Sinta bersandar pada bahu Naufal, menikmati sisa kehangatan malam itu. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga kamboja dari taman hotel mewah tempat mereka baru saja berpisah. “Terima kasih sudah meluangkan waktu untukku malam ini, sayang. Sudah mengenalkan aku pada Mama kamu juga,” ucap Sinta. Senyumnya merekah, mencerminkan kebahagiaan yang tengah ia rasakan. Namun, di balik kebahagiaan itu, bayangan masa lalu masih menghantui Naufal, bayangan Chintya yang tak pernah benar-benar sirna. Naufal tersenyum, jari-jarinya terulur, mengelus lembut rambut Sinta.
“Maaf, sudah membuatmu kecewa dan marah,” gumamnya, suaranya berat, seakan memikul beban yang tak terlihat. Beban yang selalu menghantuinya, bayangan masa lalu yang tak pernah benar-benar sirna. Bayangan Chintya dan perannya dalam menghancurkan keluarganya.
Sinta tersenyum, memeluk Naufal erat. Tubuhnya terasa hangat dalam pelukan itu, menenangkan kekhawatiran yang sempat mengusik hatinya. "Aku mencintaimu, Komandan..” bisiknya di telinga Naufal, suaranya hampir tak terdengar, namun penuh makna.
Sebuah ciuman lembut mendarat di pipi Naufal, sebuah tanda kasih sayang yang tulus. Di dalam pelukan itu, untuk sesaat, Naufal melupakan beban yang selalu menimpanya. Namun, kebahagiaan itu hanya sementara. Kehangatan itu tak mampu menghapus luka lama yang selalu menganga di hatinya. Naufal membalas pelukan itu, tangannya membelai punggung Sinta. Ia merasakan betapa lekatnya Sinta dalam hidupnya, betapa beruntungnya ia memiliki wanita seperti Sinta.
“Tidak usah diantar, kamu langsung pulang saja,” kata Sinta, merasa tak tega merepotkan Naufal lebih lama lagi. “Tidak apa-apa,” balas Naufal, menggandeng pinggang Sinta, membawanya masuk ke dalam hotel. Sentuhannya lembut, namun tegas, menunjukkan kepemilikan yang tak terbantahkan. “Ok, sampai besok,” Sinta melambaikan tangannya, masuk ke dalam lift. Senyumnya masih terukir di wajahnya, menyimpan kenangan manis malam itu. Namun, di balik senyum itu, bayangan Chintya kembali menghantuinya, lebih gelap dan mencekam dari sebelumnya. Bayangan itu seperti bayangan maut yang selalu mengikutinya. Naufal tersenyum, memperhatikan Sinta menghilang di balik pintu lift. Ia lalu melangkah menuju pintu keluar hotel, hatinya dipenuhi perasaan campur aduk. Kebahagiaan karena akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama Sinta bercampur dengan kekhawatiran akan pertemuan yang tak terelakkan. Ia tahu, Chintya pasti menunggunya. Dan pertemuan ini, ia tahu, akan lebih menyakitkan dari yang pernah ia bayangkan. Lebih menyakitkan daripada luka yang telah lama menganga di hatinya.
Chintya sudah berdiri di depan pintu, siluetnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu hotel. Rambutnya yang hitam panjang tergerai, menutupi sebagian wajahnya yang terlihat tegang. Wajah yang selalu mengingatkan Naufal pada masa lalu yang pahit. Masa lalu di mana wanita ini telah menghancurkan keluarganya, merebut ayahnya dari pelukan ibunya, Adelia. Dan kini, bayangan itu kembali menghantuinya, lebih nyata dan lebih menyakitkan.
“Tante Chintya?” sapa Naufal, suaranya datar, berusaha menyembunyikan gejolak emosi di dalam dirinya. Ia berusaha bersikap tenang, namun dadanya terasa sesak. Sesak karena amarah, sesak karena luka lama yang kembali terbuka. Luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
“Naufal,” Chintya memulai, suaranya bergetar, “Aku tahu kau membenciku. Dan kau berhak membenciku.” Air matanya mulai menetes, membasahi pipinya. Air mata penyesalan, atau mungkin, air mata keputusasaan. “Aku tidak ingin melihatmu lagi, Tante,” potong Naufal, suaranya dingin, tegas. Ia berusaha mengendalikan amarahnya, namun sulit baginya untuk menahan gejolak emosi yang tengah melanda. Amarah yang telah lama terpendam, kini siap meledak.
“Kau harus mendengar ini,” Chintya memohon, suaranya hampir tak terdengar karena isakan. “Ini tentang… tentang anakku.” “Aku tidak peduli!” Naufal membentak, suaranya penuh amarah. “Kau telah menghancurkan hidup Mamaku. Kau lupa bagaimana teganya telah membuat Azam harus kehilangan Papa di usia 2 tahun! Kau tidak punya hak untuk memintaku peduli!” Amarah yang selama ini terpendam, meledak. Kata-kata itu keluar tanpa kendali, dipenuhi oleh kebencian yang mendalam.
Chintya terisak, menahan tubuhnya agar tidak jatuh. “Dia… dia sakit, Naufal. Sangat sakit. Leukemia.” Tangisnya pecah, suaranya terputus-putus oleh isakan. “Raisa… anakku… dia membutuhkan bantuan.” Suaranya penuh keputusasaan, penuh rasa tak berdaya.
Naufal terdiam, kata-kata Chintya menusuk hatinya. Meskipun ia membenci Chintya, ia tak bisa begitu saja mengabaikan penderitaan seorang anak. Namun, amarah dan kebencian masih menguasai dirinya. “Aku… aku tidak mengenal anakmu,” Naufal berkata, suaranya masih keras, namun ada sedikit getaran di dalamnya. Ia mencoba untuk tetap tegar, namun perlahan-lahan, pertahanan emosinya mulai runtuh.
“Dia tak berdosa, Naufal,” Chintya memohon, menatap Naufal dengan mata yang berkaca-kaca. “Dia hanya seorang anak kecil yang membutuhkan bantuan. Tolong… tolonglah dia.” Suaranya penuh keputusasaan.
"Papa kemana? Kenapa tante bisa berada disini?" Naufal mengalihkan pembicaraan, mencoba untuk mengendalikan emosinya yang mulai tak terkendali. Ia mencoba untuk mencari celah, untuk menghindari permintaan Chintya.
"Dia meninggalkan kami saat Raisa berusia 3 tahun. Bersama wanita cantik yang usianya mungkin 6 atau 7 tahun lebih tua darimu," jawab Chintya, suaranya masih bergetar. Ia menceritakan semuanya, tanpa menyembunyikan sesuatu pun. Ia ingin Naufal tahu segalanya. Darah Naufal serasa menggelegak mendengar ayahnya telah berpindah hati ke wanita lain.
"Aku tak punya pekerjaan, Fatar sama sekali tak menafkahi Raisya. Aku bekerja keras untuk anakku yang kemudian divonis leukimia. Belum selesai masalahku, tiba-tiba aku dipecat dari perusahaan dengan tuduhan menggelapkan uang perusahaan. Membuatku terlempar ke jalan bersama Raisya. Hingga kuputuskan untuk kembali ke kota ini. Aku berharap pada ibuku yang aku yakin masih ada di kota ini. Tapi yang aku dapati.. Ibu sudah tidak ada. Aku mencoba mencari pekerjaan, hanya pekerjaan sebagai cleaning service ini yang aku dapatkan. Gajinya tidak cukup untuk biaya hidup dan obat untuk Raisya." Chintya menceritakan semuanya dengan detail, dengan emosi yang meluap-luap. Ia ingin Naufal memahami keadaannya.
Chintya menatap wajah Naufal, menunggu jawabannya. Matanya penuh harapan, penuh permohonan. "Bisakah malam ini.. Aku meminta bantuanmu? Untuk biaya berobat Raisya?"
Naufal memejamkan mata, mencoba untuk menenangkan dirinya. Ia merasakan pertempuran hebat antara amarah dan belas kasih di dalam dirinya. Ia membenci Chintya, namun ia tak bisa menolak permintaannya. Ia tak bisa menolak permintaan seorang ibu yang memohon untuk anaknya. Meskipun itu adalah anak dari wanita yang telah memporakporandakan hati ibunya.
Setelah beberapa saat terdiam, Naufal membuka matanya. Suaranya terdengar parau, penuh emosi. “Berapa… berapa biaya yang dibutuhkan?” Pertanyaan itu keluar dengan suara yang bergetar. Ia tahu, ia tak bisa menolak. Ia tak bisa meninggalkan seorang anak menderita. Meskipun anak itu adalah anak dari wanita yang telah menghancurkan hidup ibunya. Meskipun ia masih dipenuhi oleh amarah dan kebencian. Namun, di dalam hatinya, ada sesuatu yang berubah. Ada sebuah ikatan yang menautkannya dengan putri tunggal Chintya.