"Ini perut binatang buas. Dan baru saja mulai mencerna."
Kalimat itu berulang di kepala, berdenyar seirama dengan nyeri di lengan kiri. Tidak ada gigi taring yang merobek kulit. Tidak ada rahang raksasa yang mengunyah. Hanya sunyi. Sunyi purba yang menekan, seolah hutan ini sedang menahan napas, menunggu Maya menyerah sendiri.
Tubuhnya merosot. Kaki yang dipaksa berlari menembus semak berduri akhirnya menyerah. Ia terduduk di atas akar pohon jati yang menyembul keluar dari tanah seperti urat nadi raksasa. Napas putus-putus. Uap hangat mengepul dari mulut, langsung hilang ditelan kabut tipis yang merayap di mata kaki.
Senter di tangan kanan berkedip lemah sebelum nyalanya stabil kembali. Sorot cahaya kuning itu menyapu area depan.
Di sana, tergantung "sesuatu" yang membuat darahnya mendesir turun ke kaki.
Bukan Andi. Dan bukan sekadar boneka sawah.
Cahaya senter menyorot benda yang bergelantungan di dahan beringin muda itu. Buntelan kain putih kusam. Kain mori. Diikat menyerupai pocong kecil, seukuran bayi, namun bentuknya ganjil. Terlalu panjang. Terlalu kurus. Bercak cokelat tua-darah yang sudah mengering tahunan-mewarnai kain itu seperti peta pulau mati.
Benda itu bergoyang pelan, berputar mengikuti angin mati yang tak terasa di kulit. Kriet... kriet... Tali ijuk bergesekan dengan dahan kayu. Terdengar seperti leher yang dipatahkan perlahan.
Maya mundur. Tumitnya tersandung akar.
Ini bukan penampakan. Ini tanda. Batas wilayah.
Ia bangkit. Harus lari. Tapi ke mana?
Kesadaran itu menghantam telak. Tidak ada utara. Tidak ada selatan. Pepohonan jati di sekelilingnya tampak identik. Batang-batang lurus, kulit kayu mengelupas, daun-daun lebar yang menunduk layu. Semuanya kembar. Semuanya diam.
Tidak ada gunanya mencari alat penunjuk waktu. Detik dan menit sudah tidak berlaku di sini. Hutan ini memakan waktu, mengunyahnya, dan meludahkannya menjadi keabadian yang menyiksa. Rasanya ia sudah berlari berjam-jam, namun kabut di atas sana tak kunjung terang. Atau mungkin baru lima menit?
Gila. Aku bisa gila di sini.
Suara batinnya mulai tidak terkendali. Terdengar asing, melengking panik di dalam tempurung kepala.
Mereka melihatmu. Dari balik batang itu. Di celah akar. Mata-mata kecil. Banyak.
"Diam!" Maya membentak kegelapan. Suaranya pecah, ditelan rimbun daun jati.
Ia memaksakan kaki melangkah. Menjauh dari buntelan kain mori itu. Senter diarahkan lurus ke depan, membelah kabut.
Bau itu tercium lagi. Bukan bau sisa jasad, melainkan melati. Wangi tajam, menusuk, dan... basi. Seperti bunga melati yang direndam air selama tiga hari hingga membusuk. Aromanya bercampur dengan bau tanah basah dan dedaunan mati. Menyengat. Membuat perut mual.
Cahaya senter membentur struktur kayu sekitar sepuluh meter di depan.
Sebuah cungkup. Ini nisan yang tadi. Bagaimana mungkin?
Bangunan kecil beratap sirap itu berdiri miring di antara dua pohon jati besar yang akarnya saling membelit. Kayu sudah lapuk dimakan rayap dan cuaca, berwarna abu-abu mati. Tidak ada dinding, hanya empat tiang penyangga dan atap yang menaungi gundukan tanah.
Maya melangkah mendekat. Langkah berat. Tanah hutan terasa seperti lumpur hidup yang ingin menahan kaki.
Gundukan tanah di bawah atap itu bersih. Terlalu bersih untuk ukuran makam di tengah hutan liar. Tidak ada rumput liar tumbuh di atasnya. Tanah merah gembur, seakan baru saja dicangkul kemarin sore. Di atas gundukan, terdapat nisan kayu jati hitam yang tertancap miring.
Maya berjongkok, ini nisan yang sama. Dia mendekatkan cahaya senter ke nisan untuk memastikannya. Tidak ada nama. Tidak ada tanggal lahir. Hanya satu ukiran kasar yang dipahat dalam-dalam, masih menyisakan getah merah:
ꦮꦢꦃ
Tulisan dalam aksara Hanacaraka itu membuktikannya. Di kaki nisan, tergeletak piring seng lusuh. Di atasnya sisa-sisa sesajen. Bunga kanthil layu, irisan kelapa, dan... sejumput rambut hitam panjang yang diikat benang merah.
Deg.
Maya mengenali tekstur rambut itu. Hitam, lurus, sedikit kasar di ujungnya.
Itu rambutnya sendiri. Potongan rambut yang hilang saat ia bangun tidur dua hari lalu.
Napasnya tercekat. Oksigen terasa tipis. Seseorang telah mengambil bagian dari dirinya. Menanamnya di sini. Mengikatnya dengan tanah kematian ini.
Kau sudah jadi bagian dari tanah ini, Maya. Tidak bisa pulang.
"Tidak..." desisnya.
Tiba-tiba, angin berhembus. Kencang. Mematikan nyala senter sejenak sebelum alat itu kembali berkedip redup.
Dan suara itu datang.
Tung...
Bunyi gamelan. Bukan dari kejauhan, tapi dari segala arah.
Nung... Gong...
Suaranya berat, rendah, bergetar di dalam rongga dada. Irama pelan yang menyayat. Gending kematian. Nadanya sumbang, tidak seperti gamelan manusia. Ini bunyi logam tua yang dipukul oleh tangan-tangan tak kasat mata.
Kabut di depan cungkup mulai memadat. Berpilin. Menggumpal.
Maya ingin lari, tapi kakinya dipaku ke tanah. Lututnya kaku. Otot-ototnya menolak perintah. Ia hanya bisa menatap nanar ke arah kegelapan di balik pohon beringin raksasa di belakang cungkup.
Bayangan itu muncul.
Bukan hantu wanita berambut panjang. Bukan pocong.
Ini lebih tua. Lebih gelap.
Dari balik batang beringin, kegelapan itu meleleh keluar. Hitam pekat, lebih gelap dari malam itu sendiri. Sosok itu menjulang tinggi, menyatu dengan kanopi pohon. Akar-akar gantung tampak seperti rambut kusut yang menjuntai ke tanah. Batang pohon yang kekar itu... itu bukan batang.
Itu tubuh...
Tubuh raksasa yang terbuat dari jalinan akar dan kegelapan. Tidak ada wajah yang jelas. Hanya dua titik bara api redup di ketinggian tiga meter, menatap Maya dengan rasa lapar purba.
Eyang Sukma.
Hawa dingin yang tidak wajar menyergap. Bukan dingin angin gunung, tapi dingin mayat. Beku. Menusuk tulang sumsum.
Suara gamelan semakin keras. Korr... korr... Bunyi gesekan rebab yang menyakitkan telinga, seperti jeritan wanita yang ditahan.
Sosok bayangan raksasa itu tidak bergerak mendekat, tapi Maya merasa ruang di antaranya menipis. Bayangan itu membesar, menelan cahaya bintang yang sempat mengintip dari celah daun.
Di telinga Maya, suara itu terdengar. Bukan lewat gendang telinga, tapi langsung bergaung di otak. Suara parau, berat, seperti gesekan dua batu kali.
"Wadah... wis... mulih..."
(Wadah... sudah... pulang...)
Maya menjerit, tapi tidak ada suara yang keluar. Lehernya tercekik tangan tak terlihat.
Tanah di sekitar kakinya mulai bergetar. Akar-akar halus menyeruak keluar dari tanah merah, melilit pergelangan kaki. Menariknya ke bawah.
Ia akan dikubur. Di sini. Menjadi pupuk bagi pohon inang ini.
Dengan sisa tenaga terakhir, didorong oleh teror murni yang meledak di dada, Maya menyentakkan kaki sekuat tenaga. Sepatunya terlepas, tertinggal di lilitan akar.
Lari.
Ia berbalik dan memacu langkah tanpa menoleh. Tanpa alas kaki sebelah. Menginjak duri, batu tajam, ranting berduri. Rasa sakit di telapak kaki tidak dipedulikan.
Tung... tung... Gong!
Suara gamelan itu mengejar. Menggema di punggungnya.
Maya menerobos semak belukar, menabrak batang pohon, bangkit lagi, lari lagi. Air mata bercampur keringat dingin membasahi wajah.
Jangan menoleh. Jangan menoleh. Jangan menoleh.
Hutan di depannya tampak tidak berujung. Gelap. Pekat. Dan di kejauhan, ia melihatnya lagi.
Bangunan kecil beratap sirap itu.
Cungkup yang sama.
Maya berhenti mendadak, napasnya habis. Dadanya serasa mau meledak. Ia kembali ke titik awal.
Di depan sana, di bawah naungan bayangan Eyang Sukma yang kini tampak semakin membesar dan mendekat, nisan bertuliskan ꦮꦢꦃ itu menunggu dengan sabar.
Dan di samping nisan, kini berdiri sosok lain. Kecil. Bungkuk. Memegang tongkat kayu.
Nenek Sumirah.
Wanita tua itu tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang hitam.
"Sudah Kubilang, Nduk," suara Sumirah terdengar jernih di antara denting gamelan gaib. "Warisan tidak bisa ditolak."