Soal jempol bengkak dan sakit adalah cerita keseharian saya menjelang tidur. Saya mencoba menghibur diri sendiri untuk tidak segera menyerah dan menyesali nasib sebagai seorang waiter. Jika sudah begitu, maka memandangi foto kekasih yang selalu saya simpan di samping tempat tidur menjadi penghibur lelah di hati.
Kadang-kadang, penghiburan itu juga datang pada saat bekerja, misalnya ketika harus tampil memainkan atraksi hebat di depan para tamu sebagai flambe steward. Dengan berbekal kereta dorong, dan berbagai bahan untuk membuat flambe dessert, saya berkeliling di sepanjang lorong dinning room. Menjajakan kepada setiap tamu yang berminat. Persis seperti penjual kue dorong yang sering berkeliling di komplek perumahan, sambil berteriak lantang, meneriakkan kata-kata yang sama dalam gulungan pita kaset yang hampir keriting.
Seragam yang saya kenakan juga sedikit berbeda dengan yang biasa saya kenakan saat dinner. Kalau biasanya saya mengenakan seragam jas biru, maka pada malam atraksi flambe saya mengenakan seragam warna merah menyala, sama persis dengan warna api yang sedang menyalanyala.
Kata flambe sendiri kalau tidak salah berasal dari bahasa Perancis. Dalam bahasa Inggris kata itu berarti nyala api atau flame. Jadi jenis pekerjaan ini sangat mengandalkan atraksi dengan bermain-main dengan api. Mirip atraksi sirkus begitulah, tapi tentunya tidak seheboh dan senekat mereka. Api hanya dijadikan sarana atraksi agar lebih menarik. Ini adalah bagian entertainment, sebuah atraksi hiburan, sebelum seseorang tertarik, mengalami sesuatu dan makan.
Flambe sebenarnya makanan yang disajikan tak lebih dari jenis kue apem atau macam serabi yang biasa ada di pasar tradisional. Bedanya, dengan flambe ini ada sentuhan entertainment yang membuat orang menjadi sangat berselera sebelum menyantap makanannya. Setelah berkeliling ruangan, sambil mendorong kereta flambe, akhirnya dapat juga beberapa pelanggan. Flambe dessert memang bersifat optional, alias pilihan selera. Kebanyakan tamu memilih menu dessert yang ada di buku menu.
Jangan dikira atraksi flambe dessert selalu sukses, atau mampu menghadirkan atraksi spektakuler dan tepuk tangan meriah. Pada kesempatan lain, saya pernah mengalami kejadian naas. Pasalnya, pada saat menuang liquor saya terlalu banyak menuangkannya. Akibatnya bisa diduga, api menyala tinggi-tinggi. Rambut bagian depan sedikit terbakar, plus sedikit pada alis mata. Tidak sampai ada luka bakar, tapi malunya itu. Soalnya semua mata menatap ke saya yang sedang membuat atraksi heboh. Saya rasa malam itu tak terdengar tepuk tangan meriah, tapi seringai wajah-wajah ngeri menyaksikan sebagian rambut saya terbakar. Menyisakan bau menyengat, yang bisa saja menghilangkan selera santap malam selanjutnya.
Atraksi flambe bisa menjadi obat pengusir duka saat bekerja. Tapi ada tugas lain yang tidak masuk dalam kelompok obat pengusir duka, justru sebaliknya, masuk dalam kelompok obat penambah duka. Tugas tambahan itu biasa disebut mastiek job. Untuk tugas tambahan ini ada upah lemburnya, jadi masih ada penghiburannya. Tapi siapa sih yang berharap dapat mastiek job ini? Sebab itu artinya jatah tidur bakal berkurang. Kepala yang sudah terserang kantuk bakal dipastikan semakin lemah tak berdaya.
Tugas tambahan yang saya terima kala itu tidaklah terlalu berat, hanya sekedar menyiapkan candle stand, atau tempat menaruh lilin, untuk acara dinner. Tugas ini saya lakukan sehabis lunch. Candle stand ini terbuat dari perak yang memiliki penutup kaca kristal berbentuk silinder dengan ornamen kotak-kotak. Desain kaca kristal ini akan mampu menimbulkan efek berpendar ketika lilin dinyalakan di dalamnya. Sangat cocok untuk menciptakan suasana dinner yang benar-benar romantis. Pas buat menemani santap malam bagi pasangan honeymooner, atau ulang tahun perkawinan yang layak dirayakan berdua saja.
Selepas itu, ada mastiek job lain yang siap menunggu, yaitu tender service. Tender service adalah jenis mastiek job yang diperlukan manakala kapal tidak sanggup merapat di pelabuhan. Ini bisa terjadi, terutama jika kondisi pantainya sangat landai sehingga kapal besar macam kapal pesiar harus berhenti di tengah laut. Untuk mengangkut para penumpang yang hendak melakukan wisata di darat, terpaksa diangkut dengan perahu kecil yang disebut tender tadi. Tender ini adalah sejenis sekoci kapal yang biasa dipakai buat pengangkutan darurat jika kapal tenggelam.
Saat paling menyenangkan adalah ketika kapal merapat di Sitka, sebuah kota kecil di Alaska, yang tidak mampu menampung kapal pesiar untuk merapat di dermaga. Di Sitka itu banyak pemandangan alam yang indah dengan hutan konservasi yang masih terpelihara dengan baik. Di tengah hutan itu, kita masih bisa mendapatkan pameran seni instalasi berupa patungpatung totem dengan motif khas suku Indian berdiri tegak berdampingan dengan pohon-pohon yang lain.
Tugas saya dalam tender service itu adalah menyiapkan minuman di mulut pelabuhan. Jadinya saya harus mengangkut minuman yang disimpan di dalam cambro - sebuah kotak warna coklat yang didesain untuk menyimpan minuman panas atau dingin. Minuman yang ditaruh di dalam cambro ini memang ditujukan untuk memberikan layanan minuman bagi para tamu yang akan keluar atau mau kembali lagi ke kapal pesiar. Jenis minuman yang disajikan disesuaikan dengan kondisi yang ada saat itu. Untuk daerah tropis disediakan orange juice atau jenis juice yang lain. Untuk daerah dingin seperti Alaska, disediakan hot chocolate.
Pada kesempatan lain, saya mendapatkan gangway service. Mastiek Job jenis ini cukup melelahkan. Soalnya andalan utama untuk menjalankan tugas ini adalah bertumpu pada kekuatan kedua kaki. Modal satu-satunya penopang kerja yang yang masih setia diajak ke sana-kemari, yang rasanya sudah semakin berat buat melangkah, apalagi menyusuri lorong-lorong kabin kapal pesiar. Anda bisa bayangkan sendiri betapa luas kapal pesiar itu, sebesar hotel. Padahal, kedua kaki yang saya miliki ini menjadi tumpuan utama buat kerja lunch atau dinner malam harinya.
Dengan sarung tangan warna putih saya mencoba sigap berdiri di samping pintu masuk lambung kapal. Di belakang saya, teman-teman waiter lain berbaris rapi. Ada sisa senyum yang masih tersungging di ujung bibir, ketika satu persatu para penumpang baru mulai memasuki lambung kapal pesiar. Seragam yang saya kenakan sama dengan seragam buat dinner, cuma dilengkapi dengan sarung tangan putih tadi. Ketika sepasang penumpang mulai memasuki lambung kapal, giliran saya menyambutnya dengan salam mantra khas Holland America Lines, ”Welcome on board!” Selanjutnya dengan sigap saya antar mereka menuju kabin di ujung kapal. Sesampai di kabin, saya sempatkan mengucap mantra lainnya, ”Enjoy your stay!” Sambil berharap ada uang receh barang US $ 5 yang bakal melayang ke dalam saku. Dari beberapa kali bolak-balik antar tamu, saya bisa dapat recehan barang US $ 10 sampai US $ 20. Lumayan, buat beli RC Cola di mess room, sebagai ganti ion tubuh yang menguap karena dipakai jalan-jalan di sepanjang kapal.
Belum puas rasanya siksa tubuh ini mendera badan yang satu-satunya saya miliki. Pada kesempatan lain pada bulan berikutnya, saya mendapat jatah mastiek job yang mungkin sedikit unik menarik, tapi sekali lagi tetap sama saja mengurangi jatah tidur saya yang sudah menjadi semakin minus. Tugas tambahan ini adalah royal high tea.
Tugasnya boleh dibilang ringan, menyediakan berbagai jenis teh panas buat para manula sambil menemani mereka ngerumpi di perpusatakaan atau sambil merajut benang wool serta ada pula yang membuat kerajinan tangan kruistik. Kegiatan ini dilakukan selepas lunch, antara pukul 2 hingga 4 sore.
Di tengah-tengah menjalankan tugas itu, sempat terpikir oleh saya betapa hebat orang bule itu. Acara minum teh saja perlu dibuat spesial, dengan nama spesial pula: royal high tea. Ini adalah tradisi yang diwariskan dari kerajaan Inggris, di mana para bangsawan memerlukan minum teh di sore hari, sambil menyambut tenggelamnya mentari. Di belahan dunia yang lain, para pekerja pemetik teh masih saja bekerja banting tulang memetik ujung daun teh untuk diproses menjadi seduhan teh yang barangkali tak sempat mereka nikmati di waktu senggang mereka. Sebuah kontras kehidupan yang tampaknya tetap abadi sepanjang masa.