Bab 18 Mengamati

Penulis Iman-ha
09 February 2026

Ada kebiasaan baru Durov sejak Luna beberapa kali membawakan makanan. Lalu lama tak datang. Ia lebih sering menunggu dan mengamati situasi sekitar, terutama kelakuan manusia. Perasaan ini pelan-pelan membentuk karakternya sebagai kucing, bahwa ia tidak pernah merasa dirinya sama dengan kucing lain. Tapi ia juga tidak menganggap dirinya sebagai kucing jelmaan manusia.

Ia memang tidur di sudut-sudut hangat yang sama, memakan sisa yang sama, berkelahi dengan alasan yang sama, tetapi ada satu kebiasaan yang membuatnya berbeda: ia suka berhenti. Berhenti untuk melihat. Berhenti untuk mendengar. Seolah dunia manusia adalah etalase yang terlalu bising untuk dilewati begitu saja.

Ia berkeliling kampung kota dengan langkah pelan. Lorong-lorong sempit mengajarinya tentang arah angin dan bau ketakutan. Durov belajar membaca manusia dari cara pintu ditutup: dibanting berarti marah, ditarik pelan berarti takut, dibiarkan terbuka berarti tidak peduli.

Ia duduk di atas puing-puing rumah yang diruntuhkan untuk pembangunan apartemen mewah, menatap sepasang suami istri di rumah yang tersisa, mereka berdebat dengan suara rendah. Kata-kata mereka pendek-pendek, tajam, seperti paku kecil. Tidak ada pukulan, hanya kalimat yang dipilih untuk melukai. Setelahnya, mereka diam. Durov menguap. Ia tahu diam itu bukan damai, hanya jeda. Ia tahu, kata-kata lebih tajam dari sembilu.

Di gang lain, ia menyaksikan seorang anak yang diseret ayahnya. Bukan pukulan yang paling membuat Durov menegang, melainkan cara sang ayah menepuk kepala anak itu setelahnya, seolah kekerasan bisa dibersihkan dengan gestur yang salah. Anak itu menangis tanpa suara. Hanya bibirnya yang bergetar. Durov mendekat, duduk. Mata mereka bertemu. Tangis itu berhenti sebentar, lalu kembali—lebih kecil, lebih rapi. Manusia pandai menyesuaikan diri, pikir Durov. Bahkan pada rasa sakit.

Ada malam ketika ia memanjat atap seng dan melihat seorang anak perempuan dipaksa duduk rapi. Rambutnya ditarik agar wajahnya lurus. Orang-orang dewasa berbicara tentang “masa depan” dengan nada yang terlalu cerah. Durov tidak mengerti kata-kata, tetapi ia mengerti bau: keringat, air mata yang ditahan, dan ketakutan yang disamarkan dengan bedak. Ia menjilat kaki depannya, merasa konyol karena tidak tahu harus berbuat apa selain menonton.

Suatu sore, di depan warung yang tutup setengah, Durov melihat seorang laki-laki menampar pacarnya. Bukan keras, tapi cukup untuk menandai kepemilikan. Perempuan itu tertawa setelahnya, tawa yang datang terlalu cepat. Durov mendesis. Laki-laki itu menendang kaleng ke arahnya. Kaleng itu bergulir, berbunyi nyaring. Semua tertawa. Dunia menganggap ini komedi.

Paling lama ia tinggal di depan sebuah rumah kontrakan yang mengingatkan pada rumah kontrakannya dulu. Di sana, suara-suara selalu bocor: piring beradu, kursi digeser, napas yang dipercepat. Malam itu, pertengkaran naik satu tingkat. Ada bentakan, ada tangisan. Durov duduk di ambang jendela, ekornya melingkar rapi, menatap ke dalam. Pukulan berhenti bukan karena penyesalan, melainkan karena kesadaran: ada yang melihat. Seorang saksi kecil berbulu oren. Keheningan jatuh tiba-tiba, seperti saklar dimatikan. Durov tidak pergi. Ia menatap sampai napas di dalam kembali teratur, sampai pintu ditutup perlahan, sampai dunia berpura-pura normal.

Kucing lain menganggap Durov aneh. Mereka bilang, manusia bukan urusan kucing. Makanan lebih penting. Wilayah lebih penting. Durov tidak membantah. Ia hanya terus mengamati. Ia tahu, manusia sering berhenti bukan karena berubah, tetapi karena ketahuan. Dan setelah itu, mereka belajar melakukan kekerasan dengan cara yang lebih sunyi.

Durov melanjutkan perjalanannya. Kampung kota mengajarinya bahwa tragedi sering tampil sebagai kebiasaan, dan kebiasaan paling berbahaya adalah yang tidak lagi dipertanyakan. Ia berjalan, membawa semua itu di tubuhnya—bukan sebagai luka, melainkan sebagai pengetahuan.

Durov tiba di gang depan menuju pertemuan yang tidak direncanakan. Tidak juga dihindari. Ia terjadi seperti banyak hal lain dalam hidupnya: sebagai konsekuensi dari kebiasaan kecil yang diulang tanpa sadar.

Ia duduk di atas benteng biasa. Ia nyaman tinggal lama-lama di sana. Bukan untuk mencari makan, meski ada harapan suatu hari Luna datang. Ia hanya mengikuti kebiasaan kecil yang berulang: berhenti di tempat yang tidak menuntut apa-apa. Hidupnya sering terjadi seperti itu—sebagai akibat, bukan rencana.

Pagi masih dingin. Sisa hujan membuat tanah licin dan bau besi bercampur lumpur naik dari sela-sela got. Gang ini menyimpan bau lama: plastik basah, sisa nasi, keringat manusia yang tertinggal di tembok.

Ray datang.

Durov mengenal bunyi langkahnya sebelum melihat tubuhnya. Tidak tergesa. Tidak mengendap. Langkah orang yang sedang mencoba menggerakkan hidup tanpa tahu untuk apa. Ray berhenti ketika melihatnya. Tidak kaget. Tidak mundur. Hanya berhenti—seolah langkah berikutnya perlu izin dari sesuatu yang tidak ia pahami.

Durov menatapnya balik.

Tubuhnya menegang, bukan untuk menyerang, tapi untuk mencatat. Jarak. Arah angin. Bau. Ray membawa bau sabun, bau pagi, dan bau kucing lain yang hidup di dalam rumah. Dua jenis. Durov tidak suka yang satunya. Tapi bau ini tidak datang dengan ancaman. Tidak ada klaim wilayah di dalamnya.

Ray menurunkan kantong plastik ke tanah, pelan. Terlalu pelan untuk manusia. Gerakan orang yang takut membuat kesalahan pada sesuatu yang tidak ia pahami. Durov turun dari benteng dan mendekat.

“Tenang,” Ray berkata.

Durov tidak mengerti kata itu. Kata-kata adalah bagian dari hidupnya lain. Tapi ia mengerti nadanya. Nada yang tidak ingin menang. Nada yang tidak ingin memiliki.

Ray jongkok, kaku. Menurunkan tubuh agar tidak terlihat besar. Manusia ini tahu sedikit tentang kucing—cukup untuk tidak sok tahu. Durov menghargai itu dengan tetap di tempatku.

Durov kembali menatap mata Ray.

Ray melihat bekas-bekas hidup di tubuhnya: telinga yang tidak utuh, bulu yang tumbuh tidak rata, tubuh yang ramping bukan karena disiplin, melainkan karena dunia tidak pernah menyediakan cadangan. Ray tidak menatap dengan iba. Durov sendiri benci iba. Iba selalu ingin mengubah sesuatu agar terlihat baik di mata yang melihat.

Suara motor lewat. Durov menoleh. Ray ikut menoleh. Mereka berbagi gangguan yang sama, lalu kembali ke posisi semula. Jarak mereka tidak berubah. Dunia jarang memberi keseimbangan seperti itu.

Ray mengeluarkan ponsel, memeriksa waktu. Seperti semua manusia, ia punya sesuatu yang menunggu. Durov tidak. Itu keunggulannya.

Ia melangkah ke samping, memberi ruang. Bukan mendekat. Bukan mengusir. Memberi ruang adalah bentuk sopan santun tertinggi yang jarang dimiliki manusia.

Ketika Ray melewatinya, jaraknya cukup dekat untuk saling mencium bau, cukup jauh untuk tidak saling menyentuh. Ray mencium bau hujan lama dan tanah yang tidak punya alamat. Durov mencium bau rumah—tempat yang tidak mengusir.

Ray pergi tanpa menoleh.

Durov tetap di situ beberapa detik. Dunia tidak berubah. Gang tetap sempit. Tempat sampah tetap miring. Tapi sesuatu telah dicatat.

Durov duduk. Mengendus makanan yang tadi disimpan Ray di tanah. Ada bau kucing lain di sana. Makanan ini masih bagus, tapi tak seenak makanan dari Luna. Ia mulai makan. Lahap.