Kabut tidak turun pelan-pelan di Desa Kalimati; kabut itu menerkam. Dalam hitungan detik, jalanan aspal rusak tempat mobil Maya teronggok di atas tumpukan batu bata itu lenyap ditelan keputihan pekat. Jarak pandang menyusut drastis, menyisakan hanya siluet-siluet kaku penduduk desa yang berdiri mematung di pinggir jalan.
"Sudah kubilang, Ndhuk," suara serak Nenek Sumirah memecah keheningan, merayap dari balik punggung para penduduk yang diam itu. "Tamu adalah raja. Tidak sopan pergi sebelum perjamuan dimulai."
Cahaya senter di tangan Andi menyapu liar, membelah partikel air yang melayang di udara. Sinar putih itu jatuh pada celah di antara kerumunan warga. Di sana, sosok itu muncul.
Nenek Sumirah tidak tampak seperti ancaman fisik. Wanita tua itu mengenakan kebaya beludru hitam model kutu baru yang licin, jarik batik motif parang rusak, dan selendang merah darah tersampir di bahu. Wajahnya yang penuh alur waktu menyunggingkan senyum ramah-tipe keramahan yang justru membuat perut Maya mual.
Ada ganjil yang mencolok: di tengah jalanan becek bercampur tanah merah ini, ujung kain jarik Sumirah bersih tanpa noda. Tidak ada percik lumpur. Tidak ada debu. Seolah tapak kakinya tidak benar-benar menyentuh bumi.
"Jangan mendekat!" Andi membentak. Parang berkarat di tangannya teracung goyah.
Maya mundur selangkah, punggungnya menabrak pintu mobil yang dingin. Napasnya tercekat, dangkal dan perih. Tangan kirinya secara refleks meraba saku jaket, memastikan buku harian sampul kulit hitam milik ibunya masih di sana. Benda itu terasa panas di balik kain, seolah berdenyut seirama dengan jantungnya.
"Simpan mainanmu itu, Le," kekeh Sumirah. Suaranya kering, mirip gesekan daun jati mati di aspal. Ia melangkah maju. Suara tongkat kayunya menghantam tanah dengan irama ganjil. Tok... jeda panjang... Tok...
"Kubilang mundur!" Andi nekat maju, menempatkan dirinya sebagai perisai hidup bagi Maya.
Sumirah berhenti. Matanya, yang di bawah sorot senter terlihat keruh laksana air cucian beras, menatap lurus ke manik mata Andi. Bukan tatapan marah, melainkan tatapan orang dewasa yang melihat balita sedang tantrum.
"Parang karatan begitu tidak akan mempan untuk mereka," ujar Sumirah santai, dagunya menunjuk ke arah kegelapan di belakang Andi.
Maya menoleh cepat. Udara di sekitarnya mendadak turun suhu drastis.
Penduduk desa yang tadi hanya diam, kini mulai bergerak. Namun, gerakan mereka salah. Seorang bapak tua memutar lehernya dengan sudut yang tidak wajar, bunyi krek tulang terdengar ngilu di kesunyian. Di sebelahnya, seorang ibu menggendong bayi dengan mata melotot lebar tanpa kedip. Tangan ibu itu menepuk-nepuk pantat bayinya dengan tempo kaku, patah-patah seperti boneka kayu yang engselnya karatan.
Mereka tidak menyerang. Mereka hanya menonton. Menunggu.
"Di Tanah Panas ini, kalau tidak ada yang ngemong, kalian cuma jadi camilan," lanjut Sumirah. Nadanya datar, tapi setiap suku kata terasa seperti ancaman. "Ayo. Makanan sudah dingin. Pamali menolak rezeki."
"Kami mau pulang," cicit Maya. Suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin yang tiba-tiba menderu, membawa bau anyir dan aroma melati busuk yang menyengat.
"Pulang?" Sumirah tertawa kecil. "Lha ini kan rumahmu, Ndhuk. Omahmu dhewe."
Wanita tua itu berbalik, memunggungi mereka tanpa rasa takut sedikit pun. Ia berjalan pelan menuju jalan setapak yang mengarah ke jantung desa, yakin seratus persen bahwa domba-dombanya akan mengikuti.
Dan ia benar. Jalan keluar sudah tertutup longsor. Mobil sudah lumpuh. Hutan di sekeliling mereka seolah hidup, dahan-dahannya merunduk tajam seperti jari-jari raksasa yang siap menciduk.
"May..." Andi menoleh, wajahnya pucat pasi. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Kita nggak punya pilihan. Tapi pegang terus kunci mobilmu."
Maya mengangguk kaku. Kakinya terasa berat, seolah aspal di bawahnya berubah menjadi lumpur hisap. "Tetap di depanku, Ndi."
Mereka melangkah meninggalkan mobil yang tak lagi berguna itu, mengekor di belakang punggung bungkuk Nenek Sumirah, masuk lebih dalam ke perut Desa Kalimati.
Begitu kaki Maya menyentuh jalan tanah desa, atmosfer berubah drastis. Suara serangga malam lenyap total.
Desa Kalimati seolah berhenti bernapas. Waktu seakan dibekukan paksa di era puluhan tahun silam. Tidak ada tiang listrik. Tidak ada piringan satelit. Rumah-rumah joglo tua berjajar rapat dengan kayu yang menghitam dimakan cuaca. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari sentir-lampu minyak kecil-yang tergantung di setiap beranda, memancarkan cahaya oranye temaram yang nyaris mati.
Saat mereka melintasi deretan rumah itu, ribuan mata mengawasi dari balik kegelapan.
Di balik jendela-jendela kayu yang terbuka setengah, bayangan penduduk desa berdiri tegak. Mereka tidak melakukan aktivitas manusiawi. Tidak mengobrol, tidak merokok. Mereka hanya berdiri di dalam kegelapan rumah masing-masing, menatap keluar.
Mata mereka memantulkan cahaya senter Andi sesaat-kilatan putih kosong-sebelum kembali gelap. Maya menangkap sosok anak kecil di salah satu beranda. Anak itu berdiri menghadap tembok, membelakangi jalan. Tangan kurusnya menggaruk dinding kayu dengan kuku panjang yang kotor. Sret... sret... sret... Bunyinya ngilu, konsisten, tanpa henti.
"Kenapa mereka diam saja?" bisik Andi, suaranya bergetar hebat. Ia mempererat cengkeramannya pada gagang parang hingga buku-buku jarinya memutih.
"Jangan dilihat," desis Maya, teringat peringatan di buku harian ibunya yang baru sekilas ia baca. Jangan tatap mata mereka saat malam Jumat. "Fokus ke jalan, Ndi."
Bau melati busuk itu makin menyengat, kini bercampur dengan aroma kemenyan bakar yang pekat. Mereka tiba di pekarangan rumah besar milik Maya-rumah warisan yang menjadi sumber petaka ini. Pintu gapura terbuka lebar. Di pendopo yang luas, lampu-lampu minyak telah dinyalakan, menciptakan bayangan tiang-tiang penyangga yang memanjang di lantai tegel seperti jeruji penjara.
Nenek Sumirah sudah menunggu di tangga pendopo.
"Cuci kaki dulu di gentong," perintahnya, menunjuk sebuah gentong tanah liat besar di samping tangga. Air di dalamnya hitam pekat, memantulkan bulan yang tertutup awan. Kelopak bunga kantil dan mawar merah mengapung di permukaannya.
Maya ragu. Aroma air itu amis.
"Syarat masuk rumah, Ndhuk. Biar yang 'nempel' di jalan tadi tidak ikut masuk," desak Sumirah, matanya menyipit tajam.
Andi memberi kode lewat mata untuk menuruti saja. Dengan tangan gemetar, Maya menciduk air itu dengan gayung batok kelapa. Dinginnya menusuk tulang, seolah ia menyiramkan es cair ke kakinya yang kotor. Saat air itu membasuh kulit, sensasinya bukan segar, melainkan lengket. Seperti ada lapisan minyak yang tertinggal di pori-pori.
Mereka naik ke pendopo. Di tengah ruangan, sebuah tikar pandan telah digelar. Di atasnya tersaji tampah berisi nasi tumpeng kecil, ayam ingkung utuh yang pucat, jajan pasar, dan dua gelas besar berisi cairan kental berwarna merah tua.
Kopi? Atau...
"Duduk," titah Sumirah. Ia sendiri duduk bersimpuh dengan luwes, seolah sendi-sendi tuanya tidak bermasalah sama sekali.
Andi dan Maya duduk berseberangan dengan wanita tua itu. Jarak mereka hanya terpisah oleh tampah makanan yang aromanya membingungkan indra-campuran sedap bumbu kuning dan bau bangkai tikus yang samar.
"Ibumu..." Sumirah memulai, tangannya sibuk meracik sirih pinang. "Ratna itu anak yang keras kepala. Sudah kubilang, lari sejauh apa pun, Darah Janji itu ingat jalan pulang."
Maya memberanikan diri menatap wajah keriput itu. Tangannya di bawah meja meremas buku harian di saku jaketnya. "Ibu saya meninggal karena sakit, Mbah. Kanker. Bukan karena kutukan atau Sekutu Hitam yang Mbah sebut."
Sumirah tertawa lagi. Kali ini tawanya basah, diiringi suara batuk kecil. Ia meludah ke dalam tempolong kuningan di sampingnya. Cairan merah pekat keluar dari mulutnya.
"Sakit?" Sumirah menyeringai, menampakkan giginya yang merah menyala. "Apa dokter di Jakarta bisa menjelaskan kenapa rambut ibumu rontok satu persatu setiap malam Jumat Kliwon? Atau kenapa dia muntah gumpalan rambut basah sebelum napasnya putus?"
Darah Maya berdesir hebat. Jantungnya serasa berhenti berdetak.
Bagaimana wanita tua di desa terpencil tanpa sinyal telepon ini tahu detail kematian ibunya di Jakarta? Detail tentang muntahan rambut itu bahkan tidak ia ceritakan pada Andi. Maya sendiri yang membersihkan muntahan itu di lantai rumah sakit, menyembunyikannya dari perawat karena takut dianggap gila.
"Siapa Mbah sebenarnya?" tanya Maya, suaranya menajam meski gemetar.
Nenek Sumirah tidak menjawab. Ia justru menyodorkan piring berisi ayam ingkung itu ke arah Maya. Ayam itu utuh, lengkap dengan kepala dan ceker yang menekuk aneh. Kulit ayam itu pucat, dingin, dan berlendir.
"Makan," perintah Sumirah lembut, tapi nadanya absolut. "Kalian butuh tenaga. Besok malam adalah malam puncak. Weton ibumu. Kita harus siap-siap."
"Siap-siap untuk apa?" sambar Andi curiga. Ia tidak menyentuh makanan sedikit pun.
Tiba-tiba, dari arah ruang dalam rumah-ruang utama yang gelap gulita di belakang punggung Sumirah-terdengar suara itu lagi.
Sret... Sret...
Suara seretan berat di atas lantai kayu. Kali ini lebih dekat. Lebih jelas. Disertai suara napas berat yang berair, grok... grok..., seperti penderita asma yang paru-parunya penuh lendir.
Maya membeku. Matanya terpaku pada pintu kayu ukir di belakang Sumirah yang sedikit terbuka. Kegelapan di balik pintu itu tampak lebih pekat dari malam di luar.
"Untuk menyambut yang punya rumah sebenarnya," bisik Nenek Sumirah. Matanya berkilat dalam remang cahaya lampu minyak, pupilnya membesar hingga nyaris menelan seluruh bagian putih matanya.
"Habiskan makanannya. Jangan sampai ada sisa. Kalau tidak..." Sumirah melirik ke arah pintu gelap di belakangnya dengan senyum miring, "...nanti *dia* yang akan menghabiskan kalian."