BAB 29: KOTAK PANDORA DI LEHERKU

06 February 2026

Ambulans meraung membelah dinginnya jalanan menuju Jakarta. Di dalamnya, aku duduk di samping brankar Ibu, menggenggam tangannya yang kini terhubung dengan berbagai selang medis yang terlihat rumit. Di sudut lain, Alif sedang menekan luka di pelipisnya dengan kain kasa yang mulai memerah, sementara matanya tidak lepas menatapku dengan penuh rasa bersalah sekaligus kecemasan yang mendalam.

Tanganku tidak berhenti meraba liontin perak berbentuk tetesan air yang menggantung di leherku. Benda ini terasa sangat dingin, namun bagi Maria, ini adalah api yang bisa membakar seluruh hidupnya hingga menjadi abu. Selama tiga puluh tahun, aku hanya menganggapnya sebagai satu-satunya kenang-kenangan manis dari Ayah, tanpa pernah menyangka bahwa di dalamnya tersimpan racun bagi sebuah dinasti kekuasaan yang besar.

"Lisna, berikan kalung itu padaku. Biar aku yang menyimpannya untuk sementara," bisik Alif dengan suara pelan. "Jika Maria atau orang-orangnya menghadang kita lagi di jalan, kamu akan menjadi target utama mereka."

Aku menggeleng dengan tegas. "Tidak, Mas. Ibu sudah menderita selama sepuluh tahun hanya untuk menjaga rahasia ini. Dia disiksa, disekap, dan dipaksa membisu agar benda ini tidak jatuh ke tangan yang salah. Aku tidak akan melepaskannya sampai aku sendiri yang menyerahkannya pada pihak yang paling berwenang."

Alif menghela napas panjang. Dia tahu betul bahwa aku sedang berada di puncak kekeraskepalaanku yang tidak bisa diganggu gugat. Pria itu kemudian berpaling ke arah jendela, menatap kegelapan malam yang perlahan memudar digantikan oleh semburat fajar di ufuk timur.

Sesampainya di Rumah Sakit Pusat Jakarta, pengamanan langsung diperketat secara drastis. Baskara sudah mengatur segalanya dengan sangat rapi. Dia membawa tim keamanan swasta yang tidak berafiliasi dengan keluarga Hartono maupun Maria untuk menjamin netralitas. Ibu segera dilarikan ke ruang perawatan intensif karena kondisi fisiknya yang sangat drop setelah bertahun-tahun mengalami kekurangan gizi dan tekanan mental yang luar biasa.

Aku duduk di ruang tunggu yang sunyi, ditemani oleh Baskara. Pria itu tampak sedang sibuk memeriksa sesuatu di perangkat tabletnya dengan kening berkerut.

"Maria sudah masuk daftar pencarian orang tingkat nasional, Lisna. Foto wajahnya sudah disebar ke seluruh pelabuhan dan bandara. Tapi kita semua tahu Maria punya seribu cara untuk menghilang. Dia punya paspor palsu dan jaringan orang-orang yang berutang budi padanya," ujar Baskara tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

"Bang, bisakah kita membuka benda ini sekarang juga?" Tanyaku sambil menunjuk ke arah kalungku.

Baskara menatapku dengan tatapan serius. "Kita butuh ahli forensik digital untuk melakukannya. Jika kita salah langkah saat membuka, mikrofilm di dalamnya bisa rusak atau hancur secara otomatis. Hartono mendesain benda itu agar aman dari tangan orang awam."

Tiba-tiba, pintu ruang tunggu terbuka dengan kasar. Seorang perawat berlari menghampiri kami dengan wajah yang sangat pucat.

"Ibu Lisna? Pasien di dalam, Ibu Siti Aminah, beliau baru saja sadar dan memanggil nama Anda. Namun kondisinya tiba-tiba menurun drastis," lapor perawat itu dengan suara yang terbata-bata.

Aku berlari sekencang mungkin menuju ruang ICU. Di balik kaca besar, aku melihat Ibu sedang berjuang keras untuk menghirup oksigen. Dokter sedang melakukan tindakan darurat, namun Ibu terus menggelengkan kepalanya dengan lemah, tangannya tampak menggapai-gapai ke arahku.

"Biarkan saya masuk! Tolong biarkan saya masuk!" Teriakku pada petugas keamanan yang sempat menahan di pintu.

Setelah mengenakan pakaian steril dengan terburu-buru, aku diizinkan masuk. Aku langsung berlutut di samping tempat tidur Ibu. Suara mesin detak jantung terdengar tidak beraturan, bunyinya memekakkan telinga di tengah kesunyian ruangan itu.

"Ibu... Lisna di sini, Bu. Lisna ada di samping Ibu."

Ibu menarik napasnya dengan sangat berat, matanya yang sayu menatapku dengan penuh kasih sayang yang tidak terbatas. "Lis... na... harta itu... jangan... jangan gunakan untuk dendam..." bisiknya dengan sisa tenaga terakhir yang dia miliki.

"Bu, bicaralah nanti saja. Ibu harus kuat demi kami."

"Gunakan... untuk kebenaran... Hartono... dia menyesal..." Ibu Siti Aminah tersenyum sangat tipis, sebuah senyum yang seolah membawa kedamaian yang selama sepuluh tahun dirampas darinya. Tangannya yang menggenggam tanganku perlahan-lahan melemas. Garis di monitor itu perlahan menjadi datar, diikuti oleh suara denging panjang yang mematikan perasaan.

"Ibu! Tidak! Ibu jangan tinggalkan Lisna!" Jeritku pecah memenuhi ruangan itu.

Duniaku rasanya runtuh seketika. Baru beberapa jam yang lalu aku menemukan keajaiban bahwa Ibu masih hidup, dan sekarang Tuhan mengambilnya kembali. Rasanya jauh lebih menyakitkan daripada kematian yang kupikir terjadi sepuluh tahun lalu. Kali ini, aku benar-benar melihatnya pergi untuk selamanya.

Tiga hari kemudian, pemakaman Ibu dilangsungkan dengan sangat tertutup untuk menjaga keamanan. Aku memakamkan Ibu di samping makam Hartono, sesuai dengan wasiat terakhir Hartono yang baru ditemukan oleh Baskara di sebuah rumah rahasia. Meskipun Maria akan sangat membenci keputusan ini, aku sama sekali tidak peduli. Mereka adalah dua jiwa yang dipisahkan oleh keserakahan, dan kini mereka bersatu dalam keabadian yang tenang.

Setelah para pelayat pergi, aku tetap berdiri di depan pusara Ibu yang masih basah. Alif berdiri beberapa langkah di belakangku, memberikan ruang yang cukup untukku berduka dalam diam.

"Sudah saatnya, Lisna," ujar Baskara yang tiba-tiba muncul dari balik pepohonan kamboja. "Ahli yang aku bawa sudah siap di rumah aman kita."

Aku menghapus sisa air mataku. Rasa sedihku kini telah mengkristal menjadi sebuah tekad yang dingin dan tajam. Maria tidak boleh menang lagi. Dia harus membayar setiap tetes air mata yang telah dikeluarkan oleh Ibu.

Kami segera menuju ke sebuah laboratorium bawah tanah milik rekan Baskara. Di sana, seorang ahli dengan telaten membuka liontin perakku. Dengan menggunakan alat khusus, dia mengeluarkan sebuah gulungan kecil yang nyaris tidak terlihat oleh mata telanjang. Itu adalah mikrofilm yang selama ini dicari.

Butuh waktu beberapa jam untuk memindai isinya ke dalam format digital. Saat gambar-gambar itu mulai muncul di layar monitor besar, kami semua terperangah melihat isinya.

Itu bukan hanya daftar aliran dana biasa. Itu adalah rekaman video rahasia, dokumen kontrak palsu, dan daftar aset tersembunyi milik Maria yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Yang paling mengejutkan adalah bukti nyata bahwa Maria terlibat langsung dalam sabotase kecelakaan yang menewaskan beberapa pesaing bisnis Hartono di masa lalu.

"Ini lebih dari cukup untuk mengirim Maria ke kursi listrik," gumam Alif dengan wajah yang tampak tegang.

Tiba-tiba, alarm keamanan laboratorium berbunyi dengan nyaring. Layar monitor di ruang kontrol menunjukkan beberapa mobil hitam sedang mengepung gedung tersebut dari segala penjuru.

"Mereka menemukan kita!" Teriak Baskara sambil menarik senjatanya dengan cepat.

"Baskara, bawa Lisna lewat pintu belakang sekarang! Aku akan mencoba mengalihkan perhatian mereka di depan!" Perintah Alif dengan suara lantang.

"Tidak, Mas! Kita harus pergi bersama-sama!" Kataku dalam kondisi panik.

"Pergilah, Lisna! Segera bawa data itu! Jika data ini hilang, maka kematian ibumu akan sia-sia!" Alif mendorongku dengan kuat ke arah Baskara.

Aku berlari mengikuti Baskara melalui lorong-lorong sempit yang pengap, sementara suara tembakan mulai terdengar bersahutan dari arah depan. Jantungku berdegup sangat kencang. Aku mendekap tas yang berisi salinan data tersebut dengan sangat erat.

Di ujung lorong, kami tiba-tiba dihadang oleh seorang pria dengan setelan rapi. Dia bukan anak buah Maria yang kasar seperti biasanya. Dia adalah asisten pribadi Hartono yang selama ini bersikap sangat sopan dan baik kepadaku.

"Berikan datanya, Lisna. Nyonya Maria sudah menunggumu di luar gedung," ujarnya sambil menodongkan pistol dengan tangan yang terlihat sangat tenang.

Aku menatapnya dengan rasa tidak percaya yang mendalam. "Kamu juga seorang pengkhianat?"

"Di dunia ini tidak ada yang namanya pengkhianat, Lisna. Yang ada hanyalah penawar tertinggi," jawabnya dengan nada dingin.

Baskara hendak melepaskan tembakan untuk melindungi, namun asisten itu lebih dulu menarik pelatuknya. Baskara terjatuh di lantai, memegang bahunya yang langsung bersimbah darah segar.

"Sekarang, berikan tas itu padaku, atau aku akan menghabisi kakakmu sekarang juga tanpa ragu."

Aku menatap Baskara yang mengerang kesakitan, lalu beralih menatap tas di tanganku. Aku berada di ambang keputusan yang mustahil untuk diambil. Jika aku memberikan data ini, Maria akan bebas selamanya. Jika aku tidak memberikannya, Baskara akan mati di tempat ini.

Di tengah ketegangan yang memuncak itu, ponsel di saku asisten tersebut tiba-tiba berbunyi nyaring. Dia mengangkatnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap menodongkan senjata ke arah kami.

"Halo? Nyonya? Apa? Bagaimana mungkin?" Wajah asisten itu tiba-tiba berubah menjadi sangat pucat pasi.

Dia menatapku dengan pandangan penuh ketakutan, lalu perlahan-lahan menurunkan senjatanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berbalik dan lari sekencang mungkin meninggalkan kami dalam kebingungan.

"Bang, kamu tidak apa-apa?" Aku segera menghampiri Baskara untuk memeriksa lukanya.

Baskara meringis menahan sakit. "Aku baik-baik saja. Tapi ada apa dengan orang itu? Kenapa dia tiba-tiba lari ketakutan?"

Aku mengambil ponsel asisten itu yang terjatuh saat dia lari tadi. Ada sebuah pesan masuk yang baru saja diterima. Isinya membuat seluruh bulu kudukku merdiri seketika.

"Maria tertangkap. Dia bunuh diri di dalam mobil saat dikepung polisi di perbatasan. Dan dia meninggalkan satu pesan terakhir: Permainan belum berakhir, Lisna. Aris adalah pemegang kunci yang sebenarnya."

Aku menatap Baskara dengan kengerian yang baru merayap di pikiranku. Maria sudah mati, tapi dia melempar bola panas itu kembali ke pria yang paling aku benci di dunia ini. Aris.