Bab 19 Ingatan

Penulis Iman-ha
09 February 2026

Ingatan itu tidak pernah datang sebagai cerita utuh. Ia muncul seperti kilasan bau yang salah tempat—bau kertas lembap, suara kursi digeser, tawa yang datang terlambat. Durov tidak pernah benar-benar ingin mengingatnya, tapi ingatan itu tahu caranya sendiri untuk menyelinap, terutama ketika hidup sedang terlalu sunyi untuk disibukkan.

Kadang ia terbangun dari tidur siang dengan perasaan pernah memiliki tangan. Bukan tangan yang kuat, hanya tangan yang sering salah memegang sesuatu. Tangan yang menjatuhkan barang, yang ragu sebelum menyentuh, yang lebih sering menunda daripada bertindak. Ia tidak menyebut nama ingatan itu. Nama selalu membuat sesuatu terasa resmi, dan ia tidak ingin hidupnya kembali menuntut penjelasan.

Sejak lama, Durov menyadari satu hal: hidup sebagai kucing membuat banyak hal menjadi lebih sederhana, tapi tidak lebih mudah. Dunia tidak lagi meminta alasan. Dunia hanya meminta tubuhnya untuk hadir tepat waktu—atau tidak sama sekali.

Ia mulai memperhatikan kucing-kucing lain seperti ia dulu memperhatikan manusia. Dengan jarak. Dengan rasa ingin tahu yang tidak sepenuhnya simpatik.

Di kampung kota itu jumlah kucing tidak pernah tetap. Selalu ada yang datang, selalu ada yang hilang. Durov menghitung mereka tanpa niat menjadi akurat. Ia hanya ingin tahu seberapa cepat dunia lupa.

Ada kucing betina yang perutnya membesar sebelum musim hujan. Ada yang melahirkan di bawah kios tutup, di sela tumpukan karung beras kosong. Ada yang melahirkan di loteng rumah kontrakan, anak-anaknya jatuh satu per satu ketika mereka mulai belajar berjalan. Tidak semua jatuh mati. Tapi cukup banyak untuk membuat Durov berhenti menghitung dengan suara.

Ia bertemu anak-anak kucing yang matanya belum terbuka, bergerak seperti kesalahan kecil yang terus diulang. Ada yang mati karena dingin. Ada yang mati karena diinjak. Ada yang mati tanpa alasan yang bisa disebutkan. Dunia jarang memberi catatan kematian pada makhluk kecil.

Ia juga bertemu kucing-kucing yang bertahan. Yang tumbuh kurus tapi licin. Yang belajar mencuri tanpa merasa bersalah. Yang tahu kapan harus lari, kapan harus diam, dan kapan harus pura-pura mati. Kucing-kucing ini tidak punya ilusi tentang masa depan. Mereka hidup karena hari itu belum selesai.

Durov membandingkan mereka dengan kucing-kucing piaraan yang kadang ia lihat dari balik pagar. Bulu mereka tebal, berkilat. Mata mereka bulat, penuh waktu luang. Makanan datang pada jam yang sama setiap hari. Mereka tidak perlu tahu dari mana makanan itu berasal. Tidak perlu tahu berapa banyak kucing lain yang tidak kebagian.

Ada satu kucing Persia yang selalu duduk di balik kaca jendela, menatap keluar dengan ekspresi yang tidak bisa dipastikan: iri atau bosan. Durov menatapnya balik. Mereka saling menilai dari dua dunia yang sama-sama sempit, hanya berbeda harga.

Kadang Durov bertanya-tanya, jika dunia manusia punya istilah “kelas”, apakah kucing juga memilikinya. Ia tertawa kecil—atau setidaknya mengeluarkan suara yang mirip dengusan—karena tahu jawabannya sudah jelas. Kelas bukan diciptakan oleh bahasa, tapi oleh siapa yang diberi pilihan.

Ia mulai membayangkan kampung kota itu jika suatu hari penuh dengan kucing liar. Tidak ada manusia yang mengusir, tidak ada yang memberi makan. Hanya kucing-kucing yang terus lahir dan mati tanpa catatan. Kota akan tetap berdiri. Apartemen akan tetap tumbuh. Hanya bangkai-bangkai kecil yang akan mengering di sudut-sudut yang jarang dilihat.

Ia teringat mitos-mitos yang pernah didengarnya—atau dibacanya, entah kapan. Konon kucing akan mati setelah pemiliknya mati, seolah hidup mereka tidak punya izin sendiri. Konon kucing bisa membangkitkan mayat yang dilangkahinya, seolah mereka membawa sisa kuasa yang tidak disadari manusia.

Durov tidak percaya sepenuhnya. Tapi ia tahu manusia menyukai cerita yang memberi mereka posisi penting, bahkan dalam kematian. Ia tahu, mitos sering kali hanya cara lain untuk menunda tanggung jawab.

Ia membandingkan semua itu dengan manusia. Dengan cara manusia berkembang biak tanpa pernah benar-benar menghitung. Dengan cara manusia melahirkan anak-anak ke dunia yang sama sempitnya, lalu menyebutnya harapan.

Ingatan tentang hidupnya dulu sebagai manusia—sebagai Uyan—datang lebih sering ketika ia melihat kebodohan kecil. Ketika ia melihat seseorang menunda keputusan penting dengan alasan sepele. Ketika ia melihat seseorang berharap waktu akan mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dilakukan keberanian.

Uyan dulu juga begitu. Ia tahu itu, meski tidak ingin mengakuinya. Ia menunda bukan karena bodoh, tapi karena ambigu. Ambigu adalah cara paling sopan untuk tidak memilih. Ambigu memberi ilusi bahwa semua kemungkinan masih terbuka, padahal tubuh sudah diam di tempat.

Sebagai kucing, Durov tidak punya kemewahan itu. Dunia memaksanya memilih setiap hari: lari atau diam, makan atau tidak, bertahan atau jatuh. Tidak ada ruang untuk menunda tanpa konsekuensi.

Ironisnya, justru sebagai kucing ia menjadi lebih jujur.

Ia berhenti di atap seng, menatap kota yang berisik tapi tidak pernah mendengarkan dirinya sendiri. Ia melihat manusia berjalan cepat, seperti takut dikejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar muncul. Ia melihat mereka mengulang kesalahan yang sama dengan keyakinan baru.

Ia tahu, manusia suka percaya bahwa mereka berbeda dari generasi sebelumnya. Sama seperti kucing piaraan percaya bahwa kandang mereka adalah rumah.

Durov menjilat kakinya, merasakan bekas luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh. Luka itu tidak sakit. Ia hanya ada, seperti pengingat yang tidak meminta ditanggapi.

Ia bertanya-tanya apakah hidupnya sekarang adalah hukuman, atau justru pengampunan. Menjadi kucing berarti tidak perlu menjelaskan masa lalu. Tidak perlu membela diri. Tidak perlu membuktikan bahwa ia pernah berniat baik.

Kadang ia merasa rindu pada kekonyolan Uyan. Pada kesalahan-kesalahan kecil yang terasa penting saat itu. Pada keyakinan bahwa hidup selalu bisa diperbaiki nanti. Tapi rindu itu tidak datang dengan keinginan kembali. Ia hanya datang sebagai senyum pahit yang cepat hilang.

Ia melihat seekor anak kucing mati di selokan suatu pagi. Tidak ada upacara. Tidak ada nama. Durov duduk di dekatnya lebih lama dari yang diperlukan. Bukan karena sedih, tapi karena dunia terlalu cepat bergerak tanpa jeda.

Ia tahu, suatu hari ia juga akan mati seperti itu. Tanpa jejak. Tanpa cerita resmi. Dan anehnya, itu terasa lebih jujur daripada kebanyakan kematian manusia.

Malam turun pelan. Kampung kota kembali pada dengungnya. Durov berjalan, membawa semua pengamatan itu di tubuhnya—bukan sebagai beban, tapi sebagai cara memahami.

Ia tidak lagi berharap dunia berubah. Ia hanya berharap dunia sesekali berhenti cukup lama untuk dilihat.

Dan jika tidak, ia akan tetap di sana. Seekor kucing kampung yang berhenti, mengamati, dan mencatat—tanpa janji akan bertindak, tanpa ilusi bahwa melihat saja sudah cukup, tapi dengan kesadaran getir bahwa kadang, satu-satunya perbedaan antara manusia dan kucing hanyalah siapa yang diizinkan menunda.

Ia berhenti di depan genangan air hujan, menatap bayangannya. Sekilas, atau mungkin hanya pikirannya, wajah Dewi, Luna, dan Terra melintas.