Hari-hari setelah Banyu kembali menggunakan akunnya sendiri—dengan HP sewaan dari Bang Sapto yang terasa seperti lintah yang mengisap dua puluh lima ribu rupiah dari pendapatannya setiap pagi—berlalu dalam kabut monoton yang melelahkan.
Setiap orderan adalah pertaruhan, setiap rupiah adalah kemenangan kecil yang dirayakan dalam diam. Pengalaman menjadi hantu bernama Agus telah meninggalkan bekas luka yang tak terlihat; ia menjadi lebih waspada terhadap tatapan orang, lebih peka terhadap penilaian yang mungkin tersembunyi di balik senyum atau diamnya penumpang.
Ia merasa seolah sedang berjalan di atas lapisan es yang tipis, setiap saat bisa retak dan menelannya ke dalam air dingin kegagalan.
Sore itu, langit Jakarta berwarna abu-abu berasap, menjanjikan hujan yang tak kunjung turun dan membuat udara terasa berat untuk dihirup.
Banyu mendapat orderan dari sebuah gedung perkantoran di kawasan SCBD, hutan beton dan kaca tempat uang dan kekuasaan bersarang. Penumpangnya, seorang pria berusia akhir empat puluhan, muncul dari lobi yang dinginnya terasa sampai ke area penjemputan.
Ia mengenakan setelan jas mahal yang sedikit kusut di bagian punggung, dasinya dilonggarkan, dan aroma parfum yang tajam bercampur bau samar alkohol tercium bahkan dari jarak dua meter. Banyu bisa melihat dari pantulan kaca lobi bahwa pria itu baru saja menyelesaikan panggilan telepon, wajahnya tegang dan rahangnya mengeras.
Pria itu—sebut saja Pak Robert, nama yang tertera di aplikasi—menutup teleponnya dengan gerakan kesal saat Banyu tiba. Ia menatap Banyu sekilas, tatapannya memindai dari helm hingga ke ujung sepatu, sebuah penilaian cepat yang terasa merendahkan.
Lalu, matanya berhenti pada stiker di belakang helm Banyu. Sebuah senyum tipis yang aneh tersungging di bibirnya. Banyu sangat mengenali jenis-jenis senyum. Ada senyum ramah, senyum canggung, senyum kasihan. Tapi senyum ini berbeda. Ini adalah senyum seseorang yang baru saja menemukan sebuah celah, sebuah keuntungan tak terduga dalam sebuah sistem.
"Jalan Prapanca ya," kata pria itu, suaranya berat dan Banyu bisa membacanya dengan jelas dari gerakan bibirnya yang tegas. Ia langsung naik ke boncengan tanpa menunggu Banyu menyodorkan kartu laminatingnya, sebuah pelanggaran kecil terhadap ritual Banyu yang terasa seperti sebuah pernyataan: Aku tidak butuh aturanmu.
Banyu menarik gas. Beban di jok belakang terasa berat, bukan hanya secara fisik. Ada aura gelisah yang pekat terpancar dari pria itu. Banyu bisa merasakannya dari cara pria itu duduk yang tidak tenang, dan getaran samar yang menjalar ke rangka motor saat pria itu mengetuk-ngetukkan jarinya di paha dengan ritme yang tidak sabaran.
Saat mereka memasuki kemacetan abadi di Jalan Senopati, di mana mobil-mobil mewah merayap seperti siput logam, ponsel pria itu berdering lagi. Kali ini, ia mengangkatnya. Banyu, seperti biasa, mencoba mengunci fokusnya pada jalanan. Lirikan rutinnya ke spion kanan, sebuah refleks yang sudah mendarah daging demi keselamatan, menangkap pemandangan yang membuatnya tidak nyaman.
Pak Robert sedikit memiringkan tubuhnya, berusaha melindungi ponsel dari pandangan Banyu, seolah Banyu bisa mendengar percakapan itu. Sebuah tindakan sia-sia yang justru mengungkap banyak hal.
Saat motor berhenti total karena macet, Banyu tidak mendengar suaranya, tapi ia bisa merasakan resonansinya.
Getaran bariton yang dalam dan rendah dari suara pria itu merambat melalui sadel motor dan rendah dari suara pria itu merambat melalui sadel motor, naik ke tulang punggung Banyu, seperti dengung samar dari sebuah mesin yang tersembunyi.
Itu bukan getaran marah seperti penumpang yang mengomel, melainkan getaran yang terkendali, intim, dan berbisik.
Di kaca spion yang retak, Banyu melihat fragmen-fragmen visual dari percakapan itu. Bibir Pak Robert bergerak pelan, nyaris tanpa membuka mulut, membentuk kata-kata yang Banyu rangkai di kepalanya dengan susah payah.
"...iya, sabar, Sayang... aku sudah di jalan..." "...bukan... dia tidak akan tahu... aman..." "...sebentar lagi sampai. Kamu tunggu saja di tempat biasa... pakai baju yang kemarin ya..."
Banyu memalingkan muka dengan cepat, kembali fokus ke depan, jantungnya berdebar sedikit lebih kencang. Ia merasa seperti seorang pengintip yang tidak disengaja. Tapi matanya, seolah punya kehendak sendiri, secara refleks kembali melirik spion beberapa detik kemudian.
Ia melihat Pak Robert tertawa kecil, tawa tanpa suara yang membuat bahunya bergetar. Lalu, pria itu menatap lurus ke pantulan mata Banyu di spion. Tatapan mereka bertemu selama sepersekian detik.
Pak Robert tidak membuang muka. Ia justru tersenyum lagi, senyum yang sama seperti di lobi tadi. Senyum penuh persekongkolan, seolah berkata, Kau dan aku, kita punya rahasia kecil, bukan?
Saat itulah Banyu mengerti dengan kejelasan yang menyakitkan. Pak Robert tidak hanya tahu Banyu Tuli; ia menggunakannya. Motor Banyu, ruang sempit di antara stang dan sandaran punggungnya, telah menjadi kompartemen yang kedap suara.
Sebuah bilik pengakuan dosa berjalan, sebuah ruang aman untuk melakukan pengkhianatan. Pria ini merasa bebas merencanakan perselingkuhannya karena ia menganggap Banyu tidak lebih dari mesin yang membawanya—sebuah benda mati yang tidak bisa mendengar, tidak bisa mengerti, dan yang terpenting, tidak bisa menghakimi atau melapor.
Dada Banyu terasa sesak, seolah udara kotor Jakarta tiba-tiba memenuhi paru-parunya. Ini adalah bentuk penghinaan yang baru dan lebih subtil.
Ia tidak dimaki "budeg". Ia tidak dikasihani karena kondisinya. Ia dihapus. Dianggap tidak ada sebagai seorang manusia dengan telinga batin, dengan perasaan dan sistem nilai moral. Ia hanya cangkang, sebuah fungsi, sebuah perabotan.
Perjalanan lima belas menit itu terasa seperti satu jam penyiksaan psikologis. Banyu menjadi pendengar yang paling penuh perhatian dari sebuah drama perselingkuhan yang menjijikkan.
Ia melihat bagaimana bibir pria itu melunak saat mengucapkan kata "Sayang", dan bagaimana rahangnya mengeras saat menyebut nama lain yang Banyu duga adalah nama istrinya.
Ia adalah saksi bisu dari sebuah kebohongan, dipaksa menjadi kaki tangan dalam sebuah dosa yang bukan miliknya, hanya karena telinganya tidak berfungsi.
Saat mereka akhirnya tiba di depan sebuah rumah megah di Prapanca, yang jelas bukan "tempat biasa" yang dimaksud, Pak Robert turun. Ia merogoh dompetnya. Tarif di aplikasi menunjukkan angka tiga puluh dua ribu rupiah. Pria itu mengeluarkan selembar uang seratus ribu yang masih licin.
"Ambil saja kembaliannya," kata Pak Robert, suaranya terdengar santai dan ringan, seolah baru saja menyelesaikan transaksi bisnis yang sukses. Ia menyelipkan uang itu ke saku jaket Banyu dengan gerakan yang terlalu akrab. "Terima kasih atas perjalanannya yang... tenang."
Penekanan pada kata "tenang" itu adalah puncaknya. Itu bukan tip atas pelayanan yang baik. Itu uang tutup mulut. Sebuah pembayaran atas jasa Banyu menjadi dinding yang tak bersuara.
Banyu ingin sekali melempar uang itu kembali ke wajahnya. Ia ingin membuat isyarat tangan yang kasar, mengatakan bahwa harga dirinya tidak semurah itu, bahwa keheningannya tidak untuk dijual.
Tapi kemudian bayangan Fajar yang menunjuk sepatu bolongnya melintas di benaknya. Ia teringat sewa HP dua puluh lima ribu yang harus ia bayar besok. Ia teringat harga beras yang terus naik. Ia teringat tatapan lelah Dina saat menghitung uang receh di malam hari.
Dengan tangan gemetar yang ia sembunyikan di dalam sarung tangannya, Banyu hanya mengangguk. Ia tidak sanggup menatap mata pria itu. Ia merasakan tatapan merendahkan itu di tengkuknya saat ia menyalakan mesin dan pergi, melarikan diri dari tempat itu secepat mungkin.
Lembaran uang seratus ribu di sakunya terasa panas, lalu dingin, seperti sepotong logam yang dicelupkan ke dalam air es. Uang itu berbau parfum mahal dan kebohongan.
Malam itu, saat ia memberikan sebagian uang itu pada Dina untuk belanja besok, ia merasa seperti seorang penipu. Ia telah membawa pulang uang haram, hasil dari keterlibatannya yang pasif dalam rusaknya rumah tangga orang lain.
Malam itu, Banyu tidur dengan gelisah. Dalam sunyi kamarnya yang total, ia merasa bisa mendengar bisikan-bisikan Pak Robert, gema dari sebuah percakapan yang tidak pernah ia dengar namun ia pahami sepenuhnya. Ia telah menjadi bagian dari rahasia kotor kota itu, dan ia membenci dirinya sendiri karenanya.