najwa selalu doakan," jawab Najwa lirih, hatinya perih luar biasa. Setelah menutup telepon, Najwa melempar ponselnya ke atas tumpukan berkas dengan kasar. Ia tertawa getir, sebuah tawa yang penuh dengan penghinaan pada dirinya sendiri.
Belum punya kontak? Najwa membuka aplikasi pesan di ponselnya. Nama "Gus Azam" berada di urutan paling atas. Tidak ada riwayat percakapan di sana. Kosong. Putih bersih. Najwa sudah menyimpan nomor itu sejak hari khitbah, bahkan ia sudah hafal deretan angkanya di luar kepala. Ia sering menatap nomor itu, berharap ada satu baris pesan yang masuk. Tapi di seberang sana, kenyataannya jauh lebih pahit. Namanya mungkin tidak pernah ada, tidak pernah tersimpan, bahkan mungkin tidak pernah dianggap ada di dalam daftar kontak pria itu.
"Bagaimana mungkin kamu pergi dakwah, mengajak orang pada jalan kebaikan, berbicara tentang cinta pada sesama di mimbar... tapi membiarkan istrimu sendiri terkubur dalam ketidakpastian?" gumam Najwa, matanya menatap tajam ke arah jendela yang menampilkan langit Jakarta yang mulai kelabu.
Rasa sesak di dada yang sejak semalam ia rasakan kini bermetamorfosis menjadi rasa marah yang dingin. Ia merasa Gus Azam bukan sekadar membisu karena trauma atau sifat pendiam, tapi pria itu sengaja menghapus keberadaan Najwa dari hidupnya seolah-olah pernikahan megah kemarin hanyalah sebuah seremoni formalitas tanpa ruh.
Gus Azam punya suara untuk ribuan jamaah. Ia punya tenaga untuk menempuh perjalanan ke pelosok desa. Ia punya waktu untuk orang asing. Namun, ia tidak punya satu detik pun untuk sekadar mengetik nama Najwa di ponselnya.
Najwa menarik napas dalam-dalam, merapikan blus satin hijaunya yang sedikit kusut. Ia berdiri tegak, memandang bayangannya di kaca jendela. Ia menghapus air mata di sudut matanya dengan kasar.
"Aku tidak boleh hancur. Aku adalah Najwa Kusuma," ucapnya pada dirinya sendiri dengan nada perintah.
Jika Gus Azam memilih untuk pergi dakwah ke luar kota tanpa pamit, maka ia akan memilih untuk menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Ia akan membuktikan bahwa ia bisa tetap berdiri kokoh meski tanpa sandaran dari pria yang berstatus suaminya itu. Hari itu, Najwa bekerja dengan intensitas yang menakutkan. Ia memanggil tim desainnya, melakukan revisi gila-gilaan pada proyek Surabaya, dan menelpon vendor-vendor dengan nada suara yang dingin dan tak terbantahkan.
Ia tidak peduli lagi apakah ponselnya akan bergetar atau tidak. Baginya, Gus Azam memang benar-benar hanya menjadi "pelengkap" sebuah aksesoris untuk memuaskan harapan orang tua, sebuah label sosial di depan kolega, namun sebuah luka yang menetap dalam kesendiriannya.
Sore itu, saat ia melihat matahari Jakarta mulai memerah di ufuk barat, Najwa berdiri di balkon kantornya. Ia menyadari satu kenyataan pahit: Ia tidak hanya sedang menjalani hubungan jarak jauh secara geografis, tapi ia sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan hati suaminya sendiri sebuah jarak yang lebih jauh dari sekadar antar kota, sebuah jarak yang mungkin tidak akan pernah bisa ia tempuh jika Gus Azam tidak pernah mau membukakan pintunya.
"Kamu punya duniamu, Gus dan aku punya duniaku," ucapnya pelan, membiarkan angin sore menerpa rambut cokelatnya yang terurai. "Kita lihat saja nanti, siapa yang akan lebih dulu lelah dengan kebisuan ini."
Najwa kembali masuk ke ruangannya, menutup laptop, dan bersiap pulang ke apartemennya yang sunyi. Ia tahu, perjuangannya baru saja dimulai. Ia bukan hanya harus membangun gedung-gedung tinggi, tapi ia harus membangun jembatan menuju hati seorang pria yang bahkan tidak mau menoleh padanya. untuntukukuntuntukuntuntukukukuk bicara."