"Sudah kubilang, Ndhuk," suara serak Nenek Sumirah merayap dari celah batang jati, seakan hutan ini sendiri yang berbicara. "Tamu adalah raja. Tidak sopan pergi sebelum perjamuan dimulai."
Cahaya senter di tangan Andi menyapu liar, membelah kabut tebal yang turun mendadak menyelimuti Tanah Panas. Sinar putih itu bergetar, lalu jatuh pada satu titik di antara dua pohon jati raksasa.
Di sana, sosok tersebut berdiri.
Nenek Sumirah tidak tampak mengerikan seperti lelembut hutan-bukan sinden tanpa wajah atau wanita berahang robek yang baru saja meneror mereka. Wanita tua ini mengenakan kebaya beludru hitam model kutu baru yang licin, jarik batik cokelat tua, dan selendang merah tersampir di bahu. Wajah penuh kerutan itu menyunggingkan senyum ramah, jenis senyum yang biasa menyambut cucu saat mudik lebaran.
Namun, ada yang salah. Di tengah hutan becek penuh lumpur sisa hujan, ujung kain jariknya bersih. Tanpa noda. Tanpa cipratan tanah. Seakan telapak kakinya tidak memijak bumi, melainkan mengambang semilimeter di atasnya.
"Jangan mendekat!" bentak Andi. Suaranya pecah, separuh mengancam, separuh putus asa. Parang berkarat di tangannya teracung. Lengan pemuda itu gemetar hebat, membuat bayangan bilah tajam di tanah bergoyang bak pendulum lonceng kematian.
Maya mundur selangkah. Punggungnya menabrak batang jati yang dingin dan berlendir. Napas tercekat di tenggorokan, perih dan dangkal. Bau anyir darah dari bibir yang tergigit bercampur dengan aroma yang dibawa Sumirah-wangi bunga melati yang terlalu matang, manis membusuk, berpilin dengan asap kemenyan pekat.
"Simpan mainanmu itu, Le," kekeh Sumirah. Suaranya kering, persis gesekan daun jati mati. Ia melangkah maju. Suara tongkat kayunya menghantam tanah basah dengan irama ganjil. Tok... jeda panjang yang menyiksa... Tok...
"Kubilang mundur!" Andi nekat maju, pasang badan melindungi Maya.
Sumirah berhenti. Senyumnya melebar, memamerkan deretan gigi hitam sepah sirih. Matanya, yang di bawah sorot senter tampak keruh laksana air cucian beras HUMAN_SIGNAL A highly specific, domestic simile rooted in Indonesian daily life, distinct from AI's tendency to use 'cloudy' or 'murky'. , menatap lurus ke arah Andi. Bukan tatapan marah, melainkan tatapan orang dewasa yang melihat balita sedang merajuk.
"Parang karatan begitu tidak akan mempan untuk mereka," ujar Sumirah santai. Dagunya menunjuk kegelapan di belakang punggung Andi dan Maya.
Maya menoleh cepat. Jantungnya serasa melompat.
Sosok-sosok yang tadi mengejar mereka-sinden leher patah, wanita penampi beras, bayangan tanpa kepala-kini mematung di batas cahaya senter. Tidak menyerang. Hanya diam di antara pepohonan layaknya prajurit menunggu titah komandan. Sinden itu memiringkan kepalanya yang terbalik, menatap Maya dengan rongga mata kosong, lalu perlahan mundur, melebur kembali ke dalam batang pohon seolah terhisap kegelapan.
"Di Tanah Panas ini, kalau tidak ada yang ngemong, kalian cuma jadi camilan," lanjut Sumirah. Nadanya datar, namun sukses membuat bulu kuduk Maya meremang hebat. "Ayo. Makanan sudah dingin. Pamali menolak rezeki."
"Kami mau pulang," cicit Maya. Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh desau angin yang tiba-tiba menderu di tajuk pohon.
"Pulang?" Sumirah tertawa kecil. "Lha ini kan rumahmu, Ndhuk. Omahmu dhewe."
Wanita tua itu berbalik, memunggungi mereka tanpa takut sedikit pun. Berjalan pelan menuju lumbung padi yang samar-samar terlihat di ujung jalan setapak, yakin sepenuhnya bahwa Maya dan Andi akan mengekor.
Dan memang, pilihan lain sudah tertutup. Jalan aspal lenyap. Hutan ini hidup, memutar balik arah mata angin. Satu-satunya "jalan keluar" nyata hanyalah punggung bungkuk wanita tua tersebut.
"May..." Andi menoleh. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipis. "Kita nggak bisa lari ke sana lagi."
Maya mengangguk kaku. Kaki terasa berat, seolah tanah liat di bawahnya berubah menjadi tangan-tangan kecil yang mencengkeram pergelangan kaki. "Kita ikut dia. Tetap di belakangku, Ndi. Jangan lepas pegangan."
Mereka melangkah keluar dari naungan jati, mengekor Sumirah menuju desa.
Begitu kaki Maya menyentuh jalan tanah desa, atmosfer berubah drastis. Jeritan dan tawa cekikikan di hutan lenyap seketika, digantikan kesunyian yang menekan gendang telinga.
Desa Kalimati seolah berhenti bernapas. Waktu seperti membeku di tahun 80-an.
Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada gonggongan anjing. Bahkan angin pun segan bertiup di antara rumah-rumah joglo tua yang berjajar rapat. Satu-satunya sumber penerangan berasal dari sentir-lampu minyak kecil-yang tergantung di setiap beranda, memancarkan cahaya oranye temaram yang nyaris mati. Sinyal ponsel di saku Maya sudah lama mati total; layar hitam itu kini tak lebih berguna dari sebongkah batu.
Saat mereka melewati deretan rumah, Maya merasakan ribuan mata mengawasi.
Di balik jendela kayu yang terbuka setengah, bayangan penduduk desa berdiri tegak. Tidak ada aktivitas. Tidak mengobrol, tidak merokok, tidak duduk santai. Mereka hanya berdiri di dalam kegelapan rumah masing-masing, menatap keluar.
Mata mereka memantulkan cahaya senter Andi sesaat-kilatan putih kosong-sebelum kembali gelap. Di satu teras, seorang ibu menggendong bayi. Bayi itu tidak menangis, diam total dengan mata melotot. Sang ibu menatap Maya, kepalanya berputar pelan mengikuti langkah mereka. Gerakannya kaku, patah-patah seperti boneka kayu yang engsel lehernya kurang minyak.
Ada distorsi yang membuat perut Maya mual. Lengan ibu itu tampak sedikit terlalu panjang, jari-jarinya menekuk pada sudut yang tidak wajar saat mendekap bayinya.
"Kenapa mereka diam saja?" bisik Andi, suaranya bergetar. Cengkeramannya di lengan Maya menguat hingga menyakitkan.
"Jangan dilihat," desis Maya, teringat pantangan yang pernah didengarnya samar-samar saat kecil. "Jangan balas tatapan mereka."
Bau melati busuk makin menyengat saat mereka tiba di pekarangan rumah besar milik Maya-warisan terkutuk yang seharusnya ia jual. Pintu gapura terbuka lebar. Di pendopo luas, lampu-lampu minyak telah dinyalakan, menciptakan bayangan tiang penyangga yang memanjang di lantai tegel seperti jeruji penjara.
Sumirah sudah menunggu di tangga pendopo.
"Cuci kaki dulu di gentong," perintahnya sambil menunjuk gentong tanah liat besar di samping tangga. Air di dalamnya hitam pekat, memantulkan bulan yang tertutup awan. Beberapa kelopak bunga kantil layu mengapung di permukaan.
Maya ragu. Air tersebut berbau anyir, mirip air bekas cucian daging sapi.
"Syarat masuk rumah, Ndhuk. Biar yang 'nempel' di hutan tadi tidak ikut masuk," desak Sumirah. Matanya menyipit tajam, mendesak.
Dengan tangan gemetar, Maya menciduk air menggunakan gayung batok kelapa. Dingin menusuk tulang, seolah menyiramkan es cair ke kakinya yang berlumpur. Saat air membasuh kulit, sensasinya bukan segar, melainkan lengket. Seperti ada lapisan minyak yang kini membungkus pori-pori kulitnya.
Mereka naik ke pendopo. Di tengah ruangan, tikar pandan telah digelar. Di atasnya tersaji berbagai macam makanan di atas tampah. Nasi tumpeng kecil, ayam ingkung utuh yang pucat, jajan pasar, dan segelas besar cairan kental berwarna merah tua.
Kopi? Atau...
"Duduk," titah Sumirah. Ia sendiri bersimpuh dengan luwes, sendi-sendi tuanya seolah tak bermasalah menekuk ekstrem.
Andi dan Maya duduk berseberangan dengan tetua desa itu. Jarak mereka hanya terpisah tampah makanan yang aromanya mengacaukan indra-campuran sedap bumbu kuning dan bau bangkai tikus yang samar.
"Ibumu..." Sumirah memulai. Tangannya mengambil daun sirih, mulai meracik kinang di telapak tangan. "Ratna itu anak keras kepala. Sudah kubilang, lari sejauh apa pun, darah itu ingat jalan pulang."
Maya memberanikan diri menatap wajah keriput di depannya. "Ibu saya meninggal karena sakit, Mbah. Bukan karena kutukan atau apa pun yang Mbah percaya."
Sumirah tertawa lagi. Kali ini tawanya basah, diiringi suara batuk kecil dari dalam dada yang ringkih. Ia meludah ke dalam tempolong kuningan di sampingnya. Cairan merah pekat keluar dari mulut.
"Sakit?" Sumirah tersenyum miring, menampakkan gigi yang merah menyala. "Apa dokter di Jakarta bisa menjelaskan kenapa rambut ibumu rontok satu persatu setiap malam Jumat Kliwon? Atau kenapa dia muntah gumpalan rambut basah sebelum napasnya putus?"
Darah Maya berdesir hebat. Tubuhnya kaku. Bagaimana wanita tua di desa terpencil tanpa sinyal ini tahu detail kematian ibunya di Jakarta? Soal muntahan rambut itu... bahkan Andi pun belum tahu. Itu rahasia yang ia simpan rapat.
"Siapa Mbah sebenarnya?" tanya Maya. Suaranya menajam, menutupi ketakutan yang menjalar.
Sumirah tidak menjawab. Ia justru menyodorkan piring berisi ayam ingkung ke arah Maya. Ayam itu utuh, lengkap dengan kepala dan ceker yang menekuk aneh. Kulitnya pucat, dingin, dan berlendir.
"Makan," perintah Sumirah lembut, tapi nadanya mutlak. "Kalian butuh tenaga. Besok malam adalah malam puncak. Weton ibumu. Kita harus siap-siap.
"Siap-siap untuk apa?" sambar Andi curiga.
Tiba-tiba, dari arah ruang dalam-ruang utama yang gelap gulita di belakang punggung Sumirah-terdengar suara itu.
Sret... Sret...
Suara seretan berat di atas lantai kayu. Kali ini lebih dekat. Lebih jelas. Disertai napas berat yang berair, terdengar seperti penderita asma yang paru-parunya dipenuhi lendir.
Maya membeku. Matanya terpaku pada pintu kayu ukir di belakang Sumirah yang sedikit terbuka. Gelap di sana tampak lebih pekat dari malam biasa.
"Untuk menyambut yang punya rumah sebenarnya," bisik Nenek Sumirah. Matanya berkilat dalam remang lampu minyak, pupil membesar hingga nyaris menelan seluruh bagian putih bola matanya.
"Habiskan makanannya. Jangan sampai ada sisa. Kalau tidak..." Sumirah melirik ke arah pintu gelap di belakangnya, senyumnya lenyap berganti wajah datar tanpa ekspresi. "...nanti Dia yang akan menghabiskan kalian."