Terkadang di suatu masa dalam hidup kita, kita akan dihadapkan dengan sebuah pilihan yang sulit. Dimana pilihan itu akan membuat kita merasa sangat berat dan dilema. Hal itu telah Rama rasakan saat berumur di umur 10 tahun. ….
Bulan Juni tahun 2005.
Rama masih ingat suasana kenaikan kelasnya dari kelas V (lima) menjadi kelas VI (enam) di Sekolah Dasar Negeri Munggut II kota Madiun Jawa Timur.
Hari itu adalah hari penerimaan raport kenaikan kelas di sekolahnya.
Seperti biasanya orang tua atau wali murid wajib datang ke sekolah untuk menerima laporan hasil belajar dan ujian anak-anaknya. Mereka para anak-anak ingusan yang kalo pipis masih minta ditemenin mama papa, kecuali Rama. Opa dan Oma (Kakek dan nenek) menunggu diluar kelas.
….
Suasana pagi yang cerah hari itu membuat om-om dan tante-tante sebagai orang tua dari murid-murid SD yang hadir di sekolah saat itu terlihat riang bahagia. Mereka tersebar di setiap sudut sekolah.
Rama ingat, ada om-om dan tante-tante yang duduk-duduk di selasar teras depan kelas, ada om-om dan tante-tante yang bermain bercanda bersama anaknya dan ada om-om dan tante-tante yang berdiri tepat di bawah pohon kamboja depan kelas 4.
Konon katanya pohon itu angker dan setiap malam ada cewek yang duduk di atas pohon itu mengganggu orang yang lewat di bawahnya sambil tertawa kecil “xixixixixi”. Serem.
….
Tapi, di antara semua om-om dan tante-tante tadi, matanya tertuju ke arah satu kelompok lingkaran kecil yang berdiri di halaman depan kelasnya.
Di sana ada tiga orang om-om dan satu orang paruh baya yang sangat Rama kenal dan sering Ia liat setiap hari di rumah bernyanyi-nyayi dan joget-joget India tanpa kenal lelah. Bukan ayah Rama, tapi OPA nya.
....
Opa Rama adalah orang yang sangat pandai dalam mengumpulkan masa dengan semua cerita-cerita yang dia miliki. Dia bisa bercerita tentang sejarah kemerdekaan Indonesia, hingga pemberontakan G30SPKI secara detail dan akurat.
Dia juga bisa bercerita tentang perjuangan hidup yang telah dia lalui hingga saat menikahi Oma nya dan mempunyai anak-anak.
Tapi, lebih seringnya dia bercerita tentang kehidupan anak-anaknya (om dan tante gue) hingga cucu-cucunya. Termasuk Rama secara detail dan akurat.
....
Terakhir kali Rama diajak Opanya berobat di rumah sakit, dia berhasil mengumpulkan lebih dari 4 orang masa dengan cerita tentang cucu-cucunya yang tersebar diberbagai daerah. Dan pas salah satu pendegarnya bertanya sambil nunjuk Rama, “kalo yang ini cucu bapak juga ?”
Opa Rama menjawab detail lengkap akurat tanpa meleset sedikitpun ke mereka tentang dirinya. Dia menceritakan asal muasalnya hidup di dunia yang dilahirkan mamanya dengan normal bukan hasil dari hadiah snack ciki.
Kemudian Opa juga bercerita bagaimana dirinya berhasil mengambil hak asuh dirinya dari Ibu dan Bapaknya yang sebenarnya. Dia sampai menceritakan tentang kebiasaan Rama suka joget-joget nyanyi-nyayi India seperti yang dia lakukan setiap hari minggu pagi. Padahal dialah yang menjadi gurunya.
Sungguh Opa yang LUAR BIASA.
Telah membuka aib dengan baik dan benar.
....
*italic text*
Begitu kira-kira yang di ucapkan ibu Tessy guru matematika dan wali kelas Rama dari depan kelas V (lima). Yang akhirnya mengubah suasana santai para orang tua murid menjadi berbondong-bondong mencari dan masuk ke dalam ruang kelas anak mereka masing-masing.
Terlihat Opa Rama, masih berusaha menyelesaikan ceritanya ke 3 orang om-om yang masih bersamanya menjadi beberapa detik.
Seperti menarik sebuah kesimpulan cerita yang 3 jam, harus berubah menjadi 10 detik, dan Rama yakin Opanya pasti berhasil.
Berhasil BELEPOTAN.
Membuat kesimpulan ceritanya sendiri seperti sebelum-sebelumnya dan akhirnya kelompok lingkaran om-om dan Opa Rama tadi bubar.
Opanya masuk ke ruang kelas V (lima).
....
Seperti penerimaan raport sebelumnya, orang tua/wali murid masuk ke dalam ruang kelas, sementara Rama, teman-teman, dan para anak-anak ingusan lainnya harus menunggu di luar. Mereka seolah diasingkan dari pembicaraan misterius antara guru wali kelas dengan para orang tua mereka.
Mungkin yang terjadi lagi adalah ibu Tessy akan membuka aib buruk dirinya dan teman-teman lainnya selama 2 semester berada di kelas V esde.
Mampus.
Kehidupan indah dirinya dan teman-temannya terancam setelah sampai di rumah nanti. Apalagi kalo peringkat mereka jauh dari harapan membanggakan orang tua masing-masing.
Mampus.
Omanya pernah bilang kalo dirinya tidak masuk ranking 10 besar di kelas, uang jajannya dipotong selama 1 semester.
Mampus.
Uang jajan dirinya selama hidup di SD waktu itu aja sebenernya pas-pasan banget, apalagi bakalan di potong.
Mampus.
Dirinya tak akan bisa lagi mentraktir si Selvi dan Catur, cewek-cewek yang berusaha Ia ambil hati mereka untuk dijadikan istri nanti di masa depan.
Mampus.
Kampret.
Ia dag dig dug.
Banget.
....
Rama dan teman-temannya gelisah menunggu hasil laporan belajar mereka dari luar kelas waktu itu. Mereka semua juga panik.
Sampai tiba-tiba ada informasi yang entah dari mana asal muasal munculnya, bahwa katanya di kelas mereka ada 2 orang yang tidak naik kelas.
Mampus.
Mereka semakin gelisah.
Informasi tak jelas itu diperjelas lagi bahwa satu orang perempuan dan satu orang laki-laki yang tidak akan naik kelas waktu itu.
Kampret.
Mereka semakin menjadi-jadi gelisah.
Satu orang teman laki-laki Rama si Pakin tiba-tiba nangis. Dia menangis memasrahkan diri bahwa dirinya lah yang bakalan tidak naik kelas waktu itu.
“AKU IKI SENG GAK MUNGGAH KELAS… (aku, yang tidak akan naik kelas)” kata Pakin dengan air mata yang tiba-tiba mengalir kencang dari matanya.
“HAH ? KOE EROH TEKO NDI ? (hah ? kamu tau dari mana?)” Rama kebingungan dengan aksi si Pakin yang tiba-tiba mendahului takdir tuhan dengan menspekulasi bahwa dirinya lah yang tidak naik kelas.
Ya memang sih kemungkinannya menurut Rama bisa 75% bener.
Karna Pakin adalah siswa yang lumayan bego dan lemot yang Ia kenal di sekolah itu. Rama mengingat kelemotan si Pakin waktu itu, yaitu ketika Rama dan teman-teman telah mati-matian menghapal perkalian “7”, si Pakin masih mati-matian menghapal perkalian “2”.
Sampai ibu Tessy wali kelas mereka sebagai guru matematika nyerah kalo ngajarin di Pakin, dan pernah ngatain si Pakin G*BL*K, otak udang.
Sering banget si Pakin tiap pelajaran matematika dapet pukulan dengan penggaris papan tulis yang dari kayu di daerah pantat. Rama juga sering sih, tapi tidak sesering si Pakin, yang sering sering sering pakai banget.
....
Rama juga ingat, bahwa ibu Tessy sebagai guru metematika killer di Sekolahnya waktu. Bu Tessy sering sekali memberi pelajaran ke siswa dengan cara pemukulan sesuatu benda padat di daerah pantat, atau mencubit di daerah perut yang kampret sakitnya minta ampun. Dan kadang menjewer telinga mereka jika tidak dengarkan kata-kata dia atau perintah dia.
(RASAKAN IBU TESSY ! AKU TULIS KEJAHATAN ANDA DI BUKU INI. RASAIN ! BAKAL DI CARI POLISI ATAS TINDAKAN ANIAYA KEPADA SI PAKIN. RASAIN !)
....
Kembali lagi, Rama melihat si Pakin menangis di dekatnya.
Dirinya menjadi iba, antara percaya dan tidak percaya. Apa benar informasi 2 orang yaitu 1 cowok dan 1 cewek teman kelasnya bakalan gak naik kelas. Tapi dirinya berharap itu tidak benar.
Sebagai temen yang baik, Rama mengelus-elus punggung Pakin.
Rama mempersuasi di Pakin. Dirinya berusaha meyakinkan bahwa berita itu tidak benar. Sampai akhirnya Pakin berhenti nangis dan percaya ke dirinya kalo berita itu tidak benar.
PAKIN BENER-BENER BEGO.
Dia bisa langsung percaya kepadanya, sementara dirinya masih percaya bahwa ada 2 orang yang tidak naik kelas.
Kalo yang cewek Rama tidak punya prediksi siapa. Tapi kalo yang cowok, pilihan dalam otaknya tak lain dan tak bukan nominasi itu jatuh kepada si PAKIN. Hahaha.
....
Sekitar setengah jam waktu itu pembicaraan serius antara ibu Tessy wali kelasnya dan orang tua murid/wali murid, akhirnya terdengar suara gelak tawa dari dalam kelas.
Itu menandakan bahwa pembahasan aib-aib mereka anak-anak kelas V SD ingusan dan bego kayak Pakin telah selesai.
Pembagian raport pun dimulai.
....
Raport dibagikan sesuai urutan nama absen siswa di kelas. Setiap nama siswa dipanggil berdasarkan absen. Orang tua atau wali murid maju mengambil raport anaknya dari tangan ibu Tessy.
Rama gelisah dapat ranking berapa.
Si Pakin gelisah dia NAIK KELAS atau TIDAK.
....
Akhirnya nama Rama di panggil.
Berdasarkan absen namanya memang lebih dahulu dari si Pakin. Nama dirinya “Rama Tantra Salaksa Solikin” dan Pakin “Tri Rohadi”.
Pas. Ibu Tessy memanggil sesuai urutan.
“Rama Tantra Solikin” nama dirinya disebut oleh Ibu Tessy.
Terlihat Opanya dengan kacamatanya, dan celana panjang ikat pinggang di atas perut dengan kemeja masuk di dalam celananya, berjalan maju kedepan. Itu adalah gaya khas Opanya setiap kali mengambil raport di sekolah.
Rama meliat Opanya berjalan maju kedepan dengan sedikit tertawa menggelikan yang dia buat-buat, dan beberapa orang yang dia lewati disapa sok akrab. Itulah Opanya.
Selalu sok kenal sok akrab.
....
Akhirnya Opa Rama duduk di kursi depan meja ibu Tessy.
Opanya nampak langsung akrab dengan ibu Tessy. Awalnya mereka terlihat ngobrol sambil senyum-senyum, namun beberapa detik kemudian semuanya berubah.
Mereka terlihat berbicara serius tanpa canda di meja itu.
Perasaan Rama gak enak.
Tangannya berkeringet.
Badannya gemetar.
Pikirannya melayang.
Rama berusaha menerjemahkan obrolan kata-kata serius yang di keluarkan ibu Tessy dan Opanya.
“jadi pak, rama lah yang TIDAK NAIK KELAS… BUKAN SI PAKIN…” kata bu Tessy.
“LOH ? LOH ? KOK BISA ?” Opanya terlihat stres.
“Si Rama ini, masih kecil sudah main CINTA-CINTAAN…” kata bu Tessy lagi.
“LOH ? LOH ? KOK BISA ?” Opanya semakin stres.
“Si Rama ini berani menulis AIB saya di buku nya dia…” tegas bu Tessy.
KAMPRET !
MAMPUS !
BU TESSY TAU DARI MANA SEMUA INI ?
BUKU INI KAN BELUM TERBIT.
CAPTAIN AMERIKAAA ! TOLONG !
....
Akhirnya beberapa saat kemudian Rama melihat Opanya dan bu Tessy terlihat tertawa bersama di akhir obrolan serius mereka.
Entah tawa itu artinya dirinya baik-baik saja di kelas V dan kemudian berhasil naik ke kelas VI, atau tawa itu adalah hasil gombalan Opanya ke bu Tessy yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Rama gak tau. Dirinnya masih gelisah.
Opanya kembali ke tempat duduknya. Hingga akhirnya semua orang tua/wali teman-temannya kelas V telah memegang raport mereka masing-masing.
Acara penerimaan raport kenaikan kelas siswa Sekolah Dasar Negeri Munggut II pagi itu pun selesai.
Gerombolan om-om, tante-tante, opa-opa dan oma-oma ramai keluar dari kelas dan mencari anaknya masing-masing.
Rama berdiri di halaman depan pintu kelas V, langsung dihampiri Opanya.
Satu kata pertama yang selalu Opa ucapkan kepadanya setiap selesai ngambil raport yaitu,
“GOBLOK!” kata Opanya.
Rama langsung diem seribu paragraf.
“Masa juara 6?” lanjut Opanya dengan senyum-senyum.
Kemudian Ia cuman bisa balas.
“hehehehe…” sambil nyengir.
Saat itu dirinya menyadari kalo hidupnya terselamatkan dari kekejaman keluarga. Tidak ada aib buruk yang diterima Opanya dari bu Tessy.
Uang jajan sekolahnya gak akan dipotong, dan Ia masih bisa traktir cewek-cewek di kelasnya setiap bulan.
Namun, di saat itu dirinya melupakan 1 hal.
....
“Hai ram.. juara berapa ?” tanya salah satu cewek cakep di kelas Rama waktu itu yang sangat ingin Ia pacarin. Namanya Catur.
Belum sempat dirinya menjawab.
“GOBLOK RAMA ! masa juara enam dia, GOBLOK.” Malah Opanya yang jawab dengan ketus.
Rama diam. Malu.
“Hehehe…lumayan pinter, masuk 10 besar. Selamat.. ” bales Catur kepadanya sambil ngasih tangannya buat salaman. BUKAN ke Opanya.
“jadi, kapan kamu berangkat ke Sulawesi ?” Catur bertanya lagi ke Rama.
Rama diam beberapa detik.
Catur menatap matanya dalam.
Rama membalas menatap matanya lebih dalam.
Seolah ada sesuatu antara dirinya dan Catur yang tidak inginkan terjadi. Itulah tatapan mata paling romantis yang Ia ingat diantara siswa SD yang naik kelas VI waktu itu.
....
Yaa. Rama akan pindah rumah ke Sulawesi.
Meninggalkan Catur dan teman-teman ingusan lainnya yang selama ini sudah jadi temen hidup di masa anak-anak dengan penuh ke-bego-an.
Dirinya akan pindah ke tempat baru yang gak pernah Ia tau sebelumnya. Dirinya akan punya keluarga baru yang gak pernah Ia liat sebelumnya.
Dan, Ia juga akan punya temen-temen baru yang gak pernah Ia kenal sebelumnya. ....
“eeee….” Lagi-lagi belum sempat Rama membalas.
“Seminggu lagi berangkat…. Masih lama kok….” balas Opanya. Menghancurkan suasana mellow antara dua anak SD naik kelas VI yang pengen banget jadian waktu itu.
“hmm… jangan lupakan kami yaa nanti kalo udah disana…” kata Catur kepadanya yang begitu dalam maknanya.
Rama diem sejenak.
“iyaaa… PASTI!” jawab Rama mendahului Opanya. Dengan senyuman termanisnya semasa itu.
Catur senyum kepadanya, dan perlahan menjauh pergi meninggalkan dirinya dan Opa.
Seperti ada sesuatu yang hilang disana.
....
Tak lama kemudian, teman-teman lainnya dateng kepadanya. Menanyakan dirinya ranking berapa, dan juga menyampaikan kata-kata perpisahan kepadanya.
Semua mengucapkan “ram, jangan lupain kami yaa kalo udah disana…”
Salah satu temennya Kiki bilang “ram, nanti telpon-telponan yaa…”
Perasaannya menjadi gak enak, pas nanti udah sampe di tempat baru. Dirinya harus telpon-telponan dengan Kiki.
“hallo.. betul ini dengan Kiki ?” Rama.
“ohh, Kiki nya lagi keluar mas. Ini dari siapa ? biar nanti saya sampaikan salamnya…” jawab seseorang dari seberang telpon.
“ohh iyaudah. Bilang saja dari Rama. MANTAN TEMANNYA. AKU MASIH SUKA DIA…” kata Rama.
“tutt… tutt…tutt...” telponnya langsung ditutup.
....
Adegan salam-salaman dan ucapan-ucapan perpisahan dari teman-teman kepadanya dan orang tua mereka kepadanya dan Opa di sekolah itupun berakhir.
Opa langsung mengajaknya pulang.
Mereka berjalan menuju parkiran motor. Tangan Rama memegang buku raport warna merah hasil kerja keras belajarnya selama sekolah kelas I sampai kelas V di Sekolah Dasar Munggut II Madiun.
Opa men-starter motornya.
“Treeenn…teennn..teenn..teennn..teeennn…” bunyi motor Opa berisik di parkiran sekolah.
Rama naik di belakang motor. Tangannya memegang erat kemeja Opanya (gak sampai sobek). Merekapun pun berkendara keluar dari sekolah menuju rumah.
Hari itu adalah menjadi hari terakhir dirinya berada di Sekolah Dasar Negeri Munggut II Madiun.
….
Sesampainya dirumah.
“Assalamualaikum…” Ucap Rama yang penuh semangat ketika masuk dalam rumah.
Hari itu sangat terasa jelas, ada suasana yang berbeda ketika dirinya masuk di dalam rumah.
Rumahnya sudah benar-benar nampak lebih bersih dan legang. Berbeda dari biasanya.
Rama melihat Omanya sedang merapikan barang-barang, dan memasukkan pakaian ke dalam koper-koper.
“waalaikumsallam…” jawab mamanya dari ruang belakang rumah yang telah menunggu kedatangan dirinya seperti sebelum-sebelumnya setiap hari penerimaan raport.
“juara berapa ?” tanya mama kepadanya.
“juara enam…. Payaaah diaa. GOBLOK!” jawab Opanya yang masih saja meremehkan hasil kerja keras belajar dirinya selama di kelas V.
“Lumayan rek… masuk 10 besar…” balas mamanya dengan nada khas medok Surabaya.
“yoo lumayan… munggah (naik) kelas enam, juara enam” Omanya menyambung balasan dengan mendukung hasil kerja keras dirinya.
“YESSS! KASIAN LU OPA!” dalam hatinya.
….
Suasana ramai yang terjadi saat itu, tidak seperti biasanya. Sangat terasa kalo suasana riang penuh canda di rumah itu akan hilang, dan tidak akan pernah terjadi lagi.
Rumah tempat dirinya bisa berkumpul dengan Oma, Opa, Mama, Papa dan kakak perempuannya selama di Madiun waktu itu akan segera Ia tinggalkan beberapa hari lagi.
....
Dua hari kemudian.
Rama dihadapkan dengan pilihan yang seharusnya menjadi pilihan paling berat dalam hidupnya. Tapi karena di usia 10 tahun dirinya masih bego belum mengerti apa-apa tentang pilihan, Ia mengambil pilihan yang menurutnya adalah pilihan paling enak.
Siang itu, papa, mama dan kakak Rama akan pulang kerumah mamanya di Surabaya. Karena mereka tidak mau ikut pindah ke Sulawesi dengan Opa dan Omanya.
Di siang itu juga, Ia diberi pilihan :
- Ikut mama, papa dan kakaknya pulang ke rumah mama di Surabaya, kemudian bahagia.
- Ikut Opa, Omanya ke Sulawesi dengan segala sesuatu yang baru, kemudian bahagia.
Dengan polos.
Rama memilih ikut Opa Omanya ke Sulawesi dan bahagia bersama mereka. Ia tidak ikut mama, papa dan kakak pulang ke Surabaya.
Beruntungnya mama, papa dan kakaknya adalah orang yang baik-baik. Mereka menerima pilihannya untuk hidup bersama Opa dan Oma di Sulawesi.
Mereka sadar, bahwa memang sebenarnya Rama lebih deket dan sangat disayangi Oma dan Opanya sejak terlahir di muka bumi ini.
Siang itu menjadi awal perpisahan dirinya dengan mama, papa dan kakaknya di terminal bus kota Madiun.
....
“ini uang untuk jajan…” papa Rama mau memberi uang kepadanya, sebelum naik ke bus waktu itu.
Namun sayang beribu sayang.
“UDAH. GAK USAH ! Jangan biasakan ngasih uang jajan ke anak-anak…” kata Oma sambil menepis tangan papanya yang sangat ingin memberi uang kepadanya.
Dalem hati Rama.
“SIAL ! BATAL NGASIH BARANG PERPISAHAN ROMANTIS BUAT CATUR ”.
....
Bis pun berangkat membawa mama papa dan kakak Rama menuju Surabaya.Mereka berpisah di terminal bus Madiun siang itu. ….
Tiga hari kemudian. Tibalah dirinya bersama Opa, Oma dan satu orang om bernama om Rais akan ikut pindah ke Sulawesi. Mereka berangkat selepas subuh meninggalkan rumah kami Jalan anggrek RT 11, Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun. Rumah yang telah puluhan tahun keluarganya tempati. Rumah yang menjadi tempat kami berteduh, berkumpul, dan bercanda di setiap suasana.Rumah yang penuh cerita, sejak Opa dan Omanya masih muda. Rumah yang selalu Rama ingat kapan Ia harus keluar dan kapan Ia harus pulang. Rumah yang selalu Rama ingat kapan Ia harus keluar lewat jendela ketika dirinya tidak dibolehkan main dengan teman-teman kompleksnya. Rumah yang penuh kenangan. ....
Mereka berangkat menuju Surabaya. Meninggalkan setiap masa yang penuh cerita.Meninggalkan banyak kenangan lucu antara dirinya dan teman-teman kompleksnya RT 11. Meninggalkan temen-temen SD kelas I hingga kelas V nya. Dan, meninggalkan cerita perjuangan cinta-cintaan ke-bego-an nya kepada cewek-cewek cakep di sekolah waktu itu. ....
Selanjutnya dari Surabaya dirinya berlayar menuju Sulawesi dengan Kapal selama empat hari tiga malam. Sampai akhirnya kepal bersandar Sulawesi. Mereka sudah ditunggu dan dijemput tante (anak Opa Oma yang pertama) dan keluarga di Pelabuhan Donggala Sulawesi Tengah. Mereka beristirahat dan menginap dahulu dua malam di kota Palu. Kemudian melanjutkan perjalanan dari Palu menggunakan bis menuju tempat baru kami. Gorontalo. …. Terakhir. Ada satu hal yang terlewatkan. SI PAKIN ALHAMDULILLAH NAIK KELAS. *&^%$#@!()