Air Kantil dan Darah Warisan

Penulis djoedo
09 February 2026

"Sudah kubilang, Ndhuk."

Suara serak itu merayap dari balik batang jati, memecah ritme napas Maya yang berantakan.

"Tamu adalah raja. Tidak sopan pergi sebelum perjamuan dimulai."

Andi memukul-mukul senternya yang mati total ke telapak tangan. Sia-sia. Benda itu tetap dingin, menyisakan mereka dalam kegelapan hutan yang hanya diterangi bias pucat bulan dari sela tajuk pohon. Namun, kegelapan itu tak berlangsung lama. Sebuah nyala api kecil-pemantik minyak kuno-menyala perlahan, menampilkan wajah keriput yang terapung di kegelapan.

Di sana, Nenek Sumirah berdiri.

Sosok renta tersebut tidak tampak menakutkan layaknya lelembut hutan yang baru saja meneror mereka. Ia mengenakan kebaya beludru hitam yang licin, jarik batik cokelat tua, dan selendang merah tersampir di bahu. Wajahnya dihiasi senyum ramah, tipe senyum yang biasa menyambut cucu saat lebaran.

Namun, ada yang salah.

Di tengah hutan yang becek sisa hujan dan penuh lumpur, ujung kain jariknya bersih. Tanpa noda. Tak ada percik tanah. Tak ada lecet. Seolah ia tidak memijak bumi, melainkan melayang satu milimeter di atasnya.

"Jangan mendekat!" bentak Andi. Suaranya pecah. Ia mengacungkan parang berkarat dengan tangan gemetar, membuat bayangan logam itu bergoyang di bawah temaram api pemantik Sumirah.

Maya mundur hingga punggungnya menabrak kulit pohon jati yang kasar dan berlendir. Napasnya tercekat. Bau anyir darah dari bibirnya yang tergigit kini bercampur dengan aroma baru yang dibawa Sumirah-wangi bunga melati yang terlalu matang, membusuk, manis menusuk hingga memicu mual, berpadu dengan asap kemenyan pekat.

"Simpan mainanmu itu, Le," kekeh Sumirah. Suaranya kering, persis gesekan daun jati mati di aspal panas. Ia melangkah maju. Suara tongkat kayunya menghantam tanah basah dengan irama ganjil.

Tok... jeda panjang... Tok...

"Kubilang mundur!" Andi nekat maju selangkah, pasang badan melindungi Maya.

Sumirah berhenti. Senyumnya melebar, memamerkan deretan gigi hitam sepah sirih. Matanya, yang dalam remang api terlihat keruh bagai air cucian beras, menatap lurus ke arah Andi. Bukan tatapan marah. Itu tatapan orang dewasa yang melihat balita sedang merajuk.

"Parang karatan begitu tidak akan mempan untuk mereka," ujar Sumirah santai. Dagunya menunjuk kegelapan di belakang punggung Andi.

Maya menoleh cepat. Jantungnya serasa melompat keluar.

Sosok-sosok yang tadi mengejar-sinden dengan leher patah, wanita penampi beras, bayangan tanpa kepala-kini berdiri diam di batas pandangan. Mereka tidak menyerang. Hanya mematung di antara pepohonan, laksana prajurit menunggu titah komandan. Si sinden memiringkan kepalanya yang terbalik, menatap Maya dengan rongga mata kosong, lalu perlahan mundur, melebur kembali ke dalam batang pohon.

"Di Tanah Panas ini, kalau tidak ada yang ngemong, kalian cuma jadi camilan," lanjut Sumirah. Nadanya datar, tapi sanggup membuat bulu kuduk Maya meremang seketika. "Ayo. Makanan sudah dingin. Pamali menolak rezeki."

"Kami mau pulang," cicit Maya. Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh desau angin yang tiba-tiba menderu di tajuk pohon.

"Pulang?" Sumirah tertawa kecil. "Lha ini kan rumahmu, Ndhuk. Omahmu dhewe."

Perempuan tua itu berbalik, memunggungi mereka tanpa rasa takut. Ia berjalan pelan menuju lumbung padi yang samar-samar terlihat di ujung jalan setapak, yakin seratus persen bahwa Maya dan Andi akan mengekor.

Dan memang, mereka tak punya pilihan.

Jalan aspal sudah hilang ditelan kabut. Hutan ini hidup, memutar balik langkah, menyesatkan logika. Satu-satunya "jalan keluar" yang nyata hanyalah punggung bungkuk wanita itu.

"May..." Andi menoleh, wajahnya pucat pasi. Keringat dingin membasahi pelipis. "Kita nggak bisa lari ke sana lagi."

Maya mengangguk kaku. Kakinya terasa berat, seolah tanah liat di bawahnya berubah menjadi tangan-tangan kecil yang menahan langkah. Buku harian ibunya terasa panas di balik saku jaket. "Kita ikut dia. Tetap di belakangku, Ndi."

Mereka melangkah keluar dari naungan pohon jati, mengekor Sumirah menuju desa.


Begitu kaki Maya menyentuh jalan tanah desa, atmosfer berubah drastis.

Suara jeritan dan tawa cekikikan di hutan tadi lenyap seketika, digantikan oleh sunyi yang menekan gendang telinga. Mutlak.

Desa Kalimati seolah berhenti bernapas. Waktu seakan membeku di tahun yang salah.

Tak ada suara jangkrik. Tak ada gonggongan anjing. Bahkan angin pun segan bertiup di antara rumah-rumah joglo tua yang berjajar rapat. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari sentir-lampu minyak kecil-yang tergantung di setiap beranda rumah, memancarkan cahaya oranye temaram yang nyaris mati.

Saat melewati deretan rumah itu, Maya merasakan ribuan mata mengawasi.

Di balik jendela kayu yang terbuka setengah, bayangan penduduk desa berdiri tegak. Mereka tidak melakukan apa-apa. Tidak mengobrol, tidak merokok, tidak duduk santai. Mereka hanya berdiri dalam kegelapan rumah masing-masing, menatap keluar.

Mata mereka memantulkan cahaya obor Sumirah sesaat-kilatan putih kosong-sebelum kembali gelap.

Di salah satu teras, seorang ibu menggendong bayi. Bayi itu tidak menangis. Diam total dengan mata melotot ke arah jalan. Sang ibu menatap Maya, lalu kepalanya berputar pelan mengikuti langkah mereka. Gerakannya kaku, patah-patah, seperti boneka kayu yang engsel lehernya kurang minyak.

Krek. Krek.

"Kenapa mereka diam saja?" bisik Andi, suaranya bergetar hebat. Ia mencengkeram lengan Maya sampai sakit.

"Jangan dilihat," desis Maya. Ia ingat aturan lama ibunya. "Jangan balas tatapan mereka."

Bau melati busuk itu makin menyengat saat mereka tiba di pekarangan rumah besar milik Maya. Pintu gapura terbuka lebar. Di pendopo luas, lampu-lampu minyak telah dinyalakan, menciptakan bayangan tiang penyangga yang memanjang seperti jeruji penjara di lantai tegel.

Sumirah sudah menunggu di tangga pendopo.

"Cuci kaki dulu di gentong," perintahnya, menunjuk tempayan tanah liat besar di samping tangga. Air di dalamnya hitam pekat. Ada beberapa kelopak bunga kantil layu mengapung di sana.

Maya ragu. Air itu baunya amis, seperti bekas cucian daging mentah.

"Syarat masuk rumah, Ndhuk. Biar yang 'nempel' di hutan tadi tidak ikut masuk," desak Sumirah. Matanya menyipit tajam, tak menerima penolakan.

Dengan tangan gemetar, Maya menciduk air dengan gayung batok kelapa. Dingin. Menusuk tulang. Bukan dingin air sumur, tapi dingin kamar mayat. Saat air membasuh kulit, rasanya lengket, berminyak.

Mereka naik ke pendopo. Di tengah ruangan, tikar pandan telah digelar. Di atasnya, tersaji berbagai macam makanan di atas tampah. Nasi tumpeng kecil, ayam ingkung utuh yang pucat, jajan pasar, dan teko gerabah.

"Duduk," titah Sumirah. Ia sendiri bersimpuh dengan luwes, seolah sendi-sendi tuanya tidak bermasalah.

Andi dan Maya duduk berseberangan dengan tetua desa itu. Jarak mereka hanya terpisah oleh tampah makanan yang aromanya membingungkan indra-campuran sedap bumbu kuning dan bau apek sisa jasad tikus.

"Ibumu..." Sumirah memulai, tangannya sibuk meracik sirih pinang. "Ratna itu anak yang keras kepala. Sudah kubilang, lari sejauh apa pun, darah itu ingat jalan pulang."

Maya memberanikan diri menatap wajah keriput di depannya. "Ibu saya meninggal karena sakit, Mbah. Bukan karena kutukan atau apa pun yang Mbah percaya."

Sumirah tertawa lagi. Kali ini tawanya basah, diiringi suara batuk kecil. Ia meludah ke dalam tempolong kuningan di sampingnya. Cairan merah pekat keluar dari mulut.

"Sakit?" Bibir Sumirah melengkung ganjil, menampakkan gigi yang merah menyala. "Apa dokter di Jakarta bisa menjelaskan kenapa rambut ibumu rontok satu persatu setiap malam Jumat Kliwon? Atau kenapa dia muntah rambut sebelum napasnya putus?"

Darah Maya berdesir.

Bagaimana wanita tua di desa terpencil tanpa sinyal telepon ini tahu detail kematian ibunya? Soal muntahan rambut itu bahkan tidak ia ceritakan pada Andi. Itu rahasia kamar mayat.

"Siapa Mbah sebenarnya?" tanya Maya, nadanya menajam. Tangan kanannya meraba saku, menyentuh sampul kulit buku harian ibunya sebagai pegangan mental.

Sumirah tidak menjawab. Ia justru menyodorkan piring berisi ayam ingkung ke hadapan Maya. Ayam itu utuh, lengkap dengan kepala dan ceker yang menekuk aneh. Kulit ayam itu pucat, dingin, dan berlendir.

"Makan," perintah Sumirah lembut, tapi nadanya mengandung ancaman. "Kalian butuh tenaga. Besok malam adalah malam puncak. Weton ibumu. Kita harus siap-siap."

"Siap-siap untuk apa?" sambar Andi curiga.

Tiba-tiba, dari arah ruang dalam rumah-ruang utama yang gelap gulita di belakang punggung Sumirah-terdengar suara.

Sret... Sret...

Suara seretan berat di atas lantai kayu. Pelan. Berirama. Disertai suara napas berat yang berair, seperti penderita asma yang paru-parunya penuh lendir.

Groook... hhh... Groook...

Maya membeku. Matanya terpaku pada pintu kayu ukir di belakang Sumirah yang sedikit terbuka. Gelap di sana tampak lebih pekat dari malam biasa.

"Untuk menyambut yang punya rumah sebenarnya," bisik Nenek Sumirah. Pupil matanya membesar, hitam legam nyaris menelan seluruh bagian putih bola matanya.

Ia mencondongkan tubuh ke depan, aroma kemenyannya mencekik udara.

"Habiskan makanannya. Jangan sampai ada sisa. Kalau tidak..." Sumirah melirik sekilas ke arah pintu gelap di belakangnya, "...nanti Dia yang akan menghabiskan kalian."