Hubungan kerja antara Banyu dan Rania berkembang dengan cepat dan terasa begitu alami.
Benar saja, dua hari kemudian, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponsel sewaan Banyu. Dari Rania. Notifikasi itu terasa berbeda, lebih personal daripada notifikasi orderan dari aplikasi yang dingin.
"Mas Banyu, apa kabar? Bisa jemput saya di tempat kemarin jam 3 sore? Tujuannya ke Cikini."
Banyu merasa senang, sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan terkait pekerjaannya. Seorang pelanggan tetap berarti kepastian, sebuah kemewahan langka dalam hidupnya yang penuh ketidakpastian algoritma.
Ia segera membalas, mengiyakan. Sejak itu, Rania menjadi langganan setianya, setidaknya tiga sampai empat kali seminggu.
Perjalanan mereka selalu efisien dan tanpa stres. Rania akan mengirimkan alamat tujuan jauh-jauh hari.
Jika ada rute yang rumit, ia akan mengirimkan tangkapan layar peta dengan garis biru yang ia gambar sendiri, lengkap dengan catatan kecil seperti "lewat depan tukang bubur" atau "belok di gang setelah masjid." Komunikasi mereka lancar, mengalir melalui teks dan gestur sederhana saat bertemu.
Bagi Banyu, Rania adalah penumpang ideal. Ia tidak pernah menelepon. Ia selalu siap tepat waktu. Ia sabar. Dan yang terpenting, ia membuatnya merasa kompeten.
Di mata Rania, ketuliannya bukanlah sebuah kekurangan yang merepotkan, melainkan hanya sebuah karakteristik yang membutuhkan metode komunikasi yang berbeda.
Banyu mulai menantikan hari-hari di mana ia mendapat orderan dari Rania. Perjalanan bersamanya terasa lebih ringan, seolah beban di pundaknya sedikit terangkat.
Ia bisa fokus pada jalanan tanpa harus khawatir akan kesalahpahaman atau makian.
Rania juga tampak tertarik pada kehidupan Banyu, sebuah ketertarikan yang Banyu salah artikan sebagai awal dari sebuah pertemanan.
Pertanyaan-pertanyaannya di chat selalu sopan, tapi detail dan menggali.
"Mas Banyu sudah berapa lama jadi driver?" "Apa tantangan terbesarnya setiap hari? Selain komunikasi, maksud saya." "Stiker di helm itu idenya Mas sendiri? Cerdas sekali. Itu seperti membuat SOP pribadi ya." "Bagaimana Mas Banyu 'mendengar' bahaya di jalan? Seperti truk atau ambulans?"
Banyu, yang jarang sekali mendapat kesempatan untuk "bercerita" dan didengarkan dengan sungguh-sungguh, menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan senang hati. Ia merasa dihargai, seolah pengalamannya memiliki nilai.
Ia bercerita tentang Fajar, tentang sepatunya yang bolong. Ia bercerita tentang keputusannya pindah ke Jakarta demi Dina. Ia bercerita tentang bagaimana ia mengandalkan getaran di stang motor untuk merasakan kendaraan besar, dan bagaimana pantulan cahaya di genangan air bisa menjadi peringatan akan adanya mobil yang mendekat dari belakang.
Setiap balasan chat darinya seperti membuka sebuah katup kecil di dalam hatinya yang sudah lama berkarat dan tertutup.
Suatu sore, Rania memintanya untuk mengantar ke sebuah toko peralatan seni di dekat stasiun Kebayoran. Saat mereka tiba, Rania memintanya menunggu sebentar, tidak seperti biasanya.
"Tunggu sebentar ya, Mas. Sekitar 15-20 menit. Saya mau beli kanvas besar, nanti butuh bantuan untuk bawa. Saya bayar lebih untuk waktu tunggunya, jangan khawatir," ketik Rania di ponselnya.
Banyu setuju tanpa ragu. Ia memarkir motornya di tempat teduh, mematikan mesin, dan menunggu.
Ia mengamati Rania yang masuk ke dalam toko dengan langkah bersemangat. Sekitar lima belas menit kemudian, Rania keluar sambil membawa beberapa barang: sebuah tas kertas besar, beberapa kuas, dan sebuah buku sketsa besar yang terbuka di tangannya.
Ia tampak sedang memeriksa hasil gambarnya di bawah cahaya matahari. Saat ia berjalan mendekat ke arah Banyu, angin sore yang berembus cukup kencang meniup lembaran buku itu, membukanya ke halaman lain.
Dan Banyu melihatnya.
Di salah satu halaman, ada sebuah sketsa pensil yang dibuat dengan sangat detail dan hidup. Gambarnya begitu familier hingga membuat perut Banyu terasa dingin.
Itu adalah gambar punggung seorang pria di atas motor, mengenakan jaket ojek dan helm. Di bagian belakang helm itu, tergambar dengan jelas tulisan: "Tepuk pundak saya 20 meter sebelum belok."
Di bawah sketsa itu, ada tulisan tangan kecil yang rapi: "Subjek #1 - Banyu. Pengemudi Tuli. Resiliensi dalam keheningan. Observasi hari ke-5."
Dunia Banyu berhenti berputar. Suara bising jalanan, deru kereta dari stasiun, klakson mobil—semua kebisingan visual itu seolah lenyap, digantikan oleh dengung nyaring di telinga kanannya, dengung statis yang menyakitkan.
Subjek #1. Observasi hari ke-5.
Kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari pukulan penumpang di persimpangan jalan. Lebih menghina dari tatapan kasihan Pak Hendra. Lebih menyakitkan dari uang tutup mulut Pak Robert. Karena ini datang dari seseorang yang ia percayai.
Semua kebaikan Rania, semua pertanyaannya yang penuh perhatian, semua isyarat BISINDO-nya, semua pemahamannya... itu semua bukan ketulusan. Itu adalah riset. Ia bukan teman, bukan pelanggan yang baik.
Ia adalah seorang peneliti, dan Banyu adalah spesimennya. Seekor serangga langka yang sedang ia amati di bawah mikroskop, dicatat setiap gerak-geriknya, dianalisis setiap perjuangannya.
Rania mendekat, masih tersenyum, tidak menyadari bahwa Banyu telah melihat rahasianya yang paling kotor.
"Sudah, Mas. Maaf ya lama. Ternyata kanvasnya harus dipesan dulu," gerak bibirnya.
Banyu tidak bergerak. Ia menatap Rania, tatapan yang dingin dan kosong, semua kehangatan yang pernah ada di sana telah lenyap membeku
Senyum di wajah Rania perlahan memudar, menyadari ada sesuatu yang salah. Ia mengikuti arah pandang Banyu, ke buku sketsa yang masih terbuka di tangannya. Wajahnya memucat seketika.
"Oh... itu..." Rania tergagap, segera menutup buku sketsanya dengan gerakan panik. "Mas Banyu, saya... saya bisa jelaskan."
Banyu merasakan gelombang kemarahan yang panas naik dari perutnya. Kemarahan yang bercampur dengan rasa malu yang luar biasa.
Ia merasa bodoh. Begitu naif dan bodoh karena telah percaya. Ia telah membuka dirinya, menceritakan perjuangannya, menunjukkan kerapuhannya pada seseorang yang hanya melihatnya sebagai "subjek yang menarik".
Kebaikan Rania adalah sebuah jebakan yang paling kejam, karena ia masuk ke dalamnya dengan sukarela, bahkan dengan rasa syukur.
Rania mulai mengetik dengan panik di ponselnya, jari-jarinya gemetar.
"Mas, maaf. Saya tidak bermaksud buruk. Saya seorang seniman dan penulis. Saya sedang mengerjakan sebuah proyek tentang kehidupan orang-orang yang terpinggirkan di Jakarta. Kisah Mas Banyu sangat menginspirasi saya. Saya ingin mengangkatnya, memberikan suara pada mereka yang tidak terdengar."
Memberikan suara. Mengangkatnya. Kata-kata itu terdengar seperti sebuah eksploitasi yang dibungkus dengan niat mulia.
Ia akan mengambil kisah hidupnya, penderitaannya, perjuangannya, lalu mengubahnya menjadi karya seni untuk dinikmati orang lain di galeri-galeri dingin atau di halaman-halaman majalah. Ia akan menjual keheningan Banyu.
Banyu menggelengkan kepalanya pelan. Ia merasakan matanya panas.
Pengkhianatan ini terasa begitu personal, begitu dalam. Ia menyalakan mesin motornya. Getarannya terasa kasar dan marah, seolah motor itu ikut merasakan amarah tuannya.
"Tarifnya berapa?" Banyu mengetik dengan satu tangan, jarinya menekan layar dengan keras, seolah ingin memecahkannya.
Rania tampak terkejut dan terluka oleh respons dingin itu. "Mas, tidak usah. Anggap saja ini..."
"Berapa?" potong Banyu, menunjukkan layar ponselnya dengan tatapan tajam yang tidak menyisakan ruang untuk negosiasi.
Dengan tangan gemetar, Rania mengetikkan angka sesuai aplikasi ditambah uang tunggu.
Banyu melihatnya, lalu menunjuk ke sebuah kode QR untuk pembayaran digital yang ia tempel di motornya. Ia tidak mau menyentuh uang dari tangan wanita itu. Ia tidak mau ada kontak fisik apapun lagi.
Setelah notifikasi pembayaran masuk, Banyu menarik gas tanpa menoleh lagi. Ia meninggalkan Rania yang berdiri mematung di depan toko seni, bersama kanvas-kanvas kosong dan buku sketsa yang penuh dengan observasi dinginnya.
Dalam perjalanan pulang, Banyu menyetir dengan membabi buta. Spionnya tidak lagi memantulkan lalu lintas, tapi wajahnya sendiri yang basah.
Ia bukan menangisi kemarahan, ia menangisi kebodohannya.
Ia menangisi hilangnya sebuah ilusi, ilusi bahwa ada seseorang di kota ini yang bisa memahaminya tanpa menginginkan sesuatu darinya. Ternyata, bahkan pemahaman pun bisa menjadi sebuah komoditas.