Napas Maya belum kembali utuh. Paru-parunya terasa seperti diisi serbuk kaca, perih setiap kali ia mencoba menghirup udara malam yang lembap. Tubuhnya merosot di balik batang pohon jati yang diameternya seukuran pelukan orang dewasa.
Gelap. Bukan gelap biasa, melainkan pekat yang seolah memiliki bobot, menekan bahu dan tengkuk.
Suara gamelan dari arah rumah warisan itu sudah lenyap. Anehnya, hilangnya suara itu justru lebih mengerikan. Tidak ada jangkrik. Tidak ada gesekan daun. Hening yang mutlak, seakan hutan ini sedang menahan napas-menunggu Maya melakukan kesalahan.
Maya memejamkan mata sejenak, mencoba mengusir bayangan seringai Nenek Sumirah yang masih menempel di kelopak matanya. Tangan kanannya gemetar saat mengangkat senter-satu-satunya peninggalan Andi yang berhasil ia selamatkan. Tabung logam itu terasa dingin dan licin oleh keringat.
Andi.
Rasa bersalah menghantam ulu hatinya lebih keras daripada kelelahan fisik. Ia meninggalkan pemuda itu. Ia lari seperti pengecut sementara Andi diseret entah ke mana oleh penduduk desa yang matanya kosong melompong.
"Bodoh," rutuknya tanpa suara. Bibirnya kering. "Lo harusnya nggak lari."
Namun logika bertahan hidupnya membantah keras. Kalau ia tetap di sana, mereka berdua tamat. Wetonan. Kata itu terngiang lagi. Ulang tahun kelahiran yang dirayakan dengan darah. Ia harus mencari bantuan. Polisi. Siapa saja. Tapi di mana?
Maya menyalakan senter.
Cahaya kuning pucat membelah kabut tipis. Sinar itu tidak menembus jauh, seolah ditelan oleh partikel air yang menggantung di udara. Di lengan kirinya, darah mulai mengering, merekat lengket pada kemeja flanel yang robek. Pecahan kaca jendela tadi meninggalkan jejak panjang yang perih.
Ia menggigit bibir, menahan erangan saat mencabut serpihan kecil yang masih menancap di kulit. Darah segar merembes keluar. Bau anyir logam seketika menguar, tajam dan asing di tengah aroma hutan.
Seketika, angin berhembus.
Bukan angin gunung yang segar. Ini angin yang membawa aroma busuk. Bau bunga melati yang sudah layu berhari-hari, bercampur dengan tanah basah dan... kapur barus?
Maya menegakkan punggung. Instingnya menjerit. Ia menyorotkan senter ke sekeliling.
Pohon-pohon jati di sini tidak tumbuh wajar. Batang-batangnya meliuk bengkok, dahan-dahannya saling membelit di atas sana seperti jemari kerangka yang berebut menggapai langit. Kulit pohon itu kasar, bertekstur seperti kulit penderita kusta yang mengelupas.
Maya memaksakan kaki untuk melangkah. Ia harus menjauh dari rumah itu. Menjauh dari desa.
Tanah di bawah kakinya terasa lunak, nyaris menyerupai lumpur hisap yang dangkal. Sepatunya berdecit pelan. Setiap langkah terasa berat, seolah ada tangan-tangan tak kasat mata yang menahan pergelangan kakinya, memintanya untuk tetap tinggal.
"Jalanan desa buntu. Hutan sudah nutup."
Ucapan Sumirah tadi berputar di kepala seperti kaset rusak.
Maya mencoba mencari celah di antara pepohonan, mencari tanda-tanda jalan setapak atau sungai kering yang membelah desa. Namun, sejauh mata memandang, hanya ada barisan batang jati yang seragam. Identik. Membingungkan.
Ia berjalan sepuluh menit. Dua puluh menit. Mungkin satu jam. Tidak ada cara untuk mengetahui waktu. Arloji di pergelangan tangannya mati. Jarum detiknya bergetar di angka dua belas, tak mau bergerak maju.
Desa Kalimati sepertinya memang tidak mengenal waktu. Tempat ini adalah kapsul yang terisolasi, di mana hukum fisika tunduk pada aturan lain yang lebih tua dan kejam.
Tiba-tiba, langkah Maya terhenti.
Di depannya, sekitar sepuluh meter, cahaya senternya menangkap sesuatu yang menggantung di dahan rendah.
Sebuah kain.
Maya mendekat dengan waspada, menggenggam senter seperti pentungan. Kain itu lusuh, warnanya putih kusam yang sudah berubah kecokelatan karena debu dan hujan. Kain jarik.
Motifnya familier. Parang rusak.
Maya menyentuhnya. Kain itu basah dan dingin. Namun yang membuatnya mundur selangkah bukan teksturnya, melainkan apa yang ia temukan di balik pohon tempat kain itu tersangkut.
Bekas tapak kakinya sendiri.
Napas Maya tercekat. Ia menyorot tanah. Benar. Jejak sepatu sneakers dengan pola sol yang khas. Ia sudah melewati pohon ini. Ia berjalan memutar.
"Nggak mungkin..." bisiknya. Suaranya terdengar asing di telinga sendiri, kecil dan rapuh.
Ia mencoba mengingat arah. Ia yakin ia berjalan lurus menjauhi rumah. Ia menggunakan posisi bulan-tunggu, tidak ada bulan. Kanopi hutan ini terlalu rapat, atau mungkin kabut di atas sana terlalu tebal.
Rasa putus asa mulai merayap naik, dingin dan melumpuhkan. Ia terjebak. Lingkaran setan.
Saat itulah ia mendengarnya.
Suara gesekan.
Sreeet... sreeet...
Seperti suara kain panjang yang diseret di atas tanah kering.
Maya mematikan senter. Refleks. Kegelapan total langsung menyergap, menenggelamkannya dalam buta sesaat. Jantungnya memukul-mukul rongga dada, begitu keras hingga ia takut suaranya terdengar keluar.
Ia menahan napas, menajamkan telinga.
Suara itu mendekat. Bukan dari arah belakang, bukan dari depan.
Dari atas.
Maya mendongak perlahan, meski ia tahu ia tidak akan bisa melihat apa-apa dalam gelap gulita ini. Namun, mata manusia punya cara unik beradaptasi dengan ketakutan. Perlahan, ia bisa melihat siluet dahan-dahan di atasnya yang sedikit lebih gelap daripada langit malam.
Ada sesuatu yang besar di sana.
Bukan monyet. Bukan burung hantu.
Sosok itu bergelantungan dengan cara yang salah. Anggota tubuhnya-lengan atau kaki, Maya tidak bisa membedakan-tampak terlalu panjang, memiliki terlalu banyak persendian. Sosok itu merayap dari satu dahan ke dahan lain tanpa mengguncang daun, cair seperti minyak tumpah.
Bau melati busuk itu semakin menyengat, kini bercampur dengan bau daging terbakar.
Maya membekap mulutnya sendiri dengan tangan yang penuh darah kering. Air mata panas merebak di sudut mata, tapi ia tidak berani berkedip.
Sosok di atas sana berhenti tepat di atas kepala Maya.
Diam.
Maya merasakan tetesan cairan jatuh ke bahunya. Dingin.
Apakah itu embun? Atau liur?
Ia tidak berani menyekanya. Ia tidak berani bergerak. Bahkan untuk gemetar pun ia tidak sanggup. Tubuhnya kaku, membatu dalam posisi jongkok di balik akar pohon.
Lalu, sebuah suara berbisik. Bukan dari atas, tapi tepat di samping telinga kanannya, seolah ada bibir yang menempel di sana.
"Durung wayahe... tapi wis mambu." (Belum waktunya... tapi sudah bau).
Maya menyentakkan tubuh, menyalakan senter dan mengarahkannya ke samping dengan panik.
Kosong.
Hanya batang pohon jati tua yang kulitnya berlubang-lubang.
Namun saat Maya mengarahkan senter kembali ke atas, dahan tempat sosok itu tadi bertengger sudah kosong. Tidak ada suara pergi. Tidak ada suara loncatan. Hilang begitu saja.
Yang tertinggal hanya kain jarik lusuh tadi, yang kini bergoyang pelan, padahal tidak ada angin sama sekali.
Maya mundur teratur, napasnya memburu. Ia tidak boleh diam di sini. Apa pun yang ada di hutan ini, mereka sedang bermain-main dengannya. Mereka tidak langsung menyerang karena mereka menikmati rasa takutnya. Seperti kucing yang mempermainkan tikus yang sudah patah kaki.
Ia harus terus bergerak. Meski berputar-putar, setidaknya ia menjadi target yang sulit.
Saat ia berbalik untuk lari, cahaya senternya menyapu sesuatu di kejauhan. Sebuah struktur bangunan di tengah hutan.
Bukan rumah. Atapnya berbentuk limas pendek, hampir menyentuh tanah karena tiang-tiangnya sudah ambles. Sebuah cungkup makam tua.
Dan di depan cungkup itu, seseorang sedang duduk bersila membelakangi Maya. Punggungnya tegap, mengenakan kemeja yang sangat Maya kenali.
"Andi?" panggil Maya, harapan bodoh menyala di dadanya.
Sosok itu tidak menoleh.
Maya melangkah mendekat, perlahan. "Ndi? Lo berhasil kabur?"
Sosok itu perlahan memutar kepala. Gerakannya kaku, patah-patah seperti boneka kayu yang engselnya berkarat.
Saat wajah itu terkena cahaya senter, Maya menjerit tertahan.
Itu memang wajah Andi. Tapi matanya terpejam, dijahit dengan benang merah kasar. Dan mulutnya... mulutnya tersumpal penuh oleh tanah kuburan yang basah.
Maya mundur, tersandung akar pohon, dan jatuh terduduk. Senter di tangannya terlepas, menggelinding, membuat bayangan di sekitar mereka berputar liar.
Ketika cahaya senter berhenti berputar dan kembali menyorot ke arah cungkup, tempat itu kosong.
Tidak ada Andi. Tidak ada siapa-siapa. Hanya gundukan tanah merah yang masih baru, dengan nisan kayu tanpa nama yang tertancap miring.
Maya merangkak mengambil senternya, menangis tanpa suara. Ini bukan sekadar hutan. Ini adalah perut binatang buas, dan ia baru saja mulai dicerna.