Lingkaran Gending Kematian

Penulis djoedo
10 February 2026

Lari...

Hanya itu perintah yang tersisa di otak Maya. Lari.

NONG... NING... GUNG...

Bunyi itu muncul tiba-tiba.

Bukan dari kejauhan, tapi seolah berasal dari dalam kepalanya sendiri. Suara gamelan. Berat. Lambat. Menyayat.

KLANG!

Bunyi kenong memukul gendang telinga, membuat keseimbangan Maya goyah. Ia jatuh terduduk di atas tanah lembap. Suara itu tidak berirama seperti musik hajatan. Polanya kacau, disharmonis, namun memiliki tekanan yang membuat mual. Gending Kematian.

"Sudah lelah, Nduk?"

Suara itu halus, namun membuat darah Maya merinding seketika.

Ia mendongak.

Di depan cungkup, tepat di bawah akar gantung beringin yang menjuntai, Nenek Sumirah berdiri.

Wanita tua itu tidak terlihat seperti nenek renta yang ramah. Wajahnya separuh tertutup bayangan tajuk beringin. Di tangannya, sebuah uplik (lampu minyak) menyala redup. Anehnya, api lampu itu tidak bergoyang, tegak lurus seperti paku, seolah udara di sekitar Sumirah mati total.

"Kau..." Suara Maya gemetar hebat. "Apa ini? Lepaskan aku!"

Sumirah tersenyum. Tipis. Mengerikan. Gigi-giginya tampak hitam karena sirih. "Melepas? Siapa yang mengikat? Kakimu sendiri yang membawamu kembali ke pangkuan leluhur."

Sumirah melangkah maju. Suara gamelan semakin keras. GUNG... GUNG... Setiap dentuman gong serasa menghantam rusuk Maya.

"Hutan ini tidak punya pintu keluar untuk mereka yang punya utang," lanjut Sumirah. Ia menunjuk tanah dengan dagunya. "Tanah ini lapar. Dan janjinya sudah jatuh tempo."

"Aku tidak punya utang padamu!" Maya mencoba bangkit, merangkak mundur. Tangannya menyentuh sesuatu yang basah dan lengket di tanah. Darah? Bukan. Getah. "Kau pikir bisa lari dari tanah leluhurmu sendiri?" Sumirah terkekeh pelan. Suaranya menyatu dengan kretek ranting patah. "Desa ini adalah perut. Dan kau sudah masuk ke dalam ususnya."

"Minggir!" Maya berteriak, suaranya pecah karena histeria. Ia menyambar sebongkah batu seukuran kepalan tangan dari tanah. "Jangan mendekat atau aku..."

"Atau apa?" Sumirah memotong, matanya menatap tajam, hitam pekat tanpa bagian putih. "Kau mau membunuhku? Di sini? Di depan Beliau?" Pohon beringin di belakang Sumirah... bergerak.

Maya membelalak. Akal sehatnya menolak, tapi matanya menyaksikan horor itu nyata.

Batang pohon raksasa itu berdenyut. Kulit kayunya yang kasar merekah seperti luka yang terbuka, meneteskan getah merah pekat yang menguarkan bau amis darah segar. Akar-akar gantung yang ribuan jumlahnya mulai menggeliat, turun perlahan seperti ular-ular piton yang kelaparan.

Gesekan antar dahan menimbulkan suara gemeretak tulang patah.

KRETEK... KRAK...

Dari kegelapan di antara celah akar-akar raksasa itu, dua titik merah menyala. Bara api yang tidak memancarkan panas, melainkan dingin yang membekukan sumsum tulang.

"Eyang sudah lama menunggu," bisik Sumirah, suaranya kini terdengar ganda, seolah ada suara lain yang lebih berat dan parau menumpang di tenggorokannya.

Sosok itu memisahkan diri dari batang utama.

Tinggi besar. Tiga kali tinggi manusia normal. Tubuhnya terjalin dari akar-akar hitam, tanah kuburan, dan kegelapan murni. Wajahnya tidak terbentuk jelas, hanya gumpalan akar yang menyerupai tengkorak abstrak dengan dua mata merah menyala.

Eyang Sukma.

Ini bukan hantu. Ini adalah manifestasi kuno. Dewa-dewa kecil yang dilupakan zaman namun tetap lapar.

Maya terbelalak. Air mata ketakutan mengalir tanpa bisa dibendung. Tubuhnya kaku, lumpuh total. Ia ingin berteriak, tapi pita suaranya terkunci.

Sosok raksasa itu tidak melangkah, ia melayang rendah, menyeret hawa dingin yang mematikan rumput di sekitarnya. Bau busuk mayat menyeruak, begitu tajam hingga Maya tersedak.

Gending semakin menggila. CENG-CENG-CENG! Tempo gamelan bertalu-talu, seirama dengan detak jantung Maya yang nyaris meledak.

"ꦮꦢꦃ..."

Satu kata. Keluar dari rongga dada makhluk akar itu. Suaranya seperti batu-batu sungai yang beradu di dasar jurang. Berat. Menggetarkan tanah tempat Maya berpijak.

"Ibumu lari," Sumirah berbicara lagi, kini berdiri tepat di samping Maya, menatapnya dengan pandangan iba yang palsu. "Ratna bodoh. Dia pikir dia bisa menipu Eyang dengan menukar nyawanya sendiri. Tapi perjanjian tetaplah perjanjian. Darah harus diganti darah yang lebih muda."

Tangan Eyang Sukma terulur. Jari-jarinya yang terbuat dari ranting runcing dan tajam mengarah ke wajah Maya.

"Jangan..." Maya merintih, suaranya nyaris tak terdengar. "Tolong..."

"Jangan melawan," bisik Sumirah, tangannya yang keriput dan dingin mencengkeram bahu Maya, menahannya agar tetap di tempat. Cengkeramannya sekuat besi. "Terimalah takdirmu sebagai Penjaga Janji. Jadilah Wadah."

Ujung jari kayu Eyang Sukma menyentuh dahi Maya.

Dunia meledak dalam warna putih dan jeritan.

Di antara dahan-dahan yang gelap, bergelantungan puluhan wong-wongan. Boneka jerami seukuran manusia itu bergoyang-goyang meski tidak ada angin. Wajah-wajah batok kelapa mereka seolah menunduk menatap Maya.

KLANG! CENG-CENG-CENG!

Gamelan semakin keras. Semakin cepat. Tempo yang memburu jantung.

"Eyang..." Sumirah membungkuk hormat, dahinya menyentuh tanah. "Wadah sudah siap."

KRETEK... KRAAAK...

Suara kayu pecah membahana. Batang pohon beringin itu terbelah di tengah. Getah merah pekat-kental seperti darah-merembes keluar dari celah yang terbuka.

Dari dalam kegelapan rongga pohon itu, dua titik merah menyala.

Bukan api. Mata.

Maya mundur, gemetar hebat hingga lututnya beradu. "Tidak... ini tidak nyata... ini cuma halusinasi..."

Makhluk itu memisahkan diri dari inangnya.

Tinggi menjulang. Tubuhnya tersusun dari jalinan akar hitam yang basah, tanah kuburan, dan kegelapan murni. Bentuknya samar-samar menyerupai manusia, namun dengan proporsi yang mengerikan-lengan yang terlalu panjang hingga menyentuh tanah, dan kepala yang menyatu dengan bahu tanpa leher.

Eyang Sukma.

Hawa dingin yang menusuk tulang menyapu area itu. Bukan dingin AC, melainkan dinginnya kamar mayat. Bau busuk bangkai menyeruak tajam, membuat Maya tersedak dan menutup hidung.

Makhluk itu tidak melangkah. Ia melayang rendah, akar-akar di kakinya menyeret tanah, meninggalkan jejak hitam yang mematikan rumput di sekitarnya.

"ꦮꦢꦃ..."

Satu kata. Keluar dari tempat yang seharusnya mulut. Suaranya berat, bergema, tumpang tindih antara suara pria paruh baya dan geraman binatang buas.

Tanah di bawah kaki Maya bergetar hebat.

Logika Maya hancur. Pendidikan arsitekturnya, rasionalitas kota besarnya, semua lenyap tak berbekas. Di hadapan makhluk ini, ia hanyalah semut yang tersesat di sarang pemangsa.

"Ibumu curang," bisik Sumirah, kini sudah berdiri tegak di samping makhluk itu, tampak kerdil namun memegang kendali situasi. "Dia pikir nyawanya cukup untuk menebus janji. Tapi Eyang tidak butuh nyawa tua yang sudah layu. Eyang butuh yang segar. Yang satu darah."

Sumirah menatap Maya dengan lapar. "Darah Penjaga Janji."

Akar-akar pohon di sekitar kaki Maya tiba-tiba menyentak keluar dari tanah.

"Ah!" Maya menjerit saat pergelangan kakinya dililit erat. Kasar. Kulitnya lecet seketika.

Ia ditarik paksa. Tubuhnya terseret di atas tanah berbatu. Kuku-kukunya mencakar tanah, berusaha mencari pegangan, tapi sia-sia. Kekuatan itu mutlak.

"Lepas! Tolong!"

Tubuhnya diseret mendekat ke arah Eyang Sukma. Jarak mereka kini hanya tiga meter. Maya bisa melihat detail mengerikan pada tubuh makhluk itu-potongan kain kafan lusuh, tulang-belulang hewan, dan wong-wongan kecil yang terperangkap dalam jalinan akarnya.

Makhluk itu menunduk. Wajah abstraknya mendekat ke wajah Maya.

Hawa panas busuk menerpa wajahnya.

GONG!

Suara gong terakhir berbunyi panjang, tidak putus-putus.

Tangan Eyang Sukma-yang berupa kumpulan ranting tajam setajam belati-terangkat perlahan. Ujung jari telunjuknya mengarah ke dahi Maya.

"Terimalah," Sumirah mendesis, matanya melotot gila. "Jangan melawan. Biarkan Beliau masuk."

Maya memejamkan mata rapat-rapat, air mata mengalir deras membasahi pipi yang kotor oleh tanah. "Tuhan..."

Ujung ranting itu menyentuh kulit dahinya.

Dingin.

Bukan dingin es. Dingin hampa.

Rasa sakit yang tak terlukiskan meledak di kepala Maya. Rasanya seperti otaknya dibelah paksa. Ribuan gambar, suara jeritan, dan memori yang bukan miliknya membanjiri pikiran. Ia melihat desa ini terbakar, melihat orang-orang disembelih di bawah pohon ini ratusan tahun lalu, melihat ibunya menangis darah.

Kesadarannya mulai tersedot keluar. Gelap.

Dan di kejauhan, di antara dengung telinganya yang menyakitkan, ia mendengar tawa Nenek Sumirah yang melengking, bersahut-sahutan dengan suara gamelan yang kian gila.

Maya tidak lagi tahu siapa dirinya.

Hutan itu telah menelannya bulat-bulat.

Dingin yang tak terbayangkan menjalar masuk, menembus kulit, merayap ke balik tengkorak, membekukan otak. Rasanya seperti ribuan jarum es ditancapkan sekaligus. Ingatan Maya berantakan. Wajah ibunya, wajah Andi, jalanan Jakarta-semua berputar dan hancur, digantikan oleh visi kegelapan, akar-akar yang membelit, dan rasa lapar yang purba.

Maya mengejang. Matanya memutih.

Suara gamelan berhenti mendadak.

Hening. Senyap...

Hanya suara napas Maya yang tersengal, dan tawa lirih Nenek Sumirah yang menggema di antara pepohonan jati.

"Selamat datang kembali, Nduk."