NING... GUNG...
Suara merembes. Bukan lewat telinga, tapi pori-pori.
Maya terhuyung. Tangan mencengkeram batang jati terdekat. Kulit kayu kasar mengelupas di bawah kuku, tapi perih itu kalah oleh mual yang menghantam ulu hati.
Irama kacau. Ketukan kenong terlambat, disusul gong berdengung terlalu panjang. Getaran tidak merambat di udara, melainkan menjalar lewat tanah, merayap naik ke sol sepatu, menggetarkan tulang kering, hingga berujung pada dentuman di pelipis.
NING... NONG...
"Berhenti..." desis Maya. Napas memburu. Uap hangat keluar dari mulut, langsung lenyap ditelan udara malam.
Suhu anjlok drastis. Bukan sejuk khas pegunungan, tapi beku yang mematikan saraf. Hutan ini seperti baru saja dilempar ke dalam kamar mayat.
Hutan jati membisu.
Satu detik lalu, jangkrik dan garengpung masih bising. Kini, senyap. Hening menekan gendang telinga hingga berdengung. Alam menahan napas. Hewan-hewan malam tahu ada pemangsa puncak lewat. Insting purba memerintahkan mati suri.
Hanya gamelan gaib yang berkuasa. Kian dekat. Kian nyaring.
Maya memutar tubuh. Mata nanar menyapu kegelapan. Pohon-pohon jati meranggas tampak seperti jeruji penjara. Ranting-ranting kering di atas sana membentuk siluet jari keriput yang siap mencongkel mata.
Sumirah berdiri di sana. Punggung bungkuk kini tegak tak wajar. Kain jarik batik lusuh berkibar pelan tanpa angin.
"Kau pikir bisa lari, Nduk?"
Suara berubah. Tidak lagi serak khas lansia. Berat. Ganda. Seolah ada dua pita suara bergetar bersamaan di tenggorokan.
Sumirah terkekeh. Kering, seperti gesekan daun mati. Tangan keriput mengangkat uplik setinggi wajah.
Cahaya jingga menyinari wajah yang asing. Kulit abu-abu, kencang di tulang pipi seolah ditarik paksa. Bola mata memutih sepenuhnya. Tanpa pupil. Hanya selaput katarak tebal memantulkan api.
"Desa ini perut," bisik Sumirah. Gigi-gigi hitam bekas sirih menyeringai. "Dan kau sudah masuk ke ususnya."
GUNG...
Tanah bergetar.
Bukan gempa. Getaran lokal. Terpusat. Seperti jantung raksasa berdegup di bawah lapisan humus.
Bau itu datang lebih dulu.
Melati dan kenanga menyengat, bercampur anyir darah ayam cemani. Harum dan busuk berpilin, memicu gejolak di lambung Maya. Cairan asam naik ke kerongkongan.
Di belakang Sumirah, di antara celah akar gantung beringin, kegelapan memadat.
Hitam yang lebih pekat dari malam.
Maya menyipitkan mata. Ia melihat struktur itu. Massa yang begitu masif, namun ditopang oleh jalinan akar yang kacau. Secara logika, beban seberat itu seharusnya runtuh. Tidak ada tumpuan solid. Akar-akar itu menggantung, melawan gravitasi, seolah hukum alam tidak berlaku di radius ini. Beton sekuat apa pun akan retak jika didesain seperti itu, tapi makhluk ini... ia berdiri kokoh.
Mustahil.
Naluri menjerit satu kata: LARI.
Dua titik merah menyala dari dalam kegelapan. Bara api dingin. Menatap lapar.
"Apa..." cicit Maya. Lutut kehilangan engsel. Tubuh merosot, jatuh terduduk di atas tanah lembap berbau lumut.
"Sambutlah Eyang Sukma," Sumirah merentangkan tangan. "Sang Penagih Janji."
KRETEK... KRAK!
Sosok itu tidak berjalan keluar. Ia tumbuh.
Tubuh tersusun dari ribuan akar kayu tua yang membelit, basah oleh lendir hitam. Tanpa kulit. Tanpa daging. Hanya serat kayu yang bergerak sendiri seperti kumpulan ular sanca membentuk torso raksasa. Tinggi melebihi atap cungkup, menjulang menutupi bulan.
Di bagian wajah, hanya rongga gelap. Sebuah lubang menganga tak henti meneteskan cairan kental busuk.
Tes. Tes.
Cairan jatuh ke tanah. Rumput liar mendesis, hangus terkena asam.
"ꦮꦢꦃ..." (Wadah...)
Kata itu meledak langsung di tempurung kepala. Menghantam otak dengan nyeri luar biasa, seolah paku berkarat ditancapkan paksa.
"ARGH!" Maya menjerit, menjambak rambut sendiri. Mata terpejam erat. Air mata meleleh. "KELUAR DARI KEPALAKU!"
Maya membuka mata. Makhluk akar raksasa menunduk. Suara kayu bergesekan terdengar ngilu. Kriet...
"Jangan..." Maya merangkak mundur. Tumit menendang tanah, jari menggaruk lumpur basah. Kuku jari manis patah menghantam batu kali. Perih terabaikan.
Lari. Harus lari.
Tubuh menolak. Kaki berat, seolah digelayuti beton. Kaku. Mati rasa.
"Bacalah," Sumirah menunjuk nisan kayu tua di dalam cungkup yang kini tersorot cahaya merah.
Di sana, terukir aksara Jawa kuno. Tajam. Kaku. Guratan dalam, seolah diukir dengan kuku.
ꦮꦢꦃ
Wadah.
"Kau bukan tamu," lanjut Sumirah datar. "Kau properti."
SRET!
Sesuatu melilit pergelangan kaki kiri.
Dingin. Kasar. Basah.
Maya menunduk horor. Seakan pohon-bukan, seutas urat kayu-muncul dari tanah, melilit kaki. Duri-duri halus langsung menembus kain celana, menusuk kulit.
"TIDAK!" Maya menendang liar. Kaki kanan menghantam akar itu. Keras seperti besi. "LEPASKAN!"
Akar menyentak.
Tubuh Maya terseret. Punggung menghantam tanah, ditarik paksa melewati bebatuan tajam dan semak berduri.
"AAAAKH!"
Teriakan membelah hutan, namun langsung diredam rimbun daun jati. Burung hantu di kejauhan menyahut. Kuk. Terdengar seperti tawa.
Ia diseret mendekati pohon beringin raksasa. Mendekati Eyang Sukma yang menunggu dengan rongga dada terbuka. Di dalam rongga akar gelap itu, Maya melihat sesuatu berdenyut. Merah. Basah. Seperti jantung tanpa kulit dikerubungi ribuan serangga.
Bau bangkai menyerbu hidung. Pekat. Maya tersedak.
Tangan meraba tanah panik. Menyentuh akar jati yang menonjol keluar. Ia mencengkeram erat. Bertahan mati-matian. Otot lengan menegang, urat leher menonjol.
"Ibu..." isaknya. Wajah penuh lumpur. "Tolong Maya..."
Tarik-menarik terjadi. Daging manusia melawan kekuatan tanah terkutuk.
Sumirah hanya menonton. Ia meletakkan uplik di atas nisan, lalu mulai menari. Gerakan patah-patah. Kaku. Seperti wayang kulit rusak engselnya. Mulut komat-kamit merapalkan mantra.
"ꦫꦒꦱꦸꦏ꧀ꦩ..." (Raga Sukma...)
Akar di kaki mengencang. Duri menancap lebih dalam, merobek daging. Darah hangat mengalir, membasahi kaus kaki putih menjadi merah gelap.
Sakit itu menghancurkan pertahanan. Cengkeraman tangan pada akar jati melemah. Terlepas.
"Darah," suara Eyang Sukma bergema di kepala.
Visual membanjiri otak Maya. Kilatan gambar acak namun nyata.
Wanita-wanita berkebaya digantung terbalik. Bayi-bayi merah ditanam hidup-hidup di sela akar. Tanah desa yang subur disiram air ketuban selama ratusan tahun.
Sejarah kelam keluarga.
"ARGH!" Maya memegang kepalanya yang serasa mau pecah.
Fatal.
Tubuhnya terseret cepat masuk ke dalam bayangan beringin.
Gelap menelan.
Wajah Maya kini tepat di depan rongga dada Eyang Sukma. Bau anyir begitu dekat. Uap lembap menerpa kulit wajah. Akar-akar halus mulai merayap naik ke paha, pinggang, membelit dada. Meremas tulang rusuk. Kretek.
Sesak. Paru-paru terhimpit. Oksigen menipis.
Ia mendongak. Menatap "wajah" makhluk itu.
Lendir hitam menetes dari rongga mata, jatuh tepat di pipi Maya. Panas. Melepuh.
"Selamat datang di rumah, Cucuku..."
Suara itu bukan manusia. Itu suara ribuan serangga berdengung serentak.
Pandangan kabur. Titik-titik hitam menari. Kesadaran tersedot keluar, digantikan kepanikan purba.
Hal terakhir yang ia lihat adalah wajah Nenek Sumirah. Tersenyum lebar. Melambaikan tangan kaku. Suara gamelan kematian bertalu-talu. Semakin gila. Semakin cepat. Seolah merayakan panen raya.
NING... GUNG... NING... GUNG...
Sunyi.
Hanya gelap. Dan rasa lapar yang abadi.