Drama

Bernapas dengan Paru-paru Orang Lain

05 February 2026

Menjadi Agus adalah sebuah pertunjukan teater yang menegangkan, dengan seluruh kota sebagai panggungnya dan setiap pelanggan sebagai kritikus yang bisa mengakhiri karirnya.

Banyu merasa seperti sedang menyetir sambil menahan napas. Setiap gerakan, setiap keputusan, terasa berat karena ia tidak hanya membawa beban penumpangnya, tapi juga beban identitas curian.

Lokasi penjemputan pertama adalah sebuah indekos di gang sempit. Seorang mahasiswi dengan ransel besar sudah menunggu di depan. Saat Banyu tiba, gadis itu melambai.

"Mas Agus?" panggilnya.

Banyu melihat gerakan bibir itu. Jantungnya berdebar. Ia tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa mengangguk sambil menunjuk nama "Agus Setiawan" di aplikasi ponselnya, lalu menunjuk dirinya sendiri. Sebuah konfirmasi bisu.

Gadis itu tampak sedikit bingung dengan kurangnya respons verbal, tapi tidak terlalu memikirkannya. Ia naik ke boncengan.

Perjalanan dimulai. Banyu merasa punggungnya kaku. Ia terus melirik spion, bukan hanya untuk melihat lalu lintas, tapi juga untuk memastikan penumpangnya tidak curiga. Apa yang akan ia lakukan jika gadis itu mencoba mengajaknya bicara?

Untungnya, gadis itu segera sibuk dengan ponselnya sendiri, dunia kecil di tangannya lebih menarik daripada punggung seorang pengemudi ojek. Banyu menghela napas lega, embun tipis terbentuk di kaca helmnya. Satu rintangan terlewati.

Orderan kedua adalah seorang karyawan kantor yang terburu-buru. Pria itu langsung naik tanpa banyak bicara, hanya menyebutkan nama gedung tujuannya dengan singkat.

Banyu kembali hanya mengangguk. Selama perjalanan, ponsel di holder bergetar hebat. Panggilan masuk. Nama pelanggan tertera di layar.

Panik. Dingin. Keringat sebesar biji jagung menetes di pelipis Banyu. Ini adalah skenario yang paling ditakutinya. Sesuai instruksi Bang Sapto, ia menekan tombol merah, menolak panggilan itu. Jantungnya serasa mau copot.

Satu detik kemudian, sebuah notifikasi chat muncul. "Mas, kok telepon saya di-reject? Nanti turunin di lobi utama ya, jangan di basement."

Jari-jari Banyu yang terbungkus sarung tangan terasa kaku saat ia mencoba mengetik balasan di lampu merah. Ponselnya yang retak membuat beberapa huruf tidak merespons.

Oje mas. Sori td berisik di jalam.

Typo. Jalan menjadi jalam. Ia berharap pria itu tidak menyadarinya.

Ia mengirim pesan itu dengan perasaan cemas. Centang dua biru. Dibaca. Tidak ada balasan. Mungkin aman. Mungkin pria itu kesal. Banyu tidak tahu. Ketidaktahuan ini menyiksa.

Ia menurunkan penumpang itu di lobi utama, persis seperti permintaan. Pria itu turun, membayar dengan uang digital, dan pergi begitu saja tanpa menoleh. Tidak ada ucapan terima kasih. Banyu memeriksa rating. Belum berubah. Ia selamat, untuk saat ini.

Matahari semakin tinggi, memanggang aspal dan kepala Banyu. Ia berhasil menyelesaikan tiga orderan lagi. Makanan, paket kecil, dan seorang penumpang lagi.

Saldo di akun Agus perlahan bertambah. Rp 22.000. Rp 18.000. Rp 35.000. Angka-angka itu adalah bukti bahwa kebohongannya berhasil.

Ia sudah mengumpulkan hampir seratus ribu rupiah. Cukup untuk membeli sepasang sepatu baru yang paling murah di Pasar Cipulir. Cukup untuk membeli lauk untuk makan malam.

Tapi setiap rupiah yang masuk terasa seperti koin panas di sakunya. Rasa lega bercampur dengan rasa bersalah yang pekat. Ini bukan uangnya. Ini uang Agus. Ia bernapas menggunakan paru-paru Agus.

Puncaknya terjadi saat ia mengambil orderan paket di sebuah ruko di kawasan Panglima Polim. Pengirimnya adalah seorang ibu-ibu yang cerewet.

"Ini isinya kue kering ya, Mas Agus. Jangan dibanting-banting. Nanti tolong telepon penerimanya kalau sudah mau sampai, soalnya orangnya suka nggak ada di rumah," katanya panjang lebar.

Banyu hanya bisa mengangguk-angguk, memasang senyum kaku, berharap senyumnya bisa menutupi fakta bahwa ia tidak menangkap separuh dari kalimat wanita itu. Telepon penerima. Dua kata itu bergema di kepalanya.

Ia mengambil paket itu, mengamankannya di jok belakang, lalu pergi. Sepanjang jalan, ia dilanda dilema. Ia tidak mungkin menelepon. Ia membuka detail orderan, berharap ada catatan khusus. Tidak ada. Hanya nama dan nomor telepon penerima.

Ia memutuskan untuk berjudi. Ia akan mengirim chat saja. Lima ratus meter sebelum tiba di lokasi tujuan, ia menepi.

Selamat siang, saya driver Laju, Agus. Sudah dekat dengan lokasi. Mohon ditunggu.

Ia mengirim pesan itu. Centang dua. Abu-abu. Penerima belum membacanya. Banyu menunggu lima menit. Masih abu-abu. Ia mulai gelisah.

Ibu pengirim tadi tampak galak. Jika paket ini bermasalah, ia bisa memberi rating satu dan laporan pedas. Akun Agus bisa dalam bahaya. Utangnya pada Bang Sapto akan menjadi lebih dari sekadar utang kehormatan.

Ia tiba di depan sebuah rumah besar. Pagarnya tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ia mengirim chat lagi. Masih belum dibaca. Ia memencet bel. Tidak ada jawaban.

Inilah neraka bagi seorang kurir. Alamat benar, tapi tak berpenghuni. Driver normal akan menelepon. Banyu hanya bisa berdiri mematung di bawah matahari, memegang kue kering orang lain, merasa semakin seperti seorang penipu.

Tiba-tiba, pagar didorong dari dalam. Seorang asisten rumah tangga keluar.

"Cari siapa, Mas?"

"Paket untuk Ibu Sinta," ucap Banyu, suaranya serak karena jarang digunakan.

"Oh, iya. Ibu lagi di dalam. Kenapa nggak telepon dari tadi? Sudah ditungguin," kata wanita itu.

Banyu hanya menyerahkan paket itu, meminta tanda tangan di aplikasi, dan segera pergi. Ia tidak mau mengambil risiko ditanya lebih lanjut. Saat ia memutar motornya, ponselnya bergetar. Notifikasi dari pelanggan pengirim tadi.

"Terima kasih ya, Mas Agus. Cepat sekali sampainya. Saya kasih bintang lima."

Banyu berhenti di tikungan jalan. Ia membaca pesan itu berulang kali. Bintang lima. Pujian. Untuk Agus. Bukan untuk Banyu. Ia telah melakukan pekerjaannya dengan baik, mengatasi rintangan dengan caranya sendiri, tapi pengakuan itu jatuh ke tangan orang lain.

Ia menatap saldo di aplikasi. Rp 145.000. Sudah lebih dari cukup. Ia mematikan aplikasi, mengakhiri shift-nya sebagai Agus. Perasaan lega yang membanjiri dirinya begitu luar biasa. Ia bebas. Ia bisa menjadi Banyu lagi.

Dalam perjalanan kembali ke Blok M, ia berhenti di sebuah toko sepatu kecil. Ia membeli sepasang sepatu sekolah hitam polos seharga delapan puluh lima ribu rupiah.

Saat memegang kotak sepatu itu, untuk pertama kalinya hari ini, ia merasa melakukan sesuatu yang benar dan nyata. Uang ini mungkin didapat dari kebohongan, tapi benda yang dibelinya adalah perwujudan dari cinta seorang ayah.

Ia kembali ke basecamp, menyerahkan sisa uang dan akun itu pada Bang Sapto. Sapto menghitungnya, lalu memberikan bagian Banyu.

"Cukup?" isyarat Sapto.

Banyu mengangguk, menunjukkan kotak sepatu di motornya. "Cukup. Terima kasih banyak, Bang."

"Jangan lagi," isyarat Sapto tegas. "Terlalu bahaya. Besok, pakai akunmu sendiri. Pakai HP sewaan."

Banyu mengangguk setuju. Hari ini sudah cukup. Ia tidak mau lagi menjadi hantu. Ia menyalakan motornya, menuju rumah. Di dalam sakunya ada sisa uang, di jok belakangnya ada sepatu baru.

Ia pulang bukan sebagai Agus si driver bintang lima, tapi sebagai Banyu, seorang ayah yang hari ini menolak untuk kalah. Meski untuk menang, ia harus meminjam wajah orang lain.