Kalimat ancaman Nenek Sumirah barusan tidak menggantung di udara. Ucapan itu jatuh, berat dan dingin, seperti bongkahan es yang menghantam tengkuk.
Hening.
Di atas tikar pandan yang tergelar di tengah pendopo, ayam ingkung itu tampak pucat. Kulitnya berminyak, memantulkan cahaya lampu teplok yang bergoyang tertiup angin malam. Kepala ayam itu masih utuh, paruhnya sedikit terbuka, seolah mati saat menjerit. Di sebelahnya, tumpeng nasi putih dikelilingi tujuh rupa jajan pasar yang warnanya terlalu mencolok untuk makanan desa. Merah darah. Hijau lumut.
"Ayo, Ndhuk," desak Sumirah. Ia menggeser piring seng ke arah Maya. Bunyi gesekan logam pada anyaman tikar terdengar ngilu. "Makan. Supaya Wadah-nya kuat."
Maya tidak bergerak. Perutnya mulas. Aroma kemenyan yang dibakar di sudut pendopo bercampur dengan bau amis samar dari ayam tersebut. Bukan bau bumbu. Bau daging mentah yang didiamkan terlalu lama.
Andi mencengkeram parang berkarat di pangkuannya. Buku-buku jarinya memutih. Napas pemuda itu menderu, pendek-pendek, seperti orang yang baru saja lolos dari tenggelam.
"Kami tidak lapar," kata Andi. Suaranya serak, tapi tajam. "Kami mau pergi dari sini. Sekarang."
Sumirah terkekeh. Suara itu kering, mirip gesekan daun jati mati. Ia mengambil sepotong hati ayam dengan tangan telanjang, lalu memasukkannya ke mulut. Mengunyah pelan. Bibirnya yang keriput berkilau oleh minyak.
"Pergi ke mana, Le? Jalanan desa sudah buntu. Hutan sudah nutup," Sumirah menelan kunyahannya. Jakun tuanya naik-turun. "Lagipula, ini syukuran warisan. Tidak sopan menolak rezeki dari leluhur. Pamali. Bisa kualat."
"Ini bukan warisan," potong Maya. Keberaniannya muncul dari rasa takut yang memuncak. "Ini jebakan."
Mata Sumirah menyipit. Bola matanya yang keruh seakan memindai isi kepala Maya. "Jebakan? Bukan, Ndhuk. Ini kewajiban. Weton ibumu sebentar lagi. Kita harus bersiap."
"Bersiap untuk apa?"
Sumirah tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke halaman pendopo dengan dagunya.
Maya menoleh. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat.
Di batas kegelapan, di luar lingkaran cahaya lampu minyak, puluhan sosok berdiri mematung. Penduduk Desa Kalimati. Pria, wanita, tua, muda. Mereka berdiri rapat, bahu ketemu bahu, membentuk pagar betis yang mengepung pendopo.
Tidak ada yang bicara. Tidak ada suara napas. Wajah mereka datar, pucat, dengan tatapan kosong yang terarah lurus ke meja makan ini. Beberapa dari mereka memegang obor yang apinya tidak bergoyang, seolah angin takut menyentuh mereka. Di barisan depan, Maya mengenali Pak RT yang tadi pagi menyapanya ramah. Kini wajah pria itu kaku, mulutnya sedikit menganga, meneteskan liur yang tidak diseka.
Mereka bukan tamu. Mereka sipir penjara.
"Mereka lapar juga," bisik Sumirah, nadanya berubah menjadi desis ular. "Kalau kalian tidak makan yang di meja... ya mereka yang akan masuk ke sini."
Ancaman itu nyata. Satu langkah saja Maya atau Andi keluar dari pendopo, kerumunan itu akan mencabik mereka.
Maya menatap Andi. Kode mata. Kita harus cari jalan lain.
"Saya... saya perlu ke belakang," ujar Maya, suaranya dibuat sehalus mungkin, menahan getaran. "Cuci tangan. Ada air bersih, Mbah?"
Sumirah berhenti mengunyah. Matanya menatap Maya lekat-lekat, mencari kebohongan. Detik demi detik berlalu lambat. Suara jangkrik di luar sana mati total, digantikan oleh suara gamelan yang terdengar lamat-lamat entah dari mana. Ting... nong... ting... gung...
"Di dapur," jawab Sumirah akhirnya, dingin. "Jangan lama-lama. Nanti makanannya dingin. Dia tidak suka makanan dingin."
Andi langsung berdiri, menyambar senternya. "Gue anter."
"Duduk, Le!" bentak Sumirah. Suaranya menggelegar, tidak sesuai dengan tubuh rentanya. Lantai papan pendopo bergetar. "Perempuan urusan belakang. Laki-laki temani saya di sini."
Andi membeku. Maya meremas lengan pemuda itu sekilas-memberi isyarat tunggu-lalu bangkit. Kakinya terasa seperti timah. Ia berjalan mundur perlahan, menjauhi meja makan, lalu berbalik menuju pintu penghubung ke rumah induk.
Begitu Maya melewati ambang pintu, kegelapan langsung menelannya.
Rumah induk ini luas, tapi sesak. Udara di dalamnya apek, bau debu tua bercampur kapur barus. Cahaya dari pendopo hanya masuk samar-samar, menciptakan bayangan panjang dari perabot-perabot kayu jati besar yang ditutupi kain putih. Kain-kain itu tampak seperti pocong yang berdiri di setiap sudut ruangan.
Maya tidak ke dapur. Ia mencari jalan keluar belakang.
Ia meraba dinding, melangkah cepat menyusuri lorong. Lantai ubin dingin menusuk telapak kakinya yang telanjang. Di ujung lorong, ada pintu kayu tebal dengan palang besi. Pintu belakang.
Dengan tangan gemetar, Maya mencoba mengangkat palang besi itu. Berat. Karat membuatnya macet.
Kreeek...
Bunyi logam beradu memekakkan telinga. Maya menahan napas, menoleh ke belakang, takut Sumirah mendengar. Sepi. Hanya suara kunyahan Sumirah yang terdengar menggema aneh dari depan, seolah nenek itu sedang mengunyah tulang tepat di telinga Maya.
Maya mendorong pintu. Terbuka sedikit.
Angin malam menerobos masuk, membawa bau tanah basah. Maya mengintip keluar.
Harapannya hancur.
Di halaman belakang, di antara pohon pisang dan sumur tua, lima orang penduduk desa berdiri tegak. Mereka menghadap tepat ke pintu, seolah sudah tahu Maya akan lewat sana. Salah satunya memegang celurit. Mata mereka memantulkan cahaya bulan yang remang-putih, tanpa pupil.
Mereka menunggu.
Maya menutup pintu pelan-pelan. Napasnya memburu. Terkepung. Depan dijaga, belakang dijaga. Rumah ini adalah kandang, dan dia adalah ternak yang sedang digemukkan sebelum disembelih.
Brak!
Suara benda jatuh dari lantai atas.
Maya mendongak. Langit-langit rumah yang tinggi itu gelap gulita. Namun, dari celah papan kayu di atas, menetes cairan kental.
Tes.
Jatuh tepat di pipi Maya.
Ia menyekanya. Lengket. Gelap. Didekatkannya ke hidung.
Bau anyir darah. Masih hangat.
"Maya!" teriakan Andi terdengar dari pendopo, penuh panik. "May, lari!"
Suara kursi terguling. Gaduh.
Maya tidak berpikir lagi. Ia berlari kembali ke arah pendopo. Tapi langkahnya terhenti di ruang tengah.
Pintu menuju pendopo-satu-satunya jalan kembali ke Andi-tertutup sendiri dengan bantingan keras.
BLAM!
Maya menerjang pintu itu, memukul-mukul kayunya. "Andi! Andi!"
Terkunci.
Dari balik pintu, terdengar suara Andi berteriak, disusul suara gedebuk tubuh yang dihantamkan ke lantai, lalu seretan paksa.
"Lepasin! Maya, lari! Jangan makan-" Suara Andi terputus, digantikan suara erangan tertahan.
Lalu, tawa Nenek Sumirah terdengar. Bukan tawa nenek-nenek. Tawa itu berat, ganda, seolah ada dua pita suara yang berbunyi bersamaan dari satu tenggorokan.
"Sudah kubilang, Ndhuk," suara Sumirah kini terdengar dari... dalam rumah. Bukan dari pendopo.
Maya berputar cepat, punggung menempel ke pintu yang terkunci. Senter di tangannya menyapu ruangan gelap itu dengan liar.
Bayangan di sudut ruangan, di balik kain putih penutup lemari, bergerak. Kain itu jatuh perlahan.
Tidak ada siapa-siapa di sana.
Hanya sebuah cermin besar setinggi manusia dengan bingkai kayu jati ukiran naga. Di dalam cermin itu, pantulan Maya berdiri ketakutan.
Tapi ada yang salah.
Pantulan Maya di cermin itu tersenyum. Senyum lebar yang merobek pipi.
Dan di belakang pantulan Maya, berdiri sosok tinggi besar, hitam legam, dengan mata merah menyala yang menatap lapar ke arah tengkuknya.
"Wetonan dimulai," bisik suara di telinga kiri Maya, padahal tidak ada siapa-siapa di sebelahnya.
Hawa dingin yang menusuk tulang menyergap. Bukan dingin angin malam. Ini dingin kamar mayat.
Maya harus keluar. Sekarang. Atau dia tidak akan pernah keluar selamanya. Ia melihat jendela kaca di samping lemari. Tanpa pikir panjang, ia menyambar vas bunga keramik di atas meja rias debuan.
PRANG!
Kaca jendela pecah berantakan.
Maya tidak peduli pada pecahan kaca yang menggores lengan dan kakinya saat ia memanjat keluar. Rasa sakit itu kalah oleh teror yang memacu adrenalinnya. Ia melompat ke tanah basah di samping rumah.
Gelap. Semak belukar.
Di depannya, hutan jati yang rapat membentang. Di belakangnya, rumah warisan itu tampak hidup, jendela-jendelanya seperti mata yang melotot.
Dan dari arah pendopo, terdengar suara gamelan yang semakin kencang, bertalu-talu, seirama dengan detak jantungnya yang menggila.
Maya berlari ke arah hutan. Satu-satunya arah yang tidak dijaga penduduk desa. Atau mungkin... memang sengaja dikosongkan untuk menggiringnya masuk ke perangkap yang lebih besar.