BAB 26: SURAT DARI BALIK JERUJI

06 February 2026

Kepulanganku ke desa kali ini tidak diiringi dengan sirine mobil polisi atau sorotan lampu kamera televisi yang menyilaukan. Aku pulang menggunakan bus antar kota yang sederhana, duduk di bangku paling belakang sambil mendekap Cahaya yang sedang tertidur pulas. Bumi dan Bintang duduk bersandar di bahuku, wajah mereka tampak jauh lebih cerah setelah aku berjanji bahwa kami tidak akan kembali ke Jakarta dalam waktu yang lama. Jakarta bagi mereka adalah monster beton yang hampir menelan ibu mereka, sementara desa adalah pelukan hangat yang selalu menyediakan tempat untuk bersembunyi bagi jiwa yang lelah.

Rumah Bapak Sugeng masih tetap sama. Pohon mangga di depan halaman sudah mulai berbuah kecil-kecil, menjanjikan rasa manis di masa depan. Saat kakiku menginjak tanah halaman yang berdebu, aku merasa beban seberat gunung yang selama ini menghimpit dadaku perlahan-lahan menguap. Tidak ada lagi Nyonya Maria, tidak ada lagi pengacara bermuka dua, dan tidak ada lagi bayang-bayang harta miliaran rupiah yang penuh kutukan.

"Lisna! Kamu benar-benar pulang, Nduk?" Bapak Sugeng berlari keluar dari pintu depan dengan langkah yang sedikit tertatih karena faktor usia.

Aku mencium tangan Bapak lama sekali, membiarkan aroma tanah dan ketulusan itu menenangkan saraf-sarafku. Air mata yang selama ini kutahan dengan sekuat tenaga di depan musuh-musuhku akhirnya tumpah di bahu Bapak. "Aku pulang, Pak. Aku tidak mau pergi lagi."

Bapak mengelus rambutku dengan tangan kasarnya yang penuh kasih sayang. "Masuklah. Bapak sudah siapkan sayur lodeh kesukaanmu. Lupakan Jakarta, lupakan orang-orang jahat itu. Di sini kamu aman, Nak."

Satu minggu pertama di desa berjalan dengan sangat tenang. Aku kembali ke rutinitas lamaku, namun dengan jiwa yang jauh lebih baru. Aku tetap bangun sebelum subuh, namun bukan lagi untuk membuat kue dagangan yang melelahkan fisik, melainkan untuk menulis. Laptop yang kubeli dari hasil royalti pertamaku kini menjadi satu-satunya alat kerjaku. Aku menulis tentang segala hal yang telah terjadi, namun bukan untuk membalas dendam secara kasar, melainkan untuk memberikan peringatan bagi wanita-wanita lain di luar sana agar tidak mudah tertipu oleh topeng kesetiaan yang sering kali mematikan.

Namun, ketenangan itu terusik pada suatu siang saat seorang petugas pos datang membawa setumpuk surat. Di antara tagihan listrik dan kiriman majalah, ada satu amplop cokelat kusam yang tidak memiliki nama pengirim, hanya sebuah nomor registrasi dari lembaga pemasyarakatan.

Jantungku berdegup kencang. Tanpa perlu membaca isinya, aku sudah tahu siapa pengirimnya.

Aku membawa surat itu ke belakang rumah, duduk di bawah pohon bambu yang rimbun agar anak-anak tidak melihat kegelisahanku. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku membukanya.

"Lisna, istriku yang tercinta," demikian surat itu dimulai.

Aku hampir tertawa getir saat membaca kata istriku. Aris sepertinya sengaja amnesia dan lupa bahwa dia sudah menandatangani surat cerai setelah kasus penangkapan yang memalukan itu.

"Aku menulis ini dengan air mata yang membasahi lantai selku yang sangat dingin. Di sini aku baru sadar betapa bodohnya aku selama ini. Aku terjebak dalam lingkaran setan judi karena aku ingin cepat kaya agar bisa membahagiakanmu dan anak-anak. Aku hanya pria lemah yang tersesat, Lisna. Aku sangat merindukan masakanmu, aku merindukan suara anak-anak kita."

Aku terus membaca baris demi baris. Isinya penuh dengan permohonan maaf yang puitis dan terdengar sangat palsu. Di bagian terakhir, sifat aslinya yang egois mulai terlihat dengan jelas.

"Lisna, aku dengar kamu menyumbangkan semua uang itu ke panti asuhan. Kenapa kamu begitu egois? Jika kamu memberikan sedikit saja untuk menyewa pengacara hebat bagiku, aku bisa keluar dan kita bisa memulai hidup baru di desa. Kamu punya kekuasaan sekarang, jangan biarkan ayah dari anak-anakmu membusuk di sini. Maria sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkanmu lagi dari penjara, dan hanya aku yang tahu rahasianya. Tolonglah aku, maka aku akan menolongmu."

Aku meremas surat itu hingga hancur di telapak tanganku. Aris masih saja menjadi Aris yang dulu. Permohonan maafnya hanyalah umpan untuk sebuah transaksi yang licik. Dia ingin menggunakan informasi tentang Maria sebagai alat tukar untuk kebebasannya. Dia tidak pernah berubah, dan sepertinya dia tidak akan pernah berubah sampai maut menjemput.

Keesokan harinya, Baskara datang berkunjung. Dia hanya mengendarai motor tua agar tidak menarik perhatian warga desa yang suka bergosip. Wajahnya tampak sedikit lebih santai dibandingkan saat di pelabuhan dulu.

"Kamu sudah baca surat dari Aris?" tanya Baskara sambil menyesap teh buatan Bapak.

"Bagaimana Abang bisa tahu?" tanyaku heran.

"Aku yang memeriksa semua surat keluar masuk untuknya. Polisi memberiku akses karena aku membantu mereka membongkar jaringan judi online tempat Aris bekerja dulu," jawab Baskara dengan tenang. "Dia benar-benar licik. Dia juga mengirim surat yang sama kepada keluarga besarnya agar mereka terus menerus menerormu."

Aku menghela napas panjang, menatap pepohonan di depanku. "Aku tidak peduli lagi dengan Paman Aris atau Bibi Sumi. Tapi apa benar Maria sedang merencanakan sesuatu dari balik sel?"

Baskara terdiam sejenak, wajahnya kembali mengeras. "Maria sedang mencoba mengajukan peninjauan kembali atas kasusnya. Dia menggunakan alasan gangguan jiwa akibat kematian suaminya. Jika hakim percaya, dia bisa dipindahkan ke rehabilitasi mental yang pengamanannya jauh lebih longgar. Dan selingkuhannya, pria yang kabur itu, kabarnya masih mengirimkan dana besar untuk menyuap beberapa oknum di Jakarta."

Duniaku yang baru saja mulai tenang kembali terasa goyah. Kenapa kejahatan seolah memiliki seribu nyawa dan tidak pernah mati?

"Lisna, ada satu hal lagi," Baskara menatapku dengan sangat serius. "Alif Pratama. Dia sudah resmi bercerai dari Vania. Vania membawa pergi sebagian besar aset firma hukumnya sebagai ganti rugi. Sekarang Alif tinggal di sebuah apartemen kecil dan fokus membela kasus-kasus tanpa bayaran untuk rakyat miskin. Dia mengirimkan pesan padaku, dia ingin bertemu denganmu hanya untuk memberikan satu dokumen penting."

Aku menggeleng dengan sangat tegas. "Tidak, Bang. Aku tidak mau bertemu siapa pun dari masa lalu itu lagi."

"Dokumen itu tentang ibumu, Lisna. Bukan tentang harta, tapi tentang makam asli ibumu."

Aku tertegun seketika. "Makam asli Ibu? Apa maksudnya, Bang?" Selama ini aku hanya tahu Ibu dimakamkan secara sederhana di pinggiran Jakarta setelah meninggal di rumah sakit. Namun, aku tidak pernah benar-benar diizinkan melihat proses pemakamannya karena Aris menahanku dengan berbagai alasan klasik mengenai biaya.

"Alif menemukan catatan bahwa makam yang selama ini kamu datangi itu sebenarnya kosong. Maria membayar seseorang untuk memindahkan jenazah Siti Aminah ke tempat lain agar Hartono tidak bisa mencarinya. Alif sudah berhasil menemukan lokasi aslinya," Baskara menjelaskan dengan nada rendah yang penuh simpati.

Air mataku tumpah seketika. Maria bahkan tidak membiarkan Ibuku tenang dalam kematiannya. Kebencian wanita itu benar-benar melampaui batas logika manusia normal.

Malam itu aku tidak bisa memejamkan mata. Bayangan makam Ibu yang entah ada di mana terus menghantuiku. Di satu sisi aku membenci Alif karena segala kebohongannya di masa lalu, namun di sisi lain, dia adalah satu-satunya pemegang kunci menuju tempat peristirahatan terakhir Ibuku yang sebenarnya.

Aku mengambil laptopku dan mulai mengetik naskah baru dengan jemari yang masih gemetar. Judulnya adalah: Benang Yang Belum Putus.

Tiba-tiba ponselku berbunyi nyaring. Ada notifikasi pesan dari nomor asing yang tidak terdaftar di kontakku. Pesan itu bukan dari Alif, bukan juga dari pihak Aris.

"Jangan percaya pada siapa pun yang memberimu makam, bahkan jika itu kakakmu sendiri. Ibu Siti Aminah masih hidup."

Aku menjatuhkan ponselku ke lantai hingga layarnya retak. Tubuhku gemetar hebat karena syok yang luar biasa. Pesan itu hanya berisi satu baris kalimat, namun itu sudah cukup untuk menghancurkan seluruh kenyataan yang kupahami selama tiga puluh tahun ini.