Moncong senjata yang dingin itu menempel tepat di pelipis Ibu. Aku bisa melihat urat-urat tangan anak buah Maria yang menegang, siap menarik pelatuk kapan saja. Di belakangku, Alif dan Baskara terperangkap di ambang pintu, tidak bisa bergerak karena pria bersenjata lainnya mengawasi setiap gerak-gerik mereka dengan waspada.
"Jangan bergerak, atau otak wanita tua ini akan berceceran di lantai," ancam Maria dengan nada yang begitu santai seolah dia sedang memesan minum di sebuah kafe.
"Maria, lepaskan dia!" Teriakku dengan suara yang pecah karena perpaduan antara amarah dan ketakutan. "Kamu sudah mendapatkan segalanya! Kamu sudah menghancurkan hidup kami selama puluhan tahun! Apa lagi yang kamu cari dari kami?"
Maria melangkah masuk ke dalam ruangan sempit itu, sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di atas lantai semen yang lembap. Dia mendekati Ibu, lalu dengan kasar menjambak rambut putih Ibu agar wanita tua itu mendongak menatapnya.
"Apa yang aku cari? Aku mencari ketenangan, Lisna! Dan ketenangan itu tidak akan pernah aku dapatkan selama ibumu masih menyimpan kunci itu!" Ujar Maria dengan mata yang berkilat gila.
"Kunci apa? Ibu tidak punya apa-apa! Dia hanya seorang pelayan di rumahmu!" Teriakku lagi, mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Pelayan?" Maria tertawa melengking, suara yang membuat seluruh bulu kudukku merdiri seketika. "Hartono bukan hanya mencintai ibumu karena wajah desanya yang polos. Hartono memberikan sesuatu yang sangat berharga kepada Siti sebelum dia mengirimnya pergi. Sebuah mikrofilm berisi daftar seluruh aliran dana gelap para pejabat yang dicuci melalui perusahaan keluarga besarku. Hartono menyimpan itu sebagai jaminan jika suatu saat keluargaku mencoba mendepaknya. Dan dia memberikan kunci brankas digital itu kepada Siti!"
Aku menatap Ibu yang masih gemetar hebat di kursi roda. Ibu tidak bicara sama sekali, namun matanya yang tadinya tampak kosong kini mulai memancarkan ketakutan yang sangat mendalam.
"Itulah sebabnya aku tidak membunuhnya sepuluh tahun lalu," lanjut Maria dengan senyum penuh kemenangan. "Aku butuh dia bicara! Aku butuh dia memberitahuku di mana dia menyembunyikan benda itu! Tapi Siti Aminah ternyata lebih keras kepala daripada yang aku kira. Sepuluh tahun dia membisu, berpura-pura gila di panti jompo ini!"
Baskara mencoba menggeser kakinya sedikit, namun suara kokangan senjata dari arah pintu segera menghentikan gerakannya.
"Jangan coba-coba, Baskara. Aku tahu kamu sangat jago berkelahi, tapi peluru ini jauh lebih cepat dari gerakanmu," ujar pria bersenjata itu dengan nada mengancam.
Maria beralih menatapku, senyumnya kini tampak lebih mengerikan dari sebelumnya. "Sekarang, pilihannya ada padamu, Lisna. Kamu anak yang pintar, penulis yang hebat. Pasti kamu bisa membujuk ibumu untuk bicara. Katakan padaku di mana kunci itu, atau aku akan membuatmu melihat ibumu mati perlahan-lahan di depan matamu sendiri."
Aku berlutut kembali di samping Ibu, menggenggam tangannya yang sedingin es. "Ibu... jika Ibu tahu sesuatu, tolong katakan saja. Harta itu tidak penting bagi kita. Aku hanya ingin Ibu pulang ke desa bersamaku."
Ibu menatapku, bibirnya yang pecah-pecah bergerak sedikit demi sedikit. "Lis... na..." bisiknya sangat lirih. "Jangan... jangan berikan..."
Maria yang mendengar bisikan itu langsung berang seketika. Dia menampar pipi Ibu dengan sangat keras hingga Ibu tersungkur dari kursi rodanya ke lantai.
"Ibu!" Aku menjerit dan mencoba memeluk Ibu, namun anak buah Maria menarikku dengan kasar dan melemparkanku ke arah dinding.
"Lisna!" Teriak Alif yang mencoba merangsek maju untuk menolong, namun dia langsung dipukul dengan popor senjata hingga tersungkur dan berdarah di bagian pelipisnya.
"Cukup!" Teriak Maria dengan suara menggelegar. "Aku sudah tidak punya kesabaran lagi! Jika kalian tidak bicara dalam hitungan ketiga, aku akan menghabisi kalian semua di sini! Satu!"
Di tengah kepanikan yang luar biasa itu, Ibu yang terbaring lemah di lantai tiba-tiba meraih kaki Maria. Dengan tenaga sisa yang entah datang dari mana, Ibu menarik kaki itu hingga Maria kehilangan keseimbangan dan jatuh.
"Sekarang, Baskara!" Teriak Ibu dengan suara yang mendadak lantang dan jelas.
Baskara bergerak secepat kilat. Dia tidak menerjang pria bersenjata di depannya, melainkan menendang meja kecil di sampingnya ke arah lampu ruangan hingga pecah berantakan. Ruangan itu seketika menjadi gelap gulita.
Suara tembakan meletus berkali-kali, memecah kesunyian subuh di panti jompo itu. Aku merangkak di lantai, mencari tubuh Ibu dalam kegelapan yang pekat. Aku menarik tubuh Ibu masuk ke kolong tempat tidur besi yang sempit untuk berlindung.
"Alif! Mas Alif!" Panggilku dalam isak tangis yang tertahan.
"Aku di sini, Lisna!" Suara Alif terdengar dari arah sudut ruangan, disusul suara pergulatan fisik yang hebat antara Baskara dan anak buah Maria.
Di luar ruangan, suara sirine polisi tiba-tiba meraung-raung, mendekat ke lokasi dengan sangat cepat. Rupanya Baskara sudah memasang pelacak GPS di mobil dan memberikan sinyal darurat kepada timnya yang sudah bersiaga sejak mereka memasuki wilayah Sukabumi.
"Sial! Polisi! Kita harus segera pergi!" Teriak Maria dalam kegelapan.
Aku melihat bayangan Maria berlari menuju jendela belakang yang tidak berterali. Dia tidak peduli lagi pada anak buahnya atau pada rahasia besar itu; instingnya untuk bertahan hidup jauh lebih besar daripada keserakahannya.
"Jangan biarkan dia lolos, Bang!" Teriakku pada Baskara.
Baskara berhasil melumpuhkan satu penjaga, sementara penjaga lainnya melarikan diri lewat pintu depan. Baskara melompat melewati jendela, mengejar Maria ke arah hutan di belakang panti jompo tersebut.
Lampu senter dari petugas polisi mulai menyinari ruangan itu. Aku segera membawa Ibu keluar dari kolong tempat tidur. Kondisi Ibu sangat lemah, namun dia masih sadar sepenuhnya. Petugas medis segera masuk untuk memberikan pertolongan pertama yang diperlukan.
Alif mendekatiku, wajahnya penuh lebam namun matanya memancarkan kelegaan yang nyata. "Kamu tidak apa-apa, Lisna?"
Aku hanya mengangguk pelan, masih terlalu syok untuk bicara. Aku memeluk Ibu dengan erat saat petugas medis menaikkannya ke atas tandu ambulans.
"Lisna..." Ibu berbisik tepat di telingaku saat dia hendak dibawa keluar. "Benda itu... tidak ada di sini..."
"Lalu di mana, Bu?" tanyaku dengan suara berbisik pula.
"Di dalam kalung yang kamu pakai... Hartono memasukkannya ke dalam liontin kecil itu saat kamu masih bayi..." Siti Aminah tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan rahasia yang selama ini dia simpan rapat-rapat demi melindungiku dari bahaya.
Aku meraba kalung perak kecil yang selalu kupakai sejak kecil, kalung yang katanya adalah pemberian ayahku sebelum dia pergi. Aku tidak pernah menyangka bahwa selama ini aku membawa bom waktu yang dicari-cari oleh Maria di leherku sendiri.
Polisi berhasil mengamankan seluruh area panti jompo tersebut, namun Baskara kembali dengan tangan hampa. Maria berhasil menghilang di kegelapan hutan pinus yang sangat lebat. Dia benar-benar licik seperti belut, dan dia tahu betul medan pelariannya.
"Dia kabur, Lisna. Tapi tim identifikasi sudah menemukan banyak bukti aktivitas ilegal di panti jompo ini," ujar Baskara dengan napas yang masih terengah-engah.
Aku menatap kalung di tanganku dengan pandangan nanar. Maria pasti akan kembali. Aku tahu itu. Selama benda ini masih ada padaku, dia tidak akan pernah berhenti mengejarku sampai ke ujung dunia.
"Kita harus segera membawa Ibu ke rumah sakit yang aman di Jakarta," kata Alif memberikan saran. "Dan Lisna, kamu harus segera menyerahkan benda ini ke pihak yang berwajib sebelum Maria menemukannya kembali."
Aku menatap langit subuh yang mulai memerah di ufuk timur. Kejahatan Maria sudah terbongkar, Ibuku sudah kembali ke sisiku, namun permainan ini baru saja memasuki babak yang paling berbahaya bagi nyawaku. Rahasia yang ada di leherku ini bukan hanya tentang tumpukan uang, tapi tentang menjatuhkan seluruh dinasti kekuasaan yang selama ini menindas orang-orang kecil seperti Ibuku.