Uang dari Pak Robert meninggalkan endapan pahit di jiwa Banyu. Selama dua hari berikutnya, ia bekerja dengan perasaan hampa, seolah ada lapisan kaca kotor yang memisahkannya dari dunia.
Setiap kali ia melihat pasangan suami-istri berboncengan di jalan, tertawa atau berbincang, dadanya terasa nyeri oleh sinisme yang baru tumbuh. Ia menjadi lebih curiga pada penumpangnya, mencoba membaca niat tersembunyi di balik setiap gestur.
Dunia terasa lebih gelap, lebih mengancam. Ia bahkan sempat bertengkar dalam diam dengan Dina. Saat Dina bertanya mengapa ia begitu murung, Banyu tidak bisa menjelaskannya.
Bagaimana ia bisa menceritakan sebuah percakapan yang tidak ia dengar? Bagaimana ia bisa menjelaskan rasa malu karena menjadi properti dalam drama orang lain?
Keheningan di antara mereka menjadi tegang, sarat dengan frustrasi yang tak terungkapkan, dan Banyu merasa semakin terisolasi, bahkan di dalam rumahnya sendiri.
Pada hari ketiga, langit menepati janjinya. Hujan kembali mengguyur Jakarta. Bukan hujan sore yang romantis, melainkan badai tropis yang ganas di tengah hari bolong.
Langit berubah menjadi hitam dalam hitungan menit, dan jalanan seketika menjadi sungai cokelat yang berarus deras. Banyu sedang dalam perjalanan mengantar paket ke daerah Kemang ketika hujan itu pecah.
Air jatuh seperti tirai tebal, menghapus jarak pandang dan meredam semua getaran halus dari aspal.
Ia segera menepi di bawah jembatan layang, bergabung dengan puluhan pemotor lainnya yang tampak seperti sekawanan domba yang mencari perlindungan.
Ia mengenakan jas hujan ponconya yang sudah usang, memastikan paket di bawah joknya aman. Tapi masalah utamanya adalah HP sewaan Bang Sapto. Ponsel itu tidak tahan air, dan Banyu memperlakukannya seperti bom waktu.
Ia sudah membungkusnya dengan dua lapis kantong plastik, tapi kecemasan tetap menggerogotinya. Jika ponsel ini mati, ia tidak hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga berutang lima ratus ribu—sebuah angka yang bisa menghancurkan keuangan keluarganya selama berbulan-bulan.
Orderan berikutnya masuk saat hujan sedikit mereda menjadi gerimis lebat. Penumpang. Dari sebuah kafe di Kemang menuju sebuah galeri di dekat Jeruk Purut.
Jaraknya tidak jauh, tapi medannya rumit, penuh jalan tikus yang membingungkan dan seringkali tidak terdeteksi oleh Google Maps. Dengan ragu, Banyu menerima orderan itu. Ia butuh uang untuk menutupi biaya sewa HP dan menebus perasaan bersalahnya pada Dina.
Di depan kafe, seorang wanita melambai padanya. Ia mengenakan jaket parka berwarna zaitun, rambutnya diikat cepol berantakan, dan ia membawa tas jinjing besar yang tampak berat. Wajahnya terlihat lelah, mungkin karena cuaca, tapi matanya jernih dan penuh perhatian.
Banyu melakukan ritualnya: memutar badan, menyodorkan kartu laminating keramatnya.
Wanita itu—namanya Rania, sesuai aplikasi—menerima kartu itu.
Tidak seperti penumpang lain yang hanya melirik sekilas atau bahkan mengabaikannya, Rania membacanya dengan saksama.
Alisnya sedikit terangkat. Lalu, matanya beralih ke stiker di helm Banyu, membacanya juga. Ia mengangguk pelan, sebuah anggukan penuh pemahaman, bukan kasihan. Ia mengembalikan kartu itu dengan senyum kecil yang tulus.
"Oke. Saya paham," gerak bibirnya terbaca jelas, diucapkan dengan pelan dan tanpa berlebihan.
Perjalanan dimulai dalam keheningan yang nyaman, bukan keheningan canggung atau tegang. Rania duduk dengan tenang, tidak gelisah.
Banyu bisa merasakan kestabilan dari bobot tubuhnya, membuatnya lebih mudah bermanuver di jalanan licin yang penuh jebakan genangan.
Namun, saat mereka harus berbelok masuk ke jalan kecil, masalah dimulai. Google Maps di HP sewaan itu mulai error. Sinyalnya hilang-timbul karena cuaca buruk. Titik biru yang menandakan posisi mereka melompat-lompat tak menentu di layar, seolah sedang panik.
Banyu menepi sejenak di bawah kanopi sebuah toko yang tutup, mencoba me-restart aplikasi. Kepanikan dingin mulai menjalari perutnya. Ia takut ini akan menjadi pengulangan insiden kue tart.
Ia bisa merasakan tatapan Rania di punggungnya, dan ia bersiap untuk menerima keluhan atau bahkan pembatalan orderan.
Tiba-tiba, ia merasakan tepukan ringan di pundak kirinya. Bukan pukulan, bukan sentakan. Hanya tepukan dua kali yang sopan.
Ia menoleh. Rania mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Ia tidak berteriak atau menunjukkan kekesalan. Ia mengeluarkan ponselnya sendiri, membuka aplikasi peta yang sama, lalu menunjukkannya pada Banyu.
Di layar ponsel Rania, titik biru itu stabil dan sinyalnya penuh. Ia menunjuk ke sebuah belokan sekitar lima puluh meter di depan, lalu menggerakkan jarinya mengikuti rute di peta, menunjukkan dua belokan lagi setelah itu. Komunikasi yang jernih, efisien, dan murni visual.
Banyu menatap wanita itu melalui kaca spion. Ada rasa terima kasih yang meluap di dadanya, begitu kuat hingga terasa sesak.
Ia mengangguk, lalu kembali menjalankan motornya, mengikuti instruksi visual dari Rania. Mereka bekerja sama sebagai sebuah tim yang padu.
Setiap kali ada persimpangan yang membingungkan, Rania akan menepuk pundaknya—kiri untuk belok kiri, kanan untuk belok kanan—jauh sebelum mereka mencapai titik belok, memberinya banyak waktu untuk menyalakan sein dan bermanuver. Persis seperti instruksi di helmnya. Persis seperti yang dilakukan Bu Ratna tempo hari, sebuah pengalaman yang sudah mulai ia anggap sebagai anomali.
Ini terasa seperti oase di tengah gurun sinismenya. Setelah pengalaman dengan Pak Robert, interaksi dengan Rania terasa seperti pemurnian.
Wanita ini melihatnya. Ia tidak hanya melihat jaket abunya atau stiker di helmnya; ia melihat Banyu sebagai seorang manusia, seorang profesional yang memiliki cara kerja berbeda, dan ia beradaptasi dengannya tanpa membuatnya merasa rendah.
Saat mereka akhirnya tiba di depan sebuah galeri seni kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya tanaman, hujan sudah berhenti total, menyisakan udara yang bersih dan aroma tanah basah yang menusuk hidung. Aspal di jalan kecil itu mengilap seperti cermin hitam, memantulkan sisa-sisa cahaya pucat dari langit yang mulai cerah.
Rania turun dari motor, gerakannya ringan. "Terima kasih banyak, Mas," ucapnya, suaranya terdengar jelas dalam keheningan pasca-hujan.
Banyu membuka kaca helmnya, udara sejuk langsung menyapu wajahnya yang berkeringat. Ia ingin mengucapkan sesuatu yang lebih dari sekadar anggukan, ingin mengekspresikan rasa terima kasihnya yang meluap karena telah diperlakukan sebagai mitra, bukan sebagai masalah.
Tapi lidahnya terasa kelu, takut suaranya yang "berbeda" akan merusak momen itu. Jadi, ia hanya bisa mengangguk canggung.
Rania tersenyum, seolah mengerti kebimbangan Banyu. Lalu ia melakukan sesuatu yang mengejutkan Banyu, sesuatu yang meruntuhkan dinding sinisme yang telah ia bangun dengan susah payah selama beberapa hari terakhir.
Ia mengangkat tangan kanannya, menguncupkan kelima jarinya, menempelkannya dengan lembut ke dagu, lalu menggerakkannya ke arah Banyu dalam sebuah lengkungan yang anggun.
Isyarat BISINDO untuk "Terima Kasih". Sama persis seperti yang dilakukan Bu Ratna, sebuah keajaiban yang Banyu kira hanya akan terjadi sekali seumur hidupnya.
Jantung Banyu berdesir hebat. Perasaan itu begitu kuat, campuran antara keterkejutan, kelegaan, dan validasi yang murni.
Dua kali dalam hidupnya ia bertemu orang asing yang berbicara dalam bahasanya. Itu adalah perasaan ditemukan setelah sekian lama tersesat. Perasaan dilihat, benar-benar dilihat, sebagai seorang manusia utuh.
"Sama-sama," balas Banyu dengan isyarat yang sama, kali ini lebih lancar, seolah otot-otot tangannya mengingat sebuah lagu lama.
Wajah Rania tampak senang, matanya berbinar. "Saya Rania," ia memperkenalkan diri, lalu dengan perlahan dan hati-hati, ia mengeja namanya dengan jari. R-A-N-I-A.
Banyu tertegun sejenak, terpesona oleh kefasihan gerakan itu.
Ia merasa seolah sedang berada di dunianya sendiri, bukan di pinggir jalanan Jakarta yang kejam. Dengan sedikit ragu, ia mengeja namanya sendiri. B-A-N-Y-U.
"Saya sering bolak-balik di area sini untuk kerja. Boleh saya simpan nomor Mas?" tanya Rania, kali ini sambil mengetik di ponselnya dan menunjukkannya pada Banyu.
Sebuah tindakan bijaksana untuk memastikan tidak ada kesalahpahaman. "Nanti saya hubungi langsung kalau butuh ojek lagi. Lebih mudah begini daripada lewat aplikasi, biar Mas-nya yang dapat."
Banyu ragu sejenak. Memberikan nomor pribadi pada penumpang adalah hal yang tidak biasa dan seringkali dihindari. Ada risiko pelecehan atau masalah lain.
Tapi interaksi ini terasa berbeda. Terasa tulus dan aman. Perasaan hangat karena dimengerti mengalahkan kewaspadaan yang biasanya ia pasang tinggi-tinggi. Ia mengangguk dan dengan hati-hati mengetikkan nomornya di ponsel Rania.
"Oke, sudah saya simpan. Nanti saya WhatsApp ya. Hati-hati di jalan, Mas Banyu," ketik Rania lagi, dengan emoji senyum.
Banyu pulang hari itu dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari hari-hari sebelumnya. Pertemuannya dengan Rania seolah telah membersihkan kotoran dan kepahitan yang ditinggalkan Pak Robert.
Ia mulai percaya lagi bahwa masih ada orang baik di kota ini, orang yang mau meluangkan waktu sejenak untuk mengerti, untuk belajar beberapa kata dari bahasa orang lain.
Ia merasa telah menemukan seorang pelanggan istimewa, mungkin bahkan seorang teman. Ia tidak tahu bahwa pengertian Rania, tidak seperti pengertian Bu Ratna yang tulus dan tanpa pamrih, memiliki tujuan dan harga yang jauh lebih rumit daripada yang bisa ia bayangkan.
Pertemuan di tengah hujan itu bukanlah sebuah kebetulan yang indah, melainkan awal dari sebuah transaksi yang akan menguji batas paling fundamental dari harga dirinya.