Malam itu, Banyu tidak bisa tidur. Ia berbaring di samping Fajar, merasakan napas teratur anaknya di pipinya, sebuah ritme kehidupan yang polos dan tanpa beban.
Setiap embusan napas itu terdengar seperti sebuah pertanyaan di dalam keheningan total Banyu: Ayah, apa yang akan kau lakukan untukku?
Angka yang ditawarkan Rania terus berputar di kepalanya, berkilauan seperti lampu-lampu gedung pencakar langit yang menjanjikan kemewahan namun terasa begitu jauh dan dingin. Angka itu bukan lagi sekadar uang, ia telah berubah menjadi sebuah entitas, sebuah godaan yang memiliki suara dan argumennya sendiri.
Ia memikirkan semua yang akan bisa ia beli dengan uang itu. Bukan hanya sepatu atau HP. Ia bisa membeli ketenangan untuk Dina. Ia bisa menghapus kerutan cemas di dahi istrinya yang muncul setiap akhir bulan.
Ia bisa berhenti merasa gagal setiap kali pulang dengan uang pas-pasan yang harus dihitung berulang kali. Ia bisa membeli waktu—waktu yang tidak dihabiskan untuk mengejar poin di bawah terik matahari atau guyuran hujan, tapi waktu untuk mengajari Fajar menggambar, untuk sekadar duduk di teras sore hari bersama Dina, minum teh, tanpa dihantui bayangan tagihan.
Tapi kemudian ia memikirkan harganya, harga yang tidak tertulis di kontrak. Ia membayangkan wajahnya akan ada di sebuah artikel dengan judul bombastis.
Orang-orang di jalan akan mengenalinya. "Oh, ini Banyu yang Tuli itu."
Mereka akan menatapnya dengan campuran kasihan dan kekaguman yang palsu, sebuah koktail emosi yang selalu membuatnya muak. Ia akan kehilangan anonimitasnya, satu-satunya perisai yang ia miliki di kota yang kejam ini.
Kisahnya akan dibedah, dianalisis, mungkin bahkan didramatisir untuk menambah efek. Ketuliannya, perjuangannya, kemiskinannya, semua itu akan menjadi hiburan, sebuah tontonan penderitaan yang dibungkus dengan kata "inspirasi".
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa berat. Hanya Fajar yang berceloteh riang tentang mimpinya semalam.
Dina pasti merasakan ada sesuatu yang mengganggu Banyu. Saat Fajar sudah berangkat ke sekolah diantar oleh Dina, Banyu mengambil kartu nama Rania dari saku jaketnya.
Ia menatapnya lama, seolah itu adalah sebuah tiket lotre sekaligus surat kematian. Lalu, dengan sebuah helaan napas panjang, ia meletakkannya di atas meja makan yang taplaknya sudah pudar.
Dina kembali dan melihat kartu itu. Ia tidak bertanya, hanya menatap Banyu, matanya yang dalam seolah sudah tahu bahwa kartu itu membawa kabar penting.
Dengan berat hati, Banyu mulai menjelaskan. Ia menggunakan bahasa isyarat, dibantu dengan tulisan di buku catatan Fajar yang sudah lecek.
Ia menceritakan tentang Rania, tentang proyek seninya, tentang pengkhianatan yang ia rasakan. Ia tidak menyembunyikan apapun, termasuk rasa malunya.
Lalu, ia menuliskan penawaran itu. Ia menuliskan angkanya dengan spidol hitam, besar-besar, agar tidak ada keraguan.
Dina terdiam. Matanya terpaku pada angka itu.
Banyu bisa melihat pergulatan di dalam diri istrinya. Sebagai seorang wanita yang setiap hari harus memutar otak agar dapur tetap mengepul, yang tahu persis harga setiap butir beras dan setiap tetes minyak goreng, angka itu adalah sebuah keajaiban.
Itu adalah jawaban dari semua doa sunyinya di sepertiga malam.
"Kamu... mau?" isyarat Dina, ragu. Tangannya sedikit gemetar.
Banyu menatap istrinya dalam-dalam. Ia mencari jawaban di mata Dina. Sebagian dari dirinya berharap Dina akan berkata, "Jangan, Nyu. Harga diri kita lebih penting."
Ia berharap Dina akan menguatkannya untuk menolak, untuk memilih jalan yang lebih sulit namun terhormat.
Tapi yang Banyu lihat di mata Dina adalah kelelahan. Kelelahan yang teramat sangat, yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun.
Kelelahan karena terus-menerus menambal kekurangan, karena selalu khawatir akan hari esok.
"Aku tidak tahu," isyarat Dina, jujur. Matanya berkaca-kaca. "Uang itu... bisa mengubah segalanya untuk Fajar. Sekolahnya, gizinya..."
Lalu ia menambahkan dengan gerakan yang lebih pelan, tangannya menyentuh lengan Banyu, "Tapi aku tidak mau kamu terluka. Aku tidak mau mereka menyakitimu."
Jawaban Dina tidak membantunya. Justru, itu meletakkan seluruh beban keputusan kembali ke pundaknya, dengan tambahan beban perasaan Dina.
Istrinya menyerahkannya padanya, percaya pada penilaiannya sebagai kepala keluarga, sebagai nahkoda dari kapal kecil mereka yang oleng.
Siang itu, Banyu tidak "narik". Ia duduk di teras, membiarkan HP sewaan itu diam.
Ia menatap sepatu baru Fajar yang tergeletak di rak. Sepatu hitam polos yang mengkilap itu dibeli dengan uang 'Agus'. Benda itu terlihat asing di rumah mereka yang kusam, seperti sebuah bukti kebohongan yang nyata.
Ia menatap dinding kontrakan yang retak. Retakan itu seperti peta dari perjuangan mereka. Rania ingin membeli peta itu, memajangnya untuk dilihat semua orang.
Ia menyadari sebuah kebenaran yang pahit. Di dunia ini, terkadang kau harus memilih di antara dua jenis luka. Luka karena kemiskinan yang menggerogoti dari dalam secara perlahan, atau luka karena harga diri yang terkoyak dalam sekejap tapi perut terisi. Tidak ada pilihan yang tidak menyakitkan.
Ia teringat ibunya di kampung. "Harus belajar berani," kata ibunya dulu.
Tapi keberanian seperti apa yang dibutuhkan sekarang? Keberanian untuk tetap miskin demi sebuah prinsip yang abstrak? Ataukah keberanian untuk mengorbankan prinsip itu demi cinta yang nyata pada keluarganya?
Sore itu, keputusannya sudah bulat. Itu bukan keputusan yang membanggakan. Itu bukan keputusan yang heroik. Itu adalah keputusan seorang ayah, seorang suami. Sebuah kapitulasi yang ia bungkus sebagai sebuah strategi bertahan hidup.
Dengan tangan yang terasa berat seperti timah, ia mengambil ponselnya. Ia membuka kontak Rania yang sudah ia buka blokirnya. Ia mengetik sebuah pesan.
"Saya setuju."
Ia berhenti sejenak, menatap dua kata itu. Terasa begitu final. Begitu menyedihkan.
Lalu, ia menambahkan satu kalimat lagi, sebuah usaha terakhir untuk merebut sedikit kendali, untuk menunjukkan bahwa ia bukan korban pasrah yang bisa didikte.
"Tapi dengan syarat. Saya yang menentukan cerita mana yang boleh ditulis. Dan saya mau bertemu editor Anda. Saya tidak mau bicara hanya dengan Anda."
Ia menekan tombol kirim sebelum ia sempat berubah pikiran.
Pesan itu terkirim. Centang dua biru. Jawaban dari Rania datang hampir seketika, penuh dengan antusiasme yang terasa palsu.
"Tentu, Mas Banyu. Apapun syaratnya. Terima kasih. Anda tidak akan menyesal."
Banyu membaca balasan itu tanpa emosi. Anda tidak akan menyesal. Ia tahu itu adalah sebuah kebohongan. Ia sudah menyesalinya, bahkan sebelum semua ini dimulai.
Ia meletakkan ponselnya. Di langit barat, matahari terbenam, melukis langit dengan warna oranye dan ungu yang megah. Pemandangan yang indah.
Tapi Banyu tidak merasakannya. Ia merasa baru saja menandatangani sebuah kontrak di atas luka-lukanya sendiri.
Ia telah menjual hantunya, dan ia tidak tahu apakah uang yang akan ia terima bisa membayar kembali bagian dari jiwanya yang baru saja ia lepaskan. Pertarungan hari itu telah selesai. Ia tidak kalah, tapi ia juga sama sekali tidak merasa menang.