Angin sore berembus pelan, menggerakkan pucuk-pucuk pohon bambu yang memagari Griya Siti Aminah. Suasana panti asuhan kecil ini selalu dipenuhi dengan tawa anak-anak saat jam belajar berakhir. Aku berdiri di ambang pintu, memperhatikan Bumi yang sedang membantu seorang anak laki-laki kecil membetulkan mainan mobil-mobilannya yang patah. Di sudut lain, Bintang tampak serius mengajari beberapa anak perempuan membaca buku cerita. Cahaya, yang kini sudah mulai bisa merangkak dengan lincah, berada dalam pengawasan Bapak Sugeng yang tidak pernah bosan menjaganya.
Hidup terasa begitu tenang, seolah-olah badai besar yang menghantamku beberapa bulan lalu hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur yang mengerikan. Namun, sebagai seorang penulis, aku tahu bahwa akhir dari sebuah bab hanyalah awal dari bab yang baru. Ketenangan ini adalah kemewahan yang harus kujaga dengan kewaspadaan tinggi.
Tuan Suryadi memang sudah berada di balik jeruji besi, namun gurita kekuasaannya tidak serta merta mati. Banyak orang yang dulu bergantung pada aliran dana haram dari konsorsium Suryakanta kini kehilangan mata pencaharian. Beberapa dari mereka menyalahkan aku atas kebangkrutan mereka.
"Lisna, ada seseorang yang ingin menemuimu di kantor," ujar seorang relawan pengajar bernama Maya.
Aku mengangguk dan berjalan menuju ruangan kecil yang kugunakan sebagai kantor administrasi. Di sana, duduk seorang pria paruh baya dengan pakaian yang tampak lusuh. Wajahnya terlihat sangat tertekan.
"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku sambil duduk di depannya.
Pria itu menatapku dengan mata yang kemerahan. "Ibu Lisna, nama saya Danu. Saya dulu adalah kepala mandor di salah satu perkebunan milik Tuan Hartono yang kini disita negara karena terbukti menjadi bagian dari pencucian uang Suryakanta. Karena tindakan Ibu yang membongkar rahasia itu, ratusan buruh tani sekarang tidak punya pekerjaan. Mereka tidak punya uang untuk memberi makan keluarga mereka."
Aku menarik napas panjang. Ini adalah sisi lain dari sebuah kebenaran yang pahit. Membongkar sebuah kejahatan besar sering kali berdampak pada orang-orang kecil yang berada di lapisan paling bawah sistem tersebut.
"Saya mengerti kesulitan Anda, Pak Danu. Tapi Anda juga tahu bahwa perkebunan itu dijalankan dengan cara-cara yang menindas. Banyak lahan warga yang dicaplok secara paksa oleh Tuan Suryadi di masa lalu," jawabku dengan tenang.
"Kami tidak peduli soal politik kekuasaan, Bu! Kami hanya butuh makan!" teriaknya sambil menggebrak meja. "Orang-orang di desa sebelah mulai menghasut para buruh untuk mendatangi panti ini. Mereka pikir Ibu menyimpan sisa harta Hartono di sini. Mereka merasa Ibu berhutang pada kami."
Pernyataan itu membuat jantungku berdegup kencang. Hasutan adalah senjata yang paling berbahaya di tangan orang-orang yang sedang lapar dan putus asa.
Setelah Pak Danu pergi, aku segera menghubungi Baskara. Aku menceritakan tentang ancaman tersebut. Baskara, yang kini bekerja sebagai konsultan keamanan independen, terdengar sangat khawatir di seberang telepon.
"Lisna, ini bukan sekadar kemarahan buruh biasa. Aku baru saja mendapatkan informasi bahwa beberapa mantan pengawal Suryadi yang melarikan diri sedang memprovokasi warga. Mereka ingin menciptakan kerusuhan agar perhatian polisi teralih, sementara mereka mencoba mencari sesuatu yang mereka yakini masih tertanam di tanah panti asuhan itu," jelas Baskara.
"Apa maksudmu, Bang? Tanah ini milik Bapak Sugeng sejak lama. Tidak ada hubungannya dengan Hartono," bantahku.
"Kamu lupa sejarah rumah itu, Lisna. Sebelum Bapak Sugeng membelinya, tanah itu dulunya adalah milik Siti Aminah. Ibumu membeli tanah itu menggunakan uang pemberian Hartono saat kamu masih bayi. Ada kemungkinan Hartono menanamkan sesuatu yang sangat berharga di sana sebagai cadangan terakhir jika semua rekeningnya diblokir," Baskara menjeda kalimatnya. "Aku akan segera ke sana dengan bantuan tambahan. Tetaplah di dalam rumah dan kunci semua pintu."
Ketakutan mulai merayap di punggungku. Aku melihat ke luar jendela. Langit mulai gelap, dan aku mulai melihat bayangan beberapa orang berkumpul di kejauhan, di luar pagar panti. Mereka membawa obor dan terdengar meneriakkan kata-kata yang penuh kemarahan.
Malam itu, suasana berubah menjadi sangat mencekam. Alif, yang kebetulan sedang berada di kota kabupaten, langsung memacu mobilnya kembali ke desa begitu mendengar kabar dariku. Ia sampai di panti asuhan tepat sebelum massa mulai menutup akses jalan masuk.
"Lisna! Bawa anak-anak ke ruang bawah tanah sekarang juga!" perintah Alif begitu ia masuk ke dalam rumah. Wajahnya terlihat tegang, ia bahkan masih mengenakan jubah advokatnya.
Bapak Sugeng membantu Bumi dan Bintang masuk ke dalam bunker kecil yang dulu dibangun untuk menyimpan hasil panen. Aku mendekap Cahaya dengan sangat erat. Suara lemparan batu mulai mengenai dinding rumah, diikuti oleh teriakan-teriakan kasar dari luar.
"Kembalikan uang kami, Lisna! Kamu kaya di atas penderitaan kami!" teriak salah satu pendemo di luar sana.
Alif berdiri di balik pintu depan, memegang sebuah megafon. Ia mencoba bernegosiasi. "Teman-teman sekalian! Harap tenang! Ibu Lisna tidak memegang uang yang kalian cari! Semua aset sedang diproses oleh negara untuk dikembalikan kepada rakyat secara sah! Jangan biarkan provokator memecah belah kita!"
Namun, suara Alif tenggelam oleh sorakan kemarahan. Di tengah massa, aku melihat Pak Danu berdiri dengan wajah bimbang, namun di sampingnya ada dua orang pria berjaket kulit hitam yang terus membisikkan sesuatu ke telinganya. Mereka adalah orang-orang yang dimaksud Baskara.
Tiba-tiba, salah satu dari pria berjaket hitam itu mengeluarkan sebuah benda yang terlihat seperti alat detektor logam dan mulai mengarahkannya ke arah fondasi gudang tua di samping panti.
"Di sana! Harta itu ada di bawah gudang tua itu!" teriak pria itu.
Massa yang terprovokasi langsung berlari menuju gudang tua. Mereka mulai menghancurkan dinding kayu dan menggali tanah dengan peralatan seadanya. Alif mencoba menghalangi mereka, namun ia didorong hingga terjatuh.
Saat massa sedang sibuk menggali, sebuah helikopter muncul di atas langit desa, menyorotkan lampu pencari yang sangat terang. Itu adalah tim kepolisian yang dibawa oleh Baskara. Sirine polisi meraung dari kejauhan, membuat massa mulai kocar-kacir dalam ketakutan.
Dua pria berjaket hitam tadi mencoba melarikan diri melalui kebun belakang, namun mereka langsung dihadang oleh Baskara yang melompat dari pagar tanaman. Sebuah pergulatan singkat terjadi, dan kedua pria itu berhasil dilumpuhkan.
Setelah suasana mulai terkendali, polisi mengamankan lokasi penggalian. Mereka menemukan sebuah peti besi kecil yang tertanam sangat dalam di bawah fondasi gudang.
Aku keluar dari rumah dengan tubuh lemas, menghampiri Alif yang sedang mengusap debu di pakaiannya. Baskara mendekati kami sambil membawa peti besi tersebut.
"Mari kita lihat apa yang dicari oleh antek-antek Suryadi ini," ujar Baskara.
Saat peti itu dibuka, isinya bukan tumpukan uang atau perhiasan. Melainkan tumpukan surat kontrak asli dan dokumen kepemilikan lahan atas nama warga desa yang selama puluhan tahun telah dirampas oleh konsorsium Suryakanta. Di dalamnya juga terdapat kunci brankas bank lokal yang berisi dana tunai darurat yang jumlahnya cukup untuk membayar pesangon seluruh buruh tani yang kehilangan pekerjaan.
Hartono ternyata telah menyiapkan skenario ini. Dia tahu bahwa suatu saat bisnisnya akan runtuh, dan dia ingin memastikan bahwa orang-orang kecil yang bekerja untuknya tidak akan menderita jika mereka tahu di mana harus mencari keadilan.
"Pak Danu! Lihat ini!" teriakku kepada mandor yang tadi berdiri ketakutan di sudut halaman.
Aku menunjukkan dokumen-dokumen itu kepada warga. Suasana yang tadinya penuh kebencian seketika berubah menjadi haru. Beberapa buruh tani menangis saat melihat surat tanah milik kakek nenek mereka yang selama ini hanya menjadi mitos, kini kembali ke tangan mereka secara sah.
Keesokan harinya, panti asuhan kembali tenang. Warga desa datang berbondong-bondong, bukan untuk protes, melainkan untuk meminta maaf dan membawa hasil bumi sebagai tanda terima kasih. Pak Danu bahkan menawarkan diri untuk menjadi kepala keamanan di panti asuhan secara sukarela.
Aku duduk di teras bersama Alif dan Baskara. Kami menyesap kopi hangat sambil menikmati udara pagi yang segar.
"Kamu benar-benar luar biasa, Lisna. Kamu tidak hanya meruntuhkan raksasa, tapi kamu juga membangun kembali fondasi kehidupan orang-orang di sini," puji Alif.
Aku tersenyum tipis. "Bukan aku, Mas. Tapi kejujuran yang akhirnya menemukan jalannya sendiri. Aku hanya perantara."
Baskara menatap jauh ke arah bukit. "Suryadi akan menghadapi tuntutan baru atas penggelapan dokumen warga. Dia tidak akan pernah keluar dari penjara seumur hidupnya. Dan sisa-sisa pengikutnya kini sudah tercerai-berai tanpa arah."
Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah mobil pos berhenti di depan pagar. Petugas memberikan sebuah surat resmi dari kantor pengadilan agama.
Aku membukanya dan terdiam. Alif dan Baskara menatapku dengan heran.
"Ada apa, Lisna?" tanya Alif cemas.
"Ini surat permohonan peninjauan kembali atas status pernikahan Aris Pratama," suaraku bergetar. "Seseorang mengajukan bukti bahwa Aris belum benar-benar meninggal secara hukum karena jenazahnya tidak pernah ditemukan secara autentik. Dan jika dia masih hidup, dia berhak menuntut bagian atas dana perwalian anak-anak yang diberikan oleh PBB."
Alif mengepalkan tangannya. "Ini pasti ulah pengacara bayaran Suryadi yang ingin terus mengganggu ketenanganmu. Mereka tahu hanya lewat celah Aris mereka bisa menyentuhmu."
Aku menatap langit yang cerah, namun hatiku kembali mendung. Perang dengan masa lalu rupanya belum benar-benar berakhir. Aris, pria yang seperti bayangan hitam itu, seolah-olah menolak untuk hilang dari hidupku.
"Mas Alif, Bang Baskara," kataku dengan nada mantap. "Siapkan dokumen-dokumennya. Jika Aris memang masih hidup dan ingin muncul ke permukaan untuk merampas hak anak-anaknya sendiri, maka aku akan pastikan dia masuk ke penjara yang lebih gelap daripada yang pernah dia bayangkan."
Aku berdiri, menatap Bumi, Bintang, dan Cahaya yang sedang tertawa di halaman. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk ayah biologis mereka, merusak kebahagiaan yang telah kami bangun dengan susah payah.