BAB 24: DI BALIK TOPENG SANG PAHLAWAN

06 February 2026

Hujan Jakarta malam itu tidak hanya membasahi bumi, tapi seolah mencuci paksa seluruh kepercayaan yang telah kubangun dengan susah payah. Aku berjalan tersaruk-saruk di trotoar, mengabaikan teriakan Alif yang masih berusaha mengejarku dari kejauhan. Setiap tetes air yang jatuh ke wajahku terasa seperti ejekan. Betapa bodohnya aku. Betapa mudahnya aku jatuh ke pelukan pria lain hanya karena dia menawarkan sedikit perlindungan di tengah badai.

Aku berhenti di bawah lampu jalan yang remang-remang, mencoba mengatur napas yang sesak. Di depanku, sebuah mobil sedan mewah berhenti dengan perlahan. Kaca jendela terbuka, menampakkan wajah Vania yang masih memasang senyum tipis yang memuakkan.

"Masuklah, Lisna. Hujan ini terlalu dingin untuk wanita yang baru saja kehilangan pahlawannya," ujar Vania tenang.

Aku menatapnya dengan sisa keberanian yang kupunya. "Aku tidak butuh tumpangan dari wanita yang datang hanya untuk merusak hidup orang lain."

Vania tertawa kecil, suara tawanya membelah suara rintik hujan. "Merusak? Aku justru menyelamatkanmu dari penipuan yang lebih besar. Kamu pikir Alif itu tulus? Dia butuh kasus besar untuk menyelamatkan firma hukumnya yang hampir bangkrut karena gaya hidupnya sendiri. Dan kamu, dengan warisan Hartono di tanganmu, adalah mangsa paling empuk yang pernah dia temukan."

Aku terdiam. Kata-kata Vania seperti racun yang langsung bekerja di dalam alirah darahku. Aku teringat bagaimana Alif selalu ada di saat yang tepat, bagaimana dia begitu gigih mengurus surat-surat ibuku, dan bagaimana dia menjauhkan aku dari semua orang kecuali dirinya. Apakah itu semua adalah strategi untuk mengisolasiku?

Tanpa banyak bicara, aku membuka pintu mobil Vania dan masuk. Aku harus tahu seberapa dalam lubang yang telah digali Alif untukku.

Vania membawaku ke sebuah apartemen mewah di pusat kota. Di sana, ia mengeluarkan selembar dokumen yang sudah dilegalisir. Itu adalah akta nikah mereka dan sebuah surat perjanjian pranikah yang sangat detil.

"Kami menikah lima tahun lalu di Singapura. Pernikahan kami memang tidak pernah didaftarkan di Indonesia secara terbuka karena ayahku adalah saingan politik Hartono saat itu," Vania menjelaskan sambil menuangkan teh hangat untukku. "Alif berjanji akan memberikan tiga puluh persen dari setiap keuntungan besar yang dia dapatkan sebagai kompensasi jika aku setuju untuk 'menghilang' sementara waktu demi kariernya."

Aku membaca baris demi baris dokumen itu. Nama Alif Pratama tertulis jelas di sana. Tanggalnya, tanda tangannya, semuanya asli.

"Lalu kenapa kamu muncul sekarang?" tanyaku dengan suara serak.

"Karena aku tahu Alif mulai jatuh cinta padamu. Dan itu tidak ada dalam perjanjian," mata Vania berkilat tajam. "Alif seharusnya hanya mengambil uangmu, bukan hatimu. Begitu dia mulai melindungimu secara emosional, dia melanggar kontrak denganku. Dan aku tidak suka barang milikku dicuri, apalagi oleh wanita dari desa sepertimu."

Rasa mual kembali menyerangku. Di mata mereka, aku hanyalah komoditas. Sebuah objek yang diperebutkan bukan karena siapa aku, tapi karena apa yang aku bawa.

"Keluar dari sini, Vania," kataku sambil berdiri. "Kalian berdua sama saja. Kamu dan Alif adalah sepasang pemangsa yang kebetulan sedang bertengkar."

Aku meninggalkan apartemen itu sebelum Vania sempat membalas. Aku tidak pulang ke rumah kontrakan. Aku memesan kamar di sebuah hotel kecil yang tidak diketahui oleh siapa pun, bahkan oleh Bapak di desa. Aku butuh waktu untuk berpikir sendiri, tanpa pengaruh siapa pun.

Keesokan harinya, aku terbangun dengan kepala yang berat. Aku menyalakan televisi dan melihat berita utama masih dipenuhi oleh kasus Aris dan Maria. Namun, ada satu berita singkat yang menarik perhatianku: Firma Hukum Pratama & Co. Diinvestigasi atas Dugaan Malpraktik Keuangan.

Ternyata Maria tidak tinggal diam di balik jeruji besi. Melalui jaringannya, dia mulai menyerang Alif. Ini adalah perang antara para raksasa, dan aku berada tepat di tengah-tengahnya, terjepit tanpa ada tempat untuk berpaling.

Ponselku bergetar hebat. Puluhan pesan dari Alif masuk, memohon untuk bicara. Aku menghapusnya satu per satu tanpa membacanya. Hingga sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.

Jika kamu ingin tahu bagaimana cara mengalahkan mereka semua sekaligus, datanglah ke perpustakaan nasional jam dua siang. Cari buku tentang sejarah hukum agraria di rak nomor 12.

Aku mengerutkan dahi. Pesan ini terasa berbeda. Tidak ada nada mengancam, hanya sebuah instruksi yang sangat spesifik.

Jam dua siang tepat, aku berada di sana. Di antara deretan buku-buku tua yang berdebu, aku menemukan seorang pria paruh baya yang sedang asyik membaca. Dia adalah Pak Sanusi, notaris kepercayaan Hartono yang selama ini bersikap sangat netral.

"Anda datang, Lisna," ujar Pak Sanusi tanpa menoleh.

"Pak Sanusi? Kenapa kita harus bertemu seperti ini?"

Pak Sanusi menutup bukunya dan menatapku dengan tatapan kebapakan yang tulus. "Karena di kantor saya, ada telinga di mana-mana. Alif memiliki orang di dalam kantorku, begitu juga Maria."

Ia menyerahkan sebuah amplop kecil yang sangat tipis. "Hartono tahu Alif tidak sepenuhnya jujur. Dia tahu Alif terikat pada Vania. Itulah sebabnya, Hartono menyimpan satu dokumen terakhir yang tidak dimasukkan ke dalam wasiat utama. Dokumen ini adalah bukti bahwa harta perwalian lima puluh miliar itu tidak bisa disentuh oleh siapa pun, termasuk pengacara yang menanganinya, kecuali atas izin tertulis dari anak tertua Hartono."

"Anak tertua? Bukankah itu aku?"

Pak Sanusi menggeleng pelan. "Bukan, Lisna. Hartono memiliki satu anak lagi, kakak laki-lakimu dari pernikahan yang lebih lama lagi sebelum ibumu. Seseorang yang selama ini tinggal di pengasingan untuk menjaga keselamatanmu dari jauh."

Aku terperangah. Jantungku seakan berhenti berdetak.

"Siapa dia, Pak?"

Pak Sanusi menunjuk ke arah pintu keluar perpustakaan. Di sana, berdiri pria berjaket kulit yang selama ini membantuku. Pria yang kukenal dengan nama Baskara.

Baskara melangkah mendekat, ia melepaskan kacamata hitamnya. Untuk pertama kalinya, aku melihat kemiripan yang luar biasa antara matanya dan mata Hartono yang kulihat di rumah sakit.

"Maafkan aku karena harus bersandiwara sebagai orang asing, Lisna," ujar Baskara dengan suara yang bergetar. "Aku melakukannya untuk memastikan Alif benar-benar tulus padamu atau hanya mengincar harta kita."

Aku menatap Baskara, lalu beralih ke amplop di tanganku. Semua potongan teka-teki ini akhirnya menyatu. Baskara bukan sekadar mantan kepala keamanan; dia adalah kakakku yang sengaja dihapus dari sejarah keluarga oleh Maria demi ambisinya.

Di tengah keheningan perpustakaan itu, sebuah suara tepuk tangan terdengar dari balik rak buku. Alif muncul dengan wajah yang kuyu namun matanya menatap tajam ke arah Baskara.

"Reuni keluarga yang sangat menyentuh," sindir Alif. "Tapi sayangnya, Baskara... kamu sudah terlambat. Vania sudah menyerahkan dokumen pernikahan kami ke pengadilan pagi ini, dan sebagai istriku, dia sudah mengajukan tuntutan sita jaminan atas semua kasus yang sedang aku tangani, termasuk aset Lisna."

Alif melangkah mendekatiku, ia tidak lagi tampak seperti pahlawan yang lembut. Ada kegilaan di matanya.

"Lisna, ikutlah denganku sekarang. Hanya aku yang bisa menyelamatkanmu dari Vania dan kakakmu yang misterius ini. Pilihannya hanya satu: ikut denganku dan kita bagi harta itu, atau kamu akan kehilangan segalanya di tangan mereka."

Aku menatap Alif, pria yang kucintai, lalu menatap Baskara, darah dagingku sendiri. Di antara dua pria yang mengklaim ingin melindungiku ini, aku menyadari bahwa aku tidak bisa lagi bergantung pada siapa pun.

"Mas Alif," kataku dengan suara yang sangat tenang. "Kamu bilang aku harus memilih? Baiklah. Aku memilih untuk tidak memilih kalian berdua."

Aku merobek dokumen di tangan Pak Sanusi di depan mata mereka.

"Harta itu tidak akan jatuh ke tangan siapa pun. Aku sudah menandatangani surat pengalihan seluruh dana perwalian itu ke panti asuhan nasional pagi ini melalui pengacara lain yang tidak kalian kenal. Kalian bisa bertengkar memperebutkan namaku, tapi kalian tidak akan mendapatkan sepeser pun dari uang Hartono."

Wajah Alif berubah menjadi sangat pucat, sementara Baskara hanya terdiam dengan senyum bangga yang tersungging di bibirnya.

"Sekarang, silakan pergi dari hadapanku. Aku punya novel yang harus aku selesaikan, dan kali ini, bab terakhirnya akan menceritakan tentang bagaimana seorang wanita berdiri tegak setelah meruntuhkan menara keserakahan kalian semua."

Alif hendak mengejarku, namun Baskara segera menghalangi jalannya dengan satu tangan yang kokoh. Aku melangkah keluar dari perpustakaan itu dengan kepala tegak, merasakan beban di pundakku benar-benar hilang.

Namun, tepat saat aku sampai di lobi, sebuah ledakan keras terdengar dari arah parkiran mobil. Api membumbung tinggi dari mobil yang seharusnya membawaku pulang. Di tengah kekacauan itu, aku melihat Maria berdiri di kejauhan dengan ponsel di tangannya, tersenyum dingin sebelum akhirnya menghilang di kerumunan.

"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada yang boleh hidup untuk menikmatinya," bisik Maria lewat pesan singkat yang masuk ke ponselku saat itu juga.