Denting Gamelan Pengantar Pulang

Penulis djoedo
10 February 2026

Hutan jati ini tidak tidur. Ia menahan napas.

Keheningan hutan menekan gendang telinga, begitu padat hingga rasanya seperti berada di dasar kolam keruh. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada desau angin pada daun-daun jati yang lebar. Vakum.

Maya merosot di atas akar pohon yang menyembul dari tanah seperti urat nadi raksasa. Napasnya putus-putus, memburu uap hangat ke udara malam yang lembap. Kakinya menyerah. Otot betisnya kaku, menolak perintah untuk melangkah satu senti pun.

Luka di lengan kirinya berdenyut panas. Cairan merah kental merembes, membasahi sisa lengan kemeja flanel yang compang-camping, merekat lengket pada kulit. Bau anyir darah menguar, bertarung dengan aroma tanah basah dan serasah daun busuk.

Ia merogoh saku celana. Kosong. Ponselnya hilang saat ia menerobos semak berduri tadi. Arloji di pergelangan tangan kirinya mati total. Kaca retak seribu, jarum detiknya membeku entah di angka berapa.

Sendirian. Buta waktu. Buta arah.

Senter di tangan kanannya berkedip lemah-sekarat-sebelum nyalanya kembali stabil meski kini meredup. Sorot kuning itu menyapu kegelapan di depan.

Cahaya itu membentur sesuatu yang bergelantungan di dahan pohon beringin muda.

Maya menahan napas. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Tangannya gemetar hebat saat mengarahkan fokus cahaya ke objek itu. Bayangan mengerikan tentang tubuh manusia yang tergantung sempat melintas di benaknya.

Namun, itu bukan Andi.

Benda itu bergoyang pelan, berputar pada poros tali ijuk yang menjerat lehernya. Sosok itu hanya wong-wongan-boneka sawah pengusir hama. Tubuhnya gumpalan jerami yang dibungkus karung goni bekas. Kepalanya batok kelapa tua yang ditempeli rambut jagung kering.

Sepasang mata buatan dari arang menatap kosong ke arah Maya.

Ada yang salah. Wong-wongan biasanya berdiri di tengah sawah, bukan tergantung di dahan pohon di jantung hutan larangan. Boneka itu mengenakan kaos oblong lusuh yang warnanya sudah memudar menjadi abu-abu kusam. Di leher karung goni itu, terikat selendang merah. Kain sampur penari.

Kriet... kriet...

Suara tali ijuk yang bergesekan dengan dahan kayu terdengar nyaring di tengah sunyi. Seperti tawa yang ditahan. Gesekan itu bukan karena angin-udara di sini mati, tak bergerak-melainkan karena berat beban boneka itu sendiri yang perlahan memuntir tali.

Maya memalingkan wajah. Mual.

"Andi..." Panggilnya. Suaranya serak, hilang ditelan batang-batang jati yang berdiri rapat seperti jeruji penjara.

Tidak ada jawaban.

Ia harus bergerak. Berdiam diri hanya akan membuatnya gila. Maya memaksakan diri berdiri, bertumpu pada lutut yang gemetar. Senter ia arahkan melewati wong-wongan terkutuk itu, mencari celah di antara pepohonan.

Cahaya senter menangkap struktur kayu sekitar sepuluh meter di depannya.

Sebuah cungkup.

Bangunan kecil beratap sirap itu berdiri miring, terhimpit di antara dua pohon jati besar. Kayunya berwarna kelabu, lapuk dimakan rayap dan cuaca. Empat tiang penyangga yang ringkih menaungi sebuah gundukan tanah merah.

Langkah Maya memberat. Tanah di bawah kakinya terasa gembur, seolah menyedot sepatu ketsnya ke dalam.

Bau itu datang tiba-tiba. Menampar indra penciumannya.

Bukan bau bangkai. Melati. Wangi melati yang tajam, menusuk, dan... basi. Aromanya seperti bunga tabur yang sudah tiga hari membusuk di atas tanah makam, bercampur dengan bau kemenyan yang dibakar setengah matang.

Maya menutup hidung dengan lengan baju. Ia mendekat ke bawah naungan atap cungkup.

Gundukan tanah itu bersih. Terlalu rapi untuk ukuran kuburan di tengah hutan liar. Tidak ada rumput liar. Tanahnya merah basah, seakan baru saja dicangkul sore tadi. Di bagian kepala, tertancap nisan kayu jati yang menghitam.

Maya berjongkok. Senter menyorot permukaan kayu nisan yang kasar. Tidak ada nama. Tidak ada tanggal lahir atau mati. Hanya satu ukiran kasar yang dipahat dalam-dalam menggunakan pisau:

ꦮꦢꦃ

Aksara Jawa. Maya tidak bisa membacanya, tapi bentuk huruf itu terasa familiar. Kaku. Tajam. Mengancam seperti cakar ayam.

Di kaki nisan, tergeletak piring seng penyok. Sisa sesajen berserakan di atasnya, dikerubuti semut merah. Kelopak bunga kanthil yang mulai cokelat, irisan kelapa kering, dan gumpalan rambut hitam panjang yang diikat benang merah.

Dada Maya sesak. Oksigen terasa tipis. Ini bukan makam leluhur yang dilupakan. Ini makam yang dirawat. Ada orang-atau sesuatu-yang rutin datang ke tempat terpencil ini untuk memberi makan.

Krek.

Suara ranting patah. Dekat. Tepat di belakang punggungnya.

Maya berputar cepat, mengarahkan senter ke kegelapan.

"Siapa?!"

Sinar senter hanya menangkap barisan batang jati yang diam membisu. Bayangan pohon memanjang, bergerak liar seiring getaran tangan Maya, menciptakan ilusi seolah pepohonan itu bergeser mendekat saat ia tidak melihat.

Hening kembali. Tapi kali ini, hening yang berbeda. Hening yang mengamati.

Bulu kuduk di tengkuk Maya meremang. Sensasi dingin menjalar dari tulang ekor hingga ke ubun-ubun. Ia merasa ribuan mata menatapnya dari balik kegelapan hutan. Dari celah batang pohon, dari balik semak, dari atas dahan.

Maya mundur selangkah, menjauh dari nisan. Kakinya menabrak akar pohon.

Kepalanya pening. Bau melati busuk itu menguat, membuat perutnya bergejolak. Telinganya berdenging, disusul suara gumaman rendah yang tidak jelas sumbernya. Seperti suara orang mendaraskan mantra, tapi tumpang tindih, ratusan suara menjadi satu.

Maya menggeleng kuat-kuat, berusaha mengusir suara itu dari kepalanya.

Lari.

Instingnya berteriak. Ia harus pergi dari titik ini. Ke mana saja, asal menjauh dari cungkup dan wong-wongan itu.

Maya berbalik dan mulai memacu langkah. Setengah berlari, ia menerobos semak belukar. Mengabaikan ranting yang menampar wajah dan lengan lukanya. Ia memilih arah lurus, berharap menemukan aliran sungai kering atau batas desa.

Napasnya menderu. Paru-parunya terasa terbakar.

Sepuluh menit berlalu. Maya yakin ia sudah berlari cukup jauh. Ia memperlambat langkah, menyorotkan senter ke depan untuk melihat jalan.

Langkahnya mati seketika.

Di depannya, berdiri bangunan kayu beratap sirap yang miring.

Cungkup itu lagi.

Maya ternganga. Tanah merah gembur, nisan kayu jati hitam, dan piring seng berisi sesajen itu menyambutnya kembali. Posisi wong-wongan yang tergantung di dahan beringin muda di sebelahnya bahkan tidak berubah sedikit pun.

"Nggak mungkin..." desisnya.

Maya berputar arah. Ia mengambil jalur kanan, tegak lurus dari arah sebelumnya. Ia berlari lebih cepat, didorong oleh kepanikan yang mulai meretakkan logika.

Lima menit.

Ia kembali muncul dari balik semak, tepat menghadap cungkup yang sama.

Maya menjatuhkan senter. Cahayanya bergulir di tanah, menyorot nisan tanpa nama itu dari bawah, membuat bayangan nisan memanjang mengerikan hingga menyentuh ujung sepatunya.

Kakinya lemas. Ia tidak tersesat. Ia dikurung. Hutan ini bukan labirin; ini kandang.

Dan dari kegelapan pekat di balik cungkup, terdengar suara itu.

Ting...

Denting gamelan. Satu nada. Logam memukul logam. Pelan, namun tajam membelah sunyi.

Ting...

Suara itu terdengar lagi. Lebih jelas. Lebih dekat...