Suara gemuruh tanah yang longsor itu perlahan mereda, digantikan oleh kesunyian malam yang sangat mencekam di area pemakaman tua itu. Aku masih bersimpuh di tepi lereng yang curam. Jemariku mencengkeram rumput basah hingga kuku-kukuku terasa perih karena tanah yang menyelinap masuk ke sela-selanya. Aris baru saja menghilang ditelan kegelapan jurang, membawa serta kotak besi yang selama ini menjadi kutukan sekaligus impian bagi banyak orang. Di bawah sana, suara aliran sungai yang meluap karena hujan terdengar seperti raungan binatang buas yang haus akan nyawa.
Vania meronta dalam dekapan Baskara yang begitu kuat. Wajah cantiknya yang biasanya selalu tampak sempurna kini dipenuhi noda tanah dan urat-urat kemarahan yang meluap-luap di dahinya.
"Kamu gila, Lisna! Kamu baru saja membuang satu-satunya tiketmu untuk menjadi ratu bisnis di negeri ini!" teriaknya dengan nada melengking yang memecah kesunyian malam. "Kamu baru saja membuang masa depan anak-anakmu ke dasar jurang yang tidak akan pernah bisa kamu jangkau lagi!"
"Aku tidak pernah ingin menjadi ratu di atas tumpukan bangkai dan pengkhianatan, Vania." Jawabku dengan suara yang terdengar asing bagi telingaku sendiri. Suara itu begitu dingin, hampa, dan tanpa getaran ketakutan sedikit pun. "Kekayaan yang kamu kejar itu sudah melenyapkan ibuku dan menghancurkan nurani suamiku. Jika harga sebuah masa depan adalah menjadi monster seperti kamu dan Maria, maka aku lebih memilih untuk tetap menjadi orang biasa yang tenang."
Baskara segera membekap gerakan Vania dan memborgol tangan wanita itu ke sebuah nisan batu tua yang kokoh.
"Diam kamu, Vania. Urusanmu dengan polisi internasional akan sangat panjang setelah ini. Kamu tidak hanya terlibat penculikan, tapi juga konspirasi pencucian uang tingkat tinggi." Bentak Baskara dengan nada otoriter. Ia kemudian menghampiriku, membantuku berdiri untuk menjauh dari tepi jurang yang tanahnya masih tampak labil dan sewaktu-waktu bisa runtuh kembali. "Lisna, kamu tetap di sini bersama Alif. Aku akan turun untuk memeriksa keadaan di bawah."
"Jangan, Bang. Itu terlalu curam, gelap, dan licin." Cegahku sambil memegang lengan jaketnya. Aku tidak ingin kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa hanya demi sebuah kotak besi.
"Aku punya peralatan pendaki di bagasi mobil. Kita tidak bisa membiarkan Aris atau kotak itu hilang begitu saja tanpa kepastian hukum. Kita butuh bukti fisik untuk menutup kasus ini selamanya." Baskara bersikeras. Ia memberikan kode mata kepada Alif agar tetap waspada dan menjagaku dengan ketat.
Alif mendekat ke arahku, mencoba merangkul bahuku yang masih bergetar hebat karena sisa adrenalin dan syok yang mendalam. Namun secara insting, aku kembali menarik diri. Ada rasa tidak percaya yang masih mengganjal di hatiku bagaikan duri yang tertanam dalam. Meskipun Alif sudah mempertaruhkan nyawanya untuk membantuku malam ini, kenyataan bahwa dia pernah menyembunyikan status pernikahannya dengan Vania tetap menjadi luka yang belum sepenuhnya kering. Kebohongan, sekecil apa pun itu, tetaplah racun dalam sebuah hubungan.
"Lisna, aku tahu betul apa yang sedang berkecamuk di dalam pikiranmu saat ini." Ujar Alif dengan suara rendah yang penuh dengan nada penyesalan yang tulus. "Aku memang pengecut karena tidak berterus terang padamu sejak awal tentang Vania. Aku takut kehilangan kepercayaanmu di saat kamu sedang berada dalam posisi yang paling rentan. Tapi malam ini, aku benar-benar siap mati untuk melindungimu. Bukan untuk kotak itu, bukan untuk harta Hartono, tapi murni karena aku ingin menebus kesalahanku padamu."
Aku menatap mata Alif di bawah temaram cahaya lampu senter yang diletakkan di atas tanah. Aku sangat ingin percaya pada kata-katanya, namun jiwaku sudah terlalu lelah untuk ditipu oleh pria untuk kesekian kalinya.
"Mari kita lihat apa yang ditemukan Baskara di bawah sana sebelum kita bicara soal perasaan atau masa depan, Mas. Saat ini, fokusku hanyalah pada keselamatan anak-anak dan kedamaian arwah Ibu." Kataku tegas.
Hampir satu jam kami menunggu dalam kecemasan yang luar biasa. Suara gesekan tali pendaki dan langkah kaki Baskara yang terengah-engah saat menanjak kembali ke atas akhirnya terdengar. Baskara muncul dari balik semak-semak dengan pelipis yang sedikit berdarah karena tergores ranting pohon. Ia meletakkan kotak besi itu di atas tanah dengan bunyi dentum logam yang cukup keras. Kotaknya sudah penyok di beberapa sisi akibat benturan, namun kelihatannya mekanisme penguncinya masih bertahan rapat.
"Bagaimana dengan Aris, Bang?" Tanyaku dengan jantung yang berdebar kencang. Ada rasa benci yang mendalam pada pria itu, namun nuraniku tetap merasa ngeri membayangkan kematian yang tragis.
Baskara menggelengkan kepala dengan perlahan sambil menghapus keringat di wajahnya. "Jurang itu berakhir di aliran sungai berbatu yang sangat deras di bawah sana. Aku menemukan kotak ini tersangkut di antara dahan pohon yang patah tepat di bibir sungai. Tapi Aris tidak ada di sana. Aku menemukan sobekan baju dan bercak darah di bebatuan sungai yang licin. Kemungkinannya sangat kecil dia bisa selamat dari benturan sekeras itu, apalagi jika tubuhnya terseret arus sungai yang sedang meluap."
Aku terduduk lemas di atas sebuah nisan tua yang sudah berlumut. Aris mungkin telah pergi selamanya. Pria yang selama sepuluh tahun terakhir menjadi duri dalam dagingku, pria yang telah menghisap keringatku hanya untuk memuaskan nafsu judinya, kini berakhir di dasar sungai tanpa nisan yang jelas. Ada rasa lega yang aneh yang menyelinap di hatiku, namun juga ada rasa pedih yang tidak bisa kujelaskan. Bagaimanapun juga, dia adalah ayah biologis dari ketiga anakku.
Kami segera meninggalkan pemakaman tua itu sebelum bantuan dari tim keamanan Baskara yang lain datang untuk mengamankan Vania. Kami menuju ke sebuah rumah aman yang terletak di pinggiran kota untuk membuka kotak besi tersebut. Di dalam ruangan yang diterangi oleh lampu neon putih yang terang, Baskara menggunakan alat pemotong logam khusus untuk membuka paksa penutup kotak tersebut. Saat penutupnya akhirnya terlepas, kami semua terdiam seribu bahasa.
Bukan buku catatan rahasia atau kristal data digital yang kami lihat pertama kali. Melainkan sebuah foto kecil yang sudah mulai menguning. Foto itu memperlihatkan Hartono yang sedang tersenyum bangga sambil menggendong seorang bayi perempuan yang baru lahir. Di belakang foto itu, terdapat tulisan tangan yang berbunyi bahwa kekayaan sejati tidak pernah disimpan dalam deretan angka, melainkan dalam kebebasan mutlak anakku.
Di bawah foto itu, terselip sebuah dokumen wasiat asli. Alif membacanya dengan suara yang sedikit bergetar.
"Lisna, ini bukan kode akses untuk mencairkan uang tunai. Ini adalah dokumen hibah permanen atas seluruh aset internasional Hartono kepada sebuah lembaga kemanusiaan dunia di bawah pengawasan PBB. Hartono ternyata sudah menyumbangkan seluruh harta simpanannya sejak dia tahu dia sakit parah. Benda ini hanyalah bukti hukum agar tidak ada orang serakah seperti Maria yang bisa mengambil uang itu."
"Jadi, selama ini mereka semua mengejar sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ada lagi?" Tanyaku dengan tawa getir.
"Benar sekali. Hartono sengaja menciptakan ilusi tentang harta karun ini hanya untuk memancing siapa saja pengkhianat di sekelilingnya." Jelas Baskara. "Dia menggunakan Aris sebagai umpan terakhir karena dia tahu Aris akan menarik semua musuh ke satu titik yang sebenarnya kosong."
Aku menatap foto bayi dalam gendongan Hartono itu. Ayahku ternyata benar-benar peduli padaku dengan cara yang sangat ekstrem. Dia tidak ingin aku menjadi target pembunuhan seumur hidup karena harta, maka dia melenyapkan harta itu lebih dulu.
Dua hari kemudian, berita tentang hilangnya Aris dan penangkapan Vania mulai mereda. Aku memilih untuk segera kembali ke desa, menemui Bumi, Bintang, dan Cahaya di rumah Bapak Sugeng. Saat aku sedang duduk di teras depan, seorang kurir paket datang membawakan sebuah kiriman tanpa nama pengirim. Aku membuka paket itu dan menemukan sebuah jam tangan tua yang kacanya sudah pecah.
Ada secarik kertas kecil yang terselip di sana.
"Terima kasih sudah menjatuhkan kotak itu ke lereng malam itu, Lisna. Aku berhutang nyawa padamu. Aku akan pergi sangat jauh. Jangan pernah mencariku lagi, dan katakanlah pada anak-anak bahwa ayah mereka sudah mati sebagai orang yang baik. Biarlah semua rahasia ini terkubur bersama derasnya air sungai malam itu."
Aku meremas kertas itu. Aris ternyata belum mati. Dia berhasil selamat dan sekarang dia melarikan diri untuk menjadi pengecut sekali lagi. Aku mengambil korek api dan membakar surat itu hingga menjadi abu. Aku tidak ingin ada jejak apa pun tentangnya yang tertinggal dalam hidupku yang baru.
"Sudah benar-benar selesai semuanya, Nduk?" Tanya Bapak Sugeng yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
"Sudah, Pak. Bab ini sudah benar-benar aku tutup dan aku kunci rapat-rapat." Jawabku sambil tersenyum dengan sangat tulus ke arah Bapak.
Aku melangkah masuk ke dalam rumah, menutup pintu, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku merasa menjadi wanita yang benar-benar kaya di dunia ini. Bukan karena uang, tapi karena akhirnya aku bisa memejamkan mata dengan tenang tanpa harus takut akan datangnya pengkhianatan atau kejutan pahit di hari esok.
Dunia mungkin mengira aku kehilangan segalanya di dasar jurang malam itu, tapi sebenarnya, aku baru saja menemukan hidupku kembali. Aku tidak akan pernah lagi mengemis pada siapa pun, baik untuk harta maupun untuk sebuah pengakuan.