Tanah yang Haus Darah

Penulis djoedo
11 February 2026

Tanah yang Haus Darah

Bau anyir...

Bukan amis ikan pasar, melainkan aroma besi berkarat yang menempel di langit-langit mulut. Darah.

Maya tersentak bangun. Napasnya memburu, namun tertahan selembar kain kasar yang menyumpal mulut. Ia mencoba berteriak, tapi hanya erangan tertahan yang keluar. Tangannya terikat kuat ke belakang tiang kayu jati. Kasar. Serat tali rami menggerus pergelangan tangan hingga perih.

Gelap.

Cahaya hanya berasal dari celah-celah dinding papan kayu yang lapuk. Di luar, kabut putih bergulung rendah, menjilati tanah becek Desa Kalimati. Ini bukan kamar tamu di rumah warisan ibunya. Ini kandang. Atau gudang penyimpanan hasil bumi yang sudah lama kosong. Udaranya pengap, berbau apek jerami basah dan... kencing tikus.

BRUK.

Suara benda jatuh di luar.

Maya menajamkan telinga. Jantungnya memukul-mukul rusuk, sakit sekali.

"Sialan! Licin banget tanahnya."

Suara itu.

Darah Maya berdesir hebat. Matanya membelalak ngeri. Itu suara Reza. Rekan satu biro arsiteknya di Jakarta. Laki-laki necis yang selalu pakai sepatu loafers mahal bahkan ke lokasi proyek.

"May? Maya!" Teriakan Reza terdengar frustrasi. "Sumpah, kalau ini prank, nggak lucu. Mobil gue nyangkut di lumpur depan sana!"

Jangan. Jangan ke sini. Lari, bodoh!

Maya meronta. Kakinya menendang-nendang lantai tanah yang keras. Ia harus memberi peringatan. Jika Reza ada di sini, berarti dia sudah melewati batas desa. Dia sudah masuk ke dalam perut binatang buas ini.

"Halo? Permisi!" Suara Reza semakin dekat. Langkah kakinya terdengar berat mencipak lumpur. "Ada orang? Bu? Pak? Saya cari teman saya, Maya. Mobilnya ada di depan rumah besar itu."

Hening.

Tidak ada jawaban dari penduduk desa. Keheningan yang tidak wajar. Biasanya, kedatangan orang asing di desa terpencil akan memancing gonggongan anjing atau anak-anak kecil yang mengintip. Tapi Kalimati diam. Diam seperti makam yang menunggu penghuni baru.

Maya berhasil melonggarkan ikatan di kakinya sedikit. Ia menendang dinding papan di belakangnya.

DUG! DUG!

Di luar, langkah Reza terhenti. "Maya? Itu lo?"

Suara langkah kaki mendekat ke arah gubuk tempat Maya disekap. Cepat. Tergopoh-gopoh.

"May, lo di dalem?"

KREEEEK.

Pintu gubuk itu tidak dikunci, hanya diganjal balok kayu dari luar. Cahaya senter menyilaukan mata Maya. Sosok Reza berdiri di ambang pintu, siluetnya memotong kabut malam. Wajahnya pucat, kemeja kerjanya basah oleh keringat dan gerimis.

"Ya Tuhan, Maya!" Reza menerjang masuk, menarik sumbatan kain dari mulut Maya.

"LARI, ZA! LARI!" Teriak Maya seketika, suaranya parau, menyakitkan tenggorokan. "JANGAN MASUK KE SINI!"

Reza tertegun, tangannya gemetar saat mencoba membuka ikatan di tangan Maya. "Lo gila? Gue jauh-jauh nyusul lo karena lo ngilang tiga hari, ditelepon nggak aktif, kantor panik... dan gue nemuin lo diiket kayak binatang gini? Siapa yang ngelakuin ini? Warga sini?"

"Reza, dengerin gue!" Maya mencengkeram lengan temannya. Kukunya menancap. Tatapannya liar. "Ini bukan desa biasa. Kita harus pergi. Sekarang. Jangan lewat jalan utama. Lewat hutan belakang, ikutin aliran sungai kering!"

"Oke, oke, tenang. Kita lapor polisi nanti. Gue papah lo."

Mereka berdua terhuyung keluar dari gubuk.

Udara malam menyambut mereka. Dingin. Menusuk pori-pori. Kabut tebal membatasi pandangan hanya sejauh lima meter. Namun, ada yang aneh.

Bau kemenyan. Pekat. Menyengat. Bercampur dengan aroma melati yang layu.

NING...

Satu denting kenong. Lirih. Tapi suaranya tidak memudar, justru menggantung di udara, bergetar panjang.

Reza berhenti. "Suara apa itu?"

"Jangan berhenti," desis Maya, menarik kemeja Reza. "Jalan terus!"

NONG...

Bunyi kedua. Lebih dekat.

Tiba-tiba, dari balik kabut di depan mereka, muncul sesosok bayangan. Diam. Kaku.

Reza menyipitkan mata, mengarahkan senter HP-nya. "Pak? Numpang tanya jalan keluar..."

Cahaya senter menyapu sosok itu.

Maya menahan napas.

Itu bukan manusia.

Itu wong-wongan. Orang-orangan sawah. Terbuat dari jerami kering yang diikat kawat berkarat, mengenakan baju batik lusuh yang kedodoran. Kepalanya dari batok kelapa yang digambari wajah menyeringai dengan kapur putih.

Tapi wong-wongan itu berdiri di tengah jalan setapak. Menghadang.

"Anjir, kaget gue," Reza mengumpat, memegang dadanya. "Orang sini iseng banget naruh boneka di tengah jalan."

"Reza... boneka itu tadi nggak ada di sana," bisik Maya. Tubuhnya menggigil bukan karena dingin.

"Hah?"

SREK.

Suara gesekan. Seperti sapu lidi yang diseret di tanah.

Wong-wongan itu menoleh.

Batok kelapa itu berputar kaku. Lubang matanya yang hitam menatap lurus ke arah mereka.

Reza mundur selangkah. "May... itu barusan gerak?"

Sebelum Maya sempat menjawab, suara Gending Kematian meledak dari segala arah. Bukan lagi satu dua nada, tapi tabuhan penuh yang cacat dan sumbang. GONG! GONG! GONG! Iramanya memburu, seperti detak jantung orang yang sekarat.

Tanah di sekitar mereka mulai bergolak.

"Reza, AWAS!"

Dari dalam tanah becek di bawah kaki Reza, akar-akar mencuat. Cepat seperti cambuk.

KRESSS!

"ARGH!" Reza menjerit. Pergelangan kakinya terlilit akar kayu yang licin berlendir. Ia tersentak jatuh, wajahnya menghantam lumpur.

"REZA!" Maya mencoba meraih tangannya.

Akar-akar itu hidup. Mereka bergerak seperti ular piton, membelit betis, paha, hingga pinggang Reza. Menariknya menjauh dari Maya. Menariknya ke arah kegelapan hutan di mana Pohon Beringin purba menunggu.

"Tolong! May! Tolongin gue! Sakit! SAKIT! SAKIT!!!" Reza meronta-ronta, kukunya mencakar tanah, meninggalkan parit-parit kecil di lumpur.

Maya menyambar sebatang kayu lapuk, memukul akar yang membelit kaki Reza. BUKK! BUKK! Kayu itu hancur. Akar itu sekeras besi.

"Lepaskan dia!" teriak Maya histeris.

Dari balik kabut, muncul sosok-sosok manusia. Penduduk Desa Kalimati. Puluhan. Mereka berdiri melingkar, memegang obor yang apinya tidak bergoyang meski angin bertiup kencang. Wajah mereka datar. Mata mereka kosong, hitam seluruhnya tanpa bagian putih.

Nenek Sumirah berdiri di antara mereka, mengenakan kebaya hitam beludru. Ia tidak tersenyum. Ia menatap Reza seperti seorang tukang daging menatap sapi gelonggongan.

"Tamu," suara Sumirah pelan namun terdengar jelas di telinga Maya, mengatasi jeritan Reza. "Darah kota. Darah asing. Bagus untuk mencuci tanah sebelum ritual utama."

"JANGAN!" Maya melompat ke arah Sumirah, tapi dua pemuda desa-wajah mereka dikenali Maya sebagai tukang ojek yang ramah di pangkalan-menahan lengannya kasar.

"Liat, Nduk," bisik Sumirah. "Lihat apa yang terjadi kalau kau menolak takdir."

Reza terseret makin cepat. Tubuhnya menabrak batu, menabrak batang pohon. Kemejanya robek, punggungnya berdarah. Ia berteriak memanggil nama Tuhan, memanggil nama ibunya.

Lalu, akar-akar itu mengangkat tubuh Reza ke udara. Tinggi. Tiga meter di atas tanah.

Tubuh Reza tergantung terbalik. Wajahnya merah padam, matanya melotot nyaris keluar. Akar-akar itu melilit lehernya, dadanya, perutnya.

"M-May..." suara Reza tercekat. "To...long..."

KRAK.

Suara tulang patah. Keras dan kering. Seperti ranting yang diinjak sepatu bot.

Tubuh Reza tersentak hebat, lalu lemas. Kepalanya terkulai dengan sudut yang tidak wajar.

Darah segar menetes. TES... TES... Jatuh ke atas tanah gersang di bawahnya.

Tanah itu mendesis saat terkena darah. Asap tipis mengepul. Seolah tanah Kalimati begitu haus hingga ia meminum cairan merah itu dengan rakus.

Maya berhenti meronta. Lututnya lemas. Ia jatuh terduduk di lumpur. Matanya tidak berkedip menatap tubuh temannya yang kini berayun pelan ditiup angin malam, diiringi gending yang perlahan mereda menjadi senandung lirih yang menyayat hati.

Bau anyir darah Reza kini bercampur dengan bau tanah basah.

Nenek Sumirah berjongkok di depan Maya, mencengkeram dagunya, memaksanya menatap mayat itu.

"Satu sudah lunas untuk pembuka jalan," desis wanita tua itu. Bau napasnya seperti bunga melati yang membusuk. "Teman-temanmu yang lain sedang di jalan, Nduk. Mau berapa banyak lagi yang harus mati supaya kau mau duduk di pelaminan Eyang Sukma?"

Maya gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena rasa bersalah yang menghancurkan kewarasannya. Reza mati karena dia.

"Kau iblis..." bisik Maya.

"Aku penjaga," koreksi Sumirah. Ia berdiri, menepuk tangannya. "Bawa calon pengantin ini kembali ke cungkup. Mandikan dengan air kembang tujuh rupa. Bersihkan daki kotanya."

Para penduduk desa bergerak serentak. Tanpa suara. Tanpa emosi.

Maya diseret kembali ke dalam kegelapan, meninggalkan tubuh Reza yang masih hangat, tergantung seperti boneka rusak di dahan pohon beringin. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara mobil lain yang menderu mendaki bukit.

Satu lagi datang.

Satu lagi tumbal...