Kesadaran Kael berangsur kembali. Nyeri di tengkuk masih terasa, sementara Ezra menindih tangannya yang terikat ke belakang. Punggung mereka saling berhimpitan, sementara Kira masih mendebat sikap Nick yang sudah keluar dari rencana.
“Taruhannya nyawa kita!” sentak Kira, sambil menyibak kasar rambutnya ke belakang.
“Tidak jika kita habisi dulu nyawa mereka semua.” Nick terdengar santai, kontras dengan Kira yang meledak-ledak.
“Semua? Pria berambut hitam itu bagian dari kita juga, kan?” Kira melirik sekilas ke arah Ezra. “Kau juga mau membunuhnya?”
“Bos bilang bunuh semua yang ada di rumah ini. Dia ada di sini, berarti dia juga termasuk target.” Nick kembali mengikat tali di pergelangan tangan Aurora.
Kira menghela napas, lalu berjongkok di hadapan Aurora yang kehilangan kesadarannya. “Harusnya kau menurut sejak ancaman pertama dikirim. Sekarang kau harus menanggung risikonya, Princess.”
Rahang Kael mengetat saat mendengar ucapan Kira. Dadanya bergemuruh, tak tahan dengan ocehan sampah dua orang itu. Namun, sialnya, tangannya terikat erat.
Kira berdiri, meregangkan tubuhnya—menarik kedua tangan ke atas, sambil mengerang kencang. “Huah! Hari ini harus kita selesaikan. Bunuh di tempat, lalu buang mayatnya ke hutan perbatasan Ravelle.”
Nick berdecak pelan. Tangannya telah melepas bahu Aurora yang terkulai. Bunyi krak pelan mengiringi kepala Aurora yang membentur lantai kayu.
Sialan!
Bersamaan dengan itu, suara pot terjatuh terdengar nyaring dari luar. Nick menoleh cepat, langkahnya tergesa keluar ruangan, Kira mengikutinya di belakang. Kael menarik kencang tangannya yang terikat ke belakang. Ezra tersentak, segera membulatkan mata saat menyadari situasinya.
“Woah! What the—”
“Sudah sadar?” geram Kael. “Cepat lepaskan ikatannya!”
Ezra menghentak tangannya—terikat erat. “Bagaimana caranya aku melepas ikatannya? Kau buta?”
“Brengsek!” Kael kehilangan kesabarannya.
Dari arah pintu, Celeste mengendap cepat. Kael mengerutkan kening, jelas terkejut dengan kedatangan wanita itu.
“Hey! Kenapa kau belum pergi??” desis Ezra, tatapannya panik menuju arah pintu, takut Nick dan Kira mendadak masuk.
“Kau pikir aku tidak punya hati??” Sorot matanya tajam, tertuju pada Ezra. Tangannya membawa pisau dapur, lalu dengan cepat memotong tali yang mengikat dua pria itu. “Aku tadi sudah keluar dari halaman ketika melihat dua tetangga baru kalian mengendap masuk, dan aku bersusah payah untuk mencari waktu untuk mengalihkan perhatian mereka demi membebaskan kalian! Sial, kenapa aku harus terlibat hal seperti ini?!”
Ikatan terlepas. Kael segera menarik tangannya, lalu bergegas menghampiri Aurora.
“Kalian terlalu fokus berkelahi sampai-sampai tidak mendengar jendela kamar dibobol, huh?” Celeste masih terus mengomel, tangannya mengusap pergelangan tangan Ezra yang memerah.
Kael tak memedulikan ocehan Celeste. Ia terlalu fokus dengan Aurora. Entah apa yang telah dilakukan dua orang itu, wajah istrinya itu terlihat pucat. Ketika ia memeluk—bermaksud untuk mengangkatnya, cairan pekat teraba oleh tangannya.
“Rora?!” pekik Kael.
BRAK!
Pintu ruangan dihantam kasar oleh Nick menggunakan palu. Wajahnya murka menatap tawanannya lepas, sementara Kira dengan agresif memburu Celeste. Namun sebelum wanita itu berhasil meraih, Ezra dengan cepat mendorong Celeste menjauh ke sudut ruangan, sehingga Kira hanya menampar angin. Dan di sisi lain, Nick mulai mengacungkan palunya pada Ezra.
Dengan berat hati, Kael kembali melepaskan pelukannya pada Aurora. Lengannya dengan tangkas menahan serangan Nick, lalu memutar pergelangan tangannya untuk meraih gagang palu. Dapat. Detik berikutnya, palu itu telah dilempar kuat, tepat mengenai tumit Kira—membuatnya memekik nyaring.
Celeste yang membelalak ngeri, berlari ke arah Aurora. Tangannya dengan cepat memberi perlindungan pada wanita itu. “Kael, bawa dia keluar. Aku jaga Rora di sini.”
Kael menoleh sejenak, sebelum tangan dan kakinya sibuk untuk meladeni serangan Nick yang bertubi-tubi. Gerakannya terlalu agresif—sangat terlatih. “Thanks!” Hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya, sebelum mendorong cepat tubuh Nick melalui pintu. Ia butuh memberikan ruang steril untuk Aurora dan Celeste.
Sementara Ezra, merasa sedikit bimbang dengan perlawanan Kira. Selama ini ia tak pernah memukul wanita. Namun Kira adalah ancaman. Dengan terpaksa, ia menanggalkan prinsipnya sejenak untuk tidak pernah memukul wanita. Satu pukulan kencang berhasil membuat Kira mundur beberapa langkah. Darah mengalir dari sudut bibirnya yang pecah.
“Mana sopan santunmu?” Kira berteriak. “Pria tidak boleh memukul wanita!”
Ezra tertawa, berkelit dari serangan Kira yang semakin membabi buta. Cukup mengesankan ketika dua pembunuh bayaran yang diperintahkan Bastien hanyalah dua bajingan kelas teri yang tak memiliki taktik profesional.
“For your information, aku memang tidak pernah memukul wanita.” Ezra kembali menghindar dari serangan Kira. Belati yang ada di tangan wanita itu, berkilat tiap tangan Kira mengayunkannya. “Tapi sayangnya… kau bukan wanita di mataku.”
Kaki Ezra menahan tubuhnya yang meliuk, sementara tangannya dengan cepat menangkis tangan Kira—menjatuhkan belati, dan berakhir dengan lengannya yang mengunci leher wanita itu. Celeste melempar tali yang berserak di lantai, dan Ezra dengan cepat mengikat tubuh Kira pada kaki meja dengan posisi yang sama seperti dirinya tadi—tangan terikat di belakang.
“Shit!” umpat Kira.
Ezra menyeringai. “Aku penasaran, kenapa Bastien menyuruh preman rendahan seperti kalian untuk misi ini. Apakah dia sudah tidak memiliki wewenang lagi untuk menyuruh pembunuh bayaran resmi Vireaux Group?”
Gebrakan kencang dari arah pintu membuat Ezra menoleh. Kael, menyeret Nick yang telah babak belur. Tali panjang segera dilempar Ezra ke arah Kael, lalu dengan cepat pria itu mengikat Nick yang hampir sekarat.
“Mereka bukan preman rendahan, tapi jelas bukan dari Vireaux Group.” Kael menoleh pada Ezra, memberikan jawaban yang tadi terlontar untuk Kira. “Tapi jika pamanku yang mengirim mereka, sudah pasti kemampuannya tidak perlu diragukan.”
“Tapi mereka kalah,” ucap Ezra.
“Karena mereka tidak terorganisir dengan baik.” Kael menuntaskan ikatannya pada tubuh Nick.
“Kael!” seru Celeste. “Kupikir… kau harus cepat membawa Aurora ke rumah sakit.”
Kael bergerak cepat. Darah mengalir dari sela paha kaki istrinya. “Rora!”
Dengan cepat, Kael mengangkat tubuh Aurora. Sebelum keluar, ia menoleh cepat pada Ezra. “Urusanku denganmu belum selesai, tapi pastikan dua orang ini tidak kabur. Aku harus mengurus Rora lebih dulu!”
“Pergilah, aku tidak akan kemana-mana.” Ezra terlihat panik, tapi ia berusaha menahan diri.
Kael berlalu membawa Aurora ke rumah sakit, dan Celeste mendekat. Tangannya mengusap sudut bibir Ezra yang merah membiru.
“Sakit?” tanyanya.
“Apakah Rora terluka?” Ezra balik bertanya, matanya tak putus menatap arah pintu.
Celeste menghela napasnya dalam-dalam. “Tidak ada, aku sudah periksa tubuhnya. Tapi… kurasa darah yang mengalir bukan dari luka—”
“Tapi?” Ezra menegang.
“Mungkin… apakah kau tahu kalau Rora sedang hamil?” Celeste tampak ragu saat menanyakannya.
“Hamil?” Ezra terduduk, tatapannya nanar. “Dia tidak pernah mengatakannya.”
Celeste menepuk pundak Ezra pelan, seolah memberikan kekuatan. “Hanya asumsiku saja. Tapi itu hal yang wajar, bukan? Kael dan Rora suami istri. Aku hanya tidak ingin kau terluka karena mencintai wanita yang salah.”
Nick tertawa di tempatnya. Saat Ezra memandangnya, pria itu meludah ke sisi kirinya. Cuih! “Setidaknya aku berhasil melenyapkan satu nyawa jika wanita itu benar-benar hamil.”
Gemuruh dalam dada Ezra tak mampu diredam. Tanpa kata, ia berdiri cepat dan menghantam rahang Nick dengan tinjunya. Celeste mengernyit ketika tulang pria itu berderak. Kira terkesiap, mengumpat serapah, namun dengan cepat Celeste menyumpal mulut wanita itu dengan scarf yang melilit lehernya.
“Bastien bilang… mungkin kau akan mengacau misinya. Karena itulah dia mengirim kami.” Nick tertawa, lalu kembali meludah darah. “Misimu menjadi samar karena perasaan murahanmu itu.”
“Diam!” Tangan Ezra mengepal, gurat ototnya timbul di sepanjang lengan.
Nick menyeringai. “Kau terlihat payah, Ezeriah Roux.”
Kepalan tangan Ezra semakin mengencang, sampai akhirnya satu tinju kembal melayang di tempat yang sama. Nick terkulai, mulut besarnya berhenti sejenak, seiring dengan kesadarannya yang menghilang.