Dunia Nyata: Desa Kalimati
BUK!
Kayu jati kering itu menghantam tengkuk. Bukan suara jeritan yang terdengar, melainkan bunyi tulang beradu dengan kayu keras. Tumpul. Menyakitkan.
Sosok warga yang memegang pasak itu ambruk. Wajahnya mencium lumpur, tubuhnya mengejang sekali sebelum diam.
Andi tidak lagi berpikir. Logika sudah mati sejak ia melihat Sarah ditarik masuk ke dalam akar. Yang tersisa hanya insting purba: membunuh atau dibunuh. Napasnya memburu, uap putih mengepul di udara malam yang mendadak dingin menggigit.
"ANDI! GENDENG KOWE!"
Teriakan pecah dari sisi kiri.
Andi tidak menoleh. Matanya nanar menatap Maya yang terikat di pasak kayu. Tubuh gadis itu lunglai seperti boneka kain yang ditinggalkan pemiliknya. Kepala terkulai, mata terbalik putih, mulut sedikit terbuka. Kosong. Raganya di sini, terikat di tanah becek Desa Kalimati, tapi nyawanya sedang bertaruh di tempat yang tak terjangkau nalar.
Sumirah berbalik.
Mantranya terhenti. Wajah rentanya yang tadinya khusyuk kini berkerut garang. Di bawah sorot obor yang remang, mata hitam legam itu menatap Andi. Bukan tatapan nenek kepada cucu, melainkan tatapan pemangsa kepada hama.
"Berani kau merusak pagar..." desis Sumirah. Suaranya serak, berat, seolah keluar dari liang lahat. "Anjing yang menggigit tangan majikan harus dipenggal."
"Persetan dengan majikan!" Andi meraung.
Ia mengayunkan kayu jatinya membabi buta ke arah warga lain yang mendekat.
Tiga pemuda desa menerjang sekaligus. Mereka bukan lagi tetangga yang Andi kenal. Wajah mereka datar, mata kosong tanpa cahaya hidup. Mereka adalah pagar-hamba yang telah menyerahkan kehendak pada desa. Otot-otot mereka keras, bergerak kaku namun bertenaga gila.
Andi menendang perut satu pemuda, memukulkan kayu ke bahu yang lain.
TAK!
Kayu di tangannya patah.
Sebelum ia sempat mencari senjata baru, sebuah tinju keras menghantam rusuk kanannya.
KRAK.
Napas Andi tercekat. Rasa sakit meledak, tajam dan panas, menjalar hingga ke ulu hati. Kakinya goyah. Ia terhuyung, jatuh berlutut di lumpur yang berbau anyir-campuran tanah basah dan sisa darah ritual.
"Habisi," perintah Sumirah dingin. "Jadikan pupuk tambahan."
Andi meludah. Cairan merah kental bercampur liur jatuh ke tanah. Ia mendongak, menatap Maya yang mulai kejang halus. Urat-urat biru menonjol di leher gadis itu, seolah ada sesuatu yang memaksa masuk-atau keluar.
"May..." Andi berbisik di sela napas yang putus-putus. "Lawan, May... Aku tahan mereka di sini..."
Ia memaksa kakinya yang gemetar untuk berdiri. Rasa sakit di rusuk ia jadikan bahan bakar. Tangan kanannya meraba pinggang, mencabut pisau belati berkarat-benda tajam yang biasa ia gunakan untuk membersihkan lumut di nisan makam.
Para warga desa mengepungnya. Lingkaran setan yang semakin sempit.
"Maju!" tantang Andi. Suaranya serak, bercampur guntur yang mulai menggelegar di langit Desa Kalimati. "Siapa yang mau mati duluan melangkahi mayatku!"
Dunia Belakang
Gelap. Amis.
Sesuatu melompat dari kegelapan.
KRAAAK!!!
Makhluk kerdil itu menabrak bahu Maya. Kulitnya abu-abu licin, gigi-giginya runcing seperti paku berkarat. Tuyul. Penjaga Jantung Eyang Sukma.
Cengkeramannya kuat luar biasa, dingin seperti es kering yang membakar kulit. Kuku-kuku panjang menancap ke lengan Maya.
"Daging..." desis makhluk itu. Bahasanya patah-patah, purba. "Segar..."
Maya menjerit tertahan. Di dunia ini, rasa sakit bukan sekadar sinyal saraf, melainkan serangan langsung pada jiwa. Rasanya seperti disayat sembilu.
Ia membanting tubuhnya ke dinding.
BUKKK!!!
Dinding itu bukan tanah, melainkan tumpukan daging busuk dan akar yang berdenyut. Tuyul itu terimpit, menjerit melengking, namun tidak melepaskan gigitan.
Dua makhluk lain merayap turun dari langit-langit rongga akar. Cepat. Seperti laba-laba raksasa.
"Lepas!" Maya berteriak panik.
Ia meraba dinding di sebelahnya. Tangannya menyentuh sesuatu yang keras dan runcing. Tulang. Tulang paha manusia yang menonjol keluar dari jalinan akar-sisa-sisa tumbal masa lalu yang telah menyatu menjadi struktur pohon ini.
Dengan sisa tenaga, Maya menarik tulang itu.
KRAK!
Tulang rapuh itu patah di tangannya, menyisakan ujung yang tajam.
Saat tuyul di bahunya hendak mengincar leher, Maya menusukkan patahan tulang itu tepat ke mata kiri si makhluk.
JLEB!
"GRAAAKKKK!"
Jeritan memekakkan telinga. Cairan hitam muncrat ke wajah Maya. Panas. Berbau belerang.
Tuyul itu terlempar ke belakang, berguling-guling memegangi wajahnya yang hancur.
Maya tidak menunggu. Ia bangkit, terseok-seok. Napasnya memburu meski di alam ini tidak ada udara.
Di depan sana, ada cahaya.
Bukan cahaya matahari. Cahaya merah. Redup. Berdenyut.
DUNG... DUNG... DUNG...
Suara itu begitu keras, menggetarkan lantai daging tempatnya berpijak. Irama gending kematian yang dimainkan langsung oleh jantung raksasa.
Maya menyeret kakinya memasuki rongga terakhir. Sebuah gua raksasa yang dindingnya melengkung, basah, dan bergerak-gerak seperti bagian dalam perut paus.
Di tengah-tengahnya, menggantung benda itu.
Jantung Eyang Sukma.
Ukurannya sebesar mobil. Hitam pekat, berminyak, seolah terbuat dari aspal cair yang dipadatkan. Namun, permukaannya transparan. Selaput tipis yang menahan ribuan galon kejahatan murni.
Maya membeku. Lututnya lemas seketika.
Jantung itu... hamil.
Di balik lapisan kulit hitam transparan, berenang ribuan titik cahaya. Janin-janin cahaya. Mereka berputar perlahan dalam cairan hitam pekat. Wajah-wajah kecil yang belum terbentuk sempurna. Jiwa-jiwa yang terperangkap.
Mereka adalah bahan bakar Desa Kalimati. Pupuk bagi kemakmuran semu yang dinikmati warga di atas sana.
Mata Maya menangkap satu cahaya yang baru saja masuk. Masih terang, belum pudar digerus cairan hitam.
Cahaya itu membentuk wajah yang ia kenal.
"Sarah..." bisik Maya. Suaranya pecah.
Jantung itu bereaksi. Detaknya semakin cepat.
DUNG-DUNG! DUNG-DUNG!
Minyak hitam menetes dari pori-pori jantung, jatuh ke lantai, mendesis, menimbulkan asap berbau bangkai.
Dari balik bayang-bayang jantung, puluhan mata menyala. Pasukan tuyul berbaris, mendesis, siap melindungi induk semang mereka.
Tapi Maya sudah tidak peduli. Rasa takutnya telah hangus, berganti menjadi amarah dingin yang mematikan. Ibunya ada di suatu tempat di belakang sana, menahan gerbang agar Maya bisa masuk. Andi sedang berdarah-darah di dunia atas. Dan Sarah... Sarah baru saja ditelan.
"Kembalikan..." geram Maya. Ia mencengkeram tulang di tangannya erat-erat. "KEMBALIKAN MEREKA SEMUA!!!"
Maya menerjang.
Bukan dengan strategi, tapi dengan keputusasaan seorang anak yang lelah menjadi korban warisan.
Para tuyul melompat menyambutnya.
Maya menabrak, menendang, menyabetkan tulang. Ia tidak peduli pada gigi-gigi yang merobek kulit astralnya. Ia tidak peduli pada rasa perih yang mencabik kesadaran. Matanya terkunci pada satu titik: permukaan jantung yang basah itu.
Satu tuyul menggigit betisnya hingga ia jatuh tersungkur.
Maya tidak berhenti. Ia merangkak. Menyeret tubuh. Tangannya teracung ke depan.
Jantung itu berdegup kencang-DUNG!-mengirimkan gelombang angin hitam yang memukul wajah Maya.
Tapi jari-jarinya sudah terlalu dekat.
"MATI KAU!!!"
Maya menghantamkan tangannya ke permukaan jantung itu.
PYARRRR!!!
Tidak ada ledakan. Tidak ada kehancuran.
Hanya keheningan yang tiba-tiba.
Tangan Maya menempel. Lengket...
Kulit jantung itu menyedot telapak tangannya seperti lintah raksasa. Tulang yang ia genggam terlepas, jatuh ke lantai.
"WADAH..."
Suara itu terdengar langsung di dalam batok kepala. Berat. Kuno. Menertawakan.
"KAU PIKIR KAU DATANG UNTUK MENGHANCURKAN? TIDAK, NDUK... KAU DATANG UNTUK MENGGANTIKAN."
Mata Maya terbelalak.
Cairan hitam dari jantung itu mulai merambat naik ke lengannya. Masuk ke pori-pori. Mengalir di pembuluh darah astralnya. Dingin. Menggelapkan.
Ia melihat kilasan-kilasan memori yang bukan miliknya. Kakek buyutnya menanam janji. Ibunya menangis. Darah yang tumpah di tanah kering.
Maya menjerit-jerit, tapi suaranya hilang ditelan degup jantung raksasa itu. Ia sadar bahwa dia telah membuat kesalahan fatal.
Ia tidak sedang menghancurkan jantung itu.
Maya justru sedang dicerna..