Banyu tidak pulang malam itu. Tidak langsung. Ia tidak sanggup menghadapi keheningan yang menuduh di dalam dinding-dinding kontrakan yang terasa semakin menyempit. Ia tidak sanggup melihat kekecewaan di mata Dina, yang ia tahu akan terasa lebih tajam dari belati manapun.
Maka, ia mengendarai motornya, melarikan diri ke dalam perut kota yang mulai mencernanya. Jalanan Jakarta yang mulai lengang menjadi pelariannya, sebuah labirin tanpa akhir di mana ia bisa menjadi anonim, tak terlihat.
Ia adalah sebuah partikel yang tersesat, sebuah sel darah yang dikeluarkan dari pembuluh arteri kota dan kini mengalir di selokan-selokan gelapnya, menuju kehampaan.
Akunnya beku, hatinya remuk, dan masa depannya terasa seperti jalan buntu yang gelap di depannya.
Entah bagaimana, insting atau mungkin takdir yang memiliki selera humor yang kejam, membawanya kembali ke area yang paling ingin ia lupakan. Roda motornya seolah memiliki ingatan otot sendiri, membawanya menyusuri jalanan yang familier hingga ia sadar ia berada di kawasan Prapanca.
Di sinilah ia mengantar Pak Robert, pria yang telah mengubah motornya menjadi bilik pengakuan dosa berjalan. Kenangan akan percakapan telepon yang tak ia dengar namun ia pahami sepenuhnya itu kembali muncul, meninggalkan rasa pahit di pangkal lidahnya, seperti rasa logam.
Tiba-tiba, mesin motornya batuk-batuk. Sebuah getaran kejang yang kasar, berbeda dari deru biasanya. Sekali, dua kali, lalu mati total.
Getaran yang menjadi teman setia dan satu-satunya konstanta dalam hidupnya yang kacau kini lenyap, digantikan oleh keheningan yang absolut dan mengerikan. Keheningan ini berbeda dari keheningan dunianya; ini adalah keheningan kematian, keheningan mesin yang menyerah.
Banyu menekan tombol starter. Tidak ada respons, bahkan tidak ada bunyi klik yang lemah. Ia melihat indikator bensin. Jarumnya tergeletak tak berdaya di huruf E, menunjuk pada kekosongan. Kosong. Sama seperti dirinya.
Sebuah tawa kering dan tanpa suara keluar dari tenggorokannya, membuat bahunya bergetar. Tentu saja. Di malam terburuk dalam hidupnya, bahkan mesinnya pun menyerah padanya.
Ia benar-benar terdampar. Tidak ada uang sepeser pun di sakunya. Saldo di dompet digitalnya nol. Ia adalah seorang kapten di atas kapal yang mati di tengah lautan badai, tanpa daratan di cakrawala.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Banyu turun dan mulai mendorong motornya. Besi seberat seratus kilogram itu terasa seperti beban seluruh dunia di pundaknya.
Keringat dingin mulai membasahi kaosnya yang masih lembap karena hujan, bercampur dengan rasa asin dari air mata yang ia tahan sekuat tenaga. Otot-otot lengannya terbakar, punggungnya menjerit. Setiap langkah terasa seperti sebuah hukuman, setiap meter terasa seperti satu kilometer.
Ia mendorong motornya melewati deretan rumah-rumah mewah yang pagarnya menjulang tinggi seperti benteng, memisahkannya dari dunia orang-orang yang tidur nyenyak di kasur empuk. Dan kemudian, ia melihatnya. Rumah Pak Robert. Ia mengenalinya dari gerbang hitam berornamen emas yang mencolok, yang di bawah lampu taman tampak seperti seringai yang angkuh.
Saat itulah, sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap masuk ke dalam gerbang yang terbuka otomatis. Banyu berhenti mendorong, nalurinya membuatnya bersembunyi di balik bayangan pohon besar, seperti seorang buronan.
Dari dalam mobil, keluarlah Pak Robert. Ia tidak sendirian. Seorang wanita cantik dan elegan—jelas istrinya—turun dari kursi penumpang, gaunnya mengalir anggun.
Lalu dari kursi belakang, seorang anak laki-laki kecil, mungkin seusia Fajar, melompat keluar dengan piyama bergambar dinosaurus dan memeluk kaki ayahnya.
Pak Robert tertawa. Banyu melihatnya dengan jelas. Kepala pria itu mendongak, bahunya bergetar. Ia mengangkat anaknya tinggi-tinggi, persis seperti yang sering Banyu lakukan pada Fajar untuk membuatnya tertawa.
Wanita itu tersenyum, merapikan rambut suaminya dengan gerakan penuh kasih sayang. Mereka tampak seperti potret keluarga yang sempurna, sebuah gambar dari majalah gaya hidup yang menjadi nyata di depan mata Banyu yang perih.
Pemandangan itu menghantam Banyu lebih keras dari ulasan bintang satu manapun. Di sana, di balik pagar itu, di bawah cahaya lampu yang hangat, berdiri seorang pria yang membangun kebahagiaannya di atas kebohongan.
Seorang pria yang memberinya uang tutup mulut, uang hasil pengkhianatan. Dan di sini, di luar pagar, dalam kegelapan yang lembap, berdiri Banyu. Seorang pria yang mencoba mati-matian untuk jujur, namun kini hancur, mendorong motor mogok, dengan keluarga yang terancam kelaparan di rumah.
Rasa marah yang dingin dan tajam mulai merayap di dalam dirinya, menggantikan keputusasaan. Ini tidak adil. Dunia ini tidak adil.
Ia teringat kembali percakapan telepon itu. Bisikan-bisikan mesra. Janji pertemuan di "tempat biasa". Ia teringat senyum merendahkan Pak Robert di kaca spion, senyum yang seolah berkata, "Kau hanya supir Tuli, kau tidak mengerti apa-apa, kau tidak penting."
Tapi Banyu mengerti. Ia mengerti segalanya. Dan pengetahuannya adalah satu-satunya hal yang ia miliki saat ini.
Sebuah ide yang gelap dan mengerikan mulai terbentuk di benaknya. Ide itu lahir dari keputusasaan, disirami oleh rasa ketidakadilan yang membakar.
Rania pernah berkata bahwa kisahnya memiliki nilai. Bahwa penderitaannya bisa dijual. Mungkin... mungkin bukan hanya penderitaannya yang punya harga. Mungkin rahasia orang lain juga.
Pak Robert telah membayar untuk keheningannya. Tapi ia membayar terlalu murah.
Banyu merasakan perutnya mual. Pikiran itu membuatnya jijik pada dirinya sendiri. Ia bukan pemeras. Ia bukan penjahat. Ia adalah seorang ayah yang hanya ingin bekerja. Ia selalu percaya pada idealisme sederhana yang diajarkan ayahnya: kerja keras dan kejujuran akan membuahkan hasil.
Tapi malam ini, idealisme itu terasa seperti sebuah lelucon yang kejam, sebuah dongeng untuk anak kecil. Apa gunanya menjadi orang baik jika dunia terus-menerus menghajarmu hingga babak belur?
Pragmatisme berbisik di telinganya, suara yang dingin, logis, dan menggoda. Lihatlah dia, Banyu. Dia punya segalanya. Kamu tidak punya apa-apa. Dia menggunakanmu, memanfaatkan kondisimu untuk menyembunyikan dosanya.
Kenapa kamu tidak bisa melakukan hal yang sama? Ini bukan pemerasan. Ini adalah kompensasi. Ini adalah menagih bayaran yang seharusnya untuk jasa yang telah kau berikan: menjaga rahasianya.
Banyu menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran itu. Tapi pikiran itu menempel, lengket seperti lumpur. Ia teringat wajah Dina yang menangis, isyarat tangannya yang menuduh. Ia teringat sepatu Fajar yang dijahit. Ia teringat akunnya yang beku.
Ia tidak punya pilihan. Atau mungkin, ia punya pilihan, tapi pilihan yang "benar" akan membawanya dan keluarganya ke jurang kelaparan.
Ia berdiri di sana, dalam bayang-bayang, untuk waktu yang terasa sangat lama. Perang berkecamuk di dalam dirinya. Banyu si pekerja jujur melawan Banyu si ayah yang putus asa.
Akhirnya, dengan keputusan yang terasa seperti sebilah es di dalam hatinya, ia berbalik dari rumah itu. Ia tidak punya rencana yang jelas. Ia hanya tahu ia tidak bisa terus seperti ini. Ia harus melakukan sesuatu. Ia harus mengubah aturan main, karena bermain dengan jujur telah menghancurkannya.
Ia melihat seorang pengendara motor lain berhenti di dekatnya untuk memeriksa ponsel. Banyu mendekat, membuat isyarat. Ia menunjuk tangki bensinnya yang kosong, lalu menunjuk dompetnya yang juga kosong.
Dengan bahasa isyarat dan gerakan tubuh yang memelas, ia menawarkan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia mengguncang tangki motornya. Kosong. Bunyi klotak yang menyedihkan.
Banyu menuntun motornya sejauh satu kilometer dengan napas memburu hingga menemukan kios bensin eceran. Di sana, dengan tangan gemetar, ia melepas jam tangan karet hitamnya—satu-satunya penunjuk waktu yang ia miliki.
Ia menukarnya dengan dua liter bensin dan selembar uang sepuluh ribu. Penjaga kios menatapnya aneh, tapi Banyu tidak peduli. Ia baru saja menukar waktunya demi bahan bakar untuk melarikan diri lagi.
Tindakan itu terasa sangat simbolis. Ia menjual bahan bakarnya, sumber tenaganya, demi bertahan hidup sesaat. Itu adalah langkah pertamanya menuruni jalan pragmatisme yang curam dan licin.
Saat ia menerima lembaran uang sepuluh ribu yang lecek itu, ia tidak merasa lega. Ia merasa telah melewati sebuah batas yang tak terlihat.
Malam ini, di Jalan Prapanca, sesuatu di dalam diri Banyu telah mati, dan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dingin, lebih keras, dan lebih berbahaya, telah lahir.