Ancaman Nenek Sumirah menggantung di udara, berat dan menyesakkan seperti asap kemenyan yang mengepung pendopo. Suara seretan langkah dari dalam rumah-sret... sret...-makin terdengar nyaring, seolah sesuatu yang besar sedang menyeret tubuhnya mendekati pintu penyekat ruang tengah.
Andi mencengkeram parangnya erat-erat. Urat-urat hijau menonjol di punggung tangannya yang gemetar. "Kami tidak akan memakan ini, Mbah. Ini bukan makanan."
Sumirah tidak berkedip. Matanya yang keruh menatap Andi, lalu beralih ke Maya. Senyum di wajah tuanya perlahan memudar, digantikan ekspresi datar yang jauh lebih mengerikan.
"Menolak jamuan sama dengan menolak perlindungan," suaranya lirih, namun tajam menusuk telinga. "Tanah ini butuh pengakuan, Ndhuk. Kalau kalian tidak makan, berarti kalian menawarkan diri sebagai... pengganti."
Maya merasakan perutnya bergejolak. Aroma anyir dari gelas berisi cairan merah itu menguar, bercampur dengan bau melati busuk yang seolah menempel di dinding-dinding kayu pendopo. Ia tahu mereka tidak bisa melawan wanita tua ini secara fisik. Sumirah bukan manusia biasa; kebersihan kain jariknya di tengah lumpur desa adalah bukti yang cukup.
"Saya... saya mual, Mbah," Maya bersuara, menahan getaran di lidahnya. Ia memegangi perut, berpura-pura kesakitan. "Perjalanan tadi... baunya... saya butuh istirahat sebentar sebelum makan."
Itu bukan sepenuhnya bohong. Kepalanya pening luar biasa.
Sumirah menatapnya lama. Tatapan itu seolah menguliti Maya, mencari kebohongan di balik matanya. Detik terasa melambat. Suara napas basah grok... grok... dari balik pintu semakin jelas.
Akhirnya, wanita tua itu mengangguk pelan.
"Kamar ibumu di sebelah barat. Masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berani masuk," kata Sumirah. Ia menunjuk dengan dagunya ke arah pintu samping yang terhubung dengan selasar. "Istirahatlah. Tapi ingat, sebelum tengah malam, piring ini harus kosong."
Tanpa menunggu perintah dua kali, Maya menarik lengan Andi. Pemuda itu tampak ingin membantah, tapi remasan tangan Maya memaksanya diam. Mereka mundur perlahan, tidak berani memunggungi Sumirah sepenuhnya, hingga mencapai pintu samping.
Begitu mereka melewati ambang pintu dan masuk ke lorong gelap menuju kamar barat, hawa dingin langsung menyergap. Bukan dingin angin malam, melainkan dingin yang lembap dan diam. Seperti masuk ke dalam lemari pendingin mayat yang sudah lama mati listriknya.
"May, kita harus keluar dari sini," bisik Andi mendesak. Senter di tangannya menyapu dinding kayu yang berlumut.
"Lewat mana, Ndi? Hutan itu muter-muter. Jalan satu-satunya cuma nunggu pagi atau cari tahu apa yang sebenarnya terjadi," balas Maya setengah berbisik. Ia mendorong pintu kamar ibunya.
Pintu kayu jati itu terbuka dengan derit panjang yang menyakitkan telinga.
Krieeet...
Debu tebal beterbangan saat cahaya senter Andi membelah kegelapan kamar. Ruangan itu luas, namun terasa sempit karena penuh barang. Sebuah ranjang besi tua dengan kelambu yang sudah menguning berdiri di tengah. Lemari pakaian dari kayu jati setinggi tiga meter berdiri kokoh di sudut, ukirannya berbentuk ular naga yang melilit.
Tidak ada jendela yang terbuka. Udara di sini apek, campuran bau kertas tua, kamper, dan lagi-lagi... aroma melati yang samar.
"Kunci pintunya," perintah Maya.
Andi segera medorong slot besi berkarat di pintu. "Ini nggak bakal nahan apa pun kalau makhluk di pendopo tadi mau masuk."
"Setidaknya kita dengar kalau ada yang buka."
Maya berjalan mendekati meja rias tua di samping ranjang. Cerminnya sudah retak seribu, memantulkan bayangan dirinya menjadi kepingan-kepingan acak yang mengerikan. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan benda yang sejak tadi terasa panas membakar pahanya.
Buku harian bersampul kulit hitam.
"Apa itu?" tanya Andi, mendekatkan senternya.
"Diari Ibu. Aku menemukannya di laci rahasia sebelum kita kabur tadi," jawab Maya cepat. Tangannya gemetar saat membuka sampul kulit yang terasa licin-seperti kulit manusia yang disamak.
Halaman-halaman awal berisi tulisan tangan ibunya yang rapi. Catatan belanja, resep masakan, hal-hal normal. Namun, begitu Maya membalik ke bagian tengah-bertanggal sekitar dua puluh lima tahun lalu-tulisan itu berubah. Goresannya kasar, ditekan kuat hingga kertasnya nyaris sobek. Tinta hitam itu tampak seperti cakar ayam yang ditulis dalam kepanikan.
Maya mendekatkan buku itu ke sorot senter.
14 Oktober 1999 Mereka datang lagi malam ini. Panen gagal total. Bapak panik. Dia bilang tidak ada jalan lain selain membuka "lumbung" lama.
Maya membalik halaman lagi. Jantungnya berpacu lebih cepat dari jarum jam.
17 Oktober 1999 Aku melihatnya. Di bawah Beringin Kembar. Sumirah memimpinnya. Mereka tidak menyembelih kambing. Mereka tidak membawa hasil bumi. Mereka membawa bungkusan kain jarik. Kecil. Seukuran bayi. Bapak menyebut nama itu. Dia bilang kita terikat dengan SEKUTU HITAM.
"Sekutu Hitam..." desis Maya membaca tulisan itu. Istilah itu terasa asing namun familiar, seolah pernah dibisikkan dalam mimpi buruknya.
"Apa artinya?" tanya Andi. Wajahnya pucat, keringat dingin mengalir di pelipis.
"Baca ini," Maya menunjuk paragraf berikutnya.
Perjanjiannya mutlak. Sekutu Hitam tidak meminta uang. Mereka meminta wadah. Setiap dua puluh lima tahun, saat Weton-ku tiba, pintu itu terbuka lebar. Desa ini makmur karena mereka memakan apa yang kita berikan. Dan sekarang... Bapak menunjukku sebagai Penjaga selanjutnya.
Maya berhenti napas. Weton ibunya. Besok malam.
"Malam puncak..." gumam Andi, matanya terbelalak ngeri. "Yang dibilang Sumirah tadi. Besok malam adalah siklus dua puluh lima tahunan itu."
"Ibu kabur untuk melindungiku," suara Maya bergetar, air mata menggenang di pelupuknya. "Dia tidak mati karena sakit, Ndi. Dia..."
BRAKK!
Suara hantaman keras terdengar dari arah lemari jati di sudut ruangan.
Maya dan Andi tersentak mundur. Senter Andi menyorot liar ke arah lemari. Pintu lemari itu tertutup rapat, tapi suaranya terdengar seolah ada orang yang memukul dari dalam.
"Ndi..." Maya mundur hingga punggungnya menabrak meja rias.
Dug... Dug... Dug...
Bunyi itu beraturan. Pelan. Seperti ketukan jari yang meminta izin keluar.
"Jangan dibuka," bisik Andi, mengangkat parangnya.
Tapi bukan pintu lemari yang terbuka.
Perlahan, dari celah di bawah pintu lemari, merembes cairan kental berwarna hitam pekat. Cairan itu bergerak tidak seperti air, melainkan seperti lumpur hidup yang merayap di lantai kayu, mengarah lurus ke kaki Maya.
Bau ruangan berubah drastis. Aroma apek berganti dengan bau anyir darah yang begitu kuat hingga Maya harus menutup hidung.
"Sekutu Hitam..." Maya membaca baris terakhir di halaman yang terbuka itu dengan suara tercekat.
Jangan pernah tatap mata mereka. Jangan pernah biarkan mereka tahu kamu melihatnya.
Cairan hitam itu mulai naik, membentuk gumpalan yang meninggi. Di tengah remang cahaya senter yang mulai berkedip-kedip sekarat, gumpalan itu membentuk siluet. Kecil. Bungkuk
Dan dari dalam lemari, terdengar suara tawa anak kecil. Cekikikan yang ganjil, bergema seolah berasal dari dasar sumur yang dalam.
"Hihihi... Kakak sudah pulang..."
Senter Andi mati total.
Gelap gulita menelan mereka. Hanya suara napas Andi yang memburu dan suara sesuatu yang merayap naik ke atas tempat tidur di sebelah Maya yang terdengar.
Lalu, sebuah tangan dingin, kecil, dan basah, mencengkeram pergelangan kaki Maya.
"Sudah waktunya makan, Kak..."