Dunia tidak berakhir dengan ledakan. Dunia berakhir dengan bunyi krak basah saat tulang leher patah, diikuti senyap yang memekakkan telinga.
Maya tahu itu. Ia baru saja mendengarnya.
Tubuhnya-daging dan tulang yang selama dua puluh enam tahun ia sebut "milik sendiri"-kini hanyalah onggokan menyerah yang terikat pada pasak kayu jati. Ia bisa melihatnya. Ia bisa melihat puncak kepalanya sendiri yang tertunduk lunglai, rambut hitamnya yang kusam bercampur tanah menutupi wajah yang pucat pasi.
Ia melayang...
Bukan terbang. Rasanya seperti ditarik paksa keluar dari jaket kulit yang terlalu sempit. Dingin. Udara di sini-di tempat ia berada sekarang-tidak mengandung oksigen. Udara ini statis, tebal, dan berbau seperti logam tua yang direndam cuka.
"Jangan menoleh ke jasadmu, Nduk."
Suara itu tidak masuk lewat telinga. Suara itu langsung bergema di dalam kesadarannya, menggetarkan inti jiwanya yang kini telanjang tanpa raga.
Maya memutar "kepala"-atau apa pun yang kini menjadi pusat pandangannya.
Ratna ada di sana.
Ibunya.
Tapi ini bukan Ratna yang cantik dalam foto-foto lama. Ini bukan pula jenazah kaku yang Maya kuburkan di Jakarta. Sosok di hadapannya adalah memori yang tercabik. Wajah Ratna retak seperti porselen, dengan garis-garis hitam menjalar di bawah kulit transparannya. Lehernya masih menunjukkan bekas jeratan tali tambang-biru, bengkak, dan basah. Namun, mata itu... mata itu masih milik ibunya. Tatapan yang dulu selalu memeriksa PR matematikanya, kini menatapnya dengan urgensi yang mengerikan.
"Ibu..." Maya ingin menangis, tapi hantu tidak punya air mata. Kesedihannya hanya menjadi gelombang dingin yang menusuk.
"Kita tidak punya waktu untuk rindu," potong Ratna. Tangannya yang dingin, sedingin es kering, mencengkeram pergelangan tangan astral Maya. "Lihat. Lihat di mana kau sebenarnya berada."
Maya mengalihkan pandangan dari ibunya ke sekeliling.
Napasnya-jika ia masih bernapas-pasti sudah berhenti.
Desa Kalimati sudah hilang. Hutan jati sudah hilang.
Mereka berdiri di atas hamparan daging raksasa yang membusuk. Tanah "Dunia Belakang" ini bukan lempung atau humus. Permukaannya berwarna merah hati, berdenyut pelan, dan berlendir. Setiap kali Maya menapakkan kaki, cairan kuning keruh merembes keluar dari pori-pori tanah, membasahi telapak kakinya yang tanpa alas.
Langit di atas mereka bukan hitam malam, melainkan selaput abu-abu keruh yang membentang rendah, persis seperti dinding lambung yang sakit. Urat-urat merah menjalar di langit itu, berdenyut seirama dengan detak jantung raksasa yang menggema dari segala arah.
DUNG... DUNG... DUNG...
Suara itu lebih keras di sini. Lebih basah.
"Ini..." Maya terbata.
"Ini perutnya," bisik Ratna. "Desa itu hanya kulit luarnya. Ini adalah organ dalamnya. Tempat makanan dicerna."
Ratna menariknya berputar. Menghadap ke satu arah. Ke pusat segalanya.
Pohon Beringin Purba itu.
Di dunia nyata, pohon itu tampak agung dan menakutkan dengan akar gantungnya. Di sini, di balik tirai realitas, wujud aslinya adalah mimpi buruk yang melampaui imajinasi terliar pelukis gila.
Batang pohon itu tidak terbuat dari kayu.
Itu adalah menara jasad.
Ribuan tubuh manusia-telanjang, kurus, kering-saling menindih, melilit, dan menyatu membentuk pilar raksasa yang menjulang menusuk selaput langit. Mereka bukan mayat. Mereka masih bergerak. Menggeliat lambat seperti ulat dalam kepompong. Mulut-mulut mereka terbuka lebar, menjerit tanpa suara, sementara kulit mereka perlahan meleleh dan menyatu dengan tubuh di sebelahnya, membentuk tekstur "kulit kayu" yang mengerikan.
"Tidak..." Maya menutup mulutnya dengan tangan. Mual hebat menghantamnya, meski ia tak punya perut.
Di bagian bawah, dekat akar yang menancap ke daging tanah, Maya melihat wajah-wajah yang masih "segar". Wajah-wajah yang belum kehilangan warnanya.
Sarah.
Tubuh sahabatnya itu terpasak dalam posisi terbalik di antara dua akar besar yang menyerupai paha raksasa. Separuh tubuh Sarah sudah tertelan, menyatu dengan bubur daging pohon itu. Wajahnya masih utuh, tapi matanya melotot kosong, menatap ketiadaan. Mulutnya menganga, dan dari dalamnya keluar akar-akar halus yang bergerak liar seperti cacing, menjulur mencari mangsa baru.
Sarah tidak mati. Sarah sedang diserap.
"Dia... dia masih hidup?" tanya Maya, suaranya pecah.
"Di sini tidak ada kematian, Maya," jawab Ratna getir. "Yang ada hanya pencernaan abadi. Mereka sadar. Mereka merasakan setiap inci kulit mereka meleleh dan menyatu dengan Eyang Sukma. Rasa sakit itu... rasa sakit itu adalah nutrisinya."
Maya mundur selangkah, kakinya terperosok ke dalam lubang lunak yang mengeluarkan bunyi blup.
Di sebelah kiri Sarah, agak lebih tinggi, Maya melihat sisa-sisa kemeja flanel yang sudah robek dan menyatu dengan daging pohon. Wajah itu sudah separuh hancur, tulang pipinya menonjol keluar menembus kulit, tapi Maya mengenalnya.
Dimas.
Wajah jenaka yang dulu sering melontarkan lelucon garing itu kini membeku dalam ekspresi horor abadi. Sebelah matanya sudah hilang, digantikan oleh tunas hitam yang mekar.
Dan di sisi lain... Reza.
Reza sudah hampir hilang sepenuhnya. Tubuhnya telah menjadi dahan yang kokoh, menopang beban tubuh-tubuh lain di atasnya. Hanya rahang dan giginya yang masih terlihat, menyeringai kaku di permukaan batang.
"Mereka semua..." Maya gemetar hebat. Amarah dan ketakutan bercampur menjadi adonan pahit. "Mereka semua teman-temanku, Bu. Aku yang membawa mereka ke sini."
"Bukan salahmu," sentak Ratna. Ia mencengkeram bahu Maya, mengguncangnya. "Ini jebakan yang sudah dipasang seratus tahun lalu. Kita semua hanya lalat yang terlambat sadar bahwa kita sudah menempel di kertas lem."
Tiba-tiba, tanah daging di bawah mereka berguncang hebat.
Gelombang kejut merambat dari pohon mayat itu. Ribuan mulut di batang pohon serentak menutup, lalu membuka lagi. Hening pecah.
Bukan jeritan. Melainkan dengungan.
HUUUUUUUUUUUMMMMM...
Suara itu rendah, berat, membuat penglihatan Maya berbayang.
"Dia sadar," desis Ratna. Wajah hantunya yang pucat berubah semakin tegang. "Eyang Sukma tahu wadahnya kosong. Dia sedang mencari isinya."
Dari puncak pohon jasad, di antara kerumunan lengan dan kaki yang menjuntai, dua titik cahaya merah menyala.
Mata.
Mata itu tidak memiliki bola mata. Itu adalah dua kawah api yang menatap langsung ke arah Maya. Tatapan purba. Tatapan lapar yang melampaui nafsu makan binatang buas. Itu adalah tatapan pemilik yang kehilangan propertinya.
Di dunia fisik, Nenek Sumirah mungkin sedang bingung kenapa tubuh Maya kejang dan kosong. Tapi di sini, Eyang Sukma tahu persis di mana Maya berada.
Akar-akar di sekitar Sarah dan Dimas mulai bergerak. Melepaskan diri dari tanah daging. Ujung-ujungnya meruncing, berubah menjadi tombak-tombak tulang yang tajam.
"LARI!" teriak Ratna.
Tanpa menunggu, Ratna menarik tangan Maya. Mereka berlari-melayang cepat-di atas hamparan daging busuk itu.
Di belakang mereka, terdengar suara srek... srek... srek... ribuan akar yang mengejar, merayap cepat seperti ular sanca yang kelaparan.
"Kita mau ke mana?!" teriak Maya, berusaha menyeimbangkan tubuh astralnya yang terasa ringan sekaligus berat.
"Ke dalam!" balas Ratna tanpa menoleh.
"Apa?!"
"Kita tidak bisa lari keluar! Batas desa ini dikunci darah!" Ratna menunjuk ke depan, ke arah celah gelap di antara akar-akar banir raksasa yang menganga seperti gua. "Satu-satunya cara membunuhnya adalah dari dalam! Cari jantungnya!"
Gila. Ini gila.
Ibunya menyuruhnya masuk ke dalam mulut monster itu.
Akar-akar pengejar semakin dekat. Maya bisa mendengar desis mereka. Satu akar melesat, menyambar bahu Maya. Rasanya bukan sakit fisik, tapi rasa dingin yang membakar, seolah sebagian memori bahagia masa kecilnya baru saja diiris paksa dari otaknya.
"AAKH!" Maya terhuyung.
Ratna berbalik. Wajah hancurnya menyeringai ganas. Bukan pada Maya, tapi pada akar-akar itu.
"JANGAN SENTUH ANAKKU!"
Ratna merentangkan tangan. Dari tubuh transparannya, meledak gelombang energi putih-seperti asap tebal yang membeku. Hantu itu menerjang barisan akar, mencabik-cabik mereka dengan tangan kosong.
Setiap kali Ratna menyentuh akar itu, terdengar jeritan dari pohon utama.
"Pergi, Maya! Masuk ke celah itu!" perintah Ratna sambil bergulat dengan lilitan akar yang mencoba meremukkan rohnya.
"Aku tidak akan meninggalkan Ibu lagi!"
"KAU TIDAK MENINGGALKANKU! AKU YANG MENYELAMATKANMU!" Ratna menoleh, matanya berkaca-kaca dengan cairan hitam. "Dulu Ibu gagal. Ibu menyerah. Ibu gantung diri karena Ibu pikir itu satu-satunya cara memutus tali. Ibu salah, Nduk. Ibu pengecut. Biarkan Ibu menebusnya sekarang!"
Sebuah akar besar menghantam punggung Ratna, membuatnya tersungkur. Tapi wanita itu bangkit lagi, liar, buas, seperti induk macan yang tersudut.
"CARI JANTUNGNYA! BAKAR DENGAN DARAHMU SENDIRI! DARAH KITA ADALAH RACUN BAGINYA KARENA KITA MELANGGAR JANJI!"
Maya mundur selangkah. Air mata astral menetes.
"CEPAT!" jerit Ratna saat ribuan tangan-tangan kecil mulai muncul dari tanah daging, menarik kakinya.
Maya berbalik. Ia berlari sekuat tenaga menuju celah gelap di antara akar banir pohon mayat itu. Bau busuk semakin menyengat. Bau anyir darah tua, kotoran, dan nanah.
Ia melompat masuk ke dalam kegelapan.
Gelap. Sempit. Basah.
Maya tergelincir di lorong yang licin. Dinding lorong itu berlendir, bergerak-gerak seperti kerongkongan yang sedang menelan makanan. Ia meraba sekitarnya. Tangannya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin.
Gigi.
Dinding lorong ini dilapisi ribuan gigi manusia.
Maya menahan jeritan, merangkak maju. Ia tidak boleh berhenti. Jika ia berhenti, lorong ini akan menjepitnya, mengunyahnya, dan menjadikannya bagian dari dinding ini.
DUNG... DUNG... DUNG...
Suara detak itu semakin keras. Semakin dekat.
Cahaya remang-remang berasal dari lumut fosfor yang tumbuh di sela-sela gigi. Maya bisa melihat ia sedang merangkak di dalam sebuah sistem perakaran yang rumit. Di atasnya, akar-akar halus menggantung seperti rambut basah, meneteskan cairan kental yang membakar kulit astralnya.
Ia harus terus bergerak.
Setiap jengkal perjalanannya adalah siksaan. Kadang lorong itu menyempit, memaksanya tiarap di atas lendir, bergesekan dengan wajah-wajah yang tertanam di lantai-wajah-wajah penduduk desa zaman dulu, wajah-wajah serdadu Jepang, wajah-wajah tanam paksa Belanda. Semua korban sejarah yang dikubur di hutan ini.
"Tolong..." bisik satu wajah di lantai saat tangan Maya menekan pipinya. "Berat..."
Maya menarik tangannya dengan ngeri. "Maaf," bisiknya, lalu terus merangkak.
Lorong itu mulai menanjak. Udara semakin panas. Hawa panas yang lembap, seperti napas demam.
Tiba-tiba, lorong berakhir.
Maya sampai di sebuah rongga raksasa.
Ruangan itu luas, dindingnya melengkung seperti bagian dalam kubah katedral, namun terbuat dari tulang rusuk raksasa yang saling mengait. Di sela-sela tulang itu, daging merah berkedut-kedut.
Dan di tengah-tengah ruangan itu, bergantunglah benda itu.
Jantung Eyang Sukma.
Tapi itu bukan jantung.
Benda itu berukuran sebesar mobil, tergantung oleh arteri-arteri tebal yang menjuntai dari langit-langit rongga. Bentuknya tidak beraturan. Hitam, berminyak, dan... hamil.
Permukaan jantung hitam itu transparan. Di dalamnya, berenang ribuan janin-janin cahaya. Jiwa-jiwa yang belum lahir. Atau jiwa-jiwa yang sudah dicerna dan siap dimuntahkan kembali untuk menjadi pagar baru.
Di sekeliling jantung itu, melilit sosok-sosok penjaga. Bukan manusia. Mereka adalah makhluk kerdil, gundul, dengan kulit abu-abu licin dan gigi tajam. Tuyul. Puluhan tuyul merayap di permukaan jantung, menjilati lendir yang keluar darinya, merawatnya seperti lebah pekerja merawat ratu.
Maya bersembunyi di balik salah satu tulang rusuk raksasa. Napasnya tertahan.
Darah kita adalah racun, kata-kata ibunya terngiang. Bakar dengan darahmu.
Maya menatap tangannya. Ia adalah roh. Ia tidak punya darah fisik. Tapi di dunia ini, niat adalah darah. Emosi adalah senjata.
Ia ingat rasa sakit saat melihat Sarah diseret. Ia ingat tatapan kosong Dimas. Ia ingat mayat Reza yang hancur. Ia ingat ibunya yang gantung diri di kusen pintu kamarnya dua puluh tahun lalu-bayangan yang menghantuinya seumur hidup.
Semua rasa sakit itu ia kumpulkan. Ia padatkan di ulu hati.
Panas. Dadanya terasa panas.
Cahaya merah samar mulai berpendar dari dalam tubuh astral Maya. Bukan cahaya putih suci, melainkan cahaya merah kemarahan. Dendam.
Salah satu tuyul penjaga berhenti menjilati jantung. Ia mendongak, hidungnya yang pesek mengendus udara. Telinganya yang runcing berkedut.
Ia menoleh tepat ke arah persembunyian Maya.
"Kiiiik!" Makhluk itu memekik, menunjuk dengan jari kurusnya.
Puluhan kepala botak lainnya serentak menoleh. Mata mereka menyala hijau dalam kegelapan.
Mereka melihatnya.
Maya tidak punya pilihan. Ia tidak bisa mundur. Lorong di belakangnya pasti sudah menutup.
Ia keluar dari persembunyian. Berdiri tegak di pinggir tebing tulang rusuk itu.
"Hai, bangsat!" teriak Maya, suaranya menggema di rongga daging itu.
Para tuyul mendesis, memamerkan gigi-gigi runcing mereka. Mereka mulai merayap turun dari jantung, bergerak cepat seperti laba-laba, menuju ke arah Maya.
Maya memejamkan mata sejenak. Membayangkan wajah Nenek Sumirah. Membayangkan senyum palsu wanita tua itu. Membayangkan bagaimana wanita itu menipunya, memberinya makan, lalu menyerahkannya untuk disembelih.
Aku bukan wadah, batin Maya. Aku adalah api.
Ia membuka mata.
Ia tidak menunggu diserang. Maya melompat.
Ia terjun bebas dari tebing tulang, melayang di udara, langsung menuju jantung hitam raksasa yang berdenyut itu.
Puluhan tuyul melompat menyongsongnya di udara, cakar-cakar mereka terarah ke lehernya.
Maya berteriak. Teriakan perang. Teriakan anak yatim piatu yang sudah lelah menjadi korban.
Tangannya teracung ke depan, siap menghantam permukaan jantung itu dengan segala kebencian yang ia miliki.
Jantung itu berdegup kencang-DUNG!-mengirimkan gelombang tolak yang dahsyat.
Tapi Maya tidak berhenti.
Saat jari-jarinya menyentuh kulit basah jantung itu, dunia meledak dalam warna merah.
Di Dunia Fisik:
Nenek Sumirah tersentak mundur. Bokor di tangannya jatuh, menumpahkan bara kemenyan ke tanah.
Tubuh Maya yang terikat di pasak kayu tiba-tiba kejang hebat. Matanya yang tadi terbalik putih, kini mendadak terbuka lebar.
Hitam.
Bukan hitam rasukan. Tapi hitam gosong. Asap tipis keluar dari mulut Maya.
Dan dari dalam tanah, dari akar-akar pohon beringin di belakang Sumirah, terdengar suara jeritan. Bukan suara manusia.
Suara pohon itu yang menjerit.
Tanah di sekitar beringin retak. Cairan hitam panas menyembur keluar seperti geyser, menyiram para penduduk desa yang sedang duduk bersila.
"Panas! Panas!" jerit salah satu warga saat cairan itu melepuhkan kulitnya.
Sumirah pucat pasi. Ia menatap tubuh Maya yang masih kejang di tiang pasak.
"Apa yang kau lakukan, Nduk?" bisik Sumirah ngeri. "Kau... kau masuk ke dalam?"
Gamelan berhenti total.
Hutan jati mendadak hening, senyap...
Lalu, satu dahan besar beringin patah sendiri tanpa angin, jatuh berdebum menimpa kerumunan pagar.
Kekacauan dimulai...