Rumah kontrakan Luna dan keluarganya masih di kawasan stasiun. Dewi memutuskan tetap tinggal di sana. Mereka tetap berlangganan bunyi kereta, riuh lalu-lalang motor dan mobil, teriakan anak-anak yang bermain di gang sempit, sesekali diwarnai pertengkaran tetangga atau antara penghuni kontrakan.
Luna tahu alasan ibunya bertahan di rumah ini. Mencari rumah kontrakan baru memiliki risiko. Selain akan sulit mendapatkan harga yang sepadan, nilai strategisnya pun belum tentu setara. Di sini ibunya bisa pergi bekerja dengan jalan kaki. Di tempat baru belum tentu.
Setelah Uyan menghilang, rumah kontrakan ini tidak banyak berubah. Dinding rumah kontrakan tetap di tempatnya. Pintu masih bisa ditutup dan dibuka. Jam di ruang tengah masih berdetak, meski baterainya sempat mati dan diganti tanpa seremoni. Tidak ada satu pun benda yang sengaja disingkirkan untuk menandai kepergian seseorang.
Barang sehari-hari milik Uyan, ponsel, buku catatan, pakaian, brosur, buku-buku tentang investasi semua dirapikan dan disimpan di kamarnya. Dewi tidak tinggal di kamar tersebut dengan alasan cukup masuk akal: sejak Uyan pergi ia memiliki kebiasaan tidur sambil nonton televisi di sofa ruang tengah. Luna dan Terra punya tugas baru, mematikan televisi di saat ibu mereka sudah pergi ke alam mimpi.
Perubahan lain terjadi pada cara berjalan Luna dan Terra.
Luna berjalan pelan, seolah setiap langkah perlu izin. Ia terbiasa menghafal letak barang, bukan untuk kenyamanan, tetapi untuk memastikan tidak ada yang terganggu oleh keberadaannya. Meski begitu, ia sering salah meletakkan sesuatu—kunci yang disimpan di kulkas, catatan kecil yang terselip di buku lain—hal-hal remeh yang baru ia sadari setelah mencarinya terlalu lama. Terra berjalan cepat, langsung ke tujuan, tidak menyisakan jejak. Ia masuk kamar, keluar kamar, mengambil minum, mengunci pintu, semua dengan efisiensi yang nyaris mekanis.
Mereka tidur di kamar terpisah, meski pernah ada masa ketika mereka berbagi kasur lipat kecil dan saling menendang dalam tidur. Sekarang, dinding di antara mereka tipis, tetapi jarak yang sebenarnya jauh lebih tebal.
Pagi hari adalah waktu paling sunyi.
Dewi berangkat kerja lebih awal. Ia tidak membangunkan siapa pun dengan suara keras. Ia hanya memastikan kompor mati, pintu terkunci, dan lampu teras menyala. Ia meninggalkan catatan singkat jika perlu: “Uang di meja,” atau “Jangan lupa kunci.” Tidak pernah ada kalimat tanya.
Luna bangun lebih dulu. Ia menyiapkan air panas, membuat kopi instan dengan takaran yang sama setiap hari—meski sesekali lupa menuangkan gula lalu baru ingat setelah meneguk pertama. Ia duduk di meja makan sambil membuka laptop, membaca ulang materi kuliah atau lowongan kerja yang tidak selalu ia kirim lamaran. Ia berpakaian rapi, bukan untuk tampil, tetapi untuk merasa siap, meski kadang baru menyadari kemejanya terbalik kancingnya ketika sudah di luar rumah.
Terra bangun lebih siang. Ia tidak sarapan. Ia mengambil roti jika ada, memakannya sambil berdiri. Ponselnya selalu di tangan, bukan karena kecanduan, tetapi karena layar memberi jarak dari ruangan itu. Ia jarang duduk lama di satu tempat.
Mereka jarang berbicara di pagi hari. Jika pun ada kata yang keluar, biasanya bersifat teknis.
“Kamu pakai motor jam berapa?”
“Jam sepuluh.”
“Oke.”
Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Luna tahu, jika ia bertanya lebih jauh, ia harus siap menerima jawaban. Dan ia tidak yakin ingin itu. Terra tahu, jika ia menjelaskan lebih banyak, ia harus berhenti bergerak. Dan itu lebih sulit.
Malam hari berbeda.
Kadang mereka makan bersama, kadang tidak. Dewi tidak memaksa. Ia memasak secukupnya, tidak lebih. Sisa makanan disimpan, bukan untuk esok, tapi untuk kemungkinan. Rumah itu hidup dari kemungkinan, bukan rencana.
Suatu malam, listrik padam. Tidak lama, hanya beberapa menit. Tapi cukup untuk membuat rumah kembali pada bentuk awalnya: gelap dan tidak saling melihat.
Luna menyalakan senter ponsel. Cahaya kecil itu jatuh ke meja, ke kursi kosong, ke pintu kamar ayah yang kini selalu terkunci. Ibunya lebih suka tidur di ruang keluarga sambil menonton televisi. Kadang ibunya tidur di kamar Luna atau Terra.
Terra duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding, memainkan layar tanpa sinyal.
“Kamu ingat terakhir kali ayah di rumah?” tanya Luna, suaranya datar, seolah bertanya tentang jadwal bus.
Terra tidak langsung menjawab.
“Enggak,” katanya akhirnya. “Yang terakhir itu bukan ayah. Dan ada bau-bau yang aneh itu.”
Luna mengangguk. Ia tahu maksudnya. Sosok itu memang sudah lama berubah menjadi sesuatu yang lain. Tubuh yang sama, tapi tanpa fungsi. Suara yang ada, tapi tidak mengarahkan. Kehadiran yang tidak menenangkan.
“Kadang aku mikir,” kata Luna, “kehilangan itu kejadian. Tapi ini… kayak proses.”
Terra mematikan layar ponselnya. Gelap bertambah.
“Proses itu capek,” katanya. “Makanya aku lebih suka selesai.”
“Sudah selesai?” tanya Luna.
Terra mengangkat bahu. “Sudah cukup.”
Kalimat itu menggantung. Luna ingin bertanya apa arti “cukup”, tapi ia menahan diri. Ia tahu, bagi Terra, cukup berarti tidak perlu dibicarakan lagi. Sementara bagi Luna, cukup justru berarti belum tuntas.
“Kenapa kita tidak mencari kucing itu dan memeliharanya?” tiba-tiba Luna bertanya, seolah sedang menguji pendirian adiknya. “Siapa namanya?” “Durov.” “Aku tidak suka kucing. Namanya juga konyol.”
Luna tersenyum kecil. Ia tahu. Ia sendiri sering menyukai hal-hal dengan alasan yang sama—karena ada yang sedikit meleset di sana.
Ketika listrik menyala kembali, mereka kembali ke posisi semula. Percakapan berhenti tanpa penutup.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.
Luna kuliah. Ia duduk di barisan tengah, mencatat seperlunya. Kadang ia mencatat hal yang salah, lalu membiarkannya begitu saja, merasa tak semua kekeliruan perlu diperbaiki segera. Ia mengerjakan tugas tepat waktu, meski hampir selalu di detik terakhir. Ia bekerja paruh waktu di tempat yang tidak terlalu ramai, di kedai kopi yang kekurangan pelanggan, atau di taman yang sepi—pernah datang di hari yang salah, lalu tetap tinggal membantu, karena sudah terlanjur sampai.
Terra sekolah, lalu bekerja sambilan. Ia cepat belajar, terutama hal-hal praktis. Ia tahu cara menghindari pembicaraan yang tidak perlu. Ia tahu cara mengakhiri percakapan sebelum menjadi beban. Ia tahu cara membuat dirinya tidak terlihat bermasalah.
Orang-orang menyukai Terra karena itu. Ia tidak merepotkan. Luna tidak yakin apakah itu hal baik. Ia tahu, kerepotan kecil kadang justru yang membuat seseorang bertahan lebih lama.
Suatu sore, Luna pulang lebih cepat. Ia mendapati Terra duduk di ruang tamu, menatap kosong ke televisi yang tidak menyala. Ini jarang terjadi.
“Kamu kenapa?” tanya Luna.
“Capek,” jawab Terra.
Luna duduk di sebelahnya. Tidak terlalu dekat.
“Kamu pernah marah nggak?” tanya Luna pelan.
“Marah sama siapa?”
“Ya… ayah.”
Terra mengerutkan dahi. “Buat apa?”
Luna tidak menjawab. Ia tidak punya jawaban yang terdengar masuk akal. Marah, baginya, adalah bentuk perawatan terakhir. Jika marah hilang, maka yang tersisa hanya kosong.
“Aku nggak marah,” lanjut Terra. “Aku cuma nggak mau kayak dia.”
Kalimat itu jatuh keras, meski diucapkan tanpa emosi.
Luna mengangguk. Ia memahami. Tapi ia juga tahu, keinginan untuk tidak menjadi seseorang bisa sama beratnya dengan keinginan menjadi sesuatu.
Malam itu, Luna bermimpi tentang rumah yang pintunya selalu terbuka, tapi tidak ada yang masuk. Ia bangun dengan dada sesak, bukan karena takut, tetapi karena terlalu banyak yang tidak terjadi.
Terra bermimpi tentang lorong panjang dengan banyak pintu. Ia tidak membuka satu pun. Ia hanya berjalan sampai ujung dan bangun tanpa ingatan jelas.
Hari demi hari, perbedaan mereka semakin kentara. Luna menyimpan. Terra membuang. Luna menunda. Terra menyelesaikan. Luna bertanya ke dalam. Terra bergerak ke luar.
Namun keduanya sama-sama membawa satu hal yang tidak pernah mereka ucapkan: ketidakhadiran ayah yang tidak pernah diberi penjelasan, tidak pernah diberi penutup.
Uyan tidak meninggalkan pesan. Tidak ada surat. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada petunjuk. Hilang begitu saja. Dan kehilangan seperti itu tidak menciptakan duka yang rapi. Ia menciptakan kebiasaan.
Pada suatu titik, Luna menyadari bahwa ia tidak lagi mengingat suara ayahnya dengan jelas. Ia ingat sikap, ingat bau, ingat cara duduk. Tapi suara itu mengabur. Ini membuatnya panik. Ia mencoba mengingat, tapi semakin diingat, semakin jauh.
Terra tidak mencoba mengingat. Ia menganggap lupa sebagai bagian dari hidup. Baginya, ingatan yang bertahan adalah yang berguna.
Suatu malam, Dewi pulang terlambat. Ia duduk di meja makan tanpa membuka tas. Luna dan Terra ikut duduk, tanpa diminta.
“Kalian capek?” tanya Dewi.
“Biasa,” jawab Terra.
“Iya,” jawab Luna.
Dewi mengangguk. Tidak ada percakapan lanjutan. Tapi ada sesuatu di udara yang berbeda. Mungkin kelelahan kolektif. Mungkin usia.
“Kalian tahu,” kata Dewi akhirnya, “hidup itu nggak selalu butuh penjelasan.”
Luna menunduk. Terra menatap lurus.
“Tapi butuh arah,” lanjut Dewi.
Kalimat itu tidak ditujukan pada siapa pun secara spesifik. Tapi keduanya mendengarnya sebagai pesan.
Malam itu, Luna menulis di buku catatannya: Ada kehilangan yang tidak bisa disedihkan, hanya dijalani.
Terra menutup ponselnya lebih awal dari biasanya. Ia memikirkan kalimat Dewi, lalu membiarkannya lewat.
Mereka tidur di kamar masing-masing. Kecuali Dewi yang mulai merebahkan diri di sofa. Ia lelah, kali ini tidur tanpa menyalakan televisi terlebih dahulu. Rumah itu kembali sunyi.
Di rumah itu dua anak perempuan tumbuh dengan cara berbeda, membawa luka yang sama dalam bentuk yang tidak serupa.
Sementara dunia terus bergerak. Orang-orang bertemu, berpisah, jatuh cinta, kehilangan uang, mendapatkan pekerjaan. Pasar naik dan turun. Berita datang dan pergi.
Dan di tempat lain, Durov berjalan di malam hari, tidak tahu bahwa tubuh yang dulu menjadi pusat rumah itu kini belajar bertahan di dunia yang sama-sama tidak memberi penjelasan. Kehidupan terus berjalan dengan cara yang tidak meminta izin pada siapa pun.