Kerumunan Burung Nazar

06 February 2026

Pagi di Jakarta biasanya dimulai dengan suara klakson yang saling bersahutan, namun pagi ini di kantor firma hukum Alif, suara yang paling nyaring adalah teriakan orang-orang yang merasa memiliki hak atas hidupku. Dari balik jendela kaca lantai sepuluh, aku bisa melihat sekelompok orang berkumpul di depan lobi gedung. Mereka adalah kerabat jauh Aris, orang-orang yang bahkan tidak pernah mengirimkan pesan sekadar menanyakan kabar saat aku kelaparan di desa dulu, namun kini datang dengan spanduk bertuliskan tuntutan keadilan bagi sang suami yang terzalimi.

Aku menggendong Cahaya yang sedang gelisah karena suasana yang bising. Bumi dan Bintang duduk di pojokan ruangan, asyik dengan buku gambar mereka, namun telinga mereka yang kecil sesekali menangkap suara makian dari arah pintu luar.

"Lisna, kamu jangan jadi kacang lupa kulitnya!" suara Bibi Sumi, kakak tertua ibunya Aris, terdengar melengking saat ia memaksa masuk ke ruang tunggu. "Aris itu suamimu! Dia yang menanggung malu saat kamu lahir tanpa ayah! Sekarang setelah kamu dapat warisan milyaran, kamu mau buang dia ke penjara? Kamu itu wanita macam apa?"

Alif masuk ke ruanganku dengan wajah yang sangat lelah. Ia baru saja mencoba bernegosiasi dengan mereka di luar, namun sia-sia. Logika tidak pernah menang melawan keserakahan yang dibungkus dengan alasan kekeluargaan.

"Mereka menolak untuk pergi, Lisna," Alif duduk di kursi kerjanya, memijat pelipisnya. "Mereka bahkan membawa pengacara jalanan yang mengancam akan menggugat hak cipta seluruh novelmu atas nama harta bersama selama pernikahan. Ini sudah bukan lagi soal moral, ini murni perampokan."

Aku menatap Cahaya yang kini sudah mulai tenang dalam dekapanku. "Kenapa mereka begitu tega, Mas? Mereka tahu Aris sering memukulku. Mereka tahu Aris mencuri uang susu anak-anak. Kenapa sekarang mereka malah membela dia?"

"Karena bagi mereka, Aris adalah tiket lotre, Lisna. Jika Aris bebas dan mendapatkan sebagian warisanmu, maka mereka juga akan kecipratan hasilnya. Mereka tidak peduli dengan luka-lukamu, mereka hanya peduli pada angka-angka di buku tabunganmu yang baru."

Siang harinya, tekanan semakin memuncak. Tim hukum Maria ternyata mulai bekerja sama dengan keluarga Aris. Sebuah aliansi yang sangat aneh namun masuk akal: musuh dari musuhku adalah temanku. Maria ingin menjatuhkan kredibilitasku agar wasiat Hartono bisa dibatalkan, sementara keluarga Aris ingin mendapatkan uang. Mereka mulai menyebarkan narasi di media sosial bahwa aku adalah istri durhaka yang berselingkuh dengan pengacaraku sendiri sejak masih di desa, dan itulah sebabnya aku begitu tega menjebak Aris ke dalam kasus judi online.

"Kita tidak bisa diam saja, Lisna," kata Alif sambil menunjukkan sebuah video yang baru saja diunggah oleh Bibi Sumi. Di video itu, ia menangis tersedu-sedu sambil menunjukkan foto Aris yang kusam, menyebutnya sebagai laki-laki yang bekerja keras demi istri yang akhirnya mengkhianatinya setelah kaya.

Aku berdiri, memberikan Cahaya kepada asisten Alif. Aku sudah cukup diam. Aku sudah cukup bersabar saat mereka menyebutku anak haram, namun aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh martabatku sebagai seorang ibu dan wanita yang berjuang dari nol.

"Aku akan menemui mereka, Mas," kataku mantap.

"Jangan, itu berbahaya. Mereka sedang emosi," cegah Alif.

"Aku tidak akan menemui mereka dengan amarah. Aku akan menemui mereka dengan kenyataan."

Aku melangkah keluar menuju ruang tunggu tempat Bibi Sumi dan beberapa paman Aris duduk dengan gaya sok kuasa. Saat aku masuk, suasana mendadak sunyi. Mereka menatapku dengan pandangan yang penuh dengan ketamakan yang tidak tertutup.

"Oh, akhirnya sang ratu keluar dari istananya," sindir Bibi Sumi sambil berdiri dan berkacak pinggang. "Mana uangnya, Lisna? Kami butuh uang untuk jaminan Aris dan biaya pengacara. Kamu jangan pelit jadi orang!"

Aku duduk di kursi di hadapan mereka, sangat tenang. "Bibi Sumi, Paman, apakah kalian ingat dua tahun lalu? Saat Bumi sakit parah dan aku datang ke rumah Bibi untuk meminjam lima puluh ribu rupiah saja untuk beli obat?"

Bibi Sumi tertegun sejenak, wajahnya sedikit berubah namun dengan cepat ia kembali memasang wajah garang. "Itu... itu kan dulu! Saat itu kami juga sedang susah!"

"Bibi tidak sedang susah saat itu. Bibi baru saja membeli emas dari hasil keuntungan panen. Tapi Bibi menutup pintu di depan wajahku dan bilang bahwa anak penjual kue tidak butuh obat mahal," suaraku tetap rendah namun tajam. "Lalu Paman, ingat saat Aris memukulku sampai pingsan di depan rumah Paman? Paman bilang apa? Paman bilang itu urusan dapur kami dan aku yang salah karena kurang melayani suami."

Paman Aris berdehem, mencoba membuang muka.

"Selama sepuluh tahun aku mengabdi pada Aris, tidak satu pun dari kalian yang datang membawakan satu liter beras saat kami kelaparan. Sekarang, saat aku mendapatkan warisan yang bahkan bukan untuk pribadiku, kalian datang seperti burung nazar yang mencium bau bangkai," aku mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari tas. "Ini adalah rincian hutang judi Aris yang saya lunasi diam-diam selama lima tahun terakhir. Totalnya lebih dari dua ratus juta rupiah. Itu uang dari hasil keringat saya berjualan kue dari jam tiga pagi."

Aku meletakkan dokumen itu di meja. "Jika kalian ingin bicara soal hak, silakan bayar dulu semua uang saya yang habis dipakai Aris untuk judi. Setelah itu, baru kita bicara soal sisa warisannya."

"Kamu... kamu tidak bisa bicara begitu! Kami ini keluarga!" teriak Paman Aris.

"Keluarga adalah mereka yang ada saat kita jatuh, bukan mereka yang datang saat kita kaya," jawabku tegas. "Mulai detik ini, saya tidak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga Aris. Surat cerai saya sedang diproses, dan segala tuntutan kalian akan dihadapi oleh tim hukum Pak Alif."

Setelah pengusiran halus itu, aku merasa sangat lelah namun lega. Aku kembali ke ruangan Alif dan menemukannya sedang menatap layar televisi yang menampilkan berita terkini tentang perusahaan Hartono.

"Maria sudah mulai melakukan langkahnya, Lisna," ujar Alif. "Dia baru saja mengumumkan bahwa perusahaan sedang dalam kondisi darurat keuangan dan menuduh pemberian dana perwalian sebesar lima puluh milyar kepadamu sebagai penyebab ketidakstabilan ekonomi perusahaan. Dia sedang mencoba memprovokasi para karyawan untuk membencimu."

Aku menyandarkan kepalaku di sandaran kursi. Masalah tidak pernah benar-benar selesai. Maria sangat ahli dalam memutarbalikkan fakta. Dia ingin membuatku terlihat sebagai penyebab ribuan orang terancam kehilangan pekerjaan.

Malam itu, Alif mengantarku pulang ke rumah kontrakan yang baru. Kami sengaja memilih rumah di kompleks yang memiliki keamanan ketat agar para kerabat Aris tidak bisa mengganggu lagi. Sebelum aku turun dari mobil, Alif menahan tanganku sebentar.

"Lisna, ada satu hal yang belum sempat aku katakan," suara Alif terdengar sangat tulus di bawah temaram lampu dasbor mobil.

"Apa itu, Mas?"

"Hartono memberikan satu amplop terpisah yang hanya boleh dibuka setelah wasiat dibacakan. Aku baru menerimanya sore ini dari Pak Sanusi. Namamu tertulis di sana sebagai penerima tunggal."

Aku menerima amplop berwarna krem itu. Dengan tangan gemetar, aku membukanya. Di dalamnya bukan berisi cek atau surat berharga, melainkan sebuah kunci kecil kuno dan secarik alamat di pinggiran kota yang selama ini tidak pernah disebut-sebut.

"Ini kunci apa, Mas?"

"Sepertinya itu kunci ke sebuah tempat yang Hartono rahasiakan bahkan dari Maria. Sesuatu yang dia siapkan khusus untukmu sebagai bentuk perlindungan terakhir," Alif menatapku dalam. "Apakah kamu siap melihat apa yang dia sembunyikan?"

Aku menatap kunci itu. Rahasia lagi. Hidupku rasanya dipenuhi dengan lapisan-lapisan rahasia yang tidak ada habisnya. Namun, rasa penasaran itu jauh lebih besar daripada rasa takutku.

Keesokan paginya, kami berangkat menuju alamat tersebut. Perjalanan memakan waktu dua jam ke arah selatan Jakarta, menuju sebuah daerah perbukitan yang masih sangat asri. Kami sampai di sebuah rumah bergaya kolonial yang sangat terawat, tersembunyi di balik rimbunnya pohon-pohon pinus.

"Ini bukan rumah biasa," gumam Alif saat kami turun.

Seorang wanita tua dengan seragam pelayan yang sangat rapi keluar dari pintu depan. Begitu melihatku, matanya membelalak dan dia langsung menjatuhkan nampan yang dibawanya.

"Non Siti?" suaranya gemetar.

"Bukan, saya Lisna. Siti adalah ibu saya," jawabku bingung.

Wanita tua itu mendekat, ia menyentuh wajahku dengan tangan yang keriput sambil menangis. "Wajahmu... sangat mirip dengan Non Siti saat pertama kali Tuan Hartono membawanya ke sini. Tuan selalu bilang, suatu hari nanti darah daging Non Siti akan kembali ke rumah ini untuk mengambil apa yang sebenarnya menjadi miliknya."

Aku dan Alif saling berpandangan. Rumah ini bukan sekadar warisan fisik. Di tempat inilah sepertinya kebenaran yang paling murni tentang ibuku disimpan oleh Hartono, jauh dari jangkauan kebencian Maria.

Aku melangkah masuk ke dalam rumah itu. Di dinding ruang tamu, sebuah lukisan besar terpampang nyata. Itu bukan lukisan Hartono atau Maria. Itu adalah lukisan Siti Aminah yang sedang tersenyum lebar sambil menggendong seorang bayi perempuan dengan kalung kecil di lehernya. Kalung yang sama dengan yang sekarang kupakai.

Tiba-tiba, ponsel Alif berbunyi. Ada pesan mendesak masuk. Wajah Alif berubah pucat pasi saat membacanya.

"Lisna... kita harus pergi sekarang."

"Kenapa, Mas?"

Alif menatapku dengan tatapan yang sangat mencemaskan.

"Aris melarikan diri dari tahanan saat dipindahkan ke penjara pusat tadi subuh, dan Maria baru saja dilaporkan menghilang dari rumahnya bersama selingkuhannya itu."

Aku merasakan hawa dingin yang luar biasa menjalar di punggungku. Mereka sudah tidak punya beban lagi. Mereka sudah menjadi orang yang paling berbahaya: orang yang tidak memiliki apa pun untuk dipertaruhkan selain dendam.

"Mas..." aku menoleh ke arah jendela, melihat sebuah bayangan mobil hitam yang perlahan muncul dari balik pepohonan pinus.

Alif segera mengunci pintu depan dengan panik.

"Lisna, tetaplah di belakangku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun masuk ke rumah ini."

Di luar, suara pintu mobil yang dibanting terdengar sangat nyaring di tengah keheningan bukit itu. Sebuah suara yang sangat kukenal, suara yang dulu sering menghantui mimpi burukku di desa, kini memanggil namaku dari balik pintu.

"Lisna! Jangan sembunyi lagi! Aku tahu kamu di dalam!"

Itu suara Aris. Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam suaranya. Bukan lagi suara pengecut yang mengemis, melainkan suara seseorang yang sedang memegang kendali atas sebuah ancaman yang sangat besar.

"Mas Alif, apa yang harus kita lakukan?" bisikku ketakutan.

Alif menatapku, matanya menunjukkan tekad yang luar biasa. Ia merogoh sesuatu dari saku jaketnya.

"Lisna, ada sesuatu yang harus aku beri tahu padamu sebelum mereka masuk."

"Apa itu, Mas?"

"Tentang ibumu dan Hartono... alasan sebenarnya mengapa Maria sangat membencimu bukan karena kamu anak Hartono."

Aku menelan ludah, dadaku terasa sesak. "Lalu karena apa?"

Alif menatap pintu yang kini mulai digedor secara brutal dari luar.

"Karena sebenarnya, Hartono tidak pernah mencintai Maria. Dan surat nikah ibumu dengan Hartono ada di dalam brankas rumah ini, Lisna. Kamu bukan anak di luar nikah. Kamu adalah anak sah dari satu-satunya istri yang pernah dicintai Hartono."

Aku terpaku. Dunia seakan berhenti berputar. Semua kebencian Maria, semua penganiayaan Aris, dan semua perjuangan ini... semuanya berakar pada satu kebohongan besar yang akhirnya pecah tepat saat bahaya maut sedang mengetuk pintu.