Gending Nisan Tanpa Nama

Penulis djoedo
10 February 2026

Tung...

Satu ketukan gong yang berat. Getarannya merambat lewat tanah, menembus sol sepatu, menjalar naik ke tulang kering hingga membuat lutut Maya lemas.

Nang... Ning... Gung...

Irama gamelan. Gending Kematian.

Bukan alunan musik yang harmonis. Nadanya sumbang, lambat, dan menyayat. Gesekan rebab terdengar seperti rintihan wanita yang dicekik pelan-pelan. Suara saron beradu dengan bonang dalam tempo yang salah, menciptakan disonansi yang membuat kepala Maya serasa mau pecah.

Kabut tebal turun mendadak. Bukan putih, melainkan kelabu pekat berbau belerang dan kemenyan bakar.

Dari balik kabut di seberang cungkup, sesosok bayangan muncul.

Nenek Sumirah.

Wanita tua itu berdiri tenang, seolah tidak sedang berada di tengah hutan belantara pukul dua pagi. Ia mengenakan kebaya hitam dan kain jarik bermotif parang rusak. Tangannya memegang sebuah uplik-lampu minyak kecil-yang apinya tidak bergoyang sedikit pun meski angin mulai bertiup kencang.

Wajah Sumirah datar. Tidak ada senyum ramah yang biasa ia pasang di desa. Matanya hitam total, memantulkan nyala api uplik.

"Sudah kubilang, Nduk," suara Sumirah terdengar jelas, meski bibirnya nyaris tak bergerak. "Kau tidak bisa lari dari warisan."

Maya ingin berteriak, ingin lari, tapi kakinya dipaku ke tanah.

Di belakang Sumirah, kegelapan bergerak.

Pohon beringin raksasa yang menaungi cungkup itu... hidup.

Akar-akar gantung yang menjuntai perlahan menggeliat seperti ular sanca yang terbangun dari hibernasi. Batang pohon yang diameternya seukuran mobil itu tampak berdenyut. Kulit kayu yang kasar merekah, mengeluarkan cairan getah merah pekat.

Gending semakin keras. NANG... NING... GUNG...

Udara menjadi sangat dingin. Beku. Uap napas Maya menebal.

Di antara jalinan akar beringin, dua titik merah menyala. Seperti bara api yang ditiup angin. Itu mata. Sepasang mata nyalang nan menakutkan terasa menatap langsung ke dalam jiwa Maya.

Sosok itu memisahkan diri dari batang pohon. Tinggi besar, melebihi atap cungkup. Tubuhnya terjalin dari akar-akar hitam yang basah dan tanah liat. Baunya busuk luar biasa-bau rawa purba dan bangkai yang terkubur ratusan tahun.

Eyang Sukma.

Maya mundur, tapi punggungnya menabrak batang pohon lain. Ia terperangkap.

Sosok raksasa itu tidak berjalan, melainkan melayang rendah, menyeret kegelapan bersamanya. Setiap kali sosok itu mendekat, suara gamelan semakin riuh, seolah ratusan penabuh tak kasat mata sedang menggelar upacara penyambutan.

"ꦮꦢꦃ..."

Suara itu bukan berasal dari mulut, melainkan bergemuruh dari dalam tanah. Berat. Parau. Menggetarkan diafragma Maya hingga ia sulit bernapas.

Tangan Eyang Sukma terulur. Jari-jarinya panjang, runcing, terbentuk dari ranting kayu mati yang tajam. Ujung jari itu mengarah tepat ke wajah Maya.

Sumirah melangkah maju, mengangkat uplik-nya tinggi-tinggi. Cahaya api menyinari wajah Maya yang pucat pasi.

"Terimalah, Maya," bisik Sumirah. Nada bicaranya seperti ibu yang membujuk anak minum obat pahit. "Ibumu lari, dan lihat apa akibatnya? Desa ini lapar. Eyang lapar."

Maya menggeleng lemah. Air mata ketakutan meleleh di pipi. Logikanya hancur berkeping-keping. Dunia modern Jakarta tidak ada artinya di sini. Di sini, hukum fisika tunduk pada lapar sang penunggu hutan.

Ujung jari kayu Eyang Sukma menyentuh dahi Maya.

Dingin yang membakar menusuk kulit.

Dunia Maya berputar. Gelap. Hanya ada suara gamelan yang memekakkan telinga dan bau kemenyan yang mencekik paru-paru.

"Waktunya pulang, Nduk." Lari...

Hanya itu perintah otak yang masih berfungsi.

Maya menerobos semak belukar. Ranting-ranting kering mencambuk wajah, meninggalkan perih yang menyengat, namun kakinya tak mau berhenti. Napasnya memburu, memompa udara lembap Hutan Kalimati yang berbau tanah basah dan daun busuk.

Ia harus menjauh. Menjauh dari cungkup terkutuk itu. Menjauh dari nisan bertuliskan Wadah.

Di kejauhan, suara itu mulai terdengar.

Tung...

Satu ketukan gong. Berat. Rendah. Getarannya merambat lewat akar-akar pohon di bawah tanah, menembus sol sepatu kets Maya, menjalar naik hingga membuat tulangnya ngilu.

Maya berbelok tajam ke kiri, menghindari batang jati raksasa. Ia yakin arah ini menuju jalan setapak desa. Ia ingat pohon nangka yang tersambar petir itu ada di sebelah utara. Logika arsitekturnya bekerja cepat memetakan ruang. Jika ia lurus ke sana, ia akan tembus ke sungai kering.

Kakinya memacu lebih cepat. Keringat dingin membasahi punggung.

Nang... Ning... Gung...

Suara itu makin dekat. Irama gamelan. Gending Kematian.

Bukan alunan musik harmonis yang biasa didengar di lobi hotel bintang lima. Ini gending cacat. Nadanya sumbang, lambat, menyayat hati. Gesekan rebab terdengar seperti rintihan perempuan yang dicekik perlahan. Suara saron beradu dengan bonang dalam tempo yang salah, menciptakan disonansi yang membuat kepala Maya serasa mau pecah.

"Pergi!" teriak Maya, suaranya parau tertelan kabut.

Ia terus berlari hingga paru-parunya terasa terbakar. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Seharusnya ia sudah sampai di pinggir hutan. Seharusnya ia melihat lampu rumah penduduk.

Namun, kabut kelabu pekat turun mendadak. Baunya anyir, campur aduk antara belerang dan kemenyan bakar.

Langkah Maya terhenti. Lututnya lemas seketika.

Di depannya, berdiri bangunan kecil beratap sirap kayu yang sudah lapuk. Di bawah naungannya, sebuah gundukan tanah merah dengan nisan kayu tertancap miring.

Cungkup itu lagi.

"Tidak mungkin..." Maya mundur, menggeleng panik. "Aku sudah lari ke arah berlawanan."

Ia berbalik arah. Memutar badan 180 derajat. Lari lagi. Kali ini ia memanjat tanjakan licin, merobek celana jinsnya pada akar tunjang, mengabaikan rasa sakit di pergelangan kaki. Ia berlari sekuat tenaga menjauhi suara gamelan itu.

Lima menit berlalu. Kabut menyibak.

Cungkup itu ada di depannya lagi.

"Gila..." Maya mencengkeram rambutnya sendiri. "Ini gila."

Hutan ini bukan lagi hutan fisik. Ini labirin tanpa dinding. Kompas di kepalanya hancur. Utara menjadi Selatan. Jauh menjadi dekat. Setiap langkah membawanya kembali ke titik nol. Ke pusat gravitasi kegelapan Desa Kalimati.

NANG... NING... GUNG...

Gending itu kini terdengar tepat di telinga, seolah para penabuh gamelan duduk melingkar di sekelilingnya.

Dari balik batang pohon beringin raksasa yang menaungi cungkup, sesosok bayangan melangkah keluar.

Nenek Sumirah.

Wanita tua itu berdiri tenang. Sangat tenang untuk ukuran manusia yang berada di tengah hutan pukul dua pagi. Ia mengenakan kebaya hitam beludru dan kain jarik bermotif parang rusak. Tangannya memegang uplik-lampu minyak kecil-yang nyala apinya tegak lurus, tak bergoyang sedikit pun meski angin hutan menderu kencang.

Wajah Sumirah datar. Tidak ada senyum nenek ramah yang biasa ia pasang saat menyuguhi teh. Matanya hitam total, memantulkan nyala api uplik yang kemerahan.

"Sudah Simbok bilang, Nduk," suara Sumirah terdengar jernih, membelah hiruk-pikuk gending gaib. Bibirnya nyaris tak bergerak. "Kau tidak bisa lari dari warisan. Darah tahu jalan pulangnya."

"Apa maumu?!" Maya menjerit, mundur selangkah, namun punggungnya menabrak batang pohon yang keras.

"Bukan mauku," bisik Sumirah. Telunjuk keriputnya menunjuk ke atas, ke arah tajuk pohon beringin yang gelap gulita. "Tapi maunya Beliau."

Tanah di bawah kaki Maya bergetar hebat.

Di belakang Sumirah, kegelapan bergerak.

Pohon beringin purba itu... hidup.

Akar-akar gantung yang menjuntai perlahan menggeliat, bergesekan satu sama lain menimbulkan suara seperti tulang patah. Batang pohon yang diameternya seukuran mobil itu tampak berdenyut, kembang kempis seperti sedang bernapas. Kulit kayu yang kasar merekah, mengeluarkan cairan getah merah pekat yang menetes deras.

Darah. Pohon itu berdarah.

Udara menjadi sangat dingin. Beku. Uap napas Maya mengepul tebal di depan wajah.

Di antara jalinan akar beringin yang memilin, dua titik merah menyala. Seperti bara api neraka yang ditiup angin. Itu mata. Sepasang mata nyalang, menatap langsung ke dalam jiwa Maya.

Sosok itu memisahkan diri dari batang utama. Tinggi besar, melebihi atap cungkup. Tubuhnya terjalin dari akar-akar hitam yang basah, tanah liat, dan ribuan serangga malam yang merayap di permukaannya. Baunya busuk luar biasa-bau rawa dan sisa jasad yang terkubur ratusan tahun tanpa disucikan.

Eyang Sukma.

Sosok raksasa itu tidak berjalan, melainkan melayang rendah, menyeret kegelapan bersamanya. Setiap kali sosok itu mendekat, suara gamelan semakin riuh, menabuh tempo yang semakin cepat, semakin gila.

KLANG! DUNG! NANG!

"ꦮꦢꦃ..."

Suara itu bukan berasal dari mulut. Itu suara gemuruh dari dalam tanah. Berat. Parau. Menggetarkan diafragma Maya hingga ia sulit bernapas. Suara yang lebih tua dari peradaban manusia.

Tangan Eyang Sukma terulur. Jari-jarinya panjang, runcing, terbentuk dari ranting kayu mati yang tajam setajam belati. Ujung jari itu mengarah tepat ke wajah Maya.

Tubuh Maya kaku. Ia ingin lari, tapi kakinya seolah telah menjadi akar, tertanam di tanah lembap ini. Ia terkunci dalam tatapan makhluk itu.

Sumirah melangkah maju, mengangkat uplik-nya tinggi-tinggi. Cahaya api menyinari wajah Maya yang pucat pasi, menampilkan teror murni.

"Terimalah, Maya," bujuk Sumirah. Nada bicaranya halus, namun berbisa. Seperti ibu yang membujuk anak meminum racun manis. "Ibumu lari, dan lihat apa akibatnya? Desa ini lapar. Eyang lapar. Jangan jadi anak durhaka yang membiarkan desanya mati."

Maya menggeleng lemah. Air mata ketakutan meleleh di pipi. Logikanya hancur berkeping-keping. Segala teori, hukum fisika, rasionalitas Jakarta-semuanya sampah di sini. Di sini, hukum alam tunduk pada lapar sang penunggu hutan.

Ujung jari kayu Eyang Sukma menyentuh dahi Maya.

Dingin yang membakar menusuk kulit, menembus tengkorak.

Dunia Maya berputar hebat. Pandangannya menggelap. Hanya ada suara gamelan yang memekakkan telinga, tawa lirih Sumirah, dan bau kemenyan yang mencekik sisa kesadaran.

Ia terjebak. Tidak ada jalan keluar...