Suasana di rumah kontrakan selama dua hari berikutnya lebih dingin dari lantai semen di musim hujan. Banyu dan Dina bergerak di sekitar satu sama lain seperti dua planet yang keluar dari orbitnya, terikat oleh gravitasi Fajar namun terpisah oleh ruang hampa yang dingin.
Mereka berkomunikasi hanya untuk hal-hal esensial, melalui isyarat tangan yang singkat dan kaku, tanpa kontak mata. "Fajar sudah makan?", "Air galon habis." Tidak ada lagi sentuhan ringan di lengan saat berpapasan di lorong sempit, tidak ada lagi senyum lelah yang saling menguatkan di penghujung hari.
Keheningan di antara mereka bukan lagi ruang yang nyaman, melainkan jurang yang menganga, dipenuhi oleh gema dari kata-kata menyakitkan yang tidak termaafkan dari pertengkaran mereka.
Banyu menghabiskan waktunya dalam siklus frustrasi yang sia-sia, mencoba menghubungi layanan pelanggan aplikasi Laju. Ia mengirim email, mengisi formulir banding online, menjelaskan kronologi kesalahpahaman itu dengan detail yang presisi.
Ia bahkan meminta bantuan tetangganya yang melek teknologi untuk memastikan bahasanya benar. Tapi balasannya selalu sama: sebuah email otomatis yang dingin dan impersonal yang menyatakan bahwa kasusnya sedang "dalam peninjauan".
Ia tahu apa artinya itu. Ia berada di dalam limbo birokrasi, sebuah nomor tiket di dalam sistem yang kelebihan beban, dilupakan.
Pada hari ketiga, kenyataan menghantamnya dengan keras, tanpa ampun. Tumpukan beras di dalam kaleng kerupuk mereka sudah terlihat dasarnya. Sebuah surat tagihan sewa kontrakan diselipkan di bawah pintu, kertas putih itu terasa seperti surat panggilan dari pengadilan.
Dan yang terburuk, malam itu, Fajar mengeluh pusing. Badannya terasa hangat saat Banyu menyentuh keningnya. Mungkin hanya kelelahan atau masuk angin biasa, tapi bagi orang tua yang tidak punya uang sepeser pun, demam ringan terasa seperti sirene peringatan bencana.
Panik yang dingin mencengkeram perut Banyu. Bagaimana jika demamnya naik? Bagaimana jika ia butuh dokter?
Saat itulah Banyu tahu ia tidak bisa menunggu lagi. Idealisme adalah kemewahan. Kejujuran adalah barang mahal. Dan ia sudah bangkrut. Fajar butuh obat penurun panas. Dapur butuh beras. Dina butuh kepastian.
Ia duduk di sudut ruangan yang gelap, Fajar sudah tertidur di pangkuan Dina. Ia menatap wajah istrinya yang tegang karena khawatir. Itulah momennya. Ia mengeluarkan ponsel sewaannya, membuka kembali riwayat perjalanannya di aplikasi.
Jantungnya berdebar kencang, sebuah irama genderang perang di dalam dadanya. Ia menemukan perjalanan ke Prapanca itu. Di sana, tersimpan nomor telepon Pak Robert. Sebuah jejak digital dari penghinaannya, yang kini akan menjadi senjatanya.
Tangannya gemetar saat ia mengetik pesan WhatsApp. Ia menghapus dan menulis ulang berkali-kali, mencari kata-kata yang tepat—kata-kata yang cukup mengancam untuk dipahami, namun cukup samar untuk memberinya penyangkalan jika terjadi sesuatu.
Ia merasa seperti seorang ahli bom yang sedang merakit alat peledaknya sendiri, satu kesalahan bisa meledakkan segalanya di wajahnya.
Akhirnya, ia mengirim pesan ini:
"Selamat sore, Pak Robert. Saya Banyu, driver Laju yang waktu itu mengantar Bapak ke Prapanca. Mohon maaf mengganggu. Sepertinya ada barang milik Bapak yang tertinggal di motor saya. Sesuatu yang sangat pribadi. Mungkin kita bisa bertemu agar saya bisa mengembalikannya."
Kata "tertinggal" dan "sangat pribadi" adalah kailnya, dilapisi dengan umpan kesopanan palsu. Ia menekan tombol kirim, dan rasanya seperti melompat dari tebing tanpa tahu seberapa dalam jurang di bawahnya.
Centang dua biru. Dibaca. Selama lima menit yang menyiksa, tidak ada balasan. Banyu menahan napas, menatap layar dengan intens. Setiap detik terasa seperti satu jam. Mungkin pria itu mengabaikannya, atau lebih buruk, melaporkannya ke polisi.
Lalu, ponselnya bergetar. Sebuah balasan singkat, dingin, dan tanpa basa-basi.
"Di mana?"
Banyu merasa sedikit lega, yang segera diikuti oleh gelombang rasa jijik pada dirinya sendiri. Kailnya dimakan. Ia memilih sebuah kafe kecil di daerah Radio Dalam, tempat yang belum pernah ia datangi. Tempat yang asing dan netral, untuk sebuah tindakan yang terasa begitu asing bagi jiwanya.
Setengah jam kemudian, Banyu sudah duduk di kafe itu. Pendingin ruangan terasa menusuk kulitnya yang berkeringat. Aroma kopi dan kue-kue manis yang mahal terasa menyesakkan, membuatnya mual.
Ia memesan air putih paling murah, merasa seperti seorang penyusup di dunia orang-orang yang bisa menghabiskan seratus ribu untuk secangkir kopi dan sepotong kue tanpa berpikir dua kali.
Pak Robert datang. Ia masih mengenakan setelan kerja, tapi kali ini dasinya sedikit longgar dan tidak ada senyum arogan di wajahnya. Wajahnya tegang, matanya waspada, bergerak liar mengamati sekeliling sebelum fokus pada Banyu. Ia duduk di seberang Banyu tanpa menyapa.
"Barang apa yang tertinggal?" tanyanya langsung, suaranya rendah dan mengancam.
Banyu tidak mencoba berbicara. Suaranya akan mengkhianatinya. Ia juga tidak menggunakan bahasa isyarat; itu adalah bahasa yang terlalu jujur dan murni untuk percakapan sekotor ini. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan, dan mengetik satu kalimat.
"Saya tidak sengaja mendengar percakapan Bapak di telepon waktu itu."
Ia mendorong ponselnya ke seberang meja.
Wajah pria itu mengeras. "Kamu Tuli. Kamu tidak dengar apa-apa."
Banyu tersenyum tipis, senyum paling getir yang pernah ia rasakan. Ia mengambil ponselnya kembali dan mengetik lagi.
"Saya tidak perlu mendengar untuk mengerti. Bibir bisa dibaca. Apalagi kalau tujuannya ke 'tempat biasa' di Tebet, bukan ke rumah di Prapanca. Saya ingat nama wanitanya juga, kalau Bapak mau saya tuliskan."
Ia sengaja menambahkan detail "Tebet" dan ancaman terselubung tentang nama. Itu adalah bukti tak terbantahkan bahwa ia tahu segalanya.
Warna meninggalkan wajah Pak Robert. Arogansinya runtuh seperti gedung yang diledakkan, digantikan oleh kepanikan yang disembunyikan.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Banyu memiliki kekuatan. Tapi perasaan itu tidak membuatnya merasa hebat. Justru sebaliknya, ia merasa semakin kotor, semakin kecil.
"Apa maumu?" desis Pak Robert, matanya menyipit penuh kebencian.
Banyu menarik napas dalam-dalam. Inilah saatnya. Ia mengetikkan sebuah angka di layar ponselnya. Bukan angka yang fantastis. Bukan jutaan rupiah.
Itu adalah jumlah yang sudah ia hitung dengan cermat di perjalanan tadi: cukup untuk membeli HP bekas yang layak, membayar utang pada Bang Sapto, membayar sewa kontrakan selama tiga bulan, dan mengisi dapurnya hingga uang dari Rania cair.
Itu adalah angka bertahan hidup, bukan angka keserakahan. Ini penting baginya, sebuah cara untuk meyakinkan dirinya bahwa ia bukan pemeras, melainkan hanya mengambil apa yang ia butuhkan untuk berdiri lagi.
Ia menunjukkan angka itu pada Pak Robert.
Pria itu menatap angka itu, lalu menatap Banyu dengan kebencian murni. "Kamu pikir kamu siapa? Beraninya kamu..."
Banyu tidak membalas. Ia hanya menatap balik, membiarkan keheningan dan angka di layar ponselnya yang berbicara. Di dalam tatapannya, ada keputusasaan seorang ayah, yang ternyata lebih menakutkan dari ancaman manapun.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Pak Robert mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari tas kerjanya. Ia menggesernya di atas meja dengan kasar. 'Hitung,' katanya singkat.
Banyu tidak perlu menghitungnya. Dari ketebalan amplop itu saat ia menyentuhnya, ia tahu jumlahnya lebih dari cukup. Uang itu terasa berat di tangannya, sebuah beban fisik yang nyata. Tidak ada jejak digital. Tidak ada bukti. Hanya pertukaran kotor di bawah lampu kafe yang remang.
Pak Robert berdiri, kursinya berderit kasar.
"Kalau kamu hubungi saya lagi, atau saya dengar kabar apapun tentang ini, saya pastikan hidupmu akan lebih susah dari sekarang," ancamnya, sebelum berbalik dan pergi dengan cepat dari kafe itu, seperti seorang pria yang melarikan diri dari lokasi kejahatan.
Banyu tetap duduk, terpaku di kursinya. Ia menatap saldo di rekeningnya. Angka-angka itu seharusnya membuatnya bahagia, atau setidaknya lega.
Tapi yang ia rasakan hanyalah kehampaan yang dingin. Ia telah menyelamatkan keluarganya dari jurang, tapi ia melakukannya dengan mendorong orang lain—meski orang itu bersalah—dan dengan mengotori tangannya sendiri.
Ia menatap pantulan dirinya di layar ponselnya yang gelap. Wajah yang menatap balik bukanlah wajah Banyu si pekerja keras, atau Banyu si ayah yang sabar. Itu adalah wajah seorang pria yang baru saja menjual sebagian dari jiwanya.
Ia telah memenangkan pertempuran untuk bertahan hidup hari ini, tapi ia sangat takut bahwa ia baru saja kalah dalam perang untuk mempertahankan siapa dirinya.