BAB 30: KUNCI DI BALIK TERALI

06 February 2026

Berita kematian Maria meledak di seluruh kanal berita nasional dalam hitungan jam. Foto mobil mewah yang menabrak pembatas jalan di perbatasan provinsi dengan kondisi Maria yang tak bernyawa di kursi belakang menjadi topik utama yang mengguncang bursa saham perusahaan Hartono. Namun bagiku, kematian wanita itu tidak membawa ketenangan yang kuharapkan. Pesan terakhirnya yang menyebutkan nama Aris terus berdengung di kepalaku seperti suara tawon yang sedang marah.

Baskara segera dilarikan ke rumah sakit untuk mengobati luka tembak di bahunya. Sementara itu, Alif muncul dengan wajah kuyu dan pakaian yang tercoreng noda bubuk mesiu. Dia selamat dari pengalihan perhatian di laboratorium tadi, tapi sorot matanya menunjukkan bahwa dia sama terkejutnya denganku atas perkembangan situasi ini.

"Lisna, kamu harus melihat ini," ujar Alif sambil menyodorkan tabletnya saat kami berada di ruang tunggu rumah sakit yang dijaga ketat oleh pihak kepolisian.

Aku melihat sebuah rekaman pendek. Itu adalah video pernyataan Maria yang direkam sesaat sebelum dia melakukan tindakan nekatnya. Di dalam video itu, Maria tampak kacau namun sorot matanya tetap tajam penuh kebencian.

"Kalian pikir mikrofilm Siti Aminah adalah segalanya?" Maria tertawa dalam rekaman itu, suara tawanya terdengar sangat parau. "Mikrofilm itu hanya berisi data masa lalu. Tapi kunci untuk mencairkan seluruh aset tersembunyi Hartono di luar negeri, yang nilainya cukup untuk membeli satu negara kecil, tidak ada di sana. Hartono memberikannya kepada orang yang paling tidak mencurigakan. Dia memberikannya kepada Aris, sebagai mahar rahasia saat Aris menikahi Lisna."

Aku hampir menjatuhkan tablet itu dari genggamanku. "Aris? Hartono memberikan kunci kekayaan sebesar itu kepada pria pecandu judi seperti Aris?"

"Itulah sebabnya Aris menjadi pecandu, Lisna," gumam Alif dengan suara rendah. "Dia tidak tahan menahan beban rahasia itu sendirian. Atau mungkin, dia mencoba berjudi untuk menutupi rasa takutnya bahwa suatu saat orang-orang seperti Maria akan memburunya jika mereka tahu apa yang sebenarnya dia simpan."

Keesokan harinya, aku dan Alif berangkat menuju Lembaga Pemasyarakatan tempat Aris mendekam. Perasaan benci dan mual bercampur aduk di dalam perutku saat melewati gerbang besi tinggi dan mencium aroma antiseptik penjara yang menyengat. Aku tidak pernah membayangkan akan duduk lagi di depan pria yang telah menghancurkan masa mudaku ini.

Di ruang kunjungan yang dibatasi kaca tebal, Aris muncul dengan seragam narapidana berwarna oranye. Tubuhnya tampak lebih kurus dan rambutnya dipangkas pendek, namun senyum miringnya yang penuh tipu daya itu masih ada di sana. Begitu melihatku, matanya langsung berbinar.

"Lisna, sayangku. Aku tahu kamu pasti akan datang," ujar Aris lewat gagang telepon interkom. "Kamu sudah dengar berita tentang Maria, kan? Wanita itu akhirnya mendapatkan karmanya yang setimpal."

"Jangan panggil aku sayang, Aris. Kita sudah selesai," jawabku dengan nada dingin. "Katakan padaku tentang kunci yang disebut oleh Maria. Apa benar Ayah memberikan sesuatu yang sangat berharga padamu?"

Aris bersandar di kursinya, tampak sangat menikmati posisiku yang sedang membutuhkannya. "Mertuaku yang terhormat itu memang pria yang sangat teliti, Lisna. Dia tahu Maria akan mencari benda itu ke mana pun. Jadi dia memberikan sebuah jam tangan tua padaku saat hari pernikahan kita dulu. Dia bilang itu adalah pusaka keluarga."

"Jam tangan itu? Jam tangan yang kamu gadaikan untuk modal main slot tiga tahun lalu?" Tanyaku dengan nada tidak percaya.

Aris tertawa kecil, suara tawanya terdengar parau dan menyebalkan. "Itu yang kamu pikirkan, kan? Itu yang aku ingin agar semua orang pikirkan. Aku berpura-pura menggadaikannya agar Maria berhenti mengirim orang untuk mengawasiku. Tapi jam itu tidak pernah ada di tukang gadai. Jam itu ada di tempat yang sangat aman, yang tidak akan pernah bisa kamu tebak."

"Katakan di mana benda itu, Aris. Uang itu milik yayasan, milik orang-orang yang membutuhkan, bukan milikmu!"

Aris memajukan tubuhnya, matanya menatapku dengan intensitas yang mengerikan. "Aku akan memberitahumu, tapi dengan satu syarat. Aku ingin kamu menggunakan koneksimu untuk memberiku remisi atau pembebasan bersyarat. Aku ingin keluar dari sini, Lisna. Aku ingin memulai hidup baru dengan uang itu, bersamamu dan anak-anak kita."

Aku meletakkan gagang telepon itu dengan kasar ke tempatnya. Keserakahannya benar-benar tidak memiliki batas. Bahkan setelah semua yang terjadi, dia masih berpikir bisa memanipulasi keadaan sesuai keinginannya.

Saat aku keluar dari penjara, Alif sudah menungguku di dalam mobil. "Bagaimana? Apa dia mau bicara?"

"Dia meminta kebebasan sebagai imbalan," jawabku dengan nada lelah. "Dia menyembunyikan jam tangan pemberian Ayah. Dia bilang jam itu adalah kuncinya."

Alif terdiam sejenak, jarinya tampak mengetuk-ngetuk setir mobil dengan gelisah. "Lisna, jika jam itu benar-benar berisi kode akses untuk aset internasional Hartono, maka posisi Aris sekarang sangat berbahaya. Meskipun Maria sudah mati, jaringannya pasti masih ada. Mereka akan mencoba mendekati Aris di dalam penjara."

Dan kekhawatiran Alif terbukti lebih cepat dari yang kami duga. Baru saja mobil kami keluar dari area parkir penjara, ledakan keras terdengar dari arah blok hunian narapidana. Asap hitam mengepul tinggi ke langit, dan alarm darurat penjara segera meraung-raung membelah kesunyian.

"Kerusuhan!" Teriak salah satu petugas di gerbang dengan panik.

Aku menoleh ke belakang dengan jantung berdebar kencang. Apakah ini kebetulan semata, atau ada seseorang yang mencoba melenyapkan Aris sebelum dia sempat bicara padaku?

"Kita harus kembali ke dalam!" Teriakku pada Alif.

"Tidak, Lisna! Itu terlalu berbahaya!" Alif mencoba menahanku, namun aku sudah terlanjur membuka pintu mobil dan berlari kembali menuju gerbang utama.

Aku melihat beberapa narapidana berlarian di tengah kekacauan yang meluas. Di antara kerumunan itu, aku melihat Aris sedang diseret oleh dua orang pria berpakaian petugas namun dengan gerakan yang sangat kasar. Mereka tidak membawanya kembali ke sel, melainkan menuju sebuah mobil box yang sudah menunggu di dekat tembok belakang penjara yang tampak sudah dijebol.

"Aris!" Teriakku sekuat tenaga.

Aris menoleh, wajahnya menunjukkan ketakutan yang sangat nyata. Dia mencoba meronta sekuat tenaga, namun salah satu pria itu memukul perutnya dengan gagang pistol hingga dia lemas. Saat mereka hendak memasukkan Aris ke dalam mobil, sebuah tembakan peringatan meletus dari arah menara pengawas.

Di tengah kekacauan itu, Aris berhasil melepaskan diri sejenak. Dia berlari ke arahku, namun jarak kami masih terlalu jauh. Dia merobek sesuatu dari kantong seragamnya dan melemparkannya ke arah semak-semak di dekat pos penjagaan sebelum para pria itu kembali menangkapnya dan menyeretnya masuk ke dalam mobil box yang langsung melesat pergi meninggalkan lokasi.

Mobil itu menghilang dalam sekejap, meninggalkan debu dan kepanikan yang hebat. Polisi dan petugas penjara segera melakukan pengejaran, namun aku tahu mereka sudah sangat terlambat.

Aku mendekati semak-semak itu dengan tangan yang gemetar. Di sana, tergeletak sebuah kunci kecil yang sudah kusam dan selembar kertas pembungkus permen yang ditulisi dengan angka-angka koordinat menggunakan bolpoin hitam.

"Ini bukan tentang jam tangan itu," bisikku saat Alif akhirnya menyusulku. "Jam tangan itu hanyalah pengalih perhatian. Kuncinya ada pada Aris selama ini, dan dia baru saja memberikannya padaku sebelum dia diculik."

Aku menatap koordinat itu dengan saksama. Angka itu mengarah ke sebuah makam tua di desa kelahiranku, tempat di mana aku dulu sering bermain saat masih kecil. Aris ternyata jauh lebih cerdik daripada yang aku kira selama ini. Dia menyimpan harta itu tepat di bawah hidungku selama ini.

Tapi sekarang, Aris berada di tangan orang-orang yang tidak dikenal, dan aku memegang benda yang paling mereka incar. Perang ini ternyata belum berakhir dengan kematian Maria. Justru, ini adalah awal dari perburuan yang sebenarnya, di mana aku harus menyelamatkan pria yang paling aku benci demi mengakhiri semua kegilaan ini.