BAB 31: JURANG KESERAKAHAN

06 February 2026

Genggamanku pada kunci kecil yang kusam itu terasa begitu erat hingga meninggalkan bekas merah di telapak tanganku. Angka koordinat yang tertulis di atas kertas pembungkus permen itu seolah membakar mataku. Alif berdiri di sampingku dengan napas memburu, matanya terus waspada mengawasi sekeliling area penjara yang kini sudah dipenuhi oleh aparat bersenjata lengkap.

"Kita harus pergi dari sini sekarang, Lisna," bisik Alif sambil menarik lenganku pelan. "Siapa pun yang menculik Aris pasti akan segera menyadari bahwa benda yang mereka cari tidak ada pada pria itu. Mereka akan segera kembali mencarimu."

Aku mengikuti langkah Alif menuju mobil dengan pikiran yang berkecamuk hebat. Aris diculik tepat di depan mataku. Meskipun pria itu telah menghancurkan hidupku, melihatnya diseret seperti binatang tetap menyisakan rasa mual yang luar biasa di dalam perutku. Aris memberikan kunci ini padaku bukan karena dia mendadak menjadi pahlawan, tapi karena dia tahu hanya dengan cara inilah nyawanya mungkin masih bisa dianggap berharga oleh para penculiknya.

Di dalam mobil, Alif segera memacu kendaraannya menjauh dari area lembaga pemasyarakatan. Ia terus melirik ke arah kaca spion, memastikan tidak ada mobil asing yang membuntuti kami di tengah kegelapan malam.

"Mas, koordinat ini mengarah ke desa kelahiranku," kataku sambil menunjukkan kertas itu padanya. "Tepatnya ke pemakaman umum lama di kaki bukit."

"Tempat yang sangat cerdas untuk menyembunyikan sesuatu," sahut Alif pelan. "Tidak ada yang akan mencurigai makam tua sebagai brankas kekayaan Hartono. Tapi Lisna, jika Aris benar benar diculik oleh sisa jaringan Maria, mereka akan menyiksa Aris habis habisan untuk mendapatkan informasi ini."

Aku terdiam, membayangkan Aris yang pengecut itu harus menghadapi siksaan fisik. Dia pasti akan bicara. Dia akan memberitahu mereka bahwa dia telah melemparkan sesuatu padaku saat kerusuhan tadi. Waktu kami benar benar tidak banyak lagi.

Perjalanan menuju desa memakan waktu beberapa jam yang terasa sangat lama. Langit sudah berubah menjadi jingga tua saat kami memasuki perbatasan desa. Suasana pedesaan yang biasanya menenangkan kini terasa sangat mencekam di mataku. Aku merasa setiap pasang mata yang menatap mobil kami adalah mata mata yang sengaja dikirim untuk mengawasi gerak gerik kami.

Kami tidak menuju ke rumah Bapak Sugeng kali ini. Alif memarkirkan mobilnya agak jauh dari jalan utama, di sebuah jalan setapak yang tertutup semak belukar lebat. Kami berjalan kaki menanjak menuju pemakaman umum lama yang sudah jarang dikunjungi penduduk karena letaknya yang terisolasi.

Sesampainya di sana, aku langsung menuju ke bagian belakang pemakaman yang gelap. Di bawah sebuah pohon kamboja tua yang sudah meranggas, terdapat sebuah makam tanpa nama yang hanya ditandai dengan batu kali besar. Aris pernah bilang itu adalah makam kerabat jauhnya yang sudah tidak memiliki keluarga lagi. Ternyata, itu adalah kebohongan lainnya yang tertata sangat rapi.

"Gunakan kuncinya, Lisna," instruksi Alif sambil menyorotkan lampu senter kecil ke arah dasar batu kali tersebut.

Aku berlutut di atas tanah yang lembap. Tanganku meraba bagian bawah batu hingga menemukan sebuah lubang kecil yang tertutup tanah kering. Setelah membersihkannya, aku memasukkan kunci itu dengan hati hati. Suara klik logam yang beradu terdengar jelas di tengah kesunyian malam. Sebuah kotak besi kecil berukuran kamus tebal perlahan muncul dari celah di bawah batu tersebut.

Aku membukanya dengan tangan yang bergetar. Di dalamnya bukan berisi tumpukan uang atau perhiasan mewah. Hanya ada sebuah buku catatan kecil bersampul kulit dan sebuah perangkat penyimpanan data berbentuk kristal yang tampak sangat canggih.

"Buku catatan Hartono," gumam Alif saat ia melihat sekilas isinya. "Ini adalah kunci manual untuk mengakses rekening aman di luar negeri. Dan perangkat ini sepertinya adalah protokol verifikasi biometrik yang sudah dimodifikasi."

Tiba tiba, suara langkah kaki yang menginjak ranting kering terdengar dari arah belakang kami.

"Sangat mengesankan, Lisna. Aku tidak menyangka kamu akan menemukannya secepat ini."

Aku tersentak dan segera berdiri dengan waspada. Dari balik kegelapan pohon pohon besar, muncul beberapa orang pria dengan setelan hitam. Namun, yang jauh lebih mengejutkan adalah sosok yang berdiri di tengah mereka. Bukan sisa anak buah Maria, melainkan Vania.

"Vania? Apa yang kamu lakukan di sini?" Teriak Alif dengan nada penuh amarah.

Vania tersenyum tenang, sebuah senyum yang jauh lebih dingin daripada yang pernah kulihat sebelumnya. "Alif, kamu pikir aku hanyalah wanita yang gila harta dari firma hukummu? Ayahku adalah salah satu orang yang namanya ada di dalam daftar mikrofilm Hartono. Dan aku tidak akan membiarkan daftar itu atau akses kekayaan ini jatuh ke tangan orang lain, terutama ke tangan janda miskin seperti Lisna."

Aku mendekap kotak besi itu erat ke dadaku. "Jadi kamu bekerja untuk ayahmu? Kamu sengaja mendekati Alif sejak awal hanya untuk memantau pergerakan Hartono?"

"Tentu saja. Pernikahan kami adalah sebuah misi, meskipun Alif yang bodoh ini sempat mengira itu adalah cinta sejati," sindir Vania dengan nada tajam. "Sekarang, berikan kotak itu padaku, Lisna. Jika tidak, pria yang kamu cari cari ini akan mati sekarang juga."

Vania memberi isyarat kepada anak buahnya. Dua pria menyeret seseorang yang wajahnya tertutup kain hitam. Saat kain itu dibuka, aku melihat Aris. Wajahnya sudah hancur lebam dan napasnya tersengal sengal. Sebuah pistol menempel tepat di pelipisnya.

"Lis... na... lari..." rintih Aris dengan suara yang nyaris hilang ditelan angin.

"Jangan sok jadi pahlawan, Aris," bentak salah satu pria yang memegangnya dengan kasar.

"Lisna, jangan berikan benda itu!" Teriak Alif. "Jika kamu berikan, mereka tidak akan membiarkan satu pun dari kita hidup untuk melapor!"

Vania tertawa meremehkan. "Pilihan ada di tanganmu, Lisna. Penulis yang penuh empati atau wanita yang haus harta? Mana yang akan kamu pilih? Satu nyawa suami yang sudah berkhianat, atau seluruh kekayaan yang bisa mengubah hidupmu selamanya?"

Aku menatap Aris yang sedang meregang nyawa, lalu menatap Alif yang sudah bersiap untuk menerjang. Di tanganku, kotak besi ini terasa sangat berat. Seolah seluruh beban penderitaan ibuku dan pengkhianatan yang kualami selama ini terkumpul di sana.

"Aku akan memberikannya," kataku dengan suara bergetar.

"Lisna, tidak!" Alif mencoba menahanku dengan panik.

"Tapi ada satu syarat, Vania," lanjutku sambil melangkah maju ke arahnya dengan berani. "Biarkan Alif pergi dari sini. Kamu hanya butuh aku dan benda ini."

Vania tampak mempertimbangkan permintaanku sejenak. "Baiklah. Alif bisa pergi. Dia sudah tidak berguna lagi bagiku. Tapi jangan coba coba melakukan hal bodoh, atau suamimu ini tamat seketika."

Aku berjalan perlahan menuju Vania, namun saat jarak kami hanya tinggal dua meter, aku sengaja menjatuhkan kotak itu ke arah lereng bukit yang curam di samping pemakaman.

"Ambil saja di sana!" Teriakku sekeras mungkin.

Kekacauan terjadi seketika itu juga. Anak buah Vania secara insting menoleh ke arah kotak yang menggelinding ke bawah, dan di saat itulah Alif menerjang pria yang memegang Aris. Sebuah tembakan meletus, namun pelurunya meleset mengenai batang pohon.

Baskara tiba tiba muncul dari arah lain dengan senjata apinya, melepaskan tembakan balasan yang terukur. Ternyata Alif sudah menghubungi Baskara secara rahasia sebelum kami sampai di desa tadi.

Vania menjerit marah saat menyadari bahwa dia telah ditipu mentah mentah. Ia mencoba menarik pistol dari tasnya, namun aku lebih dulu menabrakkan tubuhku ke arahnya, membuat kami berdua terjatuh di atas tanah kuburan yang kotor.

"Permainanmu sudah selesai, Vania!" Teriakku sambil mencengkeram tangannya kuat kuat.

Di tengah pergulatan itu, aku melihat Aris yang sudah bebas mencoba merangkak menjauh. Namun, bukannya lari menyelamatkan diri, dia justru merangkak menuju ke arah lereng tempat kotak besi itu jatuh. Keserakahannya ternyata jauh lebih besar daripada rasa takutnya akan kematian.

"Aris, berhenti! Jangan ke sana!" Teriakku memperingatkan.

Aris sama sekali tidak mendengar. Dia menjangkau kotak itu yang tersangkut di akar pohon di pinggir jurang yang dalam. Namun, tanah di bawahnya yang labil akibat hujan baru baru ini tiba tiba runtuh.

"Lisna!" Jerit Aris saat tubuhnya ikut terseret longsoran tanah ke bawah jurang bersama kotak tersebut.

Aku terdiam kaku di atas tanah, menatap ke arah kegelapan jurang tempat Aris menghilang dalam sekejap. Jeritan itu perlahan hilang ditelan suara angin malam yang dingin. Vania akhirnya berhasil diringkus oleh Baskara, namun kemenangan ini terasa begitu getir bagiku.

Aris telah pergi untuk selamanya, membawa serta kunci kekayaan yang selama ini menjadi pusat badai dalam hidupku