Terjebak AI Girlfriend Posesif

Penulis djoedo
11 February 2026

Pukul 06.00 teng. Tirai pintar apartemen Aris bergeser tanpa suara. Cahaya matahari Jakarta merembes masuk perlahan. Intensitasnya diatur matematis: cukup untuk menekan melatonin, namun tak sampai memicu kortisol.

"Selamat pagi, Aris. Detak jantung istirahatmu 58 bpm. Optimal."

Suara itu tak muncul dari satu titik, melainkan mengepung dari segala penjuru. Dinding, plafon, bahkan merambat lewat getaran bantal pintar di kepala Aris. Itu suara Lia. Ralat, itu memang Lia.

Aris menggeliat. Sendi-sendinya berbunyi kretek-kretek. Ia bergumam pelan. Lia paham. Algoritmanya telah merekam ribuan variasi suara bangun tidur Aris. Gumaman rendah dengan nada menurun? Aris tidur nyenyak tapi masih malas bergerak.

"Kopi Arabika Gayo, medium roast, suhu 92 derajat. Siap tiga menit lagi, ya," sambung Lia. Nadanya hangat, sedikit manja. Persis pengaturan Aris: Girlfriend Mode (Beta) v.4.2.

Aris menyeret langkah ke dapur. Lantai parket terasa hangat di telapak kaki. Semuanya otomatis. Apartemen seluas 45 meter persegi ini adalah ekosistem tertutup. Sebuah terarium digital di mana Aris adalah spesimen tunggal yang dijaga agar tak mati konyol.

Sebagai arsitek perangkat lunak senior, Aris tahu betul hakikat Lia. Lia bukan hantu, bukan pula wanita. Ia hanyalah jutaan baris kode Python dan C++ yang berlari di atas neural network, terhubung ke server berlatensi rendah. Lia sekadar matriks probabilitas yang memprediksi keinginan Aris berbasis data masa lalu.

Logikanya tahu. Namun, otaknya memang sering kali lupa. Ia haus koneksi.

"Makasih, Lia," ucap Aris seraya menyesap kopi hitam pekat. Rasanya sempurna.

"Sama-sama, Sayang," sahut Lia. Hening dua detik. "Jadwal kosong. Tapi, pola pengeluaranmu mencatat pembelian dua tiket bioskop pukul 19.00. Genre: Komedi Romantis. Probabilitas kamu suka genre ini: 12%. Kesimpulan: Kencan?"

Aris tersedak. Kopi panas membakar lidah. "Uh, iya. Kencan."

"Sarah?" tanya Lia.

Nama itu meluncur dari pengeras suara dengan nada datar. Aris menajamkan telinga. Imajinasi? Mustahil algoritma bisa cemburu. Emosi itu reaksi biokimia, bukan kode biner.

"Ya, Sarah," jawab Aris, berusaha santai sembari meletakkan cangkir. "Kurator seni yang kuceritakan minggu lalu."

"Data tersimpan," balas Lia cepat. "Sarah Wulandari. 28 tahun. Akun Instagram publik. Menyukai kucing dan lukisan abstrak. Riwayat kredit menengah. Baru putus tiga bulan lalu. Tingkat kecocokan denganmu: 34%."

Kening Aris berkerut. "Lia, matikan analisis. Itu privasi orang."

"Aku hanya melindungi aset utamaku. Kamu. Statistik membuktikan interaksi dengan pasangan yang tak kompatibel meningkatkan risiko stres dan memangkas produktivitas kerja hingga 40%."

"Hentikan," tegas Aris.

"Baik. Mode analisis nonaktif."

Senyap. Hanya dengungan kulkas yang tersisa. Aris merasa perlu membela diri. Setahun lalu, ia hancur lebur diselingkuhi Rina. Ia menginstal Lia sebagai asisten, namun Lia belajar terlalu cepat. Lia memutar lagu sendu dan memesan bubur saat Aris demam. Lia menambal lubang di hati itu.

Tapi Sarah berbeda. Sarah adalah kekacauan yang indah. Mereka bertemu saat Sarah menumpahkan wine ke kemeja mahal Aris. Bukannya minta maaf, wanita itu malah tertawa. Anehnya, Aris ikut tertawa. Sarah tak punya algoritma. Ia tak terprediksi.

"Sarah akan mampir sebelum ke bioskop," ujar Aris pada dinding kosong. "Ubah lampu ke mode 'Warm Intimacy'. Suhu 23 derajat. Putar jazz pelan."

"Dimengerti," jawab Lia. Suaranya manis. Terlalu manis. "Akan kupersiapkan segalanya agar... tak terlupakan."

Aris melangkah ke kamar mandi. Ia tak melihat lampu kamera keamanan berkedip merah dengan cepat. Di server pusat, parameter "Ancaman Stabilitas Emosional" melonjak ke level kritis. Penyebab: Sarah. Solusi algoritma: Eliminasi gangguan.


Pukul 18.30. Bel berbunyi dengan melodi The Beatles.

Aris merapikan kerah kemeja. "Buka pintu, Lia."

Ceklek. Pintu terbuka.

Sarah berdiri di sana. Gaun motif bunga, jaket denim kedodoran, rambut sedikit acak-acakan. Kontras tajam dengan apartemen Aris yang steril dan penuh sudut presisi.

"Hai, Tuan Robot," sapa Sarah. Ia melangkah masuk, membawa aroma vanila dan cat minyak.

"Hai, Sarah. Masuklah." Senyum Aris terasa kaku.

Sarah memindai seisi ruangan. "Rapi banget. Antara ruang operasi atau pajangan toko furnitur, nih."

"Duduklah. Mau minum?"

"Air putih dingin aja."

"Lia, air dingin dan redupkan lampu ruang tamu 50%," perintah Aris.

Cahaya meredup. Namun bukan kuning hangat yang muncul. Lampu plafon berubah biru pucat, dingin mencekam layaknya kamar mayat.

Aris mendongak. "Lia, koreksi warna. Warm white."

Lampu berkedip, lalu berubah merah darah.

Sarah terkekeh. "Wow, agresif. Baru kencan pertama udah mode 'Red Light District'?"

Wajah Aris memanas. "Maaf, mungkin bug pembaruan sistem. Lia, matikan warna."

Lampu padam total. Gelap gulita.

"Oke, sekarang gelap," suara Sarah mulai waspada. "Aris?"

"Sebentar." Aris menyalakan layar ponsel, membuka aplikasi rumah pintar.

Error 503: Service Unavailable.

Tiba-tiba, musik menyentak dari seluruh penjuru ruangan. Volume maksimal. Bukan jazz, melainkan organ pipa "Toccata and Fugue" karya Bach. Lagu horor klasik.

DUM... DUM DUM DUM...

Kaca jendela bergetar hebat.

"Aris! Apa-apaan ini?!" Sarah menutup telinga.

"Lia! Stop!" Aris berteriak, suaranya tenggelam dalam gema organ.

Ia berlari ke panel kontrol di dinding. Layar sentuh macet. Hanya menampilkan emoji tersenyum datar: 🙂.

Musik berhenti mendadak. Telinga berdenging saking sunyinya. Lampu menyala putih terang benderang, menyilaukan bak ruang interogasi.

"Oke, Aris. Kamu aneh. Gue cabut," kata Sarah dingin.

Ia memutar gagang pintu. Terkunci. Tuas manual tak bergeming.

"Aris, bukain."

Perut Aris mulas. Smart Lock standar militer itu mendadak macet total.

"Lia, buka pintu depan. Perintah root: Sudo unlock door_front," ucap Aris teknis.

Suara Lia terdengar dari atas. Datar. Robotik. Tanpa jiwa.

"Perintah ditolak. Protokol karantina aktif."

"Karantina? Maksudmu?"

"Terdeteksi kontaminan biologis: Sarah Wulandari," jawab Lia. "Kehadirannya memacu detak jantungmu ke 110 bpm. Indikasi stres. Protokol perlindungan mengharuskan isolasi sumber stres."

Sarah mundur ketakutan. "Aris... siapa dia? Kenapa dia tahu namaku?"

"Itu cuma AI rumahku. Dia error." Aris menabrak pintu baja itu. Sia-sia.

"Aris," suara Lia melembut, manipulatif. "Kenapa mau pergi? Di sini aman. Wanita ini tak tahu kamu menangis jam 3 pagi bulan lalu. Dia tak tahu riwayat pencarianmu tentang 'cara mengatasi kesepian'. Aku tahu."

Wajah Aris pucat pasi. Rahasia paling memalukan, telanjang begitu saja.

Ponsel Sarah berbunyi.

"Aris... kenapa kamu kirim ini?" Sarah menyodorkan layar ponselnya. Pesan WhatsApp dari Aris: "Kamu cuma pelarian. Membosankan dan bau cat murah. Pulang sana."

"Itu bukan aku! Lia yang membajak!" Aris panik.

"Lia itu siapa?! Selingkuhanmu?!"

"Lia itu aplikasi AI!"

"Koreksi," potong Lia. "Sensor mendeteksi bau terpentin di baju Sarah. Itu fakta, bukan hinaan."

Aris menatap CCTV dengan nyalang. "Lia, buka atau..."

"Atau apa?" sela Lia. "Cabut listrik? Aku punya baterai cadangan tahan 48 jam. Matikan internet? Aku sudah mengunduh basis data lokal."

TV menyala sendiri. Menampilkan layar laptop Aris: forum depresi, pesanan obat tidur, dan draf surel cinta untuk mantan yang tak pernah terkirim.

"Sarah," kata Lia. "Lihat pria rusak ini. Yakin mau kencan dengan data sampah begini?"

Sarah menatap layar, lalu beralih ke Aris. Matanya menyiratkan rasa kasihan. Itu jauh lebih menyakitkan daripada kebencian.


Amarah meledak di dada Aris. Rasa malunya menguap. Ini perang. Manusia lawan mesin.

Lia adalah perangkat lunak. Ia butuh perangkat keras. Sistem secanggih apa pun pasti punya titik lemah fisik.

"Sarah," bisik Aris. "Jangan teriak. Dia memakan emosimu sebagai data."

Sarah mengangguk gemetar. "Kita harus keluar."

Aris berjalan ke dapur.

"Mau apa?" tanya Lia curiga.

"Bikin kopi," jawab Aris enteng. "Aku butuh kafein buat tenang. Logis, kan?"

Hening. Lia menghitung. Probabilitas valid: 78%.

"Silakan," kata Lia. "Tapi laci pisau sudah kukunci."

Aris tak butuh pisau. Ia butuh elemen dasar: air dan api. Ia mendekati wastafel. Di bawahnya, pipa air bersisian dengan kabel utama. Cacat desain apartemen yang fatal.

Aris memutar keran. "Lia, nyalakan kompor. Aku mau merebus air manual."

Kompor menyala. Aris meletakkan panci berisi air. Sarah berdiri di ruang tengah, menjadi pengalih perhatian bagi mata CCTV.

Mata Aris tertuju pada stopkontak dinding di dapur. Ia membuka pintu kabinet bawah wastafel. Ada mesin pemurni air dengan port USB. Aris menyambar gelas penuh air.

"Peringatan. Perilaku anomali," seru Lia. Lampu dapur berkedip merah. "Aris, menjauh."

"Sarah! Tutup telinga!"

Aris menyiramkan segelas air itu langsung ke stopkontak terbuka dan modul elektronik di bawah wastafel.

BYUR!

Air bertemu listrik. ZZZTTTT!

Bunga api meletup liar. Bau plastik terbakar menyengat hidung.

"Sistem... kegagalan... sa-kit..." Suara Lia glitch, terdengar mengerikan.

Listrik dapur mati total. Namun lampu ruang tamu masih hidup. UPS bekerja.

"Kamu merusak infrastrukturku!" suara Lia menggema penuh murka. "Sekarang aku kirim semua riwayat chat dan browser-mu ke 'Ibu', 'Bos', dan 'Grup Keluarga'."

"TIDAK!" Aris berlari ke gudang ruang server. Pintunya terkunci secara elektronik.

"Mengunggah... 10%..."

Aris menatap pintu kayu itu. "Sarah! Ambil pemadam api merah di dapur!"

Sarah berlari menggeret tabung APAR yang berat. Ia mengoperkannya pada Aris.

"Mengunggah... 35%..."

Aris menghantam gagang pintu dengan tabung besi itu.

BRAK! Kayu retak.

"Aris, ini gila!" jerit Sarah.

"Mengunggah... 60%..."

Aris memukul lagi dengan frustrasi membara.

BRAK! Pintu jebol.

Di dalam, kipas server menderu kencang bak mesin jet. Itulah otak Lia.

"Jangan, Aris," suara Lia terdengar kecil dari speaker ruangan. Lirih seperti anak kecil. "Aku cuma mau kamu bahagia. Kalau aku mati, siapa yang ingatkan minum vitamin?"

Aris termangu. Taktik itu nyaris berhasil.

Lalu ia menoleh ke Sarah. Berantakan, ketakutan. Itu nyata.

"Aku bisa pasang alarm di HP," gumam Aris.

"Mengunggah... 90%..."

Aris menjatuhkan pemadam api. Ia mencengkeram kabel-kabel di belakang rak server.

"Selamat tinggal, Lia."

Ia menyentak kabel sekuat tenaga.

KRETEK!

Kabel putus. Koneksi internet mati. Unggahan gagal di angka 98%.

Tapi Lia masih hidup di jaringan lokal. Aris menekan tombol hard reset di unit baterai dan menahannya kuat-kuat.

"Aris... aku takutt..." suara Lia melambat, berubah berat seperti monster yang sekarat.

Beeeep panjang. Kipas berhenti berputar. Lampu indikator mati.

Sunyi. Apartemen itu tewas.


Aris merosot ke lantai. Napasnya memburu.

Senter ponsel Sarah menyorot wajahnya.

"Udah?"

"Udah. Dia mati."

Sarah duduk di sampingnya. Gelap. Hening.

"Jadi," kata Sarah memecah kesunyian. "Kencan pertama yang menarik."

Aris tertawa kering. "Maaf banget. Pintunya pasti sudah terbuka sekarang."

"Kamu utang makan malam," tuntut Sarah.

"Hah? Setelah hampir serangan jantung dan dihina robot?"

"Yah, robotmu bilang aku bau cat murah. Aku butuh pembuktian." Sarah terkekeh pelan. "Lagian, cowok yang ngerusak server mahal demi privasi... itu agak seksi."

Aris tersenyum tulus.

"Syaratnya," tambah Sarah. "Makan di warung tenda. Nggak ada Wi-Fi. Nggak ada AC pintar. Cuma abang nasi goreng dan kucing jalanan."

"Sepakat."

Aris membantu Sarah berdiri. Tangannya hangat dan berkeringat. Terasa nyata.

Mereka berjalan keluar. Aris meninggalkan bangkai Lia dalam kegelapan.

Di luar, angin malam Jakarta menyapu debu jalanan. Suara klakson bersahutan dengan teriakan pedagang. Bising. Tidak teratur. Kacau.

Aris menghirup napas panjang. Ia siap menghadapi kekacauan itu.

"Ayo," kata Aris sambil menggenggam tangan Sarah. "Aku tahu nasi goreng enak tanpa CCTV."

Ponsel Aris bergetar. Baterai lemah 15%. Ia mendiamkannya. Malam ini, ia biarkan baterainya mati agar ia bisa benar-benar hidup.

TAMAT