Hujan turun bukan sebagai air, melainkan jarum-jarum es yang menusuk-nusuk kulit bumi.
Di jalan setapak berbatu yang membelah hutan pinus, sebuah SUV hitam meraung-raung tertahan. Roda-rodanya selip, memuntahkan lumpur cokelat pekat ke udara. Mesin mobil itu mengerang, kepanasan, kalah melawan tanjakan licin Desa Kalimati.
"Sialan!" Dimas memukul setir. Napasnya memburu, menciptakan uap putih di kaca depan yang berembun. "GPS mati total. Kita di mana ini, Sar?"
Di kursi penumpang, Sarah mencengkeram ponselnya erat-erat. Layar itu gelap. Tidak ada sinyal, tidak ada koneksi. Tidak ada kehidupan. Hanya statis.
"Tadi... tadi ada plang kayu," suara Sarah bergetar. Ia menoleh ke belakang, menatap kegelapan hutan yang seolah menelan jalan yang baru saja mereka lewati. "Kalimati. Kita sudah benar, Dim. Rumah Maya ada di ujung jalan ini."
"Benar apanya?" Dimas mematikan mesin. Keheningan langsung menyergap. "Lihat sekeliling. Tidak ada lampu. Tidak ada rumah. Cuma ada hutan."
Dimas benar. Di luar sana, kegelapan begitu padat hingga terasa bisa diraba. Pohon-pohon jati berdiri kaku seperti barisan nisan raksasa. Angin tidak berembus, namun pucuk-pucuk daun bergoyang pelan.
Ting...
Sarah tersentak. "Dengar itu?"
"Apa?"
Ting... Tung...
Bunyi logam dipukul pelan. Iramanya sumbang. Jauh, namun terasa dekat di telinga. Suara itu bukan musik. Itu peringatan.
"Gamelan," bisik Sarah. Bulu kuduk di tengkuknya meremang. "Siapa yang main gamelan pagi-pagi begini di tengah hutan?"
Dimas membuka pintu mobil. Udara dingin berbau tanah basah dan kemenyan bakar langsung menampar wajahnya. Bau itu menyengat, manis namun memualkan, seperti aroma bunga sedap malam yang ditabur di atas bangkai lama.
"Halo!" Dimas berteriak. Suaranya pecah, tidak memantul, langsung diserap oleh pepohonan yang rapat. "Ada orang di sini? Mobil kami mogok!"
Senyap yang mencekam...
Lalu, kabut turun.
Bukan perlahan, tapi jatuh begitu saja seperti tirai putih yang tebal. Jarak pandang menyempit hingga nol. Cahaya lampu mobil hanya mampu menembus satu meter ke depan, memantul pada partikel air yang melayang diam di udara.
Dari balik kabut, bayangan-bayangan muncul.
Awalnya samar. Hanya siluet hitam yang berdiri diam di pinggir jalan. Satu. Dua. Sepuluh. Puluhan...
Sarah menahan napas. Tangannya menutup mulut.
Mereka bukan hantu. Mereka manusia. Penduduk desa.
Laki-laki, perempuan, tua, muda. Mereka mengenakan pakaian lurik kusam dan kebaya lusuh. Wajah-wajah itu pucat, tanpa ekspresi, dengan mata yang menatap kosong ke arah mobil. Di tangan mereka, obor-obor kecil dari bambu menyala redup, apinya tidak bergoyang meski udara terasa berat.
"Pak..." Dimas melangkah mundur, tangannya meraba kap mobil yang dingin. "Kami teman Maya. Maya Ratnawati. Kami... kami cuma mau jemput dia."
Salah satu sosok melangkah maju. Seorang pria tua dengan blangkon yang miring. Ia tidak menjawab. Tangan kanannya terangkat perlahan, menunjuk ke arah Dimas.
Di jari telunjuknya, terikat benang merah.
GUNG!
Suara gong besar berdentum entah dari mana. Getarannya merambat lewat tanah, menggetarkan sol sepatu Dimas.
Tanpa aba-aba, kerumunan itu bergerak.
Tidak berlari. Mereka berjalan cepat dengan langkah seret yang senada. Srek. Srek. Srek. Suara kaki telanjang yang bergesekan dengan kerikil basah.
"Masuk mobil, Sar! Kunci pintu!" teriak Dimas.
Terlambat...
Kaca jendela samping pecah berantakan. Sebuah cangkul berkarat menghantam masuk, nyaris mengenai kepala Sarah. Gadis itu menjerit histeris. Tangan-tangan kasar, kotor oleh tanah dan getah, menerobos masuk, menjambak rambutnya, menariknya keluar paksa.
"DIMAS! TOLONG! TOLONG! TOLONG!!!"
Dimas berbalik hendak menolong, tapi sesuatu yang berat menghantam tengkuknya. Pandangannya berkunang-kunang. Ia jatuh berlutut di lumpur.
Darah hangat mengalir dari kepalanya, bercampur dengan air hujan yang dingin.
Samar-samar, ia melihat Sarah diseret menjauh ke dalam kabut. Jeritan gadis itu bukan jeritan ketakutan biasa. Itu jeritan murni, jeritan hewan yang sadar nyawanya akan dicabut.
"Cuci..." bisik suara serak di telinga Dimas.
Seorang wanita tua membungkuk di hadapannya. Wajahnya keriput, penuh garis tegas yang kejam. Bau anyir darah menguar dari tubuhnya.
"Cuci tanahnya," bisik wanita itu lagi. Ia menyodorkan sebuah mangkuk batok kelapa ke bibir Dimas. Isinya cairan hitam pekat. "Tamu harus dijamu. Minum."
Dimas meludah, mencoba melawan. "Siapa... kalian..."
"Kami pagar," jawab wanita itu datar. "Dan kalian adalah pupuk."
Sebilah golok tumpul terangkat ke udara. Kilatannya menangkap cahaya bulan yang samar.
KRESSS!!!
Bunyi daging yang robek terdengar basah dan menjijikkan. Jeritan Dimas tertahan di tenggorokan, berubah menjadi gelembung darah.
Di dalam kamar pengap di rumah tua itu, Maya tersentak bangun.
Jantungnya berdegup kencang, menabrak-nabrak rusuk. Keringat dingin membasahi daster tipis yang ia kenakan.
Ia mendengar jeritan itu.
Itu bukan suara angin. Itu bukan suara burung hantu. Itu suara Sarah.
"Tidak..." Maya merangkak ke arah jendela yang dipalang kayu jati tebal. Kuku-kukunya mencakar celah sempit di antara papan. "Sarah? Dimas?"
Di luar sana, di halaman yang gelap, ia melihat arak-arakan obor.
Puluhan penduduk desa berjalan beriringan menuju pohon beringin di hutan larangan. Mereka tidak bersuara. Di barisan paling depan, empat orang pria memanggul dua bungkusan panjang yang dibungkus tikar pandan.
Bungkusan itu meneteskan cairan gelap yang meninggalkan jejak di tanah.
Darah...
Maya merosot ke lantai. Lututnya lemas. Ia membekap mulutnya sendiri agar tidak muntah.
Mereka datang. Teman-temannya datang untuk menyelamatkannya, sesuai janji di grup chat seminggu lalu. Dan sekarang, mereka hanyalah daging cincang yang diarak menuju akar Eyang Sukma.
Pintu kamar terbuka perlahan. Engselnya yang tua menjerit ngilu.
Nenek Sumirah berdiri di ambang pintu. Di tangannya, ada nampan berisi segelas air bening dan kembang melati. Wajah nenek itu tenang, seolah baru saja pulang dari pengajian, bukan pembantaian.
"Sudah bangun, Nduk?" tanyanya lembut. Terlalu lembut.
Maya mundur hingga punggungnya menabrak dinding. Matanya terpaku pada noda merah segar yang ada di kebaya Nenek Sumirah. Noda itu masih basah.
"Kau membunuh mereka..." desis Maya. Suaranya serak.
Sumirah tersenyum tipis. Ia meletakkan nampan di meja kecil. "Tidak ada yang membunuh, Maya. Kami hanya membersihkan. Tamu-tamumu membawa kotoran kota. Tanah ini butuh dicuci sebelum kau naik ke pelaminan."
Wanita tua itu mendekat. Bau amis darah kini bercampur dengan aroma melati yang menyengat. Ia mengusap pipi Maya dengan tangannya yang kasar dan dingin.
"Satu persatu kotoran akan hilang," bisik Sumirah. "Supaya Wadah-nya suci."
Maya menepis tangan itu. "JANGAN SENTUH AKU!!!"
Sumirah tidak marah. Ia justru tertawa kecil. Tawa yang kering seperti daun mati yang diremas.
"Simpan tenagamu. Masih ada dua mobil lagi yang sedang menuju kemari," ucap Sumirah sambil berbalik pergi. "Malam ini pestanya panjang."
Pintu terbanting menutup. Kunci diputar dari luar.
Di kejauhan, gending kematian kembali terdengar. Nadanya naik satu oktaf. Lebih cepat. Lebih lapar.
Maya sendirian dalam gelap. Dan ia tahu, giliran berikutnya sudah dekat.