Asap hitam membumbung tinggi dari area parkir Perpustakaan Nasional, menciptakan siluet mengerikan di atas langit Jakarta yang kelabu. Ledakan itu begitu kencang hingga menggetarkan kaca-kaca besar gedung, membuat orang-orang di dalam lobi berhamburan dalam kepanikan yang luar biasa. Aku terlempar ke lantai karena gelombang kejutnya yang dahsyat, membuat telingaku berdenging hebat seolah ada ribuan lebah yang mengamuk di dalamnya. Di tengah kekacauan itu, aku menatap layar ponselku yang masih menyala. Pesan ancaman dari Maria adalah bukti nyata bahwa singa yang terluka jauh lebih berbahaya daripada singa yang sedang berkuasa. Wanita itu tidak lagi peduli pada citra atau hukum; dia hanya menginginkan satu hal, yaitu kehancuran total.
"Lisna! Kamu tidak apa-apa?"
Baskara, sosok pria yang baru saja terungkap identitasnya sebagai kakak kandungku, berlari menghampiriku dan membantuku berdiri dengan sigap. Alif menyusul di belakangnya dengan wajah penuh kecemasan. Namun, aku segera menepis tangannya saat dia mencoba menyentuh bahuku.
"Jangan sentuh aku, Alif," desisku tajam dengan tatapan dingin. "Mobil itu meledak karena mereka mengincarku. Dan mereka tahu aku bersamamu. Kamu adalah bagian dari magnet bahaya ini, Alif. Keberadaanmu hanya membuat segalanya menjadi lebih rumit."
Alif terpaku di tempatnya, tangannya menggantung di udara dengan ekspresi terluka. "Lisna, aku bersumpah tidak tahu Maria akan bertindak sejauh ini. Aku akan melindungimu dengan taruhan nyawaku sendiri."
"Melindungiku atau melindungi investasi masa depanmu?" sahutku tanpa ekspresi. Aku segera menoleh ke arah Baskara. "Bawa aku pergi dari sini, Bang. Sekarang juga sebelum polisi datang dan menahanku untuk interogasi yang tidak perlu."
Baskara membawaku ke sebuah rumah aman di kawasan padat penduduk di Jakarta Timur. Tempat ini jauh dari kesan mewah; hanya sebuah rumah dua lantai di dalam gang sempit yang bahkan mobil pun sulit untuk masuk. Namun, di sinilah aku justru merasa paling aman. Tidak ada kamera pengintai, tidak ada notaris yang haus komisi, dan tidak ada pengacara yang bermuka dua. Kami duduk di meja makan kayu yang sudah tua dan mulai lapuk. Baskara menuangkan segelas air putih untukku.
"Maafkan aku, Lisna. Hartono memintaku menjagamu dari bayang-bayang selama ini. Dia tahu Maria memiliki sisi gelap yang tidak bisa dikendalikan jika menyangkut harta warisan," Baskara memulai pembicaraan dengan nada berat. "Ayah juga tahu Alif punya rahasia, tapi dia berharap Alif benar-benar berubah karena mencintaimu."
"Kenapa Abang tidak mengatakannya sejak awal?" tanyaku dengan nada lelah yang mendalam. "Kenapa membiarkan aku terjebak dalam sandiwara yang melelahkan ini?"
"Karena kebenaran butuh waktu untuk matang, Lisna. Jika aku muncul lebih awal, Maria akan melenyapkan kita berdua sekaligus sebelum kita sempat melawan. Sekarang, dengan ledakan itu, dia sudah melewati batas. Dia sudah melakukan tindakan terorisme secara terang-terangan."
Baskara mengeluarkan sebuah laptop kecil dari tasnya. Dia menunjukkan rekaman dari kamera tersembunyi yang dia pasang di rumah Hartono berbulan-bulan lalu. Di sana terlihat Maria sedang berbicara dengan seorang pria asing yang tampak seperti tentara bayaran. Mereka sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pembatalan warisan di pengadilan.
"Maria sudah mencuci sebagian besar aset perusahaan Hartono ke rekening luar negeri milik selingkuhannya. Dia tahu hukum akan menjeratnya karena kasus Aris, jadi dia bersiap untuk kabur dan meninggalkan kekacauan di sini. Ledakan tadi hanyalah pengalih perhatian agar polisi fokus pada serangan terhadapmu, sementara dia bersiap terbang keluar negeri malam ini juga."
Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku memutih. "Kita tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja, Bang."
Malam itu di tempat persembunyian, aku membuka laptopku. Jariku menari di atas papan ketik dengan sangat cepat. Kali ini bukan untuk menulis bab novel, melainkan untuk menulis sebuah surat terbuka yang akan kusebarkan ke seluruh jaringan pembacaku dan media massa. Aku menceritakan semuanya secara jujur. Tentang pengkhianatan Aris, kelicikan Maria, rahasia pernikahan Alif, hingga pengakuan bahwa aku telah menyumbangkan seluruh harta itu agar tidak menjadi rebutan para pemangsa. Aku juga melampirkan bukti-bukti transaksi ilegal Maria yang diberikan oleh Baskara.
"Kebenaran tidak bisa dibakar oleh ledakan, dan tidak bisa dibeli dengan miliaran rupiah. Saya, Lisna, melepaskan gelar anak konglomerat untuk kembali menjadi diri saya sendiri. Dan saya tidak akan membiarkan kejahatan melarikan diri dengan membawa hasil rampasan mereka."
Postingan itu viral dalam hitungan menit. Publik yang tadinya bingung dengan berita ledakan kini mendapatkan narasi yang utuh. Tekanan massa mulai bergerak ke arah bandara dan pelabuhan. Polisi yang tadinya lamban kini tidak punya pilihan selain bertindak cepat karena sorotan mata seluruh negeri tertuju pada mereka. Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang keras terdengar. Baskara sudah bersiap dengan tangannya di balik jaket, namun saat pintu dibuka, yang berdiri di sana bukanlah polisi atau orang suruhan Maria.
Itu adalah Vania.
Wajahnya tidak lagi menunjukkan kesombongan. Dia tampak sangat ketakutan dengan napas yang memburu tidak beraturan.
"Lisna, aku butuh bantuanmu," ujarnya dengan suara yang gemetar hebat. "Alif diculik oleh orang-orang Maria. Mereka pikir Alif memegang kunci cadangan untuk akses rekening yang sudah kamu sumbangkan itu."
Aku menatap Vania dengan pandangan sedingin es. "Kenapa aku harus peduli padanya?"
"Karena mereka akan membunuhnya jika tidak mendapatkan kode itu dalam satu jam! Maria membawa Alif ke gudang kontainer di Tanjung Priok. Dia akan pergi malam ini menggunakan kapal kargo pribadi untuk melarikan diri dari negeri ini!"
Baskara menatapku, menunggu keputusanku dengan sabar. Hatiku berperang hebat antara benci dan nurani. Alif telah membohongiku, dia mengkhianati kepercayaanku dengan status pernikahannya yang tidak jelas. Tapi apakah dia pantas mati secara tragis di tangan wanita iblis seperti Maria? Aku teringat saat Alif membantuku menghadapi Aris. Aku teringat bagaimana dia menenangkan Bumi dan Bintang saat mereka ketakutan. Mungkin cintanya bercampur dengan ambisi, tapi ketulusannya saat melindungiku dulu tidak sepenuhnya palsu.
"Bang," kataku pada Baskara dengan suara mantap. "Kita ke pelabuhan sekarang."
Suasana pelabuhan Tanjung Priok sangat mencekam di bawah guyuran hujan gerimis yang dingin. Deretan kontainer raksasa menciptakan lorong-lorong gelap yang membingungkan. Baskara bergerak dengan taktis, mengarahkan aku dan Vania untuk tetap berada di belakangnya. Di ujung dermaga, sebuah kapal kargo kecil tampak bersiap lepas sandar. Di depan gudang nomor empat belas, aku melihat Maria berdiri dengan mantel hujan hitam, menatap Alif yang terikat di kursi dengan wajah yang sudah babak belur.
"Berikan kodenya, Alif! Aku tahu Lisna memberikannya padamu sebelum dia menyumbangkannya!" teriak Maria dengan nada histeris.
"Dia tidak memberikannya padaku, Maria! Uang itu sudah secara resmi berada di tangan panti asuhan nasional! Kamu sudah kalah dan akan membusuk di penjara!" sahut Alif dengan sisa-sisa kekuatannya.
Maria mengangkat sebuah jeriken bensin dengan wajah gelap. "Kalau begitu kamu tidak ada gunanya lagi bagiku. Kamu akan menjadi abu bersama gudang ini, dan aku akan pergi ke tempat di mana hukum tidak bisa menyentuhku."
"Berhenti, Nyonya Maria!" teriakku, melangkah keluar dari balik bayangan kontainer.
Maria menoleh dengan wajah yang menunjukkan keterkejutan sesaat sebelum berubah menjadi seringai kemenangan yang menjijikkan. "Ah, si penulis kecil akhirnya datang menyerahkan diri. Kamu ingin menjadi pahlawan bagi suamimu yang pembohong ini?"
Aku melangkah maju dengan tangan memegang sebuah ponsel yang sedang melakukan siaran langsung dengan jutaan penonton yang menyaksikan.
"Seluruh dunia sedang melihatmu sekarang, Maria. Polisi sudah berada di gerbang pelabuhan. Kapal itu tidak akan pernah berangkat meninggalkan dermaga ini."
Maria tertawa gila, suaranya melengking menembus hujan. "Kamu pikir aku takut? Aku sudah kehilangan segalanya! Hartono mati, perusahaanku hancur, dan namaku sudah busuk di mata publik! Aku hanya butuh satu hal sebelum pergi, yaitu melihatmu menderita sehebat mungkin!"
Maria menyalakan pemantik api di tangannya. Namun sebelum dia sempat menjatuhkannya ke genangan bensin, Baskara bergerak jauh lebih cepat. Sebuah tembakan pelumpuh mengenai kaki Maria, membuatnya terjatuh sambil menjerit kesakitan. Petugas kepolisian yang ternyata sudah menguntit kami segera menyerbu lokasi dari berbagai penjuru. Mereka meringkus orang-orang suruhan Maria tanpa perlawanan berarti. Aku berlari menghampiri Alif dan segera membuka ikatannya yang sangat kencang.
Alif jatuh ke pelukanku dengan napas tersengal dan tubuh yang lemah. "Lisna, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf atas segalanya."
Aku tidak menjawab kata-katanya. Aku hanya fokus melepaskan ikatan tali itu. Vania berlari menghampiri Alif dan mencoba memeluknya, namun Alif perlahan menjauh darinya. Dia hanya menatapku dengan mata yang penuh dengan penyesalan yang mendalam.
"Sudah selesai, Mas. Segalanya sudah benar-benar berakhir," kataku dengan suara datar.
Maria digiring oleh petugas melewati kami. Dia menatapku dengan kebencian yang masih menyala kuat, namun kini dia tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menyerang. Dia adalah seorang penguasa yang kini hanya mengenakan borgol dingin. Di tengah kesibukan polisi, Baskara mendekatiku dan merangkul pundakku dengan bangga.
"Kamu melakukannya dengan benar, Lisna. Kamu memutus rantai kebencian itu dengan tanganmu sendiri tanpa harus mengotori tanganmu."
Aku menatap laut lepas yang gelap. Besok namaku tidak akan lagi ada di kolom gosip sebagai anak haram atau ahli waris miliaran rupiah. Aku akan kembali ke desa, membawa anak-anakku, dan melanjutkan hidup sebagai penulis yang jujur. Namun saat aku hendak meninggalkan lokasi, seorang petugas mendatangiku membawa sebuah tas kecil yang disita dari Maria.
"Ibu Lisna, kami menemukan ini di tas Nyonya Maria. Ada surat pribadi dari almarhum Tuan Hartono untuk Anda. Sepertinya ini surat yang belum sempat beliau kirimkan kepada Anda," ujar petugas itu sopan.
Aku membuka surat itu dengan tangan yang gemetar hebat. Di dalamnya tertulis satu kalimat pendek yang membuat pertahananku runtuh seketika.
"Lisna, harta yang kuberikan hanyalah sebuah ujian untuk melihat jati dirimu yang sebenarnya. Kekayaanmu yang sejati adalah hatimu yang tidak pernah mengemis pada dunia, meski dunia memaksamu untuk berlutut berkali-kali. Jadilah bebas, anakku."
Aku memeluk surat itu dan menangis di bawah rintik hujan pelabuhan. Aku sudah menang dalam perang ini. Bukan karena tumpukan uang, tapi karena aku tetap menjadi diriku sendiri di tengah badai keserakahan yang hampir menenggelamkanku.
"Lisna," panggil Alif lirih di belakangku.
Aku berbalik dan menatapnya untuk terakhir kali sebelum aku pergi menjauh. "Mas Alif, uruslah perceraianmu dengan Vania secara resmi. Dan setelah itu, tolong jangan pernah cari aku lagi. Kita sudah benar-benar selesai di bab ini."
Aku berjalan menjauh meninggalkan pelabuhan, meninggalkan kemewahan yang palsu, menuju fajar baru yang menantiku dengan tenang di desa.