Surat dari pengadilan agama itu tergeletak di atas meja kayu seperti sebilah pisau yang siap mengiris ketenangan yang baru saja aku bangun. Aku menatap deretan kalimat formal itu dengan pandangan nanar. Bagaimana mungkin seorang pria yang sudah kulihat ditarik oleh arus sungai yang ganas, lalu diberitakan tewas dalam kecelakaan mobil box yang meledak, kini kembali menghantui hidupku lewat secarik kertas?
Alif mengambil surat itu dari tanganku. Matanya bergerak cepat menyapu setiap baris kata. Wajahnya yang biasanya tenang kini menegang, memperlihatkan rahang yang mengeras. Ia meletakkan surat itu kembali dengan gerakan perlahan, seolah-olah benda itu mengandung racun yang mematikan.
"Ini adalah serangan taktis yang sangat terukur, Lisna," ujar Alif dengan suara rendah yang penuh penekanan. "Siapa pun yang menyusun permohonan ini, mereka tahu persis kelemahan sistem hukum kita. Selama tidak ada sertifikat kematian yang dikeluarkan berdasarkan penemuan jenazah atau vonis pengadilan tentang kematian yang pasti, status Aris secara hukum masih menggantung. Dan selama statusnya menggantung, dia masih dianggap sebagai wali sah dari anak-anakmu di mata hukum lama."
Baskara yang sedari tadi berdiri bersandar di tiang teras segera mendekat. Ia mengambil ponselnya dan mulai mengetikkan instruksi kepada tim investigasinya. "Aku sudah memeriksa laporan polisi tentang mobil box yang terbakar itu berkali-kali. Memang benar ada jenazah yang hangus di sana, tapi identifikasi dilakukan secara terburu-buru karena tekanan massa saat itu. Jika Aris cukup cerdik, dia bisa saja menaruh orang lain di dalam mobil itu dan melompat keluar sebelum ledakan terjadi."
Aku merasa mual. Membayangkan Aris masih menghirup udara yang sama denganku saja sudah membuat dadaku sesak. "Dia tidak akan berhenti, kan? Dia sudah kehilangan segalanya, tapi dia masih ingin merampas masa depan Bumi, Bintang, dan Cahaya. Uang dari PBB itu bukan milikku, itu milik masa depan anak-anak. Bagaimana bisa dia begitu tega?"
"Bagi Aris, anak-anak bukanlah darah daging, melainkan tiket lotre," sahut Baskara dingin. "Dan sekarang, ada seseorang yang mendanai persembunyiannya. Tanpa sokongan dana yang besar, Aris tidak akan mungkin bisa menyewa pengacara papan atas untuk mengajukan peninjauan kembali seperti ini."
Satu minggu kemudian, aku harus kembali ke kota untuk menghadiri sidang pendahuluan di pengadilan agama. Alif bersikeras menemaniku sebagai kuasa hukum, sementara Baskara memperketat pengamanan di sekitar panti asuhan. Aku tidak membawa anak-anak. Aku meninggalkan mereka di bawah penjagaan ketat Bapak Sugeng dan tim keamanan profesional. Aku tidak ingin mereka melihat wajah pria yang seharusnya menjadi pelindung mereka, namun justru menjadi predator yang paling menakutkan.
Suasana di depan gedung pengadilan sangat riuh. Para pemburu berita sudah berkumpul, mencium aroma skandal besar yang melibatkan ahli waris Hartono. Aku melangkah keluar dari mobil dengan kepala tegak, mengenakan pakaian sederhana berwarna hitam yang melambangkan ketegasan hatiku. Alif berjalan di sampingku, memberikan perlindungan fisik yang membuatku merasa sedikit lebih tenang.
Saat kami memasuki ruang sidang, sosok pria paruh baya dengan tas jinjing mahal sudah menunggu di kursi pemohon. Ia adalah pengacara ternama yang dikenal sering membela kasus-kasus koruptor besar. Namanya adalah Hendra Kusuma. Ia tersenyum tipis ke arah kami, sebuah senyuman yang penuh dengan kepalsuan.
"Selamat pagi, Ibu Lisna. Senang melihat Anda tampak begitu sehat dan sejahtera," sapa Hendra dengan nada yang sangat merendahkan.
"Simpan basa-basimu, Hendra. Mari kita mulai saja drama ini agar aku bisa segera kembali ke kehidupanku yang jujur," jawabku tajam.
Sidang dimulai dengan pembacaan poin-poin keberatan dari pihak pemohon. Hendra berargumen bahwa kliennya, Aris Pratama, berada dalam kondisi trauma berat dan sedang menjalani pengobatan rahasia akibat penculikan yang dialaminya. Ia mengklaim bahwa kliennya tidak pernah bermaksud meninggalkan keluarga, melainkan dipaksa oleh keadaan yang mengancam nyawa.
"Oleh karena itu," lanjut Hendra dengan suara lantang yang bergema di ruang sidang, "klien kami menuntut haknya sebagai wali sah untuk mengelola dana perwalian anak-anaknya. Kami juga mengajukan pembatalan atas hak asuh tunggal yang saat ini dipegang oleh Ibu Lisna, karena kami menilai ada upaya sistematis untuk memisahkan ayah kandung dari anak-anaknya demi penguasaan aset."
Alif segera berdiri, memukul meja dengan tegas. "Keberatan, Yang Mulia! Klaim pemohon sangat tidak masuk akal dan menghina akal sehat. Ada catatan kriminal yang sangat panjang atas nama Aris Pratama, mulai dari judi online, penggelapan dana keluarga, hingga keterlibatannya dengan kelompok kriminal Suryakanta. Memberikan hak asuh atau pengelolaan dana kepadanya sama saja dengan menyerahkan domba kepada serigala."
Perdebatan hukum yang sengit terjadi selama berjam-jam. Namun, di tengah persidangan, pintu ruang sidang terbuka perlahan. Semua mata menoleh ke arah pintu. Seorang pria dengan kursi roda didorong masuk oleh seorang perawat. Pria itu mengenakan masker medis dan kepalanya dibalut perban, namun matanya yang licik itu tidak bisa menipu penglihatanku.
Itu Aris.
Ia tampak sangat menyedihkan, seolah-olah ia adalah korban penganiayaan yang luar biasa. Saat kursi rodanya sampai di depan meja hakim, ia melepaskan maskernya dan mulai menangis sesenggukan.
"Yang Mulia... saya hanya ingin bertemu anak-anak saya..." suaranya terdengar serak dan lemah. "Istri saya... Lisna... dia selalu ingin menyingkirkan saya sejak dia tahu dia punya harta melimpah. Saya dibuang ke jurang, saya hampir mati terbakar. Tolong berikan keadilan bagi seorang ayah yang malang ini."
Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku melukai telapak tanganku sendiri. Kemarahan yang membuncah membuatku hampir berdiri untuk menampar wajahnya yang penuh kepalsuan itu. Namun Alif menahan bahuku, memberiku isyarat untuk tetap tenang.
Sidang ditunda hingga minggu depan untuk memberikan waktu bagi tim ahli medis memeriksa kondisi Aris. Saat kami keluar dari ruang sidang, Aris menatapku dari kursi rodanya. Saat tidak ada orang lain yang melihat, seringai tipis muncul di sudut bibirnya yang pecah-pecah. Ia membisikkan sesuatu yang hanya bisa kudengar.
"Aku kembali untuk mengambil semuanya, Lisna. Kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku."
Aku tidak membalas ucapannya. Aku hanya menatapnya dengan pandangan dingin yang menunjukkan bahwa aku bukan lagi Lisna yang dulu bisa ia intimidasi dengan teriakan atau ancaman.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Alif tampak sangat gelisah. "Dia menggunakan taktik melas, Lisna. Hakim kita sangat sensitif dengan isu hak ayah dan keutuhan keluarga. Kita harus menemukan bukti bahwa Aris sengaja memalsukan kondisinya dan bahwa dia masih berkomunikasi dengan sisa-sisa orang Suryadi."
Baskara yang menyetir tiba-tiba menginjak rem dengan mendadak. Ia menunjuk ke arah sebuah mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan tol, tidak jauh dari pintu keluar.
"Itu mobil pengacara Hendra. Dan lihat siapa yang ada di sana," tunjuk Baskara.
Melalui kaca film yang gelap, kami melihat Hendra sedang berbicara dengan seorang pria yang sangat kukenal. Pria itu adalah mantan sekretaris pribadi Maria yang dulu sempat melarikan diri saat penggerebekan panti jompo di Sukabumi.
"Mereka masih bekerja sama," bisikku. "Aris bukan kembali karena rindu anak-anak. Dia kembali karena Suryadi memberikan perintah terakhir untuk menguras dana PBB itu lewat tangan Aris."
"Dan kita baru saja menemukan celah untuk menghancurkan mereka," sahut Baskara dengan senyum dingin. "Hendra adalah pengacara yang sangat rapi, tapi dia punya satu kelemahan: dia sangat mencintai uang hasil sogokan. Jika kita bisa membuktikan bahwa dana operasional Aris berasal dari rekening pencucian uang Suryadi yang belum dibekukan, maka Hendra dan Aris akan langsung masuk ke penjara yang sama."
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku duduk di depan laptop, mulai menuliskan kembali setiap detail kejadian ini. Tulisan adalah senjataku yang paling ampuh. Aku memutuskan untuk membuat sebuah petisi publik dan menceritakan secara transparan apa yang sedang terjadi di pengadilan. Aku ingin masyarakat tahu bahwa ada upaya sistematis untuk merampas hak anak-anak yatim piatu lewat manipulasi hukum.
Petisi itu menjadi viral dalam hitungan jam. Dukungan dari berbagai organisasi perlindungan anak mulai mengalir. Publik yang tadinya merasa kasihan pada sosok Aris di kursi roda mulai mempertanyakan kebenaran ceritanya. Tekanan massa kembali mengarah ke pengadilan agama.
Namun, di tengah perjuangan itu, aku menerima sebuah pesan suara dari nomor yang tidak dikenal.
"Ibu Lisna yang terhormat. Jika Anda tidak mencabut petisi itu dan menyetujui pembagian dana perwalian besok pagi, maka jangan harap Anda bisa melihat panti asuhan Anda tetap berdiri tegak. Api bisa membakar kayu, dan api juga bisa membakar kenangan."
Jantungku serasa berhenti berdetak. Panti asuhan. Anak-anak. Bapak Sugeng.
"Alif! Baskara!" Teriakku sambil berlari keluar kamar.
Kami segera memacu mobil menuju desa. Sepanjang perjalanan, aku terus berdoa agar Tuhan melindungi keluargaku. Saat mobil kami mulai memasuki gerbang desa, aku melihat cahaya kemerahan di cakrawala. Bukan cahaya matahari terbit, melainkan cahaya api yang membumbung tinggi dari arah Griya Siti Aminah.
"Tidak! Anak-anak!" Jeritku histeris.
Baskara memacu mobilnya dengan kecepatan gila, menabrak barikade kayu yang sengaja dipasang di jalan desa. Saat kami sampai di depan panti, gudang tua di samping rumah sudah dilalap api besar. Bapak Sugeng dan para relawan sedang berjuang memadamkan api dengan peralatan seadanya, sementara anak-anak berkumpul di tengah halaman dalam kondisi ketakutan.
Aku segera melompat keluar dan berlari memeluk Bumi, Bintang, dan Cahaya. Mereka menangis tersedu-sedu, namun syukurlah mereka semua selamat.
"Ada orang yang melempar bom molotov, Lisna!" teriak Bapak Sugeng dengan wajah penuh jelaga. "Mereka menggunakan motor dan langsung lari ke arah hutan!"
Aku berdiri di depan kobaran api yang menghancurkan gudang tempat penyimpanan dokumen warga itu. Amarahku kini tidak lagi berupa air mata, melainkan berupa api yang jauh lebih panas daripada kebakaran di depanku. Aris telah melewati batas yang paling suci. Dia mencoba menyakiti anak-anaknya sendiri demi uang.
"Baskara," kataku dengan suara yang sangat tenang namun mematikan. "Jangan tunggu sampai sidang minggu depan. Cari Aris sekarang juga. Aku tidak peduli di mana dia bersembunyi. Bawa dia padaku. Kita akan selesaikan ini dengan cara yang dia pahami."
Alif memegang bahuku, mencoba menenangkanku. "Lisna, jangan biarkan kebencian membuatmu melakukan hal yang salah."
"Yang salah adalah membiarkan monster ini terus bernapas dan mengancam nyawa anak-anakku, Mas!" teriakku. "Selama Aris masih ada, kita tidak akan pernah punya masa depan. Sekarang pilihannya hanya satu: dia yang masuk ke liang lahat, atau aku yang akan hancur selamanya."
Malam itu, di bawah cahaya api yang mulai meredup, aku menyadari bahwa kedamaian sejati hanya bisa diraih jika kita berani memotong habis akar kejahatan, tidak peduli seberapa dalam akar itu tertanam dalam sejarah hidup kita.