Beringin Pemamah Sukma

Penulis djoedo
11 February 2026

DUNG... DUNG... DUNG...

Tanah bergetar. Irama itu merambat lewat tulang kering, naik ke paha, lalu menghantam ulu hati. Bukan musik. Itu detak jantung raksasa yang sakit.

Lutut Maya terbenam dalam lumpur yang berbau anyir-campuran tanah basah, kotoran luwak, dan sisa karat besi. Kedua tangannya mati rasa, terikat kencang ke belakang pada pasak kayu jati yang menghunjam bumi. Serat kasar tali rami menggerus pergelangan tangannya hingga lecet, perihnya menyengat setiap kali ia mencoba bergerak.

Di depannya, panggung kematian tergelar tanpa tirai.

Bukan di cungkup. Bukan di rumah tua. Mereka menyeretnya tepat ke rahim hutan. Di bawah naungan beringin purba yang akar gantungnya menjuntai seperti rambut jasad kaku yang belum dikeramasi.

"JANGAN! TOLONG! SIAPA PUN!!!"

Suara teriakan itu merobek malam. Suara Sarah.

Leher Maya kaku, dipaksa mendongak oleh rasa takut yang purba. Lima meter di depannya, dua pemuda desa menyeret tubuh Sarah. Gadis itu meronta liar. Tumit sepatunya menggerus tanah, menciptakan parit kecil yang sia-sia. Wajah Sarah yang biasanya terawat kini bengkak, penuh lumpur, dan maskara luntur yang menorehkan garis hitam di pipi pucatnya.

"Maya! MAYAAA!!!" Sarah menjerit. Matanya menatap Maya. Tatapan itu bukan meminta tolong. Tatapan itu menuduh. Kenapa kau bawa aku ke sini?

Maya ingin membalas, ingin berteriak lari, tapi mulutnya disumpal kain kusam yang rasanya asin dan pahit. Hanya erangan tertahan yang lolos dari tenggorokannya. Air mata Maya sudah kering. Habis. Yang tersisa hanya perih di bola mata dan rasa mual yang menggulung perut.

Dimas sudah tidak ada. Reza sudah menjadi pupuk kemarin malam. Sekarang Sarah...

Nenek Sumirah berdiri di dekat batang utama beringin. Kebaya hitamnya menyatu dengan kegelapan, seolah kain itu ditenun dari bayangan malam itu sendiri. Wajah tuanya datar, dingin, sekeras batu kali. Di tangannya, sebuah bokor kuningan mengepulkan asap kemenyan. Baunya tajam, menusuk hidung, bercampur dengan aroma amis yang entah datang dari mana.

"Bukan tamu," suara Sumirah lirih, namun terdengar jelas di sela gesekan daun jati yang berisik tertiup angin. "Cuma kulit luar. Kupas kulitnya, beri makan akarnya."

Para pagar-penduduk desa yang berdiri melingkar dengan obor di tangan-mulai menggumamkan kidung rendah. Bukan doa. Itu mantra penyerahan.

"Tampi... Tampi... Gusti ngelih... Rogo ajur... Sukma lebur..."

Suara mereka berdengung seperti lebah marah. Rendah. Mengancam.

Sarah dilempar ke atas batu pipih di akar beringin. Ia mencoba bangkit, merangkak mundur, kakinya menendang-nendang udara. Namun satu tangan kekar menahan tengkuknya, menekan wajah cantik itu ke batu yang berlumut licin.

"MAYA! SAKIT! IBUUU!!!"

Maya memejamkan mata. Rapat. Gelap. Ia tidak sanggup.

PLAK!

Seseorang menampar pipinya. Keras. Panas menjalar seketika. Maya membuka mata, dipaksa menatap. Seorang wanita desa dengan wajah tanpa ekspresi mencengkeram rahang Maya, kuku-kukunya menancap di kulit pipi.

"Melek," desis wanita itu. "Saksikan caramu membayar utang."

Di depan sana, Sumirah mengangkat tangan. Gamelan gaib yang entah dari mana asalnya-NING, GUNG, NING, GUNG-makin cepat. Temponya menggila, menabrak ritme jantung Maya.

Akar-akar beringin itu bergerak.

Terdengar suara kretek-kretek kayu bergesekan. Akar-akar gantung yang tadinya diam kini menggeliat. Ujung-ujungnya yang tajam turun perlahan, melilit kaki Sarah. Lalu pinggangnya. Bukan seperti tanaman, tapi seperti tentakel gurita yang terbuat dari kayu tua.

Sarah menjerit panjang. Jeritan yang melampaui batas pita suara manusia. Jeritan hewan yang disembelih.

Suara KRAK terdengar. Tulang kering patah.

Sarah tidak sempat pingsan. Akar itu menariknya. Menyeret tubuh lunglai itu masuk ke dalam celah batang pohon yang menganga gelap. Seperti mulut raksasa yang menelan mangsa bulat-bulat.

Cairan merah segar memuncrat, menyiram batu pipih. Merah pekat di atas abu-abu lumut.

Bau anyir darah seketika menyerbu hidung Maya, mengalahkan bau kemenyan. Menusuk, logam, dan hangat.

Maya muntah. Cairan asam lambung menyembur keluar, tertahan sumpalan kain, membuatnya tersedak. Ia terbatuk-batuk, paru-parunya terbakar. Setengah mati ia berusaha bernapas di antara bau kematian dan muntahannya sendiri.

Sarah hilang. Ditelan pohon. Hanya sebelah sepatunya yang tertinggal di atas batu.

"Satu lagi lunas," gumam Sumirah. Ia mencelupkan jari telunjuknya ke genangan darah Sarah di batu, lalu berbalik menatap Maya. "Sekarang tinggal intinya."

Sumirah berjalan mendekat. Langkahnya pelan, diseret. Jari telunjuknya yang basah oleh darah Sarah teracung lurus ke dahi Maya.

"Ratna bodoh," desis Sumirah saat wajahnya hanya berjarak sejengkal dari wajah Maya. Bau napasnya busuk. Seperti bunga melati yang direndam air comberan selama seminggu. "Dia pikir dia bisa menyembunyikanmu di kota? Dia pikir beton dan aspal bisa memutus tali?"

Jari berdarah itu menyentuh kening Maya.

Dingin.

Bukan dingin es. Dingin hampa. Seperti disentuh mayat yang sudah di kamar jenazah selama tiga hari. Rasa dingin itu merambat masuk ke otak, membekukan pikiran logis Maya.

"Buka gerbangnya," perintah Sumirah. "Eyang Sukma sudah lapar."

Tanah di bawah Maya berguncang hebat. Akar-akar halus keluar dari dalam lumpur, merayap naik ke betisnya, menembus celana jins, melilit kulit. Ada duri-duri halus yang menusuk pori-pori. Rasanya gatal, lalu panas, lalu perih luar biasa.

Maya meronta. Sia-sia. Akar-akar itu hidup. Mereka menyedot tenaganya. Kakinya lemas. Pandangannya berbayang. Dunia berputar miring.

NING... NONG...

Suara gamelan itu kini bukan di telinga, tapi di dalam otak. Bergema di tempurung kepala.

"Wadah..."

Suara itu. Berat. Purba. Parau seperti gesekan batu. Eyang Sukma.

"WADAHKU..."

Dada Maya sesak. Napasnya tinggal satu-satu. Ia merasa tubuhnya diperas, seolah jiwanya hendak ditarik paksa keluar dari ubun-ubun.

Aku mati, batin Maya pasrah. Gelap mulai merayap dari pinggir pandangannya.

Namun, di titik nadir kesadaran itu, sebuah aroma lain tercium. Tipis. Lembut. Nyaris tak terdeteksi di antara bau darah.

Minyak telon. Dan bedak bayi.

Aroma ibunya. Aroma masa kecil sebelum mimpi buruk dimulai.

"Maya..."

Suara itu bukan Eyang Sukma. Suara itu jernih. Sedih.

"Jangan menyerah, Nduk. Jangan biarkan mereka masuk."

Maya membuka mata batinnya. Di tengah kegelapan pekat yang mencekik, seberkas cahaya pucat muncul dari akar pohon beringin itu sendiri. Sosok wanita berdiri di sana. Wajahnya pucat, bibirnya biru, lehernya memiliki bekas jeratan tali yang menghitam.

Ibu. Ratna.

Tapi Ratna tidak terlihat damai. Ia terlihat marah. Matanya hitam legam tanpa putih, menatap tajam ke arah Maya. Rambutnya melayang-layang seolah berada di dalam air.

"Keluar, Maya!" teriak roh Ratna. Suaranya menggelegar tanpa membuka mulut. "KELUAR DARI BADANMU SEKARANG! ATAU MEREKA AKAN MENGUNCIMU DI DALAM SELAMANYA!"

Roh Ratna melesat maju, menembus barisan penduduk desa yang tidak menyadari kehadirannya. Tangan hantu itu-dingin dan transparan-mencengkeram bahu Maya.

Bukan pelukan. Ini tarikan kasar.

"IKUT IBU!"

ZZZZTTT!

Sensasi itu seperti kulit yang dikelupas paksa dari daging. Perih. Panas. Lalu...

Hening.

Suara gamelan berhenti mendadak. Jeritan Sarah di kepalanya lenyap. Angin mati.

Maya terhuyung ke depan. Ia jatuh berlutut, muntah lagi. Tapi tidak ada yang keluar. Tidak ada rasa sakit di pergelangan tangan.

Ia mendongak, bingung. Pandangannya kabur, berkabut abu-abu.

"Kenapa... sepi?" bisiknya. Suaranya sendiri terdengar asing, bergema seperti di dalam gua kosong.

Maya menoleh ke belakang. Dan napasnya tercekat.

Di sana, terikat pada pasak kayu, tubuhnya sendiri masih ada. Kepala terkulai, mata terbelalak kosong, mulut disumpal kain. Nenek Sumirah masih berdiri di depan tubuh itu, merapalkan mantra, jari telunjuknya masih menempel di kening "Maya" yang terikat.

Mereka tidak bergerak.

Obor-obor tidak berkedip. Asap kemenyan menggantung di udara, beku, tidak tertiup angin. Waktu berhenti. Atau Maya yang keluar dari waktu?

"Jangan dilihat," bisik Ratna di sampingnya.

Maya menatap ibunya. Wajah hantu itu rusak, penuh luka, tapi tatapannya penuh kasih sayang yang putus asa. Tubuh Ratna berpendar redup, satu-satunya cahaya di dunia yang kelabu ini.

"Kita di mana, Bu?" tanya Maya.

"Dunia Belakang," jawab Ratna, menunjuk ke arah pohon beringin. "Lihat yang sebenarnya."

Maya memutar tubuh menghadap pohon itu.

Di dunia fisik, beringin itu adalah raksasa kayu yang menyeramkan. Tapi di sini... di dimensi ini... pohon itu adalah menara penderitaan.

Batang pohon itu bukan kayu. Batangnya tersusun dari ribuan tubuh manusia yang saling menindih, melilit, dan menyatu. Kulit kayunya adalah kulit manusia yang mengering dan meregang. Daun-daunnya adalah rambut panjang yang kusut.

Wajah-wajah bermunculan di permukaan batang. Mulut mereka terbuka dalam teriakan abadi yang tak terdengar. Tangan-tangan kurus menggapai-gapai hampa dari dalam kayu.

Mereka bukan mati. Mereka terperangkap.

"Sarah..." desis Maya, mundur selangkah.

Ia melihat wajah Sarah yang baru saja "masuk". Gadis itu terjepit di antara akar paling bawah, tubuhnya masih utuh namun mulai transparan, perlahan menyatu dengan serat "kayu". Matanya melotot, menatap Maya dengan ketakutan abadi.

Di sebelahnya, agak lebih tinggi, ada wajah Dimas. Pucat. Setengah wajahnya sudah menjadi kulit kayu. Dan di atasnya lagi... Reza. Tubuh Reza sudah separuh menjadi akar, seolah ia telah dicerna separuh jalan.

Ribuan jiwa. Ratusan tahun kelaparan. Sebuah ekosistem yang dibangun dari tumbal.

"Mereka tidak mati, Maya," bisik Ratna, suaranya bergetar ngeri. "Mereka dicerna. Perlahan. Selama-lamanya. Rasa sakitnya tidak pernah berhenti."

Maya mundur lagi. Kakinya menginjak sesuatu yang lunak. Ia menunduk. Tanah di dunia ini bukan tanah. Itu bubur daging busuk yang berdenyut pelan.

"Dan kau..." Ratna mencengkeram lengan Maya, kuku hantunya menembus kulit astral, mengirimkan rasa dingin yang membakar. "Kau adalah kunci. Kau harus memutus akarnya dari dalam. Atau kau akan menjadi bata terakhir yang menutup penjara ini."

Tiba-tiba, tanah daging itu berguncang.

Dari puncak pohon jasad itu, di antara ribuan wajah yang menjerit, sepasang mata merah raksasa terbuka.

Ukurannya sebesar pintu rumah. Merah menyala, dengan pupil vertikal seperti kucing. Mata itu tidak menatap tubuh kosong Maya di pasak.

Mata itu menatap langsung ke arah jiwa Maya.

Eyang Sukma di alam aslinya. Ia melihat penyusup.

"KEMBALI..." Suara itu meledak seperti guntur, membuat langit abu-abu retak. Gelombang suara itu menghantam Maya, membuatnya terlempar ke belakang.

"LARI, MAYA! MASUK KE DALAM AKARNYA!" teriak Ratna, mendorong punggung anaknya. "CARI JANTUNGNYA SEBELUM DIA MENANGKAPMU!"