Ponsel yang tergeletak di lantai semen kamar itu seolah menjadi benda paling menakutkan yang pernah kulihat. Kalimat singkat itu terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Ibu masih hidup? Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Aku ingat betul malam itu, sepuluh tahun yang lalu, Aris datang membawa kabar duka dengan wajah yang disedih-sedihkan. Dia menunjukkan surat keterangan kematian dari rumah sakit dan membawaku ke sebuah gundukan tanah merah yang dia sebut sebagai makam Ibu. Aku meratapi tanah itu selama bertahun-tahun, mengirimkan doa tulus ke sana, dan sekarang seseorang mengatakan bahwa semuanya hanyalah dusta belaka?
Aku memungut ponsel itu dengan tangan yang masih gemetar hebat. Aku mencoba membalas pesan tersebut, namun nomor pengirimnya sudah tidak aktif lagi. Pesan terkirim namun hanya berstatus satu centang kelabu.
"Lisna? Kamu kenapa, Nduk?" Suara Bapak Sugeng terdengar dari balik pintu kamar. Sepertinya bunyi ponsel jatuh tadi telah membangunkannya dari tidur.
Aku segera menghapus pesan itu dengan cepat. Aku tidak ingin Bapak ikut terbebani dengan kegilaan yang baru saja dimulai ini. "Tidak apa-apa, Pak. Cuma ponselku jatuh. Maaf ya, Pak, sudah mengganggu tidurnya."
Aku duduk di tepi tempat tidur, memandangi Cahaya yang bernapas teratur dalam tidurnya yang lelap. Jika benar Ibu masih hidup, di mana dia selama ini? Mengapa dia tidak pernah mencariku? Dan siapa yang tega memalsukan kematian seorang wanita hanya demi memisahkan dia dari anaknya sendiri? Pikiran itu langsung tertuju pada satu nama yang paling kubenci: Maria.
Keesokan harinya, aku tidak bisa lagi berpura-pura tenang di depan Baskara. Saat kakakku itu datang untuk pamit kembali ke kota, aku menahannya di bawah pohon mangga di samping rumah.
"Bang, apa Abang yakin Ibu benar-benar sudah meninggal?" tanyaku tanpa basa-basi sedikit pun.
Baskara tampak sangat terkejut. Dia meletakkan helmnya di atas meja kayu dengan perlahan. "Kenapa kamu bertanya begitu, Lisna? Hartono sendiri yang mengurus biaya rumah sakitnya lewat tangan kanan Maria dulu. Meskipun Hartono tidak datang langsung, dia menerima laporan resmi bahwa Siti Aminah sudah tiada."
"Laporan, Bang. Hanya sebuah laporan," tegasku dengan nada menuntut. "Bagaimana jika laporan itu palsu? Bagaimana jika Maria membayar dokter dan petugas rumah sakit untuk menyatakan Ibu meninggal, padahal sebenarnya Ibu dikirim ke suatu tempat yang jauh?"
Baskara mengerutkan dahi, matanya yang tajam menatapku penuh selidik. "Kamu mendapatkan informasi dari mana, Lisna? Jangan bilang kamu percaya pada surat-surat gila dari Aris."
Aku menggeleng dengan cepat. "Bukan dari Aris. Seseorang mengirim pesan padaku semalam. Katanya Ibu masih hidup."
Baskara terdiam cukup lama. Dia mengambil napas panjang, lalu menyulut rokoknya. "Lisna, di dunia keluarga Hartono, segala hal mungkin saja terjadi. Tapi informasi seperti ini sering kali digunakan sebagai umpan. Maria tahu titik lemahmu adalah Ibu. Dia ingin kamu tidak tenang, dia ingin kamu kembali ke Jakarta dan melakukan kesalahan fatal yang bisa membatalkan semua status hukummu saat ini."
"Aku tahu itu risiko yang besar, Bang. Tapi ini soal Ibu. Jika ada satu persen saja kemungkinan Ibu masih bernapas di luar sana, aku tidak bisa diam saja duduk di sini sambil makan sayur lodeh setiap hari dengan tenang."
Satu jam kemudian, sebuah mobil hitam yang sangat kukenal berhenti di depan rumah. Itu mobil Alif. Dia turun dengan pakaian yang jauh lebih sederhana dari biasanya, hanya mengenakan kemeja flanel dan celana jins, namun wajahnya tetap menampakkan wibawa seorang pengacara kelas atas.
Alif menatap Baskara dengan ragu, lalu beralih menatapku dengan penuh penyesalan. "Aku tidak akan masuk jika kamu tidak mengizinkan, Lisna. Aku hanya ingin memberikan dokumen ini padamu."
Dia mengangsurkan sebuah map berwarna biru. Aku membukanya di depan mereka berdua. Isinya adalah catatan medis lama yang sepertinya diambil secara ilegal dari arsip sebuah rumah sakit yang sudah lama tutup.
"Lihat di halaman ketiga," ujar Alif dengan suara pelan.
Aku membaca catatan itu dengan teliti. Nama pasien tercantum Siti Aminah. Diagnosa tertulis Gagal Jantung. Namun, di kolom tanda tangan penyerahan jenazah, bukan nama Aris yang tertera, melainkan sebuah stempel dari yayasan rehabilitasi sosial yang berada di bawah naungan perusahaan keluarga Maria. Dan yang lebih mengejutkan lagi, tanggal penyerahan jenazah itu adalah tiga hari setelah tanggal kematian yang tertulis di surat yang pernah diberikan Aris padaku dulu.
"Ada selisih tiga hari, Mas?" tanyaku pada Alif dengan suara tercekat.
"Bukan hanya selisih hari, Lisna. Di catatan itu tertulis bahwa pasien dipindahkan dalam kondisi stabil. Stabil artinya dia belum meninggal saat dibawa keluar dari rumah sakit," jelas Alif dengan suara berat. "Maria menyamarkan penculikan ini sebagai penanganan medis tingkat lanjut."
Aku merasakan seluruh tenagaku luruh seketika. Jadi selama sepuluh tahun ini, aku mendoakan makam kosong sementara Ibuku mungkin sedang disekap di suatu tempat? Amarah yang belum pernah kurasakan sebelumnya mendidih di dalam dadaku. Amarah ini jauh lebih besar daripada saat aku tahu Aris berjudi menggunakan uang susu anak-anak kami.
"Di mana yayasan itu sekarang, Mas?"
"Yayasan itu sudah berganti nama tiga kali dan sekarang berada di sebuah wilayah terpencil di pinggiran Sukabumi. Secara resmi tempat itu adalah panti jompo, tapi pengamanannya lebih mirip sebuah penjara pribadi," kata Alif menjelaskan.
Aku menatap Baskara, lalu menatap Alif bergantian. Dua pria ini sama-sama memiliki rahasia di masa lalu, namun kali ini mereka tampak memiliki tujuan yang sama.
"Aku akan ke sana," kataku dengan sangat tegas.
"Jangan gila, Lisna! Itu terlalu berbahaya. Maria mungkin sudah menyiapkan jebakan maut di sana," cegah Baskara dengan nada keras.
"Jika aku tidak pergi sekarang, aku akan mati karena penasaran, Bang. Aku akan membawa anak-anak ke rumah saudara Bapak di desa sebelah agar aman. Kita berangkat malam ini juga."
Perjalanan menuju Sukabumi terasa seperti perjalanan menuju perut bumi yang paling dalam. Gelap, dingin, dan sunyi. Alif yang menyetir di depan, sementara Baskara terus memeriksa senjatanya di kursi belakang dengan saksama. Aku hanya duduk diam, memeluk erat tas kecil berisi foto lama Ibu.
"Lisna, maafkan aku soal Vania," Alif tiba-tiba bersuara di tengah kegelapan jalan tol yang sepi. "Aku memang memulai semuanya dengan cara yang salah. Aku pikir aku bisa mengendalikan semuanya, tapi ternyata aku malah menyakitimu lebih dalam."
Aku tidak menoleh sedikit pun. Fokusku bukan lagi pada urusan asmara yang sudah berantakan. "Simpan maafmu untuk nanti, Mas. Jika kita menemukan Ibuku dan dia dalam keadaan baik, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk mendengarkan semua penjelasanmu."
Alif mengangguk pelan, dia tidak berani mendebat ucapanku lagi.
Kami sampai di lokasi saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Bangunan itu tampak sangat suram, dikelilingi pagar kawat berduri dan tembok tinggi yang sudah berlumut tebal. Tidak ada papan nama yang terpasang, hanya sebuah gerbang besi tua yang dijaga oleh dua orang pria berbadan tegap yang tampak sangat tidak bersahabat.
Baskara turun lebih dulu dari mobil. Dia menggunakan identitas lamanya sebagai orang kepercayaan Hartono untuk menggertak para penjaga tersebut. Setelah perdebatan panjang yang cukup alot dan beberapa lembar uang berpindah tangan, gerbang besi itu akhirnya terbuka.
Aku melangkah masuk ke dalam koridor yang bau karbolnya sangat menyengat hidung. Ruangan-ruangan di sana sempit, pengap, dan gelap. Di ujung koridor, ada sebuah pintu kayu dengan lubang kecil di bagian tengahnya.
"Pasien di dalam sudah berada di sini selama sepuluh tahun. Dia tidak pernah bicara pada siapa pun, hanya menatap jendela setiap hari," ujar petugas panti itu dengan nada yang sangat dingin.
Jantungku rasanya hampir copot dari tempatnya. Aku mendorong pintu kayu itu perlahan dengan tangan yang basah oleh keringat dingin.
Di sudut ruangan, di atas kursi roda yang sudah karatan, duduk seorang wanita dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya. Dia mengenakan daster lusuh dan menatap ke luar jendela yang berterali besi rapat. Tubuhnya sangat kurus, hampir tinggal tulang yang terbalut kulit saja.
"Ibu?" bisikku dengan suara lirih yang bergetar.
Wanita itu sama sekali tidak menoleh. Tubuhnya tetap kaku seperti patung.
Aku mendekat, berlutut di samping kursi rodanya, lalu menyentuh tangan yang sangat keriput itu. Tangan yang dulu sering membuatkanku kue, tangan yang dulu selalu mengusap air mataku saat aku diejek oleh teman-teman sebagai anak yang tidak punya ayah.
"Ibu... ini Lisna. Ini anak Ibu."
Wanita itu perlahan-lahan memutar kepalanya ke arahku. Matanya yang sayu dan tampak kosong mulai mencoba terfokus padaku. Mulutnya bergetar hebat, mencoba mengeluarkan suara yang sudah sepuluh tahun lamanya tidak pernah dia gunakan.
"Lis... na?" suaranya pecah, hanya berupa bisikan parau yang sangat menyayat hati.
Aku tumpah dalam tangis yang hebat di pangkuannya. Aku meraung, melepaskan seluruh rasa sakit dan rindu yang membeku selama satu dekade penuh. Dia benar-benar masih hidup. Ibuku masih ada.
Namun, kebahagiaan itu terputus seketika saat suara tawa yang sangat kukenal terdengar dari arah pintu.
"Sangat menyentuh, bukan? Sebuah reuni yang menguras air mata di panti jompo buanganku."
Aku menoleh dengan cepat. Maria berdiri di sana dengan pakaian tahanan yang ditutupi oleh mantel panjang yang elegan, didampingi oleh dua pria bersenjata lengkap. Bagaimana mungkin dia bisa keluar dari penjara secepat ini?
"Jangan heran, Lisna. Uang bisa membuka pintu penjara semudah membuka pintu kamar mandi," ujar Maria dengan seringai iblisnya yang mengerikan. "Aku sengaja membiarkan Alif menemukan tempat ini dengan mudah. Aku butuh kamu ada di sini, bersama ibumu, agar aku bisa melenyapkan semua masalahku dalam satu malam. Dan kali ini, tidak akan ada polisi yang datang menyelamatkanmu."
Maria memberi isyarat pada anak buahnya, dan moncong senjata itu kini terarah tepat ke kepala Ibuku yang tak berdaya.