Hawa dingin hutan pinus yang tadinya terasa menenangkan setelah penangkapan Aris dan Maria, seketika berubah menjadi mencekam. Notifikasi di ponsel Alif bukan sekadar angka yang berpindah, melainkan sebuah tamparan keras bahwa kemenangan kami baru saja dirampok di depan mata. Dana lima puluh miliar rupiah uang yang direncanakan Hartono untuk menebus dosa masa lalunya melalui yayasan sosial telah raib hanya dalam hitungan menit.
Alif menatap layar ponselnya dengan wajah yang berubah pucat pasi. Jarinya gemetar saat mencoba mengakses log transaksi perbankan tersebut. "Ini tidak mungkin, Lisna. Akses ke rekening perwalian itu hanya dimiliki oleh tiga orang: aku sebagai pengacara, Pak Sanusi sebagai notaris, dan satu orang staf kepercayaanku yang memegang token digitalnya."
Aku merasakan lututku lemas. "Siapa, Mas? Siapa staf itu?"
Alif terdiam cukup lama, matanya memancarkan kekecewaan yang mendalam. "Reno. Dia yang mengurus semua administrasi perbankan sejak kita mulai menangani kasus ini."
Reno. Pemuda pendiam yang selalu sigap membawakan kopi, yang sering bermain dengan Bumi dan Bintang saat aku sedang sibuk menulis, dan yang tampak begitu tulus mendukung perjuanganku. Rasanya seperti ada belati yang ditusukkan tepat di jantungku. Di dunia ini, ternyata musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang berteriak di depan pagar, melainkan mereka yang duduk di sampingmu sambil tersenyum.
Kami segera kembali ke Jakarta dengan kawalan polisi. Maria dan Aris sudah dibawa ke kantor polisi yang berbeda, namun pikiranku kini terfokus pada Reno. Bagaimana bisa dia mengkhianati kepercayaan sebesar itu?
Sesampainya di kantor firma hukum Alif, keadaan sudah berantakan. Meja Reno kosong. Komputer utamanya sudah dalam keadaan terformat ulang, dan rekaman CCTV di ruangan itu telah dihapus secara manual dari server pusat. Reno telah merencanakan ini dengan sangat rapi, kemungkinan besar sejak dia tahu bahwa Hartono memberikan dana perwalian sebesar itu kepadaku.
"Dia sudah pergi, Mas," ujar salah satu staf Alif dengan wajah ketakutan. "Tadi dia bilang ada urusan keluarga mendesak dan membawa tas ranselnya."
Alif memukul meja kerja dengan keras. "Cek semua pelarian dana itu! Dia pasti memindahkannya ke rekening luar negeri atau mencuci uang itu melalui aset digital!"
Aku duduk di sofa ruang tamu, memandangi tas kerja Alif yang berisi surat-surat sah ibuku. Meskipun aku memiliki status hukum, tanpa dana perwalian itu, rencana yayasan untuk membantu wanita korban KDRT akan hancur sebelum dimulai. Maria mungkin sedang mendekam di sel, tapi pengikutnya atau orang-orang yang dia bayar masih berkeliaran untuk memastikan aku tidak bisa menikmati kemenangan ini dengan tenang.
"Lisna, maafkan aku," Alif mendekat dan berlutut di hadapanku. "Ini kelalaianku. Aku terlalu percaya pada Reno karena dia sudah bekerja denganku selama lima tahun."
"Bukan salahmu, Mas," kataku lirih. "Pengkhianatan memang selalu datang dari orang terdekat. Kalau bukan orang terdekat, namanya bukan pengkhianat, tapi musuh."
Pencarian terhadap Reno dimulai. Baskara kembali turun tangan. Dengan jaringannya di dunia bawah tanah, ia berhasil melacak bahwa Reno terlihat di bandara internasional beberapa jam yang lalu. Namun, ada satu hal yang ganjil. Reno tidak pergi sendirian. Dari rekaman CCTV bandara yang didapat Baskara secara ilegal, Reno tampak berjalan bersama seorang pria yang sangat kukenali.
"Paman Aris?" aku memekik saat melihat foto buram yang ditunjukkan Baskara.
Paman Aris, orang yang baru kemarin datang mengemis dan memaki di kantor ini, ternyata adalah otak di balik pembelotan Reno. Rupanya, keluarga besar Aris tidak hanya mengandalkan teriakan di jalanan. Mereka menggunakan kelicikan untuk mendekati titik terlemah dalam sistem Alif.
"Reno ternyata memiliki hutang judi yang besar, sama seperti Aris," Baskara menjelaskan sambil mengisap rokoknya di balkon kantor. "Paman Aris menjanjikan pelunasan hutang dan bagian dari uang itu jika Reno berhasil menguras rekening perwalianmu. Mereka memanfaatkan keserakahan yang sama yang telah menghancurkan hidupmu selama sepuluh tahun ini."
Aku tertawa getir. Judi. Lagi-lagi judi. Penyakit yang dibawa Aris ke dalam rumah tanggaku ternyata telah menjalar seperti wabah, merusak orang-orang di sekitarku.
"Kita harus menangkap mereka sebelum mereka keluar dari yurisdiksi kita," tegas Alif.
Keesokan harinya, tekanan dari media kembali memanas. Kabar tentang raibnya dana lima puluh miliar rupiah itu bocor ke publik. Maria, meski di dalam penjara, melalui pengacaranya merilis pernyataan bahwa hilangnya uang tersebut adalah bukti bahwa aku dan Alif tidak kompeten mengelola warisan Hartono. Ia menuntut agar hak pengelolaan aset dikembalikan ke tangan keluarga sah (anak-anaknya) di bawah pengawasan kurator.
"Dia ingin menggunakan celah ini untuk membatalkan wasiat," Alif menganalisis. "Jika dana itu tidak kembali dalam waktu empat puluh delapan jam, hakim bisa menganggap kita gagal menjalankan amanah Hartono."
Di tengah keputusasaan itu, aku kembali teringat pada naskah novelku. Dalam salah satu bab yang baru kutulis, aku menceritakan tentang bagaimana seorang pencuri selalu meninggalkan jejak di tempat yang paling ia cintai. Reno adalah orang yang sangat menyayangi ibunya yang sedang sakit di sebuah desa terpencil di Jawa Barat.
"Mas Alif, jangan cari Reno di bandara. Cari dia di rumah ibunya," kataku tiba-tiba.
"Tapi CCTV menunjukkan dia di bandara, Lisna."
"Itu pengalihan isu. Reno sangat tahu protokol keamanan bandara karena dia sering mengurus visa perjalananmu. Dia sengaja menampakkan diri di sana, tapi dia tidak akan meninggalkan ibunya yang sedang sekarat tanpa uang."
Baskara segera bergerak menuju alamat rumah ibu Reno. Dan benar saja, di sebuah gubuk sederhana di kaki gunung, mereka menemukan Reno sedang menangis di samping tempat tidur ibunya, dengan tas berisi ratusan juta rupiah uang tunai dan beberapa token digital yang belum sempat ia gunakan sepenuhnya. Paman Aris pun tertangkap di sebuah motel murah tidak jauh dari sana, sedang asyik menghitung tumpukan uang yang ia anggap sebagai 'uang saku' pelariannya.
Malam harinya, Reno dibawa ke hadapanku di kantor polisi. Dia tidak berani menatap mataku. Wajahnya penuh dengan rasa malu dan penyesalan yang terlambat.
"Kenapa, Reno?" tanyaku pelan.
"Saya butuh uang untuk operasi Ibu, Mbak... Paman Aris bilang Mbak Lisna sudah kaya raya, uang lima puluh miliar itu tidak akan terasa kalau hilang sedikit," isak Reno. "Saya khilaf, Mbak. Saya terjebak hutang judi karena ingin cepat dapat uang buat Ibu."
Aku menatapnya dengan rasa iba sekaligus amarah yang tertahan. "Kamu tahu, Reno? Uang yang kamu curi itu rencananya akan digunakan untuk membantu ribuan ibu lain yang nasibnya lebih malang dari ibumu. Kamu tidak hanya mencuri dariku, kamu mencuri dari mereka yang sedang berjuang mencari keadilan."
Reno hanya bisa menunduk. Alif berhasil mengamankan kembali akses ke rekening tersebut sebelum sisa uangnya dikirim ke rekening luar negeri oleh sindikat Paman Aris. Kemenangan kami kembali utuh, meski luka karena pengkhianatan ini akan membekas selamanya.
Setelah urusan di kantor polisi selesai, Alif mengajakku ke sebuah kafe kecil yang tenang. Kami butuh waktu untuk bernapas setelah drama yang menguras energi ini.
"Lisna, semuanya sudah kembali. Maria tidak punya celah lagi. Paman Aris dan Reno akan diproses hukum. Dan yang paling penting, surat pernikahan ibumu sudah resmi terdaftar di sistem kependudukan sekarang," Alif menggenggam tanganku.
Aku tersenyum, namun senyumku terhenti saat melihat seseorang masuk ke kafe tersebut. Seorang wanita muda yang tampak sangat elegan, mengenakan pakaian desainer yang jauh lebih mahal dari yang pernah dipakai Maria. Ia berjalan dengan penuh percaya diri dan langsung menuju meja kami.
"Selamat malam, Nyonya Hartono yang baru," sapanya dengan suara yang sangat halus namun dingin.
Alif segera berdiri, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. "Vania? Apa yang kamu lakukan di sini?"
Wanita bernama Vania itu tersenyum manis ke arah Alif, lalu beralih menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas kemenangannya," Vania meletakkan sebuah map hitam di meja. "Tapi sebagai istri sah Alif Pratama yang belum resmi bercerai, aku rasa aku punya kepentingan atas harta yang sedang kalian kelola ini."
Aku terperangah. Duniaku seakan runtuh untuk kedua kalinya dalam satu malam. Aku menatap Alif, mencari bantahan di matanya, namun Alif hanya bisa menunduk dengan wajah yang pucat pasi.
"Istri sah?" suaraku tercekat di tenggorokan.
Vania tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat mengerikan di telingaku.
"Alif tidak cerita ya? Dia menikahiku untuk mendapatkan modal membangun firma hukum ini lima tahun lalu. Dan sesuai perjanjian pranikah kami, setiap harta yang didapatkan Alif selama pernikahan, termasuk royalti dari kasus yang dia tangani adalah milikku juga."
Vania mendekatkan wajahnya ke arahku, aromanya yang wangi parfum mahal terasa sangat menyesakkan.
"Jadi, Lisna... kamu baru saja keluar dari mulut buaya, dan sekarang kamu sedang masuk ke sarang ular yang jauh lebih cantik."
Aku menatap Alif dengan pandangan yang hancur. "Mas Alif... ini tidak benar, kan?"
Alif mencoba meraih tanganku, namun aku segera menariknya kembali. Di tengah keremangan kafe itu, aku menyadari bahwa benang-benang nasibku ternyata masih terikat pada banyak kebohongan pria-pria di sekelilingku.
"Lisna, aku bisa menjelaskan..."
"Cukup, Mas." Aku berdiri dengan kaki yang gemetar. Aku meraih tas tanganku, menatap Vania yang masih tersenyum kemenangan, lalu beralih ke Alif. "Ternyata, pengkhianat sejati memang selalu tidur di selimut yang sama dengan kita."
Aku melangkah keluar dari kafe itu, meninggalkan Alif yang memanggil namaku di tengah guyuran hujan Jakarta yang tiba-tiba turun deras. Aku berdiri di pinggir jalan, membiarkan tubuhku basah kuyup, menyadari bahwa perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang paling sunyi dalam hidupku.