BAB 34: PECAHNYA KEHENINGAN SURYAKANTA

06 February 2026

Udara di dalam rumah tua itu mendadak terasa tipis dan mencekik. Debu yang menari-nari di bawah sorotan lampu senter pengawal Tuan Suryadi seolah menjadi saksi bisu atas ketegangan yang memuncak. Aku berdiri mematung di depan brankas terbuka, merapatkan kaset video lama dan cincin inisial itu ke dadaku. Di depanku, Aris berdiri dengan wajah penuh perban, tampak seperti hantu yang bangkit dari kubur untuk menagih janji yang tidak pernah ada.

"Berikan benda itu sekarang, Lisna. Jangan biarkan egomu membuat rumah ini menjadi makam baru bagimu dan pengacara sialan ini." Ucap Aris dengan nada suara yang penuh kebencian. Tidak ada lagi sisa-sisa pria yang pernah memohon maaf padaku di penjara. Aris yang berdiri di sini adalah pria yang sudah menjual jiwanya sepenuhnya kepada iblis bernama keserakahan.

Alif melangkah satu tindak ke depan, memposisikan dirinya sebagai perisai di antara aku dan moncong senjata para pengawal. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. "Tuan Suryadi, Anda adalah tokoh publik yang dihormati. Melakukan tindakan kriminal di tempat seperti ini hanya akan menghancurkan reputasi yang sudah Anda bangun selama puluhan tahun. Lepaskan kami, dan kita bisa bicara secara hukum."

Tuan Suryadi tertawa kecil, suara tawa yang kering dan terdengar sangat meremehkan. "Hukum adalah sesuatu yang saya tulis setiap pagi di atas meja kerja saya, anak muda. Di dunia ini, hukum mengikuti arah aliran dana, bukan sebaliknya. Kaset yang dipegang Lisna itu adalah satu-satunya kesalahan masa muda saya yang belum sempat dimusnahkan oleh Hartono. Saya tidak akan membiarkan sejarah itu bocor ke publik."

Aku menatap Aris dengan pandangan yang penuh penghinaan. "Jadi ini alasanmu menjemput maut di sungai itu, Aris? Demi kembali menjadi pesuruh dari pria yang menganggapmu tidak lebih dari seekor anjing penjaga?"

Aris mendesis, luka di wajahnya tampak mengkerut saat dia berbicara. "Diam kau! Kamu tidak tahu apa rasanya tidak memiliki apa-apa. Kamu punya darah Hartono, kamu punya harta yang disumbangkan itu untuk nama baikmu. Sementara aku? Aku hanya sampah yang kamu buang ke jurang! Tuan Suryadi menjanjikan jabatan dan perlindungan yang tidak akan pernah bisa kamu berikan!"

Suasana semakin memanas. Salah satu pengawal Tuan Suryadi mulai mendekat dengan tangan terulur, siap merebut tas yang kupegang. Namun, sebelum tangan itu menyentuhku, sebuah ledakan kecil terdengar dari arah jendela belakang rumah. Asap tebal mendadak memenuhi ruangan, membuat pandangan semua orang menjadi kabur dalam seketika.

"Apa yang terjadi?" Teriak Tuan Suryadi sambil terbatuk-batuk.

"Jangan bergerak! Polisi!" Sebuah suara lantang terdengar dari arah asap. Itu suara Baskara.

Dalam kekacauan itu, Alif segera menarik lenganku. "Sekarang, Lisna! Lewat pintu samping!"

Kami berlari menembus asap yang menyesakkan dada. Aku bisa mendengar suara pergulatan dan teriakan Aris yang memaki-maki namaku. Baskara rupanya tidak datang sendirian. Dia membawa tim taktis yang selama ini beroperasi di bawah radar untuk menyelidiki konsorsium Suryakanta.

Kami berhasil keluar dari rumah tua itu dan berlari menuju mobil Baskara yang sudah menunggu dengan mesin menyala di bawah rindangnya pohon beringin besar. Baskara menyusul beberapa saat kemudian dengan napas terengah-engah dan noda darah di jaketnya.

"Cepat masuk! Kita harus pergi sebelum mereka memanggil bantuan lebih banyak!" Perintah Baskara.

Mobil melesat membelah kegelapan pinggiran kota. Aku menoleh ke belakang, melihat rumah tua itu perlahan menghilang dari pandangan. Di tanganku, kaset video itu terasa sangat berat.

"Apa yang sebenarnya ada di dalam kaset ini, Bang?" Tanyaku setelah napas kami mulai teratur.

Baskara melirik melalui kaca spion. "Itu adalah rekaman pengakuan asli Hartono tentang bagaimana Tuan Suryadi memerintahkan pembunuhan terhadap orang tua kandung Hartono sendiri untuk menguasai lahan perkebunan yang menjadi cikal bakal kekayaan mereka. Itu adalah bukti pembunuhan berencana yang tidak akan pernah kedaluwarsa secara hukum."

Aku tersandar di kursi mobil. Jadi, seluruh kekayaan Hartono dibangun di atas darah orang tuanya sendiri? Dan Tuan Suryadi adalah dalang yang sebenarnya. Pantas saja Ibu sangat ketakutan. Dia bukan hanya takut pada Maria, tapi dia takut pada kekuatan gelap yang jauh lebih besar di belakang Maria.

Kami menuju ke sebuah stasiun televisi swasta milik salah satu rekan Baskara yang masih memiliki integritas. Baskara tahu bahwa menyerahkan kaset ini langsung ke kantor polisi setempat adalah tindakan bunuh diri, mengingat pengaruh Tuan Suryadi yang menembus hingga ke instansi pemerintahan.

"Kita akan menyiarkan ini secara langsung dalam program berita investigasi tengah malam," ujar Baskara sambil menyerahkan kaset itu kepada tim teknis. "Begitu video ini tayang ke seluruh negeri, Tuan Suryadi tidak akan punya tempat lagi untuk bersembunyi. Kekuasaannya akan runtuh dalam semalam."

Alif duduk di sampingku, menggenggam tanganku yang masih terasa dingin. "Kamu siap, Lisna? Begitu video ini tayang, hidupmu akan berubah selamanya. Kamu akan dikenal sebagai orang yang meruntuhkan Sang Suryakanta."

"Aku tidak peduli pada namaku, Mas. Aku hanya ingin anak-anakku tumbuh di dunia yang lebih adil, tanpa bayang-bayang orang-orang seperti mereka," jawabku mantap.

Tepat pukul dua belas malam, layar televisi di seluruh negeri yang sedang menyala mulai menayangkan sebuah video hitam putih yang buram namun suaranya terdengar jelas. Suara Hartono yang terdengar gemetar mengakui segala dosa dan tekanan yang dialaminya selama puluhan tahun di bawah kendali Tuan Suryadi.

Publik terhenyak. Media sosial meledak dalam hitungan menit. Hastag tentang Sang Suryakanta dan keadilan untuk Hartono mulai membanjiri jagat maya. Polisi pusat, yang merasa terdesak oleh tekanan publik, akhirnya mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Tuan Suryadi malam itu juga.

Keesokan paginya, aku duduk di lobi kantor stasiun televisi tersebut, melihat berita tentang penggerebekan kediaman mewah Tuan Suryadi. Namun, ada satu berita yang membuat hatiku kembali waswas: Seorang pria yang diidentifikasi sebagai tangan kanan Suryadi, Aris Pratama, ditemukan tewas di dalam mobil box yang terbakar di jalan tol saat mencoba melarikan diri.

Aku menatap layar televisi itu dengan perasaan kosong. Aris benar-benar telah menemui ajalnya kali ini. Dia tidak lagi bisa memalsukan kematiannya. Keserakahannya yang membabi buta membawanya menuju api yang menghanguskannya sendiri. Pria yang pernah menjadi suamiku, ayah dari anak-anakku, berakhir sebagai abu tanpa kehormatan sedikit pun.

"Sudah berakhir, Lisna," Alif berbisik di telingaku. "Tuan Suryadi sudah ditahan. Aris sudah tiada. Konsorsium itu sedang dibekukan oleh pemerintah."

Aku mengangguk pelan. "Benar, Mas. Sudah berakhir."

Baskara menghampiri kami dengan senyum tipis yang jarang terlihat di wajahnya yang kaku. "Lisna, ada kabar baik dari PBB. Karena bukti-bukti baru ini menunjukkan bahwa sebagian besar aset Hartono didapat melalui cara yang melanggar hukum, mereka akan merestrukturisasi dana hibah itu. Sebagian besar akan tetap disumbangkan, namun mereka akan menyisihkan dana perwalian khusus untuk pendidikan dan kesejahteraan Bumi, Bintang, dan Cahaya sebagai bentuk kompensasi atas penderitaan keluarga kalian."

"Aku tidak butuh uang itu untuk diriku sendiri, Bang. Pastikan semuanya masuk ke tabungan anak-anak yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun sampai mereka dewasa," pesanku.

Satu bulan kemudian, aku kembali ke desa. Aku membuka sebuah panti asuhan kecil yang kuberi nama Griya Siti Aminah, sebagai penghormatan untuk Ibu. Di sana, aku mengajar anak-anak desa menulis dan membaca. Aku tidak lagi dikenal sebagai anak haram konglomerat atau janda kaya, melainkan sebagai Ibu Lisna, seorang penulis yang sederhana.

Alif sering berkunjung setiap akhir pekan. Dia melepaskan kariernya di firma hukum besar dan memilih menjadi pengacara publik yang membela rakyat kecil. Hubungan kami tumbuh perlahan, tanpa paksaan, dibangun di atas pondasi kejujuran yang pahit namun kokoh.

Satu sore, saat aku sedang duduk di teras melihat matahari terbenam, aku menemukan sebuah surat di dalam kotak pos. Surat itu tidak memiliki stempel atau nama pengirim. Isinya hanya satu kalimat pendek.

Kekayaan sejati adalah saat kamu bisa melihat matahari terbenam tanpa rasa bersalah.

Aku tersenyum dan menyimpan surat itu di dalam laci. Aku tidak tahu siapa pengirimnya, dan aku tidak peduli lagi. Karena saat ini, di dalam rumah yang sederhana ini, aku mendengarkan tawa Bumi, Bintang, dan Cahaya yang sedang bermain di dalam.

Aku telah memenangkan peperangan yang paling sulit: peperangan melawan rasa rendah diri dan keserakahan yang hampir menghancurkanku. Aku tidak lagi mengemis pada dunia, karena aku menyadari bahwa dunia sudah memberikan segala yang aku butuhkan dalam bentuk kasih sayang dan kedamaian.