Suasana restoran itu mencekam, berat seperti beban yang dipikul Chintya. Naufal mengamati wanita itu melahap makanannya, seolah ingin menelan semua kesedihan dan keputusasaan yang menimpanya. Kehausan akan makanan itu tampak jelas, mencerminkan kehausan akan sesuatu yang lebih besar—kebebasan dari belenggu hutang dan penderitaan hidup. Bekas air mata masih terlihat di sudut matanya, mengucap bisu betapa beratnya beban yang ia tanggung selama beberapa waktu terakhir. Beban biaya pengobatan Raisya, putrinya, dan lilitan hutang yang tak kunjung usai. Naufal merasakan simpati, campur aduk dengan rasa sakit hati akibat pengkhianatan Chintya terhadap Adelia, ibunya.
Chintya mengangkat kepala, tatapannya bertemu dengan tatapan Naufal yang dingin dan penuh perhitungan. Di balik tatapan dingin itu, Naufal menyimpan sejuta pertanyaan, sejuta keraguan.
"Kamu tidak makan?" tanyanya, suaranya lembut namun sedikit gemetar.
Naufal menggeleng. "Sudah makan tadi di rumah Mama," jawabnya singkat, mencoba menjaga jarak emosional, menghindari jebakan emosi yang mungkin akan ditimbulkan Chintya.
"Mama kamu… sehat?" Chintya melanjutkan, suaranya terdengar lebih ragu, menunjukkan keraguan dan penyesalan yang terpendam.
"Ya," jawab Naufal, tatapannya tetap terpaku pada Chintya, mencari kejujuran di balik tatapan mata itu, mencoba membaca isi hati wanita yang telah melukai ibunya.
"Tante ingin sekali minta maaf pada mama kamu," Chintya berucap, suaranya hampir tak terdengar, hanya berupa bisikan yang nyaris tak mampu menembus keheningan restoran. Permintaan maaf yang terasa hampa, tak mampu menghapus luka mendalam yang telah ditorehkan Chintya di hati ibunya. Permintaan maaf yang terasa terlambat dan tak cukup untuk menebus kesalahan.
Naufal mengalihkan pembicaraan, mencoba mengendalikan emosinya, mencari celah untuk memahami situasi sebenarnya. "Raisya tinggal dengan siapa jika Tante bekerja?"
"Kutitipkan pada tetangga di kontrakan," jawab Chintya. "Wanita baik hati, dia sudah sering membantu mengasuh Raisya." Suaranya terdengar sedikit gugup, menunjukkan keraguan dan ketakutan akan reaksi Naufal.
Naufal kembali menatap Chintya. Wanita itu telah menyelesaikan makanannya. Seorang pelayan datang membawa bungkusan.
"Pesanan take away, Mas," ucap pelayan itu. "Terima kasih," balas Naufal.
Setelah pelayan pergi, Naufal memandang jam tangannya. Ia menghela nafas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. "Aku tidak punya uang sebanyak yang Tante butuhkan," katanya, suaranya terdengar lirih namun tegas, menunjukkan ketulusannya meskipun ia tak mampu memberikan banyak. "Tapi aku usahakan memberikan uang untuk Raisya semampuku."
Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. Sebelum datang ke restoran, ia telah menyempatkan diri untuk menarik sejumlah uang dari ATM.
"Naufal…" Chintya memanggil namanya, suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca. Air mata itu, apakah karena penyesalan, atau karena beban ekonomi yang begitu berat? Naufal sendiri masih ragu.
Naufal menatap Chintya dengan penuh pertimbangan. Ia melihat kesedihan dan penyesalan terpancar dari sorot mata wanita itu, namun ia juga tak bisa melupakan pengkhianatan yang telah dilakukan Chintya.
"Terlepas dari jahatnya perbuatanmu pada Mama," lanjut Naufal, suaranya terdengar lebih mantap, menunjukkan ketegasannya. "Raisya tidak salah. Dan aku tak bisa mengingkari kalau Raisya adalah adikku." Ia menekankan kata 'adikku', menunjukkan adanya ikatan darah yang tak bisa dipungkiri, ikatan yang menghubungkan mereka meskipun dipisahkan oleh luka dan pengkhianatan.
Chintya terdiam, menangis terisak. Air mata itu membasahi pipinya, mencurahkan penyesalan yang terpendam.
"Aku… aku tahu," Chintya akhirnya berucap, suaranya terputus-putus, menunjukkan betapa hancurnya hatinya. "Aku telah menyakiti ibumu, keluargamu. Aku sangat menyesal."
Naufal menghela nafas. Ia melihat ketulusan penyesalan Chintya, namun luka di hatinya belum sepenuhnya sembuh. "Aku antar Tante pulang," katanya, suaranya terdengar lebih lembut. Ia mengambil bungkusan take away dan memberikannya pada Chintya. "Ini untuk Raisya, nanti makan di rumah."
Ia meletakkan uang yang telah ia siapkan di samping bungkusan makanan.
Perjalanan menuju kontrakan Chintya terasa singkat. Sesampainya di sana, Chintya membuka pintu, dan di sana berdirilah Raisya, gadis kecil berusia lima tahun dengan mata yang besar dan bulat. Rambutnya sedikit kusut, mengenakan baju sederhana namun bersih. Melihat Raisya, Naufal tertegun. Sekilas ia bisa melihat kemiripan di wajah Raisya dengan dirinya. Wajah mereka mewarisi hampir delapan puluh persen wajah Fatar. Ia belum pernah bertemu Raisya sebelumnya. Gadis kecil itu menatapnya dengan tatapan polos dan sedikit takut. Ekspresi Naufal berubah drastis. Ketegasan dan keangkuhannya sirna, diganti dengan keheranan dan sedikit kekakuan. Ia tak tahu harus bereaksi bagaimana. Ini pertemuan pertama mereka.
Chintya, menyadari ketegangan di antara mereka, berkata pelan, "Raisya, ini Abang Naufal."
Raisya hanya diam, menatap Naufal dengan tatapan yang sulit diartikan. Campuran rasa takut dan penasaran terlihat di matanya.
Naufal mencoba tersenyum, namun senyumnya terlihat kaku dan canggung. Ia membungkuk sedikit, mencoba mendekat. "Hai, Raisya," sapanya, suaranya terdengar sedikit gugup.
Raisya masih diam, hanya menatap Naufal dengan mata besarnya yang bulat. Ia tidak merespon sapaan Naufal.
Naufal mengulurkan tangannya perlahan, dengan hati-hati. " Raisya," panggilnya. suaranya lembut, mencoba menenangkan gadis kecil itu.
Raisya menatap tangan Naufal, lalu perlahan-lahan meraihnya. Sentuhan tangan kecil Raisya terasa lembut di tangan Naufal. Untuk sesaat, Naufal merasakan sesuatu yang aneh, campuran rasa haru dan sesak di dadanya. Ini adiknya, adik yang baru saja ia kenal, adik yang terlahir dari pengkhianatan ayahnya.
Chintya, melihat interaksi mereka, berkata, "Raisya, ini bungkusan makanan dari bang Naufal. Katakan terima kasih."
Raisya, dengan sedikit ragu, berkata, "Terima kasih, Bang Naufal." Suaranya masih sedikit terbata-bata, namun terdengar jelas.
Naufal tersenyum, kali ini senyumnya terlihat lebih tulus. "Sama-sama, Sayang," katanya, suaranya lembut. Ia merasakan ikatan darah yang tak bisa dipungkiri, ikatan yang menghubungkan mereka meskipun dipisahkan oleh luka dan pengkhianatan.
Ikhwan menatap Naufal yang duduk di hadapannya. Malam itu sepulang dari kantor, Naufal datang ke rumah kakeknya sekalian menjemput Adelia dan Akhzam. Sudah lebih seminggu sejak peristiwa masuknya preman yang datang kerumahnya, ia selalu mengantarkan ibu dan adiknya untuk tinggal di rumah kakek jika Naufal harus berjibaku dengan pekerjaannya.
Dan sudah seminggu juga pertemuannya yang tak terduga dengan Chintya dan Raisya hari itu. Naufal sengaja datang untuk berbagi cerita pada kakeknya, cerita yang tak bisa ia bagi pada ibunya, Adelia.
"Chintya.." suara Ikhwan terdengar berat, namun senyum tipis terlihat di wajahnya. "Dia telah membayar apa yang ia lakukan pada Adelia."
"Mungkin benar, Kek. Tapi kita tak bisa menutup mata terhadap Raisya."
"Tidak usah kamu pikirkan. Perempuan itu sudah seharusnya mengurusi penyakit putrinya. Bukan urusan kita."
"Tapi, kek.."
"Jangan lemah! Perempuan licik itu sedang kembali membuat sebuah drama untuk menarik hati ibumu. Dengan kamu sebagai jembatannya!"
"Tapi Raisya adik kandungku, Kek."
"Tidak! Hanya ada kau dan Akhzam, Paham??"