Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah-celah ventilasi rumah Bapak Sugeng, menyirami lantai semen yang terasa sejuk di bawah telapak kakiku. Tidak ada lagi bising klakson mobil Jakarta atau deru mesin pembangunan yang biasanya memekakkan telinga. Di sini, hanya ada suara kokok ayam dan gemericik air dari pancuran bambu di belakang rumah. Kedamaian yang selama ini aku beli dengan air mata dan darah, akhirnya kini bisa kunikmati secara cuma-cuma.
Bumi dan Bintang sudah berlarian di halaman, mencoba mengejar capung yang hinggap di semak bunga sepatu. Sementara itu, si kecil Cahaya masih terlelap di ayunan kain di ruang tengah. Melihat mereka, dadaku terasa penuh. Segala drama tentang warisan Hartono, kelicikan Maria, hingga pengkhianatan Vania terasa seperti mimpi buruk yang sudah lewat masanya. Namun, aku tahu bahwa hidup tidak pernah benar-benar berhenti memberikan kejutan, entah itu manis atau pahit.
"Lisna, ada tamu di depan," suara Bapak Sugeng memecah lamunanku. Beliau baru saja kembali dari sawah dengan cangkul di bahu.
Aku merapikan rambutku sejenak dan berjalan menuju teras. Jantungku berdesir saat melihat sosok yang berdiri di dekat pagar bambu. Bukan Alif, melainkan seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sangat bersahaja namun terlihat sangat rapi. Ia mengenakan kerudung lebar dan membawa sebuah tas rajut sederhana.
"Selamat pagi, Lisna," sapanya dengan suara yang sangat lembut, suara yang entah mengapa terasa tidak asing di telingaku.
"Selamat pagi. Maaf, dengan siapa saya bicara?" tanyaku sambil mempersilakannya duduk di kursi kayu teras.
Wanita itu tersenyum, matanya menatapku dengan binar yang penuh haru. "Namaku Rahmi. Aku adalah sahabat lama ibumu, Siti Aminah. Kami tumbuh besar bersama di panti asuhan sebelum akhirnya kami terpisah karena jalan hidup yang berbeda."
Aku tertegun. Sahabat Ibu? Selama ini Ibu tidak pernah bercerita memiliki sahabat dekat. Ibu selalu tampak tertutup, seolah-olah seluruh dunianya hanya berputar pada diriku dan pekerjaan rumah tangganya.
"Ibu tidak pernah bercerita tentang Anda," ujarku jujur.
"Itu karena Siti ingin melindungimu, Lisna. Dia tidak ingin ada jejak masa lalunya yang bisa dilacak oleh orang-orang dari keluarga Hartono. Siti tahu bahwa suatu saat rahasia tentang dirimu akan menjadi incaran," Rahmi mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas rajutnya. "Sebelum Siti dipindahkan paksa oleh Maria sepuluh tahun lalu, dia sempat menitipkan ini padaku melalui seorang perawat yang baik hati."
Aku menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Saat kubuka, isinya adalah sebuah buku harian tua bersampul kain kusam. Di halaman pertamanya, terdapat tulisan tangan Ibu yang sangat kukenal.
"Siti selalu tahu bahwa harta Hartono bukanlah sebuah anugerah, melainkan kutukan. Dia menitipkan buku ini karena di dalamnya tersimpan satu rahasia yang tidak diketahui oleh Maria, Baskara, atau bahkan Hartono sendiri," lanjut Rahmi dengan nada serius.
Aku mulai membalik halaman demi halaman. Di sana, Ibu menuliskan tentang hari-hari terakhirnya sebelum dinyatakan meninggal secara palsu oleh pihak rumah sakit. Namun, ada satu paragraf yang membuat napas pelatukku seolah berhenti.
Lisna anakku, jika suatu saat kamu membaca ini, ketahuilah bahwa Hartono bukan satu-satunya orang yang mencarimu. Ada seseorang dari masa lalu yang jauh lebih kuat, seseorang yang memberikan modal awal pada Hartono untuk membangun dinastinya dengan syarat bahwa kamu harus dijaga sebagai jaminan.
"Siapa orang ini, Bu Rahmi?" tanyaku dengan suara tercekat.
Rahmi menggeleng pelan. "Aku tidak tahu namanya secara pasti. Siti hanya menyebutnya sebagai Sang Suryakanta. Dia adalah orang di balik layar yang memastikan Hartono tetap berada di atas, namun dengan bayaran yang sangat mahal. Dan sekarang, setelah Hartono dan Maria tiada, Sang Suryakanta ini pasti akan mencari ke mana arah larinya aset internasional itu."
"Tapi aset itu sudah disumbangkan ke lembaga kemanusiaan PBB, Bu Rahmi. Dokumennya sudah sah," bantahku.
"Itu menurut hukum formal, Lisna. Tapi bagi orang-orang seperti mereka, aset bukan hanya soal uang. Ini soal kekuasaan dan pengaruh. Mereka butuh namamu untuk melegitimasi beberapa proyek besar yang tertanam atas nama anak kandung Hartono."
Di saat kami sedang berbicara, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan pagar. Jantungku kembali berdegup kencang. Apakah Sang Suryakanta itu sudah menemukanku secepat ini?
Pintu mobil terbuka, dan Alif keluar dari sana. Ia tampak lebih segar daripada saat di pemakaman kemarin, meskipun masih ada gurat kelelahan di wajahnya. Ia membawa sebuah berkas besar di tangannya. Begitu melihat Bu Rahmi, langkah Alif mendadak berhenti.
"Siapa Anda?" tanya Alif dengan nada waspada, insting pengacaranya langsung bekerja.
Aku segera menengahi. "Ini Bu Rahmi, sahabat lama Ibuku, Mas Alif."
Alif menyipitkan mata, menatap Bu Rahmi dengan tajam sebelum akhirnya duduk di sampingku. "Lisna, aku baru saja mendapatkan informasi dari jaringan intelijen Baskara. Ada pergerakan dana yang mencurigakan dari sisa perusahaan Hartono. Seseorang sedang mencoba membeli kembali saham-saham yang sudah jatuh menggunakan nama palsu. Dan tebak siapa nama yang mereka gunakan?"
"Sang Suryakanta?" tebakku spontan.
Alif terkejut. "Bagaimana kamu tahu nama itu?"
"Bu Rahmi baru saja menceritakannya padaku melalui buku harian Ibu," aku menyerahkan buku itu pada Alif.
Alif membaca dengan cepat, wajahnya berubah menjadi sangat tegang. "Ini buruk. Sang Suryakanta bukan sekadar individu, Lisna. Itu adalah nama sandi untuk sebuah konsorsium gelap yang mendanai banyak konglomerat di negeri ini. Jika mereka mulai bergerak, itu artinya mereka tidak peduli pada sumbangan PBB itu. Mereka akan mencoba mengambil alih hak perwalianmu secara paksa lewat pengadilan internasional."
"Lalu aku harus bagaimana, Mas? Aku hanya ingin hidup tenang di desa ini bersama anak-anak dan Bapak," ujarku dengan perasaan putus asa.
Alif menggenggam tanganku, kali ini aku tidak menariknya. Aku merasakan kekuatan dan ketulusan dalam genggamannya. "Kita harus menyerang balik sebelum mereka sampai di sini. Kita harus membongkar siapa sosok di balik Sang Suryakanta ini sebelum mereka menjadikanmu boneka baru."
Bu Rahmi tiba-tiba berdiri. "Ada satu tempat yang harus kalian kunjungi. Sebuah rumah tua di pinggiran kota yang dulu sering digunakan Siti untuk bersembunyi saat Hartono sedang bertikai dengan keluarganya. Di sana, Siti menyimpan satu bukti fisik yang bisa menjatuhkan seluruh konsorsium itu."
Sore itu juga, aku memutuskan untuk berangkat bersama Alif. Aku menitipkan anak-anak kepada Bapak Sugeng dengan penjagaan ketat dari dua orang anak buah Baskara yang tetap tinggal di desa. Perjalanan menuju kota terasa sangat berbeda. Jika dulu aku mengejar harta, kini aku mengejar kebenaran demi keselamatan nyawaku sendiri.
"Lisna, aku janji kali ini tidak ada lagi rahasia di antara kita," ujar Alif di tengah kemudi. "Vania sudah diproses secara hukum dan dia mengakui bahwa ayahnya adalah bagian dari konsorsium itu. Itu sebabnya dia sangat bernafsu mengejar kotak besi tersebut."
"Kenapa kamu tidak mengatakannya lebih awal, Mas?" tanyaku tanpa nada marah, hanya ingin kepastian.
"Karena aku sendiri tidak tahu sejauh mana keterlibatan ayah Vania sampai aku melihat dokumen di dalam kotak besi itu. Aku hanya pion yang dimanfaatkan oleh Vania, sama seperti Aris dimanfaatkan oleh Maria."
Aku menatap jalanan yang mulai gelap. "Bicara soal Aris, apakah kamu yakin dia benar-benar selamat?"
Alif terdiam sejenak. "Baskara menemukan jejak baru di hilir sungai. Ada seseorang yang menjemputnya menggunakan kapal kecil tepat di bawah jembatan kayu. Aris selamat, Lisna. Tapi dia tidak lari sendirian. Dia dijemput oleh orang-orang Sang Suryakanta."
Kenyataan itu seperti tamparan keras bagiku. Aris, pria yang selama ini menjadi beban dalam hidupku, ternyata masih menjadi bidak yang berbahaya. Jika dia berada di pihak konsorsium, maka dialah yang akan menjadi saksi kunci untuk menyerang hak perwalianku.
Kami sampai di sebuah rumah tua yang ditunjukkan oleh Bu Rahmi. Rumah itu tampak terbengkalai dengan tanaman rambat yang menutupi hampir seluruh dindingnya. Alif merusak gembok pintu depan dengan tangkas. Begitu masuk, bau debu dan kelembapan langsung menyeruak.
Aku mencari di setiap sudut ruangan, teringat petunjuk dalam buku harian Ibu tentang sebuah brankas yang tersembunyi di balik lukisan pemandangan desa. Setelah beberapa saat, aku menemukannya. Di balik lukisan yang sudah robek, terdapat sebuah pintu baja kecil.
"Mas, kodenya... Ibu menulisnya di halaman terakhir buku harian," kataku semangat.
Aku memasukkan deretan angka tanggal lahirku dikombinasikan dengan tanggal pernikahan Ibu. Suara klik terdengar, dan pintu brankas terbuka. Di dalamnya, hanya ada sebuah kaset video lama dan sebuah cincin emas dengan inisial yang sangat asing.
"Inisial 'S.K'," gumam Alif saat memeriksa cincin itu. "Suryakanta."
Tiba-tiba, suara tepuk tangan terdengar dari arah pintu masuk yang gelap.
"Luar biasa. Memang benar pepatah mengatakan bahwa darah lebih kental daripada air. Kamu berhasil menemukan harta karun yang sebenarnya, Lisna."
Sesosok pria tua dengan setelan jas mahal muncul dari balik kegelapan. Wajahnya tampak sangat berwibawa namun mematikan. Di sampingnya, berdiri seorang pria yang wajahnya penuh dengan luka goresan dan perban.
Aris.
Aris menatapku dengan tatapan yang sangat dingin, tidak ada lagi rasa bersalah atau permohonan maaf di sana. Hanya ada keserakahan yang kini sudah bermutasi menjadi kegilaan.
"Halo, Lisna. Maaf aku harus memalsukan kematianku lagi," ujar Aris dengan seringai tipis. "Perkenalkan, ini adalah Tuan Suryadi, pemilik sah dari segala yang pernah dimiliki oleh Hartono. Dan sekarang, kami datang untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kami."
Aku berdiri di depan brankas, melindungi kaset video itu dengan tubuhku. "Kamu tidak akan pernah mendapatkan ini, Aris! Kamu sudah mengkhianati keluargamu sendiri demi orang-orang ini!"
Aris tertawa parau. "Keluarga? Kamu sudah membuangku ke jurang, Lisna! Kamu memilih Alif dan mengabaikan keselamatanku! Sekarang, giliranku yang menentukan siapa yang akan bertahan hidup."
Tuan Suryadi melangkah maju, tangannya memberi isyarat kepada beberapa pengawal bersenjata yang muncul dari luar rumah. "Lisna, berikan kaset itu dan cincin tersebut. Aku akan memastikan kamu dan anak-anakmu hidup mewah di luar negeri selamanya. Jangan menjadi martir seperti ibumu yang malang itu."
Aku menatap Alif, yang sudah bersiap dengan posisinya. Situasi ini jauh lebih berbahaya daripada saat di pelabuhan atau pemakaman. Kali ini, aku berhadapan dengan sumber dari segala kejahatan yang menimpa keluargaku.