Uang dari Rania belum juga cair. Prosesnya ternyata tidak sesederhana jabat tangan. Ada formulir digital yang harus diisi, KTP yang harus dipindai, dan serangkaian email dari bagian legal yang bahasanya kaku dan sulit Banyu pahami.
Janji akan kebebasan finansial itu masih menggantung di udara, terasa seperti fatamorgana di tengah gurun aspal Jakarta. Sementara itu, kenyataan di jalanan tidak peduli pada janji. Sewa HP dua puluh lima ribu rupiah harus disetor pada Bang Sapto setiap pagi, bensin harus diisi, dan perut Fajar harus kenyang.
Banyu bekerja dengan intensitas baru yang nyaris panik, didorong oleh campuran harapan akan masa depan dan kecemasan akan hari ini. Ia harus membuktikan pada dirinya sendiri, dan terutama pada Dina, bahwa menjual ceritanya adalah keputusan yang benar, bukan sekadar tindakan putus asa.
Sore itu, langit Jakarta berwarna tembaga, berat dan panas seolah kota ini sedang menahan napas sebelum badai. Banyu baru saja menyelesaikan orderan makanan ke sebuah apartemen ketika sebuah notifikasi masuk dengan getaran yang lebih panjang dan mendesak dari biasanya.
Orderan Rush-Send Instant, layanan pengiriman prioritas dengan jaminan waktu. Tarifnya sangat tinggi, delapan puluh ribu rupiah, untuk jarak yang relatif dekat. Jantung Banyu berdebar sedikit lebih cepat. Orderan seperti ini adalah anugerah sekaligus kutukan; bisa menutupi target hariannya dalam sekali jalan, tapi tekanannya selalu luar biasa.
Ia membuka detailnya. Barang: Sampel Medis (Urgent). Catatan dari pelanggan: "TOLONG CEPAT PAK, INI PENTING SEKALI UNTUK ANAK SAYA DI LAB. JANGAN SAMPAI TERLAMBAT."
Semua huruf kapital itu terasa seperti teriakan bisu di layar ponselnya. Banyu merasakan firasat buruk yang dingin merayap di tengkuknya, tapi angka delapan puluh ribu itu terlalu menggoda untuk ditolak. Itu adalah harga sewa HP selama tiga hari lebih. Itu adalah lauk enak untuk Fajar. Ia menelan keraguannya dan menekan tombol "Terima".
Segera setelah orderan diterima, ponsel sewaannya bergetar hebat. Panggilan masuk. Dari pelanggan. Gelombang panik yang familier langsung menyergapnya. Ia menekan tombol merah, menolak panggilan itu, dan dengan jari yang sedikit gemetar mengirimkan pesan template-nya.
"Selamat sore. Saya Banyu, driver Laju. Mohon maaf saya Tuli. Saya sedang menuju lokasi. Mohon jangan telepon, bisa kirim arahan lewat chat. Terima kasih."
Ponselnya bergetar lagi. Panggilan masuk kedua. Ia menolaknya lagi. Panggilan ketiga. Banyu membiarkannya berdering hingga mati sendiri, getarannya terasa seperti sengatan listrik di stang motor. Jelas sekali pelanggan ini sedang panik dan tidak membaca pesannya. Banyu hanya bisa berharap ia segera sampai di titik jemput sebelum pelanggan itu membatalkan pesanannya karena frustrasi.
Titik jemputnya adalah sebuah klinik kecil yang sederhana di kawasan Bintaro. Saat ia tiba, seorang wanita paruh baya berlari keluar, wajahnya basah oleh keringat dan air mata yang sudah mengering. Ia menyerahkan sebuah kotak kecil berpendingin pada Banyu, tangannya gemetar.
"Cepat ya, Pak! Ke Laboratorium Medika, Jalan Cempaka Arum nomor 12!" teriak wanita itu, suaranya terdengar parau dan pecah.
Banyu mengangguk cepat, mencoba menunjukkan urgensi yang ia pahami sepenuhnya. Ia melihat gerakan bibir wanita itu: Cempaka Arum. Ia mencocokkannya dengan alamat yang tertera di aplikasi: Jl. Cempaka Arum No. 12. Ia merasa sedikit lega. Alamatnya jelas dan spesifik.
Ia meletakkan kotak itu dengan sangat hati-hati di dalam tasnya, mengganjalnya dengan lap bersih agar tidak terguncang. Ia menyalakan motor dan segera mengikuti rute biru di Google Maps. Namun, langit yang sejak tadi berwarna tembaga akhirnya pecah. Hujan turun bukan sebagai gerimis, melainkan sebagai dinding air yang jatuh dari langit, meredam semua suara dan mengaburkan semua pandangan.
Visibilitas menurun drastis. Air membanjiri layar ponselnya, membuatnya sulit disentuh dan seringkali salah merespons. Titik biru GPS mulai melompat-lompat tak menentu, bingung oleh gedung-gedung tinggi dan sinyal yang dilemahkan oleh badai. Banyu mengandalkan insting dan ingatan visualnya tentang peta yang sempat ia lihat. Ia tahu area ini, setidaknya ia merasa begitu.
Ponselnya terus bergetar di holder. Notifikasi chat masuk bertubi-tubi, getarannya terasa seperti detak jantung orang panik. Banyu tidak bisa membacanya di tengah hujan deras.
Mengalihkan pandangan dari jalanan licin yang mulai tertutup genangan selama dua detik saja bisa berakibat fatal. Ia fokus menyetir, seluruh otot tubuhnya menegang menahan dingin dan tekanan psikologis. Kotak berisi sampel medis di dalam tasnya terasa seperti bom waktu yang detaknya semakin cepat.
Setelah berputar-putar selama hampir dua puluh menit di jalanan yang mulai menyerupai sungai kecil, ia akhirnya menemukan plang jalan bertuliskan "Jalan Cempaka". Ia masuk, mencari nomor 12 dengan mata yang perih karena cipratan air. Di sanalah rumah itu, nomor 12, tapi tampak sepi dan gelap. Tidak ada plang laboratorium. Hanya rumah tinggal biasa dengan teras yang berantakan.
Perasaan Banyu hancur. Ia menepi, mencoba mengeringkan layar ponselnya dengan ujung sarung tangannya yang basah. Dengan susah payah, ia membuka rentetan chat dari pelanggan. Jantungnya serasa diremas hingga berhenti berdetak.
"Pak dimana?? Kok malah ke arah berlawanan?" (15 menit yang lalu) "Pak angkat teleponnya!!! Ini penting!!" (14 menit yang lalu) "SAYA LIHAT DI PETA BAPAK NYASAR JAUH! ITU BUKAN CEMPAKA ARUM, ITU CEMPAKA PUTIH!! BEDA KECAMATAN, PAK!!!" (10 menit yang lalu) "Driver tidak profesional! Saya laporin kamu! Ini menyangkut nyawa anak saya!!! Kalau sampai terjadi apa-apa, saya cari bapak!!!" (5 menit yang lalu)
Cempaka Putih. Bukan Cempaka Arum. Dua nama jalan yang hampir identik, terletak tiga kilometer terpisah. Sebuah kesalahan fatal yang lahir dari salah lihat di tengah kepanikan, diperparah oleh GPS yang error dan ketidakmampuannya untuk menerima konfirmasi verbal.
Tepat saat itu, notifikasi terakhir muncul. Sebuah kotak merah yang menyala terang di layar yang basah.
Pesanan Dibatalkan oleh Pelanggan.
Banyu mematung. Hujan mengguyur helmnya, airnya mengalir di kaca visor seperti air mata yang tak ada habisnya. Ia gagal. Ia telah gagal secara spektakuler. Bukan hanya gagal mengantar barang, tapi ia telah gagal di mata seorang ibu yang sedang ketakutan. Kata-kata "menyangkut nyawa anak saya" terngiang di kepalanya, sebuah gema tanpa suara yang lebih memekakkan dari klakson manapun.
Ia membuka profilnya. Di sana, di bawah namanya, sebuah luka baru telah tergores. Satu bintang. Disertai ulasan yang membunuh, ditulis dengan huruf kapital penuh amarah.
"DRIVER TIDAK BERTANGGUNG JAWAB. TIDAK BISA DIHUBUNGI, MENOLAK SEMUA PANGGILAN SAYA. SALAH ALAMAT DAN MEMBUAT SAMPEL DARAH ANAK SAYA TERLAMBAT DIPERIKSA. JANGAN PERNAH PAKAI DRIVER INI JIKA ANDA MENGHARGAI WAKTU DAN KESELAMATAN!!!"
Banyu teringat kotak pendingin styrofoam itu. Saat ia menyerahkannya tadi, es batu di dalamnya sudah mencair menjadi air hangat. Ia telah membiarkan darah itu rusak oleh panas Jakarta dan kebodohannya sendiri.
Dan paku terakhir di peti matinya: sebuah notifikasi email dari aplikasi Laju, yang masuk beberapa detik kemudian.
Subjek: Notifikasi Penangguhan Akun (Suspend) - Pelanggaran Berat Terkait Keamanan dan Urgensi Medis.
Akunnya dibekukan. Kali ini bukan untuk 24 jam. Statusnya "ditangguhkan hingga investigasi selesai". Itu bisa berarti seminggu. Sebulan. Atau selamanya.
Banyu mematikan layar ponselnya. Ia duduk di atas motornya di pinggir Jalan Cempaka Putih yang salah, di bawah guyuran hujan yang terasa seperti cemoohan langit. Di dalam tasnya, ada sebuah kotak kecil berisi harapan seorang ibu yang telah ia hancurkan. Ia tidak tahu harus berbuat apa dengan benda itu. Mengembalikannya? Menghadapi kemarahan wanita itu secara langsung? Ia tidak sanggup.
Perlahan, ia memutar motornya. Perjalanan pulang terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan. Setiap tetes hujan yang mengenai tubuhnya terasa dingin dan tajam, menusuk hingga ke tulang. Ia bukan hanya gagal sebagai driver.
Ulasan itu telah memberinya label baru: seseorang yang membahayakan keselamatan. Di dunia yang dibangun di atas kepercayaan, ia baru saja dicap sebagai pengkhianat. Malam ini, ia tidak hanya akan pulang dengan tangan kosong. Ia akan pulang sebagai seorang pesakitan yang membawa bukti kegagalannya di dalam tas.