Hutan Penggenggam Jiwa

Penulis djoedo
09 February 2026

"Ini adalah perut binatang buas, dan ia baru saja mulai dicerna."

Kalimat itu berulang di kepala Maya, berdenyar seirama dengan nyeri di lengan kirinya. Namun, tidak ada gigi taring yang merobek kulit. Tidak ada rahang raksasa yang mengunyah. Hanya sunyi. Sunyi purba yang menekan, seolah hutan ini sedang menahan napas, menunggu ia menyerah sendiri.

Maya merosot jatuh. Kakinya yang sedari tadi dipaksa berlari menembus semak berduri akhirnya menyerah. Ia terduduk di atas akar pohon jati yang menyembul keluar dari tanah seperti urat nadi raksasa. Napasnya putus-putus. Uap hangat keluar dari mulut, langsung hilang ditelan kabut tipis yang merayap di mata kaki.

Senter di tangan kanan berkedip lemah sebelum akhirnya nyalanya stabil kembali. Sorot cahaya kuning menyapu area depan.

Di sana, tergantung "sosok" yang tadi sempat membuatnya nyaris gila.

Maya memberanikan diri mengangkat cahaya senter. Tangan gemetar hebat. Cahaya menimpa objek yang bergelantungan di dahan pohon beringin muda tersebut.

Bukan Andi.

Jantung Maya yang tadi berdegup kencang perlahan melambat, menyisakan rasa mual di ulu hati. Benda itu hanya sebuah memedi-orang-orangan sawah-yang dibuat asal-asalan. Tubuhnya dari karung goni bekas wadah beras yang dijahit kasar dengan tali ijuk. Kepalanya terbuat dari batok kelapa yang ditempeli rambut jagung kering.

Tapi ada satu hal yang membuat tengkuk Maya tegak merinding. Memedi itu mengenakan kaos partai lusuh yang pernah ia lihat dipakai oleh salah satu pemuda desa di warung kopi. Dan di bagian leher karung goni, terikat kain merah. Kain yang sama dengan selendang penari.

Benda tersebut bergoyang pelan, berputar mengikuti angin mati yang tak terasa di kulit. Kriet... kriet... suara tali tambang yang bergesekan dengan dahan kayu terdengar seperti tawa tertahan.

Itu bukan penampakan. Itu peringatan. Kami mengawasimu.

Maya memalingkan wajah. Ia harus fokus. Rasionalitas adalah satu-satunya senjata yang tersisa.

"Andi..." bisiknya. Suara itu serak, kering kerontang.

Tak ada jawaban. Hutan jati ini menyerap suara, tidak memantulkannya kembali.

Maya menunduk, memeriksa lengan kiri. Luka sayat akibat pecahan kaca jendela di rumah Sumirah tadi masih menganga. Darah sudah mulai mengental, berwarna merah tua kehitaman, merekat lengket pada sisa lengan kemeja flanel yang robek. Perihnya baru terasa sekarang, menyengat dan panas, kontras dengan udara hutan yang lembap dan dingin.

Ia merogoh saku celana jins. Kosong. Ponsel hilang entah di mana saat ia melompat keluar jendela tadi. Arloji di pergelangan tangan mati total. Jarumnya berhenti. Kaca arloji retak seribu.

Sendirian. Buta waktu. Buta arah.

Maya memaksakan diri untuk berdiri. Tidak boleh diam di sini. Jika Sumirah benar, "pencernaan" hutan ini akan bekerja lebih cepat jika mangsanya pasrah. Ia mengarahkan senter ke depan, melewati memedi terkutuk itu.

Cahaya senter membentur sebuah struktur kayu sekitar sepuluh meter di depan.

Sebuah cungkup.

Bangunan kecil beratap sirap itu berdiri miring di antara dua pohon jati besar yang akarnya saling membelit. Kayunya sudah lapuk dimakan rayap dan cuaca, berwarna abu-abu mati. Tidak ada dinding, hanya empat tiang penyangga dan atap yang menaungi sebuah gundukan tanah.

Maya melangkah mendekat. Langkah berat, seolah tanah hutan ini berubah menjadi lumpur hidup yang ingin menahan kaki.

Bau itu tercium lagi. Bukan bau sisa jasad, melainkan bau melati. Wangi yang tajam, menusuk, dan... basi. Seperti bunga melati yang sudah direndam air selama tiga hari hingga membusuk. Aromanya bercampur dengan bau tanah basah dan dedaunan busuk, menciptakan udara yang terasa berat di paru-paru.

Maya menutup hidung dengan lengan baju. Ia mengarahkan senter ke bawah cungkup.

Gundukan tanah itu bersih. Terlalu bersih untuk ukuran makam di tengah hutan liar. Tidak ada rumput liar yang tumbuh di atasnya. Tanahnya merah gembur, seakan baru saja dicangkul kemarin sore. Di atas gundukan, terdapat nisan kayu ulin hitam yang tertancap miring.

Maya berjongkok, mendekatkan cahaya senter ke nisan. Tidak ada nama Latin. Tidak ada tanggal lahir atau mati. Hanya ada satu ukiran kasar yang dipahat dalam-dalam menggunakan aksara Jawa:

ꦮꦢꦃ

Maya tidak bisa membaca Hanacaraka dengan lancar, tapi bentuk huruf itu terasa familiar dari buku-buku lama ibunya. Tajam, kaku, dan mengancam.

Di kaki nisan, tergeletak sebuah piring seng lusuh. Di atasnya ada sisa-sisa sesajen yang sudah dikerubuti semut. Bunga kanthil yang layu, irisan kelapa, dan... sejumput rambut hitam panjang yang diikat benang merah.

Maya mundur selangkah. Dadanya sesak. Ini bukan makam leluhur biasa. Ini makam yang dirawat. Ada orang-atau sesuatu-yang rutin datang ke sini, di tengah hutan antah berantah, untuk memberi makan.

Krek.

Suara ranting patah di belakangnya.

Maya berputar cepat, mengarahkan senter ke kegelapan.

"Siapa?!"

Sinar senter hanya menangkap barisan batang pohon jati yang tegak lurus seperti jeruji penjara. Bayangan batang-batang itu memanjang, bergerak seiring gerakan tangan Maya, menciptakan ilusi seolah pepohonan sedang bergeser mendekat.

Hening kembali. Tapi kali ini, hening yang berbeda.

Suara binatang malam yang tadi sempat terdengar lamat-lamat-jangkrik, burung hantu-kini lenyap total. Hutan menjadi vakum.

Maya merasa diawasi. Bukan dari satu arah, tapi dari segala arah. Dari balik batang pohon, dari semak belukar, dari atas dahan. Tatapan kosong penduduk desa yang ia rasakan siang tadi seolah berpindah ke batang-batang pohon ini.

Ia teringat ucapan Sumirah tentang jalanan desa yang sudah mati.

Maya kembali menatap cungkup makam tersebut. Entah kenapa, insting mengatakan bahwa tempat ini adalah pusat dari labirin. Titik nol. Jika ingin keluar, ia harus mengerti apa yang dikubur di sini.

Ia memberanikan diri menyentuh nisan kayu itu. Dingin. Sedingin es.

Tiba-tiba, rasa pusing menghantam kepala. Pandangan Maya berkunang-kunang. Bau melati busuk menguat seratus kali lipat, membuatnya terbatuk. Di telinga, terdengar suara bisikan. Bukan suara satu orang, tapi ratusan. Tumpang tindih, saling menyela, seperti suara pasar yang ramai namun didengar dari dasar sumur.

...balak... balak... wadah...

...jangan pergi... temani kami...

...ibu sudah janji...

Maya menyentakkan tangan, menarik diri dari nisan. Bisikan itu berhenti seketika.

Napasnya menderu. Mundur, menjauh dari cungkup, punggung menabrak batang pohon di belakang.

Ia harus pergi. Ke mana saja, asal menjauh dari makam tanpa nama ini.

Maya berbalik dan mulai berjalan cepat, setengah berlari. Senter diarahkan lurus ke depan. Ia memilih satu arah acak, berharap menemukan jalan setapak atau setidaknya aliran sungai kering yang membelah desa.

Namun, setelah sepuluh menit berjalan, langkah Maya terhenti.

Di depan, berdiri sebuah bangunan kayu beratap sirap yang miring.

Cungkup itu lagi.

Makam dengan tanah merah gembur dan nisan kayu ulin hitam kembali menyambut. Piring seng berisi sesajen masih di sana, di posisi yang sama persis.

Maya berputar ke arah lain, berlari lagi. Kali ini lebih cepat, mengabaikan ranting yang menampar wajah. Belok kiri, lalu kanan, mencoba mematahkan pola.

Lima menit kemudian.

Ia kembali berdiri di depan cungkup yang sama.

Maya menjatuhkan senter. Cahayanya bergulir di tanah, menyorot nisan tanpa nama itu dari bawah, membuat bayangannya memanjang mengerikan hingga menyentuh ujung sepatu kets Maya yang berlumpur.

Ia tidak sedang tersesat. Ia sedang dikurung.

Dan dari kegelapan di balik cungkup, terdengar suara gamelan. Ting... Pelan. Sangat pelan, namun nadanya sumbang, menyayat sunyi. Suara itu semakin mendekat.